Langit Senja

Langit Senja
Bab 17


__ADS_3

"Siska"


"Ya Tuan" Langkah Siska yang berjalan akan melewati meja makan itu seketika terhenti ketika Langit memanggilnya.


"Senja sudah berangkat."


"Sudah Tuan, seperti biasa, pagi pagi sekali." Jelas Siska.


Langit menghela nafas pelan, lagi lagi dia tidak bisa bertemu dengan Senja. mau memaksanya tapi dia takut jika Senja akan semakin takut padanya. akhirnya dua hanya bisa menunggu dan bersabar, dia akan mendekatinya perlahan. sangat bukan Langit ya.


tanpa sarapan, Langit langsung berangkat ke perusahaan.


Langit turun dari mobil mewahnya saat sampai depan kantornya. ia kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada penjaga keamanan agar di pindahkan ke tempat parkir.


"selamat pagi Tuan."


"Pagi Tuan muda"


"selamat datang Tuan muda"


begitulah para karyawan menyapa Langit saat berpapasan dengannya, namun hanya dibalas anggukan dengan wajah dinginnya juga netra elangnya yang menatap tajam ke arah depan membuat para karyawan wanita terpesona.


Sementara di sekolah, Kini Senja sedang melaksanakan ujian pelajaran terakhir. tiba tiba ia merasa perutnya di aduk aduk meminta isinya dikeluarkan. cepat cepat ia menyelesaikan dua soal yang belum dia jawab. gadis itu segera menjawabnya dengan apa apa yang ada dipikirannya. setelah selesa dia segera meletakkan lembar jawabannya di atas meja guru.


Melihat Senja keluar dengan terburu buru, Alya juga segera menyelesaikan soalnya dan menyusul Senja.


Huek huek huek


Senja memuntahkan semua isi perutnya kedalam wastafel toilet.


"lo nggak papa Nja?" Alya menghampiri Senja dengan memijat tengkuk gadis itu perlahan.


Senja menggelengkan kepalanya tak lupa dengan memberikan senyum manis pada sahabatnya itu agar tak khawatir padanya.


"gue nggak papa Al, kayaknya gue masuk angin deh gara gara semalam bergadang juga gue tidur dengan perut lapar." adu Senja.


Alya mengangguk saja, tapi entah kenapa pemikirannya sangat berbeda, apa lagi melihat wajah gadis itu yang terlihat sayu sejak kemarin. Namun, gadis itu menampik apa yang dia pikirkan, dia mencoba mempercayai apa yang Senja katakan.


"Nih minyak angin oles di perut lo, biar enakan." Alya memberikan minyak angin yang dia bawa kepada Senja. gadis itu menerimanya dan membuka minyak angin itu. Namun...


Hueekk

__ADS_1


Senja kembali menutup minyak itu dan menjauhkannya.


"Alya, minyak apa ini bau banget." seru Senja, gadis itu membasuh mulutnya yang kembali memuntahkan isi perutnya akibat mencium aroma minyak angin tadi.


"ya minyak angin Nja, kayak biasanya." Alya mengambil minyak itu dan membacanya. merk nya sama seperti yang ia bawa setiap hari, apanya yng beda coba?


kini Alya menatap penuh kearah Senja. "Nja, jangan jangan lo..." ucapan Alya terhenti, yang kini menatap lekat kearah Alya, pikiran nya pun kini sama denga Alya.


kruuyuuk krruuyuukk


ketegangan itu pecah karena mendengar suara perut Senja. gadis itu meringis menampilkan deretan gigi putihnya.


"Al, gue laperr." Seru Senja. bagaimana ini, baru akan membahas hal yang serius malah terganggu dengan suara perut Senja yang keroncongan.


Alya mnghela nafas pelan. "ya sudah ayo kita ke cafe langganan kita aja." ajak Alya. ia menggandeng tangan Senja dan di bawanya keluar dari toilet.


"Tapi Al, gue pengen makan steak. di cafe langganan kita nggak ada steak."


Alya langsung menghentikan langkahnya mendengar permintaan Senja yang tak biasa. sejak kapan gadis ini doyan makanan mahal?. doyan sih doyan, tapi sejak kapan gadis seperti Senja rela menghamburkan uang hanya untuk sebuah makanan?. itulah pertanyaan yang ada di benak Alya, tapi entah kenapa dia tidak berani menanyakannya langsung seperti biasa. dia hanya mengerutkan keningnya meminta penjelasan pada Senja.


gadis itu malah mengangguk dengan menunjukkan puppy eyes nya. "gue pengen makan steak, sesekali boleh yaa." pinta Senja, sedikit memohon pada sahabatnya agar menurutinya. gemas sekali Alya melihat gadis yang berusia satu tahun lebih muda darinya ini.


"ya baiklah, ayo ikut gue." Ajak Alya. dengan semangat Senja mengikuti langkah sahabatnya menuju parkiran khusus siswa/i.


"Masuk!" perintah Langit, saat mendengar ketukan pintu ruangannya.


"permisi Tuan muda, saya hanya mengingatkan sepuluh menit lagi ada meeting dengan klien dari bandung di restoran A." Mila, sekertaris Langit mengingatkan Tuan mudanya.


"Hm, panggilkan Dylan kemari lalu siapkan berkas untuk meeting sekarang." perintah Langit tanpa menoleh ke arah sekertarisnya.


"berkas sudah siap Tuan, saya akan panggil Tuan Dylan."


Langit hanya mengannguk. Mila langsung pamit undur diri untuk memanggil Dylan.


"ada apa?" tanya Dylan yang tanpa permisi masuk ke ruangan Langit, membuat Langit terjengit kaget.


"bisa nggak sih kalau masuk ketuk pintu dulu." omel Langit. dia sangat kesal melihat tingkah Dylan yang semakin menjadi.


Dylan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sorry. ralat, Maaf Tuan saya reflek. ada yang bisa saya bantu Tuan?" Dylan kembali mengubah nada bicaranya menjadi formal membuat Langit memutar bola matanya jengah.


"lo ikut gue meeting di restoran A."

__ADS_1


"Oke."


dua pria dewasa itu berjalan keluar ruangan Langit.


Dua gadis remaja sedang duduk didalam sebuah restoran sedang menunggu pesanan mereka.


"Al, kenapa tadi nggak ajak Tania sama Jingga?"


"udah gue ajak, tapi mereka nggak bisa."


Senja mengerutkan keningnya. "kenapa?"


"Tania balik di jemput Rendy, kalau Jingga di suruh langsung pulang sama orang tuanya." jelas Alya, Senja hanya ber oh ria saja.


"kalau lo, nggak di suruh langsung pulang sama Om Irfan?" tanya Senja. Alya terkekeh lalu menggelengkan kepalanya.


"Bokap gue nggak seposesif itu kali Nja, lagian gue udah bilang sama bokap kalau gue nemenin lo makan." jelas Alya. Senja menganggukkan kepalanya.


melihat seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa pesanannya, mata Senja berbinar cerah membuat Alya hanya geleng geleng kepala. padahal, bukan pertama kalinya Senja memakan steak, tapi gadis itu terlihat baru pertama kali memakannya.


"lo kayak baru pertama kali aja makan steak Nja." setelah pelayan pergi, Alya akhirnya mengungkapkan isi hatinya yang merasa heran dengan kelakuan sahabatnya itu. bukan malu, hanya heran saja ya.


"tapi ini beda loh Al." sangkal Senja.


"ya bedanya apa Senja? steak gitu gitu aja rasanya."


"udah ah, gue mau makan dulu Al. lo makan aja punya lo itu." kesal Senja. sensitif sekali sahabatnya ini. tapi tidak masalah, Alya tidak akan marah, mungkin Senja lagi PMS. mereka pun makan dengan tenang.


Saat akan duduk di kursi yang sudah di pesan, Langit melihat sosok gadis yang sepertinya sangat dia kenal. pria itu menajamkan pandangannya. ya, dia tidak salah lihat, itu memang Senja istrinya.


melihat Langit yang melihat pada satu arah, membuta Dylan ingin bertanya. "lihat apaan lo Ngit."


Langit menunjuk apa yang dia lihat dengan dagunya. "dia disini."


Dylan mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk Langit. Langit tiba tiba berdiri lagi dari duduknya. tapi tangannya langsung di cekal Dylan.


"mau kemana lo?" Tanya Dylan.


"nyusul istri gue." Langit mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Dylan yang terasa semakin kuat.


"lo gila ya? katanya semalam dia nangis nangis ketemu lo, dan sekarang lo mau bikin dia nangis lagi." tahan Dylan, dengan lesu Langit kembali mendudukkan bokongnya di kursinya. "lihat, dia makan steak sampai lahap gitu, kayak gak pernah makan tau nggak. lo pasti nggak pernah ajak dia makan di luar, maid juga pasti nggak pernah bikin steak kalau nggak ada yang minta, dan lo nggak pernah lagi makan steak." cerca Dylan membuat Langit merasa semakin bersalah pada istrinya. seperti ya Langit harus mencari tau apa yang di sukai dan tidak di sukai oleh istrinya, supaya dia tau harus melakukan apa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2