
Ingar-bingar suasana klub malam dengan musik yang menghentak tak membuat Senja risi. Ia sudah biasa datang ke tempat itu hampir tiap weekend.
Seperti saat ini, sudah seminggu ia kembali ke NY. Dan kali ini ia tengah menemani teman-temannya yang berpesta minuman keras.
Ya. Hanya menemani seperti biasa. Karena hanya ia yang boleh waras disana tanpa menyentuh minuman beralkohol.
"Kau tidak turun?" tunjuk Robert pada lantai dansa dimana teman-temannya tengah meliuk-liukan badan mereka. Senja menjawab dengan gelengan. Pernah sekali Senja ikut turun, tapi ia merasa risi begitu ada laki-laki yang mendekatinya berjoged dengan tangannya yang tak sopan menyentuh pinggangnya. Sejak saat itu, Senja tidak pernah lagi ikut turun ke lantai dansa.
"Apa kau tidak ingin mencoba minuman enak ini?"
"Tidak. Aku masih ingin hidup. Bisa di gantung Maureen kalau aku mencoba itu." Senja menggeleng ngeri. Baru bilang saja, Maureen sudah menceramahinya. Apa lagi ia mencoba tanpa sepengetahuan sahabatnya itu
"Ayo lah. Jika kau minum hanya satu gelas, tidak akan membuatmu mabuk." rayu Robert. Menyodorkan segelas vodca yang baru di pesannya.
Senja terselamatkan dengan ponselnya yang bergetar. Gadis itu menunjukannya pada Robert dan pamit untuk mengangkat panggilan tersebut.
Robert dengan senyum liciknya memasukan serbuk kedalam minuman Senja. Sejak lama Robert penasaran dengan gadis yang tidak mudah terpengaruh itu. Berbagai cara Robert mendekati Senja dan tak membuahkan hasil yang ia inginkan. Membawa Senja keatas ranjangnya.
***
Baskara sudah sampai di depan unit apartemen Senja. Ia baru sampai di Massachusetts tadi pagi. Sorenya ia memutuskan untuk ke NY, mengantarkan titipan orang tuanya untuk Senja.
Sudah berkali-kali Baskara memencet bel dan belum ada yang membukakan pintu. Dimana Senja malam-malam seperti ini?
"Dimana?" tanya Baskara langsung begitu sambungan telepon-nya diangkat.
"Gue lagi main. Kenapa?" samar, dapat Baskara dengar suara musik DJ sebagai latar belakang Senja.
"Gue di depan apart lo. Ada titipan dari bunda."
"Hah? kenapa nggak bilang. Masuk aja dulu, passcode-nya tanggal lahir kita." ya, kita. Karena mereka memiliki tanggal lahir yang sama.
Baskara memasukan tanggal lahir untuk membuka pintu apartemen Senja. Meletakan barang-barang yang ibunya titipkan untuk Senja.
"Lo dimana? gue jemput."
__ADS_1
"Nggak usah. Gue bawa mobil. Lo tunggu aja, bentar lagi gue pulang."
Tidak. Baskara ingin tahu kemana gadis itu bermain. "Sherlock. Gue tunggu."
Meski terdengar helaan napas, tapi Senja menuruti permintaannya untuk menshare lokasinya.
Baskara menggeleng begitu melihat nama klub malam sebagai tujuan. Pemuda itu langsung meluncur ke lokasi yang ternyata tidak jauh dari tempat Senja tinggal.
Sampai di tempat, Baskara bingung harus mencari sahabatnya itu kemana ditengah lautan manusia yang tengah meliukan tubuhnya diambang kesadaran.
Tak jarang ada yang menggodanya. Hingga ia melihat pemandangan yang membuat rahangnya mengeras.
Senja yang hampir terjatuh dipeluk seorang lelaki. Dapat Baskara lihat, jika lelaki itu bukan pria baik-baik yang ingin menolong Senja. Ada niat terselubung dari senyum kemenangannya.
"Lepaskan!" sentaknya yang langsung merebut Senja kedalam peluknya.
"Bas." gumam Senja dalam batas kesadaran. "Gue ngantuk."
"Iya. Kita pulang." sahut Baskara yang meraih Senja untuk ia gendong ala bridal style. "Lo nggak papa?" tanya Baskara memastikan, ia takut Senja kenapa-kenapa.
"Hei. Kau siapa? jangan berani-beraninya membawa kekasihku pergi!" Robert mencegah Baskara yang akan pergi begitu saja.
"Sejak kapan Senja memiliki kekasih?! saya sahabatnya dari Indonesia! saya bisa melaporkanmu ke polisi karena sudah menaruh obat dalam minuman teman saya!" Baskara hanya menebak. Karena tadi, Senja masih dalam kesadaran penuh. Perjalanan dari apartemen ke klub hanya lima belas menit. Tidak mungkin Senja tiba-tiba tidak sadar seperti ini jika tidak ada yang berniat buruk padanya.
"Ada apa ini?" Maureen mendekati Robert yang tengah berdebat dengan seseorang. "Astaga, Senja! ada apa dengannya?!" tanya Maureen panik pada Baskara.
"Tanyakan pada lelaki itu. Apa yang dia masukan ke dalam minuman Senja hingga tidak sadarkan diri!" Baskara mengeratkan giginya. Jika saja tidak ada Senja dalam rengkuhannya. Sudah ia hajar habis-habisan pria yang ingin membawa Senja.
"Robert! kau apakan Senja?!"
Baskara sudah tidak peduli lagi dengan perdebatan teman-teman Senja. Ia memilih membawa Senja keluar untuk ia bawa kembali ke apartemen gadis itu.
***
Senja menggeliat dalam tidurnya begitu ada seseorang yang membuka tirai kamarnya. Membuat kamarnya yang gelap, kini bermandikan cahaya matahari.
__ADS_1
Gadis itu menutup kepalanya berniat kembali tidur. Ia merasa masih sangat mengantuk. Tumben sekali Maureen sudah bangun. Pikir Senja.
Karena biasanya Maureen akan pulang ke apartemen miliknya jika pulang dari klub malam. Bermalam dan bercinta dengan kekasihnya di apartemen Senja. Dan mereka baru akan bangun ketika matahari sudah ada diatas kepala.
"Mau samai kapan, lo tidur."
Senja seketika menyingkap selimutnya begitu mendengar suara seorang lelaki yang tak asing baginya.
"Lho Bas! sejak kapan lo disini?" Senja memekik begitu akan beranjak duduk. Kepalanya berdenyut nyeri. Padahal ia ingat, ia tidak pernah menyentuh alkohol.
"Lo tuh cewek, Ja! bisa nggak sih jaga diri sendiri. Jauh dari keluarga bukannya lebih waspada malah seenaknya begitu!"
Senja yang sudah berhasil duduk dan bersandar di kepala ranjang mengernyit menatap pemuda yang tengah melipat kedua tangannya dan menatapnya tajam.
"Lo kenapa sih marah-marah?"
"Kalau semalam gue nggak datang tepat waktu. Mungkin pas lo sadar tadi, lo udah nggak pake baju sama cowok baj*ngan itu!" rahang Baskara mengeras mengingat kejadian semalam. Kalau saja ia terlambat. Pasti apa yang ia ucapkan barusan, benar-benar terjadi.
"Maksud lo apa?" Senja masih tidak mengerti apa yang Baskara ucapkan. Kini ia sudah ingat ketika Baskara menghubungi dan akan menjemputnya. Setelah memutuskan panggilan, Senja kembali ke bar tempatnya duduk dan meminum jus jeruk miliknya. Namun setelah itu ia tidak ingat apa pun lagi karena rasanya sangat mengantuk.
"Gue udah mutusin tiap weekend buat kesini. Mastiin lo nggak main ke klub malam lagi. Gue juga udah izin nyokap lo." setelah berkata demikian, Baskara beranjak keluar dari kamar Senja.
"Apa?! maksud lo apa?!" Senja beranjak dan menyusul Baskara dengan kesal. "Nggak bisa gitu dong Bas. Gue udah gede. Bebas mau kemana aja! Emang lo siapa gue ngatur-ngatur?!"
"Makan!" titah Baskara mengabaikan gerutuan Senja. Pemuda itu menyodorkan roti yang sudah ia olesi selai kehadapan Senja.
"Tapi lo nggak bisa seenaknya gitu dong, Bas! ini apartemen gue. Lo nggak boleh ngatur-ngatur gue!" meski mulutnya terus melayangkan protes, tapi tak ayal memakan juga roti buatan Baskara.
"Kalau mau protes, telfon aja nyokap lo!" Baskara hanya tidak ingin kejadian seperti semalam terulang lagi. Ia hanya ingin menjaga sahabat kecilnya tetap aman. "Abisin makanan lo. Habis ini kita belanja." ucap Baskara datar.
*
*
*
__ADS_1