
Entah Senja harus merasa senang atau takut dengan keberadaan Baskara di apartemennya. Melihat tatapan penuh amarah sahabatnya, Senja merasa ciut.
Sebenarnya pesta teman-temannya sudah selesai setengah jam yang lalu. Bahkan semua sudah pulang, tersisa Robert yang tinggal meski sudah puluhan kali Senja usir.
Pria yang sudah dipengaruhi alkohol itu malah semakin bertingkah dengan tidur di sofa dan berkata ingin menemani Senja yang kesepian karena tinggal seorang diri.
Senja yang merasa risih menarik kasar tangan pria itu hingga terjatuh ke lantai-meski niatnya tak seperti itu. Robert yang dalam pengaruh alkohol jelas langsung terpancing emosinya.
"Kau tak perlu jual mahal seperti itu." netra merah Robert yang sayu-setengah menutup-itu menghunus tepat dimanik mata. "Aku tahu setiap weekend ada teman lelakimu yang menginap disini."
Senja memundurkan langkah ketika Robert secara perlahan semakin beranjak mendekatinya. "Jika kau bisa tidur dengan lelaki itu, kenapa tidak denganku?" bisa Senja dengar nada merendahkan dalam suara pria didepannya itu. Semakin membuat Senja geram dan berusaha lebih keras mengusir keberadaan Robert dari tempat tinggalnya.
Mungkin di Amerikan dua orang berlawanan jenis yang tinggal didalam rumah yang sama tidaklah aneh untuk melakukan hubungan intim. Bahkan meski tanpa ikatan hubungan apa pun di antara mereka.
Tapi tidak dengan Senja. Ia masih memegang teguh identitasnya sebagai orang timur. Apa lagi hal tersebut sangat dilarang dalam agamanya.
"Kau mabuk, Robert. Lebih baik kau pulang sekarang. Ini sudah tengah malam." Sekuat tenaga Senja mendorong dada temannya itu hingga sedikit kehilangan keseimbangan. Kemudian Senja tarik tangan Robert mendekati pintu keluar.
Seharusnya ia tak boleh terpancing emosi seperti itu. Karena ia tidak bisa merubah pandangan Robert serta merta. Terlebih pria itu tengah dalam pengaruh alkohol. Selain apa yang di ucapkan pria itu dari alam bawah sadarnya, ia juga seperti mengundang marabahaya untuk dirinya sendiri.
Dengan mudah Robert menghempaskan tangannya. Mendorongnya hingga terpojok di dinding sebelah pintu masuk. Pria itu memegang erat kedua pergelangan tangan Senja. Robert memiringkan wajah dan semakin memangkas jarak mereka.
Senja memberontak dengan menendang ************ Robert dengan lututnya membuat pria itu mengerang kesakitan. Melepaskan gengamannya pada Senja, beralih memegang masa depannya yang terancam.
Semakin merasa di tantang, Robert berusaha berdiri tegak dan kembali mendekati Senja.
Sebelum Robert mampu menguncinya, Senja sudah menendang perut pria kurang ajar itu hingga jatuh tersungkur. Jangan meremehkan ilmu bela dirinya yang meski pun hanya sekedar teknik membela diri yang kedua kakaknya ajarkan. Setidaknya itu bisa menyelamatkannya malam ini dari binatang buas model Robert Anderson.
Mendapat serangan demikian, sedikit mengembalikan kesadaran Robert. Emosi pria itu sudah mencapai ubun-ubun. "Kau salah mencari lawan nona Senja." ujarnya bengis. "Dan kau takan pernah bisa lepas dariku malam ini! Akan ku buat kau tidak bisa berjalan besok pagi." imbuh Robert dengan salah satu sudut bibir yang tertarik. Menampilkan kesan jahat dan membuka segala topeng yang selalu pria itu tampilkan didepan Senja. Membuat Senja kini tahu seperti apa Robert yang sesungguhnya.
Senja masih berusaha mempertahankan dirinya. Mencoba melawan dengan segala cara yang ia bisa. Hingga ia kembali terpojok di dinding dengan leher tercengkeram erat membuatnya sulit bernapas. Satu tamparan mendarat sempurna di pipi mulusnya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan pintu apartemen terbuka menampilkan wajah terkejut yang seketika berubah merah padam melihat kekacauan yang terjadi.
"APA-APAAN INI.. BRENGSEK!" Baskara langsung menendang pinggang Robert yang langsung jatuh tersungkur. Tak cukup sampai di situ, Baskara juga memukuli pria itu dengan membabi buta.
Ia benar-benar marah melihat Robert berbuat kasar pada sahabatnya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun melukai Senja.
Senja yang melihat Robert sudah tak berdaya pun langsung memegang lengan Baskara. "Udah, Bas. Lo bisa dipenjara gara-gara bunuh orang." lirih Senja takut melihat Baskara yang seperti orang kesetanan.
Mereka akhirnya menghubungi keamanan gedung untuk mengamankan Robert. Menyerahkan semuanya pada mereka.
Deru napas Baskara masih belum teratur. Pemuda itu berjalan ke dapur untuk mengambil minuman dingin yang semoga saja bisa mendinginkan kepalanya.
Sedangkan Senja masih mematung didepan pintu. Tempat dimana gadis itu melihat Robert dibawa paksa oleh petugas keamanan gedung.
Senja masih diam disana bukan merasa kasihan dengan Robert yang wajahnya kini tak dikenali. Tapi Senja masih berdiam diri disana karena tak berani menyusul Baskara. Tak siap untuk mendengar amarah sahabatnya itu.
Namun mau tak mau, Senja harus menyusul Baskara. Tidak mungkin ia semalaman berdiri disana bukan?
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan. Baskara masih mencoba meredam amarahnya. Begitu juga dengan Senja yang mencoba meredam rasa takutnya. Takut dengan apa yang baru saja terjadi, juga takut pada Baskara.
Tak tahan dengan suasanya yang tidak nyaman. Baskara kembali melangkah ke dapur. Membuat air hangat untuk mengompres memar disalah satu pipi Senja.
Ia masih tak habis pikir. Untuk apa Senja membawa Robert kedalam apartemen di tengah malam seperti ini. Apa mereka memiliki hubungan khusus?
Tak bisakah Senja memilih pria yang lebih baik? Bukan pria kasar dan brengsek seperti pria tadi.
Setelah semua siap, Baskara kembali ke ruang televisi untuk membantu mengobati luka diwajah Senja.
"Sini gue obatin."
Tak mau membantah nada dingin yang keluar dari mulut Baskara, Senja semakin mendekat ke pemuda itu. Memudahkan untuk Baskara mengobati lukanya.
__ADS_1
"Bisa nggak sih, jangan mancing bahaya kalau lagi nggak ada gue?" nada suara Baskara kini lebih terdengar bersahabat dibanding tadi. "Karena gue bukan super hero yang sewaktu-waktu bisa ada disamping lo buat nyelamatin lo saat dalam bahaya."
Senja hanya mendesisi ketika Baskara membersihkan darah disudut bibirnya yang sudah mengering dan mengolesi gel luka disana. Beralih menempelkan handuk hangat di pipi Senja yang membiru. Mengimpresnya agar tidak bengkak dan cepat menghilangkan lebab itu.
"Dan bisa nggak kalau milih pasangan tuh yang beneran dikit?" sindir Baskara. Ia memang tak tahu jika ditempatnya kini berada, baru saja ada pesta minuman keras. Karena semua sudah Senja bersihkan dan menyuruh Maureen sekalian membuangnya ketika pergi tadi.
"Pasangan apa?" tanya Senja dengan alis mengernyit tak mengerti maksud dari pertanyaan sahabatnya itu.
"Lo boleh Ja, punya pacar... Tapi jangan berduaan sama cowok di tempat pribadi kaya gini! terlebih sama orang barat kaya mereka yang gaya pacarannya tuh bebas. Apalagi cowok lo tadi juga lagi mabok, Ja. Lo tahu sendiri kan, bagaimana bahayanya?"
Senja semakin mengerutkan dahinya begitu tahu Baskara tengah salah paham. "Dia bukan cowok gue." geleng Senja meluruskan kesalahpahaman sahabatnya.
Bola mata Baskara membulat mendengar jawaban Senja. Tak lama kemudian ia berteriak nyaring. "KALAU BUKAN PACAR NGAPAIN DISINI DIJAM DANGER KAYA GINI?!"
Senja berjengit kaget mendengar teriakan Baskara. Niat hati meluruskan agar tak terjadi kesalahpahaman, yang terjadi justru Baskara kembali emosi mendengarnya.
*
*
*
Btw othor lagi ada tugas nih dari komunitas. Tugasnya di Instagram.
Bagi yg punya IG bisa dong follow othor dan bantu like tugas othor disana.hihihi
Nama IG othor : Virgoanz
Nggak maksa sih. Tapi kali aja ada yang mau bantu kan... wkwkwk ngarep
Jangan lupa tinggalkan jejak gaes. Maksih yang setia baca dan memberi dukungan.
__ADS_1
Skuy Like-nya jangan kasih kendor. Saranghae.. ❤