Langit Senja

Langit Senja
Bab 12


__ADS_3

Setelah kepergian Senja, Langit pergi menuju ruang makan untuk melaksanakan sarapan paginya sebelum berangkat kekantor.


"Bik." panggil Langit, saat melihat Bik Sumi melewati ruang makan. Merasa dirinya di panggil, Bik Sumi berjalan menghampiri Langit.


"Iya Tuan?"


"apa tadi Senja sarapan?"


"tidak Tuan, akhir akhir ini Nona Muda tidak pernah sarapan dirumah." jelas Bik Sumi.


"ya sudah, lanjutkan pekerjaan Bibi." perintah Langit. Bik Sumi langsung pamit untuk pergi meninggalkan ruang makan.


setelah kepergian Bik Sumi, Langit duduk termenung tanpa menyentuh makanan dihadapannya.


Drrrrttt drrrrttt drrrrttt


suara ponselnya membuyarkan lamunannya.


"hm" dehem Langit, setelah mengangkat telponnya.


"Gue udah di luar, ada meeting pagi, cepetan." ucap seseorang dari seberang telepon. siapa lagi pelakunya yang berani seenaknya pada si Tuan muda dingin itu kalau bukan Dylan Mahendra, sahabat sekaligus asisten pribadinya.


"ya, tunggu." jawab Langit. ia kemudian memutuskan panggilan teleponnya dan langsung beranjak dari ruang makan tanpa menyuapkan sedikitpun makanan ke mulutnya.


Sedangkan diluar mansion, seorang pria mengumpat kesal pada orang yang di telponnya.


"Gila nih orang, main matiin aja."


"lo ngumpat gue?"


Dylan langsung mendongak menatap orang yang mempertanyakan umpatannya tadi.


"Eh Tuan muda..."

__ADS_1


"nggak usah basa basi ayo cepetan berangkat." potong Langit, sebelum Dylan berbicara panjang lebar yang menurutnya itu sangatlah tidak bermutu.


kedua pria itupun memasuki mobil dengan Dylan yang mengemudikannya.


selama perjalanan sampai selesai meeting, Dylan terus memperhatikan Langit yang terus melamun seperti memikirkan sesuatu, sampai sampai saat tadi acara meeting Dylan lah yang banyak bicara.


Dylan mengikuti Langit memasuki ruang kerja CEO itu. dua pria itu duduk di sofa tanpa sepatah katapun.


"lo kenapa." Dylan memecahkan keheningan yang sudah terlalu lama dan membuatnya sudah tidak tahan untuk kepo.


Langit menatap Dylan mengernyitkan alisnya. "kenapa?"


"malah balik tanya." kesal Dylan. "dari tadi diem terus. juga akhir akhir ini lo sering uring uringan nggak jelas."


Langit menghembuskan nafas nya kasar. "Setelah kejadian itu, gue baru ketemu dia lagi tadi pagi." ucap Langit, terasa ambigu di telinga Dylan.


"kejadian itu? kejadian apa? dia siapa?" Tanya Dylan secara beruntun.


"kejadian satu Minggu yang lalu di hotel." jawab Langit.


"Belum, belum waktunya gue nemuin tuh dua hama. biarkan saja dulu mereka menikmati hidupnya di sana."


Dylan mengernyitkan alisnya bingung. "kalau bukan Diana, terus maksudnya siapa yang lo temui tadi pagi?" tanya Dylan lagi. pria berusia satu tahun di atas Langit itu merasa kalau ucapan Langit itu berbelit belit.


"Senja." jawab Langit Singkat. Dylan di buat semakin bingung. bagaimana bisa bagaimana bisa hidup dalam satu atap tapi selama satu minggu tidak pernah bertemu? apa mereka bermain kucing kucingan? Hah, membuat Dylan semakin pusing saja memikirkan masalah rumah tangga sahabatnya ini. Bukan, bukan itu yang Dylan pertanyakan. ada masalah apa antara Senja dan Langit sampai mereka tidak pernah bertemu? Namun, detik berikutnya Dylan menatap tajam kearah Langit yang masih diam itu.


"Maksud lo, lo ngelakuin ke Senja?" tanya Dylan yang di balas anggukan oleh Langit. "dan tanpa dasar Cinta?" Lagi, Dylan melemparkan pertanyaan pada Langit yang lagi lagi hanya mendapat balasan dengan anggukan saja.


"Terus?" Tanya Dylan, membuat Langit mengangkat alisnya sebelah seakan bertanya apa maksud dari pertanyaan sahabatnya itu. melihatnya, Dylan juga bingung maksud dari pertanyaannya. jadi pria itu hanya diam saja. jika Langit mau bicara lagi ya dia dengarkan dan jika tidak ya sudah.


"gue udah minta maaf sama dia." ucap Langit, memecah keheningan yang beberapa saat terjadi karena pertanyaan Dylan.


Dylan membulatkan matanya tidak percaya. "lo, minta maaf?" tanyanya. bagaimana tidak, seumur umur dia dekat dengan Langit, tak pernah ia mendengar Langit mengucapkan kata maaf. bahkan pada mantan kekasihnya dulu. tap sekarang? Dylan tak menyangka kalau Senja dapat merubah kepribadian Langit yang sangat dingin ini.

__ADS_1


Langit mengangguk membenarkan pertanyaan sahabatnya. "Terus?" tanya Dylan.


"ya, gue bilang kalau sampe dia hamil gue suruh gugurin." jawab Langit terlihat santai. Ya, memang terlihat santai dia mengucapkannya. tidak ada yang tau saja tadi pagi setelah dia mengatakan itu pada Senja, perasaannya menjadi terombang ambing tak karuan. begitu juga sekarang saat mengatakannya dihadapan sahabatnya.


"Brengsek lo Ngit. lo udah buat gadis sebaik Senja menderita dan sekarang lo suruh dia gugurin kandungan kalau sampai dia hamil? lo tau nggak kalau beneran dia hamil itu karena apa? dan lo tau nggak kalau bener bener dia hamil, hamil anak siapa? punya hati nggak sih lo Ngit?" kesal Dylan. pria itu benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Dylan sudah tidak perduli lagi dengan apa yang dikatakannya kalaupun akan membuatnya di pecat atau bahkan dihabisi oleh Langit.


"Gue udah nggak tau lagi cara menasehati cowok kayak lo Ngit, gue nyerah. tapi ingat satu hal, lo akan merasakan sebuah penyesalan." Ucap Dylan, kemudian pergi meninggalkan Langit yang masih diam mematung.


"apa gue sejahat itu?" gumam Langit.


...****************...


UN hari pertama telah berakhir, seluruh peserta ujian kini berhamburan keluar meninggalkan ruang kelas dan pulang kerumah masing masing.


"Senja." Senja menoleh, melihat seseorang yang memanggilnya.


"Ya?" tanya Senja setelah tau siapa yang memanggilnya. dia adalah Alya, salah satu sahabat Senja.


Tania dan Jingga? kalau Tania sudah tentu pulang bersama pujaannya yaitu Rendy. kalau Jingga? entah kemana gadis itu, dia sering sekali menghilang tanpa kabar.


"lo kenapa?" Tanya Alya. Senja mengernyitkan alisnya tidak mengerti dengan pertanyaan sahabatnya.


"gue kenapa?" tanya Senja balik.


"ck, lo bisa tipu Jingga dan Tania, tapi nggak dengan gue." decak Alya. ia tau kalau Senja sedang ada masalah, karena sejak kedatangan gadis itu pagi tadi, Alya memperhatikan Senja yang terlihat habis menangis.


Senja menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. "Tadi pagi gue ketemu dia." ucap Senja. tubuhnya kembali bergetar dan mengeluarkan keringat dingin ketika mengingat pertemuannya pagi tadi dengan Suaminya.


menyadari reaksi gadis itu, Alya langsung memeluk tubuh Senja yang bergetar. "trauma lo belum sembuh sepenuhnya Nja, kita harus ke psikiater lagi." gumam Alya. gadis itu menuntun Senja berjalan kearah mobilnya.


ya, setelah Langit memaksanya dan paginya dia demam, Senja mengalami trauma dia takut dekat dengan laki laki, apalagi jika dia melihat suaminya, tubuhnya akan langsung gemetar dan mengeluarkan keringat dingin ia langsung terbayang bayang kejadian dimana suaminya itu memaksanya.


Bersambung...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2