Langit Senja

Langit Senja
Sakit


__ADS_3

Siang tadi adalah pemeriksaan rutin pertama yang dilakukan baby Anna setelah pulang dari rumah sakit pasca dilahirkan.


Senja menuruti apa yang ibunya ajarkan untuk memantau tumbuh kembang baby Anna dengan baik. Dan orang terbaik yang dapat membantunya adalah dokter spesialis anak. Karena dirinya masih sangat awam dan tidak tahu perkembangan yang baik itu seperti apa.


Sedangkan ia tidak ada waktu untuk membaca buku parenting. Tugas kuliah saja sudah membuatnya pusing.


Mungkin jika ia berada di Jakarta, ibunya sendiri yang akan memantau tumbuh kembang baby Anna seperti anak dari kedua kakak kembarnya.


Tapi toh sama saja. Dokter yang menangani baby Anna juga cukup kompeten dan ramah.


Bahkan baby Anna tidak menangis ketika siang tadi dokter menyuntikan vaksin dalam tubuh kecil itu. Baby Anna hanya merengek kecil lalu setelah itu kembali diam.


Tapi kini, kedua orang tua baru itu tengah panik karena suhu tubuh baby Anna cukup tinggi. Bayi kecil itu juga rewel.


Baik Senja atau pun Baskara sama-sama panik karena itu adalah kali pertama anak mereka sakit. Pun biasanya baby Anna tidak pernah serewel itu.


"Kalian nggak boleh ikut panik sayang. Ajak baby Anna bicara. Ajak nyanyi atau bacakan dongeng. Bikin suasana yang nyaman buat baby Anna. Nanti dia tenang."


Karena hingga dini hari putri kecil mereka masih saja rewel dan sebentar sbentar terbangun dan menangis, akhirnya Senja memutuskan untuk bertanya pada ibunya.


"Kalian juga nggak perlu khawatir sama demamnya. Karena itu hal yang wajar bagi bayi setelah imunisasi. Meskipun nggak setiap anak seperti itu. Ganti aja bajunya sama yang lebih nyaman. Yang longgar juga nggak terlalu tebal. Kasih ASI sesering mungkin."


"Tapi baby Anna nggak mau enen, mah. Dia malah nangis dan geleng-geleng kalau dikasih enen." rasanya Senja ingin ikut menangis melihat putrinya seperti saat ini.


"Itu karena kamunya panik! Makanya kamu nggak boleh panik. Baby Anna bisa merasakan lho ketika mommy-nya panik, makanya dia nggak mau kamu kasih ASI."


Bagaimana ia tidak panik. Ini adalah pengalaman pertamanya. Dan tidak ada orang yang berpengalaman berdiri disampingnya. Ia dan sang suami sama-sama awam akan hal mengasuh anak. Keduanya takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.


"Sekarang baby Anna-nya coba digendong. Dipeluk terus bisikin kata-kata sayang. Tapi sebelumnya kamu tenangin diri kamu dulu. Nanti kalau baby Anna sudah tenang, kamu kasih ASI. Langsung dari kamu! jangan dari botol!"


Senja mencoba mengikuti saran ibunya. Butuh waktu cukup lama untuknya bisa menghilangkan panik pada dirinya. Terlebih baby Anna terus-menerus menangis dalam gendongan Baskara.

__ADS_1


"Sini mas, coba aku gendong."


Baskara mengangguk dan memberikan bayi kecilnya pada sang istri. "Aku kedapur dulu bikin susu buat kamu."


Senja tersenyum dan mengangguk. "Makasih mas."


Setelah Baskara keluar dari dalam kamar, Senja mulai mengajak putri kecilnya berbicara.


"Maafin mommy sayang. Maaf mommy ikut panik. Kamu takut ya tadi?" ucap Senja mengusap lembut pipi putrinya yang mulai membulat dengan punggung jarinya.


Mengayunkan ke kanan dan ke kiri. Menyanyikan lagu-lagu lembut pengantar tidur yang sering ia dengar ketika kecil dulu.


"Waah princess mommy hebat nih, nggak nangis lagi." puji Senja pada baby Anna yang juga menatapnya dengan memainkan lidah. "Udah lapar juga, ya?"


Senja mencoba duduk. Hanya duduk untuk menunggu reaksi baby Anna. Karena bayi kecil itu sebelumnya akan langsung menjerit ketika diajak duduk. Tapi kini, setelah menunggu beberapa saat ternyata baby Anna masih anteng.


Apa yang ibunya katakan benar adanya. Bayi bisa merasakan jika ibunya tengah panik. Dan ketika ia bisa lebih tenang, semua bisa ditangani lebih baik lagi.


"Akhirnya bobo juga." bisik Baskara ketika sudah lebih setengah jam baby Anna tidur dalam buaian ibunya. "Bobo sama kita aja, ayy. Jangan ditaro boks."


Senja mengangguk dan menidurkan buah hatinya ditengah ranjang. Membatasi kiri dan kananya dengan bantal guling. Meminimalisir ia atau suaminya lupa ada anak mereka disana lalu menindihnya.


"Bobo yang nyenyak sayang. Besok kita main lagi. Tapi demamnya harus ilang dulu. Oke cantik?" cium Baskara pada dahi putrinya.


Senja meminum susu khusus ibu menyusui yang sudah suaminya buatkan diatas nakas.


Staminanya benar-benar terkuras. Pagi hingga sore menjadi mahasiswi. Sore hingga malam beralih profesi menjadi ibu dan istri.


Tapi ia harus berjuang demi semester akhirnya. Ia sudah tidak sabar untuk segera menyelesaikan tugas akhir dan wisuda.


"Mas belum mulai daftar kuliah? dikampusku udah mulai buka pendaftaran." tanya Senja begitu suaminya beranjak duduk disisinya.

__ADS_1


Baskara menggeleng. Melihat rutinitas mereka saat ini membuat Baskara kehilangan minatnya untuk melanjutkan pendidikan disana. Ia tidak ingin istrinya repot seorang diri. Lagi pula ini sudah semester akhir istrinya. Meski entah nanti istrinya lulus saat tugas akhir atau tidak. Tapi ia sudah memutuskan untuk melanjutkan Pascasarjana di Jakarta saja. Dimana banyak orang yang akan membantu istrinya untuk menjaga putri mereka.


"Padahal aku nggak pa-pa lho mas. Kamu aja bisa jagain baby Anna pas aku tinggal kuliah. Masa aku sebagai ibunya nggak bisa!" protes Senja yang merasa diragukan kemampuannya.


"Bukannya gitu sayaaang... Aku cuma nggak mau aja kamu capek sendiri." Baskara sudah memutuskan dan tidak akan goyah. "Kamu menyusui aja udah capek, aku nggak mau kamu makin capek ayy."


Senja menghela napasnya. "Tapi janji nanti lanjut kuliah ya, mas. Jangan sampai adanya aku sama baby Anna jadi menghambat pendidikan kamu."


Baskara bawa tubuh lelah istrinya kedalam pelukan. "Aku janji bakal lanjut kuliah setelah kita pulang nanti. Kamu nggak perlu khawatir."


Senja boleh saja harus puas dengan gelarnya nanti. Tapi suaminya tidak boleh hanya mendapatkan gelar sarjana. Jika mungkin, Baskara harus mendapat pendidikan setinggi mungkin. Agar anak mereka nanti juga termotifasi hal yang sama ketika dewasa.


"Laper." rengek Senja manja. Kini ia hanya bisa bermanja ria setelah baby Anna tidur. Karena perhatian suaminya akan terfokus pada putri mereka itu.


"Mau makan apa, Aku masakin?"


Senja menggeleng dan mengurai pelukan mereka. "Mas jagain baby Anna aja. Aku masak sendiri."


Belum sempat suaminya melayangkan protes, Senja sudah lebih dulu berlalu keluar dari kamar.


Hari ini adalah hari yang sama-sama melelahkan bagi keduanya. Jadi Senja tidak ingin terus merepotkan suaminya untuk membuatkan makanan padahal ia sendiri masih sanggup untuk melakukannya.


Meskipun ia yakin, Baskara tidak pernah merasa direpotkan dengan hal itu. Tapi Senja merasa suaminya lebih lelah dari pada dirinya yang masih bisa tidur lebih lama dimalam hari.


Ia akan berjuang untuk bisa lulus ditahun ini. Ia ingin kepulangannya di libur musim panas nanti adalah kepulangan untuk tidak kembali lagi ke NY untuk alasan pendidikan.


Meski ia yakin ia akan sangat merindukan NY. Tapi ia lebih merindukan berkumpul dengan keluarganya di Indonesia. Juga cita-citanya untuk membuka butik sendiri.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2