Langit Senja

Langit Senja
Ekstra Part 3


__ADS_3

Rumah masih sepi. Padahal matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Orang tua Baskara masih berada dirumah sakit. Jam delapan saat makan malam, baru mereka akan ada dirumah.


Begitu juga dengan Anna yang tengah menyukai piano. Gadis cilik mereka itu tengah antusias mengikuti les piano disekolah musik milik mendiang mommy Shevi yang kini dikelola oleh anak bungsunya, Reina.


Hanya ada Kai yang tengah menonton serial kartun seorang diri diruang keluarga. Dan tak jauh dari sana sang suster mengawasinya. Karena Kai paling anti ditemani suster yang membuat dirinya terlihat seperti anak kecil.


"Hai jagoan." sapa Baskara yang menghempaskan dirinya untuk duduk disamping sang putra dan merangkulnya.


"Bagaimana keadaan mommy? apa mommy baik-baik saja?"


Mendengar pertanyaan dari putranya, Senja merasa gemas sendiri. Entah menuruni siapa hingga Kai kaku seperti itu. Aah Senja baru ingat jika ayahnya pun sangat kaku.


"Mommy baik-baik saja. Lebih dari baik malah." Baskara menjawab dengan mengambil cemilan milik Kaisar dan memakannya.


"Aku ada sesuatu untuk mommy." kaki kecilnya melangkah memasuki kamar dan kembali keluar dengan membawa telepon pintar yang Senja dan baskara berikan pada Kai dan hanya boleh dipakai disaat keadaan darurat. Pria kecilnya itu juga membawa sebuah headphone ditangannya.


Mendekati Senja dan duduk disampingnya. Dengan tangan yang sibuk memilih daftar lagu dalam ponsel yang sudah terhubung dengan Headphone.


Setelah sebuah musik klasik terputar, Kaisar tak memakai headphone itu ditelinganya sendiri maupun telinga Senja. Kaisar justru menempelkannya pada perut sang ibu.


"Kai.." lirih Senja tak percaya. Suaranya tercekat mendapati sang putra begitu peka terhadap dirinya.


Baskara juga merasakan hal yang sama. Ia yakin dimasa depan, ia bisa mempercayakan Kai untuk melindungi keluarga mereka ini. Menggantikannya untuk melindungi Senja dan anak-anak ketika ia tak ada.


"Tadi Kai lihat di televisi, kalau musik klasik baik untuk adik bayi yang ada diperut mommy."


Senja tak tahan untuk tak memeluk Kaisar. "Kai nggak sedih, mommy akan memiliki adik bayi lagi?"


Kaisar melepas pelukan sang ibu dan menggeleng. "Kalau mommy aja senang. Kenapa Kai harus sedih?"


Kata-kata putranya benar-benar membuat Senja meleleh. Suatu hari nanti akan ada wanita beruntung yang pasti akan diperlakukan dengan baik oleh putranya ini.

__ADS_1


"Kai juga tidak akan mengatakan ini pada Anna. Kai tidak ingin anak cengeng itu menangis."


Senja tertawa dengan air mata yang masih merebak dipelupuk mata. Begitu juga dengan Baskara yang masih menatap dengan bangga pada putranya.


"Jadi mommy benar hamil?"


Senja dan Baskara saling tatap dan mengangguk. "Adik kamu ada dua disini." Senja bawa tangan Kai untuk menyentuh perutnya yang masih ditempel headphone.


"Kembar, mom?" tanya Kai dengan datar tapi matanya terlihat sangat antusias. "Bagimana mereka bisa hidup ditempat sesempit ini?" gumam Kaisar membelai perut ibunya.


"Nanti kalau mommy periksa kandungan lagi, kamu ikut ya? biar bisa lihat bagaimana cara kedua adik kamu hidup."


Kaisar mengangguk mantap. Anak satu ini memang selalu penasaran dengan hal yang belum ia ketahui. Kadang rasa penasaran Kaisar membuat Senja takut. Untuk itu ia masih mempekerjakan pengasuh untuk mengawasi apa saja yang putranya lakukan.


***


Semakin hari, perut Senja kian membesar. Terlebih karena kehamilan kembar, membuat perutnya terlihat lebih besar diusia kehamilan pada umumnya.


"Nanti kita ajak aja sekalian Anna kerumah sakit. Dia pasti nggak akan marah lihat kedua adiknya." saran Baskara yang benar-benar tidak tahu harus menyampaikan dengan cara apa pada putrinya. Pekerjaannya dikantor sudah cukup menguras pikirannya.


Akhirnya diusia kehamilan 11 minggu mereka yang biasanya hanya mengajak Kaisar, kali ini mengajak Anna setelah menjemput gadis cilik itu di tempat les.


Anna berulang kali bertanya mereka akan kemana. "Kerumah sakit."


Setelah diberi jawaban, Anna hanya diam. Tidak merasa penasaran untuk apa mereka kerumah sakit atau siapa yang sakit.


Gadis itu bahkan masih cuek ketika mereka menunggu di poli kandungan dengan beberapa ibu hamil yang perutnya sudah membesar disana. Anna hanya duduk dengan kaki yang bergerak kedepan dan belakang berulang kali.


Begitupun saat masuk ruang pemeriksaan dan disambut oleh Fani. Anna masih terkesan acuh. "Waah kali ini ada kakak Anna." Anna hanya tersenyum menanggapi sapaan tantenya itu.


Fani menatap Senja dan Baskara dengan heran. Karena sikap Anna yang biasanya cerewet menjadi pendiam. Yang dibalas gelengan oleh kedua adik iparnya itu.

__ADS_1


Jangankan Fani. Senja saja bingung melihat sikap tenangnya Anna. Seakan apa yang dipikirkan gadis itu tak terbaca olehnya.


"Baiklah. Ayo kita mulai pemeriksaannya." ujar Fani yang sudah memakai sarung tangan karet.


Anna mendekat ketika Senja berbaring dibrangkar. Gadis itu tak terlihat terkejut begitu dress yang ibunya kenakan disingkap sebatas dada dengan bagian bawah perut ditutup dengan selimut.


Ukuran perut Senja dikehamilan yang hampir genap tiga bulan itu sudah seukuran hamil lima bulan atau bahkan lebih. Selama ini ia menutupinya dengan memakai dress longgar agar Anna tidak tahu.


"Apa itu adik bayinya?" pertanyaan Anna ketika melihat gambar pada layar menunjukan janin yang sudah terbentuk, seketika membuat Fani, Senja dan Baskara terkejut. Begitu juga dengan Kaisar melalui sorot matanya.


"Ka-kamu tahu mommy hamil, sayang?" Senja bertanya dengan tergagap.


"Anna tidak bodoh, mom." cebik Anna dengan melipat kedua tangannya didepan dada. Menatap ayah dan ibunya tajam. "Mommy pikir Anna tidak tahu kalau perut mommy yang besar itu berisi adik bayi?"


Anna memang tidak mengatakannya. Tapi ketika melihat perut sang ibu yang kian hari kian membesar, Anna mulai curiga.


Setahunya, sang ibu sangat menjaga bentuk tubuhnya dengan berolahraga. Jadi tidak mungkin ibunya membiarkan perutnya membesar tanpa melakukan apa pun.


Hingga suatu malam, ketika ia baru kembali dari tempat les. Ia mendapati sang ayah yang tengah mencium perut ibunya dan mengajak perut itu berbicara diruang keluarga. Selayaknya sang ayah ketika mengajaknya dan Kaisar berbicara. Dan dari kata-kata ayahnya saat itulah membuat Anna tahu jika tebakannya saat itu benar. Ibunya tengah hamil. Ada calon adiknya dalam perut sang ibu.


"Anna dulu memang tidak mau mommy hamil lagi. Anna tidak mau memiliki adik lain selain Kai. Anna takut Anna tidak disayang lagi oleh kalian. Tapi sekarang tidak, mom, dad." Anna tersenyum dan menatap orang tuanya yang sudah terlihat khawatir.


"Anna sudah tidak takut lagi kehilangan kasih sayang kalian. Anna percaya kalian akan tetap menyayangi Anna. Mungkin malah Anna yang tidak akan ada waktu untuk kalian." imbuh Anna dibubui candaan diakhir. Meski tak seutuhnya canda. Karena gadis kecil itu memang memiliki banyak jadwal lomba yang membuatnya sibuk latihan disekolah musik.


"Anna diam karena Anna ingin mendengar kalian memberitahu kabar gembira ini. Tapi ternyata kalian tetap merahasiakannya."


Senja dan Baskara yang sebelumnya sudah menyiapkan diri dengan penolakan yang mungkin Anna berikan, kini merasa lega. Karena putri mereka ternyata sudah tumbuh besar.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2