
"Gimana keadaan maminya, Grace?"
Ditengah makan malam kali ini, Baskara ceritakan semua yang ia ketahui tentang keluarga Grace kepada orang tuanya.
Orang tua Baskara tentu saja merasa kaget. Bahkan mereka yang seharusnya menjadi keluarga terdekat tidak tahu menahu masalah yang tengah dihadapi bagian dari keluarga mereka itu.
"Nggak terlihat baik, yah. Udah nggak ngenalin orang. Bahkan sama Grace pun tante nggak mau ngomong." jawab Baskara dengan helaan napas.
Sesuai dengan paksaan sang istri, Baskara menjenguk ibu dari Grace disebuah rumah sakit jiwa.
Awalnya mereka tidak diperbolehkan masuk, karena kondisi ibu Grace yang sering mengamuk membuat dokter melarang orang yang bisa memancing emosi pasien untuk menjengauk.
Beruntung disaat mereka akan keluar untuk pulang, Grace terlihat baru sampai dan mengajak mereka untuk menemui ibunya.
"Tidak tahu diuntung memang, Faraz!" geram Aldo-ayah Baskara. "Kalau bukan karena istrinya, dia tidak akan mungkin memimpin Lazuardi selama puluhan tahun!"
Pricilla mengusap lengan suaminya agar tidak emosi. "Sabar, mas."
"Bagaimana ayah bisa sabar, bun? Walau bagaimanapun kami tumbuh bersa sebagai saudara. Bisa-bisanya si Faraz yang sudah kami angkat derajatnya menusuk istrinya dari belakang seperti ini!"
Senja meminta suster yang menjaga kedua anaknya untuk membawa putra putrinya makan di ruang keluarga.
"Semoga saja dengan kejadian ini, Om Faraz sadar, yah." ujar Baskara yang dapat mengerti emosi ayahnya.
"Rahasiakan ini dari Oma. Kesehatan Oma sedang tidak bagus belakangan ini." pinta Aldo pada anak dan istrinya yang langsung disetujui. "Nanti biar ayah cari dokter kejiwaan terbaik untuk menyembuhkan maminya Grace. Mudah-mudahan kita bisa nutupin ini semua dari Oma sampai maminya Grace membaik."
Semuanya kembali mengangguk setuju dan melanjutkan makan malam yang sempat tertunda itu.
"Bagaimana persiapan bulan madu kalian?" tanya Pricilla pada anak dan menantunya.
Senja membulatkan matanya terkejut dan menoleh kearah Baskara untuk menatap suaminya itu tajam. "Jadi disini yang nggak tahu ada acara bulan madu cuma aku, mas?"
"Namanya juga kejutan, ayy. Mana ada kejutan ngomong dulu." bela Baskara dengan senyum takut-takut. Takut istrinya merajuk dan malah menolak rencana bulan madu yang sudah ia persiapkan.
"Tega, iih!" cebik Senja membuat kedua mertuanya tertawa kecil.
__ADS_1
"Bunda dukung acara bulan madu ini." ucap Pricilla lagi. "Kamu harus merasakan bulan madu meskipun sudah terlambat, Ja."
"Itu kan karena pas awal nikah Senja yang nggak mau diajak bulan madu, bun." sela Baskara membela diri.
"Ya tapi tidak harus seterlambat ini." Aldo mencibir putranya. "Delapan tahun,lho Bas! ayah sama bunda dalam waktu delapan tahun sudah tidak terhitung berapa kali kita pergi berbulan madu."
Meski merasa iri, Baskara tetap mencibir ayahnya yang berusaha pamer. "Aku sama Senja kan sibuk kuliah. Abis itu anak kami kecil-kecil. Belum lagi aku yang masih harus banyak belajar tentang perusahaan juga Senja yang belajar berwirausaha. Beda sama kalian!"
"Sudah sudah.. Kenapa malah berdebat. Kalian nikmati bulan madu ini, puas-puasin memetik madunya. Tanpa memikirkan anak-anak apa lagi pekerjaan. Serahkan semua itu sama orang-orang disini." sela Pricilla pada perdebatan anak dan suaminya.
Semuanya kembali menikmati makan malam.
***
Pagi-pagi Baskara dan Senja sudah diributkan dengan menyiapkan keperluan anaknya yang akan pergi bersama nenna dan peppanya.
"Kalau malam, ganti jaketnya sama yang tebal, ya Kai?" pesan Senja sembari memasukan perlengkapan putranya kedalam mini travel bag. "Kalau tengah malam ingin buat air, bangunin peppa. Jangan di tahan-tahan. Ingat?"
"Iya mooommm... Kai kan sudah besar. Kai tahu."
Baskara terkekeh dan mengusap kepala putranya yang tumbuh semakin mirip dengannya.
"Moo'oom.." rengek Kaisar yang tidak tahan diperlakukan seperti anak kecil meski kenyatannya dia masih kecil.
"Sudah lah, ayy. Lagian Kai kan pergi sama papa. Papa pasti udah ahli lah ngajakin anak-anak kemping."
Senja menghembuskan napasnya panjang, menyerah. Dulu kedua kakaknya juga sering pergi berkemping atau sekedar memancing bersama ayahnya. Jadi kegiatan ini bukan hal baru untuk sang ayah.
"Iya!" sahut Kaisar. "Kai juga pergi dengan abang Zio, sama uncle Vindra juga."
"Bang Vindra ambil cuti juga, mas?" perhatian Senja beralih pada sang suami.
"Katanya ini hari ayah dan anak. Berhubung papa udah nggak punya anak kecil, makanya ngajak Kai. Hitung-hitung bantu rencana kita juga."
"Rencana kamu itu, sih." cibir Senja yang dibalas tawa sang suami. "Bang Farri nggak ikut juga?"
__ADS_1
"Anaknya kan cewek semua. Dan para gadis akan pesta piama di rumah mommy Shevi." jelas Baskara. "Lagian bang Farri kan gantiin papa selama cuti."
Senja mengangguk paham.
"Mommy.. Baju.." Anna yang baru selesai mandi langsung mendekati sang ibu.
"Anak gadis mommy lama banget sih, mandinya." ucap Senja dengan gemas membantu mengeringkan rambut Anna yang masih menetes basah. Anna tertawa ketika tangan ibunya mulai menggelitik leher dan perutnya.
Tanpa disuruh, Baskara dan Kaisar keluar dari kamar karena Anna akan memakai pakaiannya.
Meski Anna dan Kaisar masih tidur di kamar yang sama. Tapi kedua anak itu sudah tahu mana yang boleh dan mana yang tidak. Termasuk untuk bergantian menggunakan kamar mandi dan tidak boleh membuka baju di hadapan satu sama lain.
"Kakak Anna kan sudah besar. Sudah mau masuk SD. Jadi nggak boleh rewel nyariin daddy sama mommy ya, nanti?"
Anna mengangguk dengan wajah yang berubah cemberut.
"Nggak boleh nyariin Kai juga." imbuh Senja. "Kakak sudah janji kan sama mommy kalau kakak tidak akan egois lagi sama Kai."
"Iya mom." jawab Anna lirih. "Anna sudah belajar kok sama suster yang sering datang. Nenna juga banyak kasih tahu Anna."
"Ooh ya? kasih tahu apa sayang?"
"Kata nenna, kalau Kai sering bermain dengan Anna dan anak perempuan lainnya dan tidak bermain dengan anak laki-laki, nanti Kai jadi perempuan. Nggak suka main bola dan malah suka main boneka." jelas Anna. Ada ekspresi bersalah yang bisa Senja tangkap.
"Nenna kasih lihat video anak laki-laki yang justru seperti perempuan." imbuh Anna dengan mata yang mulai berkaca. Gadis kecil itu menggeleng. "Anna tidak mau Kai jadi seperti itu. Anna mau Kai besar seperti daddy."
Senja tak kuasa untuk tak memeluk putrinya erat. "Kai tidak akan seperti apa yang Anna lihat. Kai akan tumbuh menjadi laki-laki yang gagah seperti daddy."
Anna mengangguk. "Anna masih tidak suka melihat Kai bermain dengan yang lain. Tapi Anna janji akan berusaha."
"Anak baik." puji Senja. "Sekarang siap-siap karena nenna dan peppa sudah didepan."
Anna mengangguk antusias. Mengusap air matanya. Ia sudah tidak sabar dengan keseruan yang akan ia dapat bersama dengan para sepupunya.
*
__ADS_1
*
*