
Dua hari sudah Baskara pergi ke luar kota. Pria itu bahkan jarang mengirim pesan atau menghubungi Senja disiang hari. Baru setelah hampir larut malam, Ia akan memberi kabar pada istrinya dan meminta maaf karena kesibukannya tak memberinya waktu untuk bertukar kabar.
"Terus makannya gimana? jangan samai lupa makan lho mas! jangan sampai kamu sakit terus nggak bisa nemenin aku lahiran!"
Baskara hanya tersenyum mendengar omelan istrinya. Itu masih lebih baik dari pada masalah yang belum kunjung ia temukan titik terangnya.
"Kadang sarapan di mobil, makan siang bareng klien makan malam kalau ingat, ayy." jujurnya.
Senja menghela napas. Ia tak menyalahkan suaminya, karena ia sendiripun sering lupa makan jika tengah sibuk dengan pekerjaan. "Masih belum mau cerita ada masalah apa? siapa tahu aku bisa bantu kan, mas."
"Bantu doa saja sayang.." kilah Baskara. Tidak mungkin ia berterus terang pada istrinya jika perusahaan tengah diambang kehancuran.
Ia bahkan dibuat pusing dengan panggilan dari klien yang bekerjasama dengan perusahaannya sebagai pemasok salah bahan baku. Seperti perusahaan biskuit dan olahan susu lainnya. Mereka mendesaknya karena pasokan susu tak kunjung dikirimkan. Sedangkan ia baru mendapatkan satu koperasi yang mau bekerjasama. Masih jauh dari yang ia butuhkan. Paling tidak ia harus mengumpulkan lima hingga enam koperasi sebagai pengganti sapi-sapi perusahaan yang mati.
"Kalau doa, nggak perlu kamu minta, selalu aku langitkan buat kamu, mas! apa pun masalah yang kamu hadapi, semoga cepat diberi jalan keluar."
"Terimakasih doanya, sayang.. Sekarang tidur ya, udah malam. Titip anak-anak.. Salam cium dari daddy buat mereka."
Setelah saling melempar kecupan, panggilan itu berakhir. Bersamaan dengan Tiara yang memasuki kamar putri bungsunya.
"Minum susu dulu, sayang."
Senja beranjak duduk dan meminum susu khusus ibu hamil yang masih hangat itu. Menyesapnya sedikit demi sedikit hingga habis tak bersisa.
"Mama tidur disini lagi? kasihan papa lho mah, tidur sendirian. Aku nggak pa-pa kok mah. Kan ada baby Anna."
Tiara tak menjawab justru sibuk memadamkan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur diatas nakas. Menyelimuti putrinya hingga dada.
"Justru karena ada Anna yang perlu kamu jaga, makanya mama disini." jawabnya kemudian setelah ikut berbaring disamping sang putri. "Perut kamu pasti susah buat gerak cepat. Tahu sendiri kan Anna kalau telat dikasih susu bakalan ngamuk."
__ADS_1
Senja mengangguk membenarkan. Perutnya yang sudah sebesar itu memang sulit untuk diajak gerak cepat. Tidak memungkinkan untuknya merawat baby Anna seorang diri.
"Tapi emang papa nggak pa-pa ditinggal mah?"
"Papa justru yang minta mama buat nemenin kamu. Meskipun mama juga nggak mungkin tega biarin kamu tidur sendiri."
Senja sudah terpejam bersiap tidur ketika sebuah pertanyaan hadir dalam kepalanya. "Mama kangen nggak sama papa waktu dulu papa masih sering ke luar kota. Padahal dulu papa sampai berhari-hari nggak pulang, kan?"
Tiara memiringkan tidurnya dan mengusap rambut sang putri. "Nggak ada istri yang nggak kangen ditinggal suaminya pergi berhari-hari sayang."
Senja mengangguk kembali membenarkan. Pasalnya ia sudah sangat merindukan sang suami. Apa lagi dikehamilan yang sudah mendekati hari lahir. Semakin hari semakin membuatnya resah.
"Tapi kembali lagi kealasan kenapa suami kita pergi. Kita harus mengerti dan mendukung. Karena suami kita tengah berjuang demi keluarga, jadi kita tidak boleh egois hanya karena kita merindukan dia."
***
Baskara berusaha keras mengajukan kerjasama untuk mendapatkan hasil susu sapi segar dari peternak. Beberapa koperasi menolak karena sudah terikat kerjasama dengan pihak lain. Beberapa lagi menolak karena memasarkan hasil mereka sendiri.
"Obatnya pak." Andi menyerahkan segelas air dan obat yang beberapa saat lalu dokter resepkan setelah memeriksa keadaan atasannya itu.
"Masih ada berapa kecamatan lagi yang bisa kita kunjungi?" tanya Baskara setelah meminum obat.
"Masih ada enam hingga tujuh pak. Dari yang saya tahu mereka belum terikat kerjasama dengan pihak mana pun. Mereka biasa mengonsumsi hasil ternak sendiri dan mengolah sisanya untuk bahan campuran makanan daerah."
Baskara kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Kepalanya berdenyut sakit, begitu juga seluruh tubuhnya. Ia terserang flu setelah membujuk para peternak dengan hujan-hujanan kemarin.
"Bangunkan saya satu jam lagi. Kita datangi mereka. Usahakan besok atau lusa kembali ke Jakarta. Istriku sudah akan melahirkan."
Andi menatap atasannya ragu. Pasalnya kondisi Baskara tidak dalam keadaan baik. Jika dipaksakan ia takut terjadi sesuatu dengan atasannya itu.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya bapak istirahat dihotel dulu sampai kondisi bapak lebih baik? demam bapak sangat tinggi."
Baskara mengibaskan tangan tanpa membuka mata. "Setelah minum obat dan istirahat pasti akan lebih baik. Dan jangan sampai kamu memberitahu kondisiku pada istri dan keluargaku."
Andi mengangguk patuh dan meninggalkan kamar yang Baskara tempati untuk membiarkan atasannya itu beristirahat.
Ia pindah ke ruang tamu yang ada disana. Mengerjakan dokumen yang diperlukan untuk nanti. Jika mereka bisa mendapatkan tiga hingga empat koperasi lagi saja pasti sudah sangat membantu. Sisanya perusahaan pasti bisa membeli sapi import.
Andi sudah bekerja diperusahaan tiga tahun lebih lama dari Baskara. Ia adalah anak dari orang kepercayaan kakek Baskara. Yang kini ditugaskan untuk mengajari dan mendampingi Baskara dalam bekerja.
"Halo." suaranya yang berat menyapa begitu telepon dari kepolisian tersambung dengannya.
"Dugaan anda benar. Ada yang menyabotase tapi bukan di air minumnya. Melainkan ada yang menyemprotkan rumput pakan sapi dengan pestisida."
"Pelakunya?" tanyanya dengan dingin. Sebelah tangannya mengepal. Hingga otot-ototnya menonjol.
"Kami belum menemukan pelaku. Karyawan yang bertanggungjawab dengan sapi-sapi itu juga tidak melihat ada orang asing masuk kedalam peternakan."
Andi tahu itu. Tidak mungkin orang lain mudah masuk kedalam peternakan. Karena peternakan dijaga penuh dan tidak dibuka untuk umum. Jadi tidak mungkin pelakunya orang luar, pasti salah satu diantara karyawan yang menyabotasenya.
"Periksa semua karyawan. Nanti saya kirim hasil rekaman CCTV untuk kalian cek."
Andi memutuskan panggilan dengan senyum smirk. Ada yang coba-coba bermain-main dengannnya. Untung diawal tugasnya memegang pabrik dulu, ia sempat memasang beberapa kamera pengawas tersembunyi yang karyawan tidak tahu. Dan saat ini berguna untuk mengungkap orang-orang dibalik kesibukan yang beberapa hari ini ia lakukan.
"Kenapa kamu tidak membangunkanku!" Andi berjingkat kaget dari lamunannya begitu seruan Baskara dari ambang pintu dengan marah terdengar. Mata atasannya itu masih sayu dan merah. Dasar bocah! umpatnya dalam hati.
*
*
__ADS_1
*