
Senja menghela napasnya panjang dan langsung menjatuhkan dirinya di sofa ruang tengah apartemennya.
Tak lama kemudian, Baskara-yang baru saja meletakan koper mereka dikamar yang sebelumnya hanya ditempati Senja seorang-mencium dahi istrinya dan memindah kepala Senja diatas pangkuannya.
"Mau makan apa, buat makan siang?"
Keduanya baru saja tiba di NY setelah melewati perjalanan panjang diatas pesawat yang membawa mereka dari Jakarta.
Sisa libur musim panas tinggal satu minggu. Senja ingin berkunjung ke tempat suaminya tinggal, sebelum mereka sibuk dengan rutinitas kuliah masing-masing.
"Pesen aja kan, mas? nggak usah masak, Nggak ada bahannya juga, belum belanja." jawab Senja dengan mata terpejam, menikmati sentuhan tangan Baskara pada kepalanya. Memainkan rambut hitam miliknya yang terasa seperti memijat lembut.
"Iya, pesan aja, ayy."
Dipesawat tadi, Senja tidak mau makan makanan berat. Membuat Baskara mengikuti sang istri agar mereka bisa makan siang bersama.
Meskipun makan siang mereka sudah lewat dari jadwal. Baginya tak masalah. Lebih baik menahan perutnya yang lapar dari pada melewatkan kesempatan untuk makan bersama.
"Jadinya mau pesan apa?" Baskara mencubit hidung sang istri yang tak juga mengatakan apa yang ingin dimakan untuk makan siang. Istrinya itu malah memejamkan mata dan ia yakin sebentar lagi akan terlelap.
"Lasagna aja sama salad."
Baskara mengetikan pesanannya juga sang istri dilayar ponselnya yang menampilkan menu italian didalamnya.
"Mau mandi dulu nggak? aku siapin air panas. Biar badannya relaks lagi. Ngilangin capek?"
Senja terkekeh mendengar tawaran itu. Ia membuka mata dan menatap langsung bola mata suaminya. Tangannya terulur menyentuh dagu sang suami. Mengusapnya lembut dan tersenyum.
"Kok jadi kamu yang ngelayanin aku sih mas? kan harusnya aku yang nawarin itu semua."
Baskara mengedik. "Kamu pasti capek. Aku aja yang cowok ngerasa capek banget, apa lagi kamu." ia balas dengan kecupan ringan dibibir istrinya. "Aku juga cuma ingin buat kamu nyaman sama pernikahan kita. Biar kamu nggak merasa terbebani sama status baru diusia kita sekarang."
Senja tersentuh mendengarnya. Suaminya bisa berpikiran sejauh itu.
__ADS_1
Meski bukan keinginannya untuk menikah muda. Tapi bukan berarti ia merasa terbebani dengan satusnya sebagai seorang istri saat ini.
Ia sudah siap menerima status barunya itu sejak ia memutuskan untuk menerima lamaran Baskara. Jadi untuk apa suaminya merasa seperti itu.
"Aku nggak ngerasa kayak gitu kok, mas. Jadi kamu nggak usah memperlakukan aku berlebihan." ucapnya. "Meskipun aku suka." imbuhnya dengan tergelak. Tawa lepasnya bersama Baskara setelah sekian lama.
Kini tak perlu alasan kuat untuknya tertawa lepas dengan pemuda yang kini sudah menjadi suaminya.
Seperti dulu, ketika status mereka masih sebatas sahabat. Murni tanpa ada rasa cinta didalamnya. Mereka selalu bisa tertawa lepas meski hanya dengan hal-hal konyol yang garing dan tak bermutu.
"Lagian aku juga nggak merasa keberatan buat memperlakukan kamu kaya ratu. Karena kamu emang ratu hatiku." jawabnya dengan mengayun tubuhnya berdiri dengan Senja dalam dekapannya.
"Eeh mau kemana!" pekiknya kaget. Gadis yang tak siap itu langsung berpegangan erat dengan cara melingkarkan lengannya di leher sang suami.
"Pesanan makan siangnya masih lama. Mending kita mandi dulu." jawabnya melangkah lebar membawa tubuh istrinya yang tak terasa berat bagi tubuhnya yang cukup kekar meski tidak terlalu berisi. "Bareng." imbuhnya tertawa penuh kemenangan.
***
Bel apartemen terdengar. Senja masih mengenakan bathrobe dan tengah mengeringkan rambutnya, setelah acara mandi plus bersama suaminya.
Suaminya itu tengah terpejam diatas tempat tidur dengan kaki menggantung. "Aku capek ayy.. Lututku kaya mau copot." erangnya yang masih merasa lelah setelah pergulatan panas mereka.
Kondisi badan yang lelah, serta mereka yang belum istirahat dengan benar. Membuat Baskara dua kali lebih lelah dari biasanya.
"Salah sendiri nggak tau konidis." cibir Senja yang melangkah menuju pintu. Benar kata Jingga. Laki-laki memang tidak memandang tempat dan kondisi jika sudah ingin. Asal hanya berdua, langsung saja beraksi.
"Mau kemana?" tanya Baskara yang sudah beranjak duduk.
"Buka pintu." jawab Senja polos. "Kayaknya kurir makanan."
Baskara menatap istrinya dari atas hingga bawah. "Kamu mau pakai begitu buka pintu? nanti yang ada bathrobe kamu yang dibuka sama kurirnya." tanpa repot menggunakan atasan, Baskara mendahului Senja keluar kamar.
"Kamu pakai baju aja. Aku tunggu dimeja makan." imbuhnya dengan suara yang sedikit dikeraskan karena sudah cukup jauh dari kamar mereka.
__ADS_1
"SURPRISE!!" teriak beberapa perempuan ketika Baskara membuka pintu. Pria itu bahkan langsung meloncat mundur mendengar suara yang cukup keras dan memekakkan telinga.
"AYY!" panggilnya pada sang istri begitu wajah teman-teman Senja terperangah didepan pintu. Mungkin sama syoknya dengan dirinya. Bedanya mereka syok karena yang membuka pintu bukanlah Senja.
"Kenapa? benar kurir makanan?" seru Senja yang baru keluar dengan membawa kaos milik suaminya yang sudah ia siapkan dan belum sempat dipakai.
"HEII TUTUP MATA KALIAN!" kini giliran Senja yang berteriak begitu mendapti teman-temannya lah yang datang dengan segala macam kado ditangan mereka. Menatap bagian atas suaminya yang tak berpenghalang.
Baskara memang bukan lelaki maco dengan otot-otot besar. Tapi meski begitu, ia masih memiliki beberapa kotak tahu pada perutnya. Dan bentuk tubuhnya cukup ideal untuk membuat perempuan yang melihatnya ingin bersandar didada bidang pemuda itu.
"HUUUU..." goda teman-teman Senja masih menatap tubuh Baskara yang tengah Senja pakaikan kaos dengan tatapan ingin.
"Kamu tuh, mas! udah tau nggak pakai baju bukannya langsung masuk kamar!" omel Senja begitu ia mengijinkan teman-temannya untuk masuk.
Baskara juga kaget dan tak sempat untuk langsung pergi dari sana. Pemuda itu merangkul bahu istrinya. "Cieee yang nggak mau aku dilihat cewek lain?" godanya mengikuti teman-teman istrinya keruang tengah.
"Kalau kamu aja nggak mau berbagi. Aku juga sama lah!" bela Senja.
Baskara memegang dadanya dengan ekspresi dilebih-lebihkan. "Aduuuh senangnya hati abang, dek." yang dibalas Senja dengan merotasikan bola matanya malas.
"Haruskah kalian datang hari ini!" seru Senja melipat kedua tangannya didepan dada. Menatap temannya satu persatu yang tersenyum tanpa dosa setelah datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
Baskara menjauh, memberikan mereka ruang dengan pergi kedapur mengambil beberapa minuman ringan dan cemilan untuk teman-teman sang istri.
Hatinya cukup senang ternyata istrinya menjalin hubungan yang baik dengan teman-temannya.
Meski ia tetap tidak suka kebiasaan mereka yang sering mengunjungi klub malam dan mengikut sertakan istrinya.
Tapi ia tidak bisa menyalahkan pergaulan mereka. Karena pada dasarnya hal seperti itu sudah menjadi hal yang umum dinegara tempat mereka menimba ilmu ini. Ia hanya perlu memastikan Senja tidak lagi ikut dalam acara seperti itu.
*
*
__ADS_1
*
Hihi maaf lagi nih, telat banget upnya.. Nanti ditambah satu part lagi deh kalau selesai ngetiknya sebelum tengah malam 😘