Langit Senja

Langit Senja
Kantor


__ADS_3

"Titip bentar ya, Ngga.. Nanti pulangnya gue beliin lo cilok deehh."


Senja sudah rapi, siap untuk menuju kantor sang suami untuk makan siang bersama. Jika siang, Senja memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah orang tuanya.


Dirumah mertuanya sepi, semua sibuk bekerja. Berbeda dengan rumah orang tuanya yang selalu ada Jingga yang katanya 'mendedikasikan waktunya untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya'. Padahal sampai saat ini kakak iparnya itu belum juga bisa menyajikan makanan yang layak untuk suami dan anaknya.


Baby Anna terlihat senang bermain piano mainan dan bongkar pasang balok karet dengan Sisi. Biasa di NY hanya bermain dengan kedua orang tuanya. Jadi ketika bertemu Sisi yang sama-sama balita, baby Anna sangat senang dan antusias.


Apa lagi Sisi begitu dewasa di usianya yang belum genap empat tahun. Gadis kecil itu bisa menjadi teman dan kakak yang baik. Meski ngambek-ngambek dikit pasti ada. Namanya juga anak kecil.


"Ogah amat cuma cilok." sahut Jingga yang tengah menemani dua gadis kecil itu bermain.


"Terus lo mau apa?" tantang Senja.


Dengan tak ragu, Jingga menyebutkan nama-nama jajanan yang terbayang di dalam kepalanya.


"Kenapa nggak sekalian aja lo minta taman jajan sama suami lo!" sindir Senja mendengar banyaknya makanan yang kakak iparnya itu pesan.


Jingga mencebik. "Kalau gue minta ke abang pasti di larang lah. Mana diizinin gue makan seblak."


"Lagian lo hamil, makanan yang begitu lo makan." masih mending kakaknya tidak begitu ketat dalam membatasi makanan yang dimakan Jingga. Masih mengizinkan makanan yang masih dalam batas aman. Tak seperti Baskara yang begitu menjaga pola makannya. Kadang ia iri melihat Jingga masih kakaknya izinkan makan makanan yang bagi Baskara tak baik untuk ibu hamil padahal sebenarnya aman aman saja.


"Namanya juga penggen, Ja. Emang lo nggak pengen?"


"Pengen sih. Tapi selama itu bukan ngidam, gue sih bisa aja buat hindarin."


Keduanya masih melanjutkan perdebatan tentang makanan apa yang Jingga inginkan untuk dibawakan nanti ketika Senja pulang.


"Perasaan dulu lo nitipin Sisi, gue nggak pernah dapat apa-apaan dah." gerutunya saat Jingga tak mau menyerah untuk mendapatkan apa yang perempuan itu inginkan.


"Beda dooong." ucapnya dilebihkan. "Status lo kan adek. Jadi nggak pantes lah minta imbalan! beda sama gue, itu lo namanya nggak sopan!" kelakarnya.


Senja berdecih dan pamit pergi. Menyusuri jalanan dihari yang cerah. Ia melempar pandangannya untuk menikmati suasana jalanan ibu kota.


Ia merindukan duduk dibalik kemudi. Bebas pergi kemana pun sendiri. Mungkin hanya di NY ia bisa pergi kemana pun sendiri. itu pun sebelum ia menikah dengan Baskara.

__ADS_1


Kini hidupnya kembali seperti dulu. Hanya bedanya, jika dulu kemana pun ia pergi akan selalu ayah atau kedua kakaknya yang mengantar. Kini ada sopir pribadi yang suaminya siapkan.


Mereka tak ada yang peduli seberapa hebat ia dibalik kemudi. Bagi mereka, ia hanya perempuan yang patut dijaga keselamatannya.


***


Untuk pertama kalinya Senja melangkahkan kakinya memasuki perusahaan yang kepemimpinannya akan jatuh pada tangan suaminya suatu hari nanti.


Bangunan yang menjadi salah satu gedung pencakar langit itu berdiri angkuh di antara gedung-gedung lainnya.


Ia disambut dengan baik oleh resepsionis. Yang langsung mengantarnya ke ruangan sang suami setelah ia menyebutkan nama dan tujuannya datang.


Ia kira akan ada drama susah menemui suami yang memiliki jabatan tinggi karena ini pertama kalinya datang. Tapi melihat keramahan mereka seperti sudah tahu dirinya siapa.


"Nggak dipersulit kan, masuknya tadi, ayy?" Baskara memeluk tubuh istrinya yang tengah mengamati ruangan kerja barunya dari belakang.


"Enggak kok mas. Langsung diantar kesini malah tadi." jawabnya.


Baskara senang mendengarnya. Itu berarti interuksinya didengarkan dengan baik.


Karena ia sudah memberi pengumuman pada resepsionis dan security yang berjaga di loby. Memberikan mereka foto Senja dan memperkenalkan sebagai istri.


Takan ia biarkan istrinya menunggun lama di loby.


"Yang ngeselin tuh karena sempat ketemu Grace aja."


"Grace?" beo Baskara. Meski tak heran gadis itu datang ke perusahaan. Berhubung ayah dari gadis itu adalah pemimpin saat ini. Tapi kenapa harus diwaktu yang sama dengan istrinya. Membuat suasana hati istrinya tidak baik saja. "Dia ngapain kamu? kamu nggak dikasarin kan sama dia kan, ayy?"


Senja menggeleng dan memilih duduk disofa panjang diruangan itu. Diikuti Baskara yang duduk menempel.


Tadi Senja bertemu dengan Grace di lift. Kebetulan gadis itu baru datang begitu ia memasuki lift. Jadi mau tak mau mereka harus satu lift karena Grace akan menuju kantor ayahnya yang berada di lantai yang sama dengan Baskara.


Senja sempat melihat keterkejutan dimata Grace begitu melihat perutnya yang besar. Namun tak bertahan lama karena gadis itu langsung berdecih dan mengomporinya.


"Kasihan ya, lo? kuliah jauh-juah cuma dijadiin mesin produksi anak aja!"

__ADS_1


Sungguh, Senja sangat geram mendengarnya. Terlebih emosinya sebagai ibu hamil membuatnya ingin mencabik-cabik dan merobek mulut yang berkata nyinyir itu.


Tapi alih-alih menanggapi perkataan Grace, Senja justru bersikap acuh.


"Duuh baby.. Mommy kok kayak denger ada yang ngomong ya?" Senja mengusap perutnya dan menatap sekeliling dengan ngeri. "Mbak denger nggak tadi?" menengok kearah resepsionis yang mengantarnya.


Mulut Grace menganga lebar. Matanya membulat dengan kilatan marah.


Resepsionis yang tiba-tiba ditanya, berusaha mengulum senyumnya agar tak menyembur menjadi tawa.


Gadis itu juga sebenarnya tidak suka dengan sifat Grace yang arogan dan sering merendahkan karyawan. Namun tak ada yang berani menyinggung.


Gadis yang di papan namanya bertuliskan Sulis itu berdeham sebelum menjawab. "Itu nona.. Tadi nona Grace yang berbicara." cicitnya langsung menunduk begitu melihat tatapan mata Grace yang tajam kearahnya.


Senja dengan ekspresi terkejut menengok ke arah Grace yang berdiri disebelah kanannya. "Ooh ada lo disini?"


"Makanya mata jangan lo kantongin!" ucapnya sarkas.


"Yaaa gimana ya..? lo nggak nyapa gue sih.. Jadi mana gue tahu ada orang lain disini."


"Sudi banget gue nyapa lo!"


"Gue juga nggak pengen di sapa sih. Dan gue nggak peduli juga sama kata-kata yang keluar dari mulut orang sirik." ujarnya acuh dan mengedikan bahu. "Gue pernah dengar kalimat kalau sirik itu tanda... tandaa... tanda apa ya mbak?" Senja pura-pura memikirkan lanjutannya.


"Tanda tak mampu non."


"Aah iya. Itu mbak. Sirik tanda tak MAMPU!" Senja menegaskan kata 'mampu' dengan melirik Grace.


"Maksud lo gue nggak mampu punya anak?! punya anak dua aja belagu!"


Senja tergelak mendengar Grace yang emosi. "Kadang otak emang diperlukan sih kalau mau ngomong. Dan gue nggak ada tuh bilang kalau orang irinya itu elo!"


Bertepatan dengan Senja selesai berbicara, pintu lift terbuka. Ibu hamil itu keluar dari lift meninggalkan Grace yang menahan kesal dengan mencengkeram tasnya erat.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2