Langit Senja

Langit Senja
Bab 34


__ADS_3

Dua minggu sudah Senja pergi dari mansion keluarga William. Dan selama itu juga Senja mengurung diri di dalam Apartemen milik Alya, sahabatnya bersama dengan Alya juga. Karena mereka tahu di luar sana banyak pengawak Langit yang sedang mencari keberadaan Senja.


"Al." Panggil Senja pada Alya yang tengah asik menonton drakor favoritnya. Sementara dirinya baru saja selesai dengan kegiatan rutinnya, yaitu menulis novel di saah satu aplikasi menulis novel.


Ya, sudah satu tahun lebih Senja menjalani hobinya, yaitu menulis. Dan syukurnya, hobinya ini dapat menghasilkan pundi pundi rupiah yang dapat memenuhi kebutuhannya selama ini. Meski tak dapat di pungkiri, selama ia tinggal bersama keluarga William, dia tidak pernah kekurangan apapun.


Namun, Senja menyadari satu hal, bahwa dirinya tak bisa terus terusan bergantung pada mereka. Apalagi melihat sikap Langit yang tidak pernah lembut padanya, meski tidak pernah kasar padanya, Karena meski tinggal dalam satu atap, mereka sangat jarang bertemu. dan setiap bertemu pun, Langit hanya cuek saja. Dan jika berbicara, pia itu akan mengeluarkan ata kata yang akan menyakiti hati Senja.


Bahkan, Senja pergi dari mansion pun tak membawa apapun selain pakaian yang ia kenakan dan barang pribadi miliknya sebelum masuk ke dalam keluarga William. Uang bulanan yang sellau di berikan mertuanya pun ia tinggal tanpa kurang sedikitpun, begitu juga dengan ATM yang di beri oleh Langit melalui Dylan kala itu.


Kembali pada dua remaja yang tadinya tengah fokus pada kegiatannya masing-masing, kini pun menghentikan kegiatan mereka.


Alya menoleh ke arah senja yang tadi memanggilnya.


"Ada apa Nja?" Tanya Alya. Senja yang tadinya duduk lesehan di atas karpet berbulu tebal itu langsung beranjak mendekati Alya yang duduk di atas sofa.


"Hari ini jadwal aku cek up kandungan, sekalian ke psikiater." Beritahu Senja pada sahabatnya.


"Ya udah kalau gitu, ayo berangkat sekarang." Ajak Alya, antusias. Namun, saat gadis itu akan beranjak dari duduknya, Senja tiba tuba mencekal lengannya.


"Ada apa?" Heran Alya, tadi Senja sendiri yang mengajaknya, eh tidak. Lebih tepatnya memberitahu. Tapi kenapa seakan dia mencegahnya? Pikir Alya, bingung hingga ke dua alisnya mengerut hampir menyatu.


"Gue masih takut keluar. Nanti kalau ketangkap anak buahnya Kak Langit gimana?" Senja mengatakan kekhawatirannya pada Alya.


Alya kembali mendudukkan dirinya dengan benar lalu menatap lekat ke arah Senja yang duduk di sisinya.

__ADS_1


"Lo tahu suami lo nyariin lo selama ini. Kenapa lo nggak balik aja ke mansion. Dia pasti sudah menyesali perbuatannya." Ucap Alya.


"Iya kalau dia nyariin gue karena penyesalannya. Kalau mau bunuh bayi yang gue kandung gimana?" Jawab Senja. Netra hazel gadis itu berkaca kaca membayangkan kekejaman Langit yang akan menghabisi darah dagingnya sendiri.


"Dia nggak menginginkan anak ini Al." Keluh Senja, ia sudah tak bisa lagi membendung air matanya.


Segera Alya memeluk tubuh rapuh sahabatnya dan mengusap lembut punggung gadis itu.


"Sorry Nja, gue nggak bermaksud. Gue akan cari tahu kebenarannya. Dan sekarang kita harus mikirin gimana caranya kita bisa keluar. Gue juga nggak mau kalau lo sampai telat terapi dan juga telat cek up kandungan." Ucap Alya, mencoba menenangkan sahabatnya. Ini memang salahnya, kenapa jiga tadi dia harus membahas pria yang sudah menyakiti sahabatnya ini. Mau Langit menyesal pun dia tidak akan perduli. Yang ingin Laya pedulikan saat ini adalah Senja, teman, sahabat, sekaligus saudara baginya.


####


Drrrrttt drrrrttt drrrrttt


[Kamar Nona sudah saya bereskan Tuan, dan saya menemukan sesuatu di dalam kamar Nona muda] ucap Siska dari seberang telepon.


"Apa yang kamu temukan?" Tanya Langit, penasaran dengan apa yang di temukan Maid itu sehingga dia tidak dapat menemukannya.


[Amplop berisi uang Tuan.]


Langit menautkan kedua alisnya bingung. Apalagi ini? Uang apa yang di tinggalkan istri kecilnya?


"Hm, kirim ke apartemen saya." Jawab Langit, ya selama Mansion di renovasi, Langit tinggal di apartemennya, sementara para Maid tetap tinggal di paviliun belakang mansion yang memang di khususkan untuk tempat tinggal para Maid. Ia lalu memutus panggilan secara sepihak lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


Ia lalu membuka kacamata bacanya dang mengurut pangkal hidung mancungnya yang terasa pusing.

__ADS_1


"Di mana sebenarnya kamu sayang." Gumam Langit. Dia benar benar merasa frustasi karena sudah dua minggu belum menemukan jejak istrinya.


Tok! Tok! Tok!


Mendengar ketukan pintu dari luar ruangannya, Langit segera mengubah ekspresinya menjadi kembali dingin.


"Masuk!" Seru Langit, setelah kembali menegapkan tubuhnya yang rapuh karena kepergian sang istri.


"Ck, nggak usah sok kuat lo. Gue tahu kondisi lo sekarang." Decak seorang pria yang baru saja memasuki ruang kerja Langit. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Dylan, asisten pribadi sekaligus sahabatnya.


Melihat sahabatnya yang masuk, Langit langsung menurunkan pundaknya yang tadinya ia tegapkan. Pria itu memang tidak pernah menyembunyikan apapun di hadapan sahabatnya, bahkan kerapuhannya kali ini diapun tak pernah menyembunyikannya.


"Gue benar benar lelah Lan, tapi gue nggak mau nyerah." Keluh Langit. Mereka kini sudah duduk di sofa ruangan Langit.


"Lo yang sabar, semua pasti ada hikmahnya. Dan ingat Ngit, kalau lo beneran nyerah, itu artinya lo nggak akan bisa ketemu Senja." Peringat Dylan, seraya menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


Mendengar ucapan Dylan, Langit langsung menegapkan tubuhnya yang tdi terasa lemas.


"Nggak, gue nggak akan nyerah, gue nggak mau kehilangan Senja dan anak kami." Tegas Langit. Ya, dia sangat menyesali perbuatannya selama ini. Dia akan menebusnya dengan memberi banyak kebahagiaan untuk istri dan anaknya.


"Bagus." Puji Dylan. Pria itu lalu menyodorkan ponselnya yang terpampang sebuah foto di dalam layar ponsel itu pada Langit yang terlihat bingung dengan kelakuan Dylan.


"Kiriman dari anak buah kita, melihat perempuan yang seperti Senja masuk ke dalam rumah sakit."


****

__ADS_1


__ADS_2