Langit Senja

Langit Senja
Pemilikku


__ADS_3

Dengan penuh percaya diri Baskara bersiul sembari menyemprotkan minyak wangi pada tubuhnya sebelum berpakaian.


Tadi ketika ia dan Senja makan malam, ia menelpon orang rumah untuk mengirim pakaian untuknya dan Senja ke hotel tempatnya mereservasi kamar untuk mereka menginap malam ini.


Karena jika mereka harus mampir membeli baju, rasanya sudah sangat lelah dan tidak ada waktu.


Dengan senyum merekah ia keluar dari kamar mandi. Disambut sang istri yang terlihat duduk ditepi ranjang memangku sebuah baju dengan wajah cemberut.


"Kenapa, hm?" tanyanya lembut menaikan dagu istrinya hingga mereka saling bersilang tatap.


"Ini siapa yang nyiapin baju aku, sih mas?" tanya sang istri dengan suara mencicit. Rona merah menjalar disepanjang pipi juga telinga wanita berkulit putih itu.


"Emang kenapa?" penasara. Baskara berniat melihat apa yang membuat istrinya gelisah. Namun Senja lebih cepat dalam menangkis dan menyembunyikan baju itu dibalik punggungnya.


"Nggak usah dilihat!" Senja menggelengkan kepalanya. "Aku aja geli lihatnya."


Baskara bukannya menuruti perkataan istrinya, ia justru semakin penasaran dan berusaha mengambil apa yang Senja sembunyikan.


"Emang kenapa sih bajunya?" tanyanya lagi karena Senja sangat pandai menjauhkan benda itu dari jangkauannya. Istri barunya itu kini sudah berdiri menjulang diatas tempat tidur berukuran king size. "Emang itu bukan baju kamu, ayy?"


Senja menggeleng sebagai jawaban.


"Masa sih?" dahi Baskara berkerut. "Padahal yang nyiapin bajunya Jingga lho."


Mendengarnya, Senja menggeram dan memaki kakak ipar sekaligus sahabatnya itu. "Br*engsek emaknya Sisi!" Dalam hati ia berjanji akan membuat perhitungan pada Jingg jika besok kembali ke rumah.


"Heii!" Baskara langsung protes dan mencapit bibir Senja dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. "Istriku yang cantik nggak boleh ngomong kasar!"


Senja berdecak dan turun dengan cara melompat seperti anak kecil yang langsung ditangkap dalam pelukan Baskara. "Ya udah lah, aku mandi aja." ucapnya pasrah berusaha mendorong tubuh suaminya untuk turun. Tapi tangan itu memeluk pinggangnya erat tak membiarkannya lepas begitu saja.


"Nggak usah mandi deh." enggan Baskara untuk membiarkan. Ia melabuhkan ciuman di bibir istrinya berkali-kali. "Gini aja udah cantik kok."


Senja memundurkan kepalanya dari jangkauan Baskara yang tak berhenti memberinya kecupan. "Aku tau istrimu ini emang cantik tiada tara mas. Tapi aku butuh mandi. Badanku lengket, banyak debu, bau matahari seharian keliling."


Meski enggan, Baskara membiarkan istrinya untuk mandi. "Jangan lama-lama!" syaratnya sebelum melepas istrinya yang mengangguk dan melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


***


Berendam sepertinya cukup nyaman untuk melepas penat dan otot-ototnya yang terasa kaku.


Mengatur suhu air dalam bathtub dengan hangat kuku dan memberi sedikit aroma terapi sebagai pelengkap. Senja menanggalkan semua kain yang melekat pada tubuhnya dan menenggelamkan diri dalam bathtub.


Gadis itu mend*sah lega atas rasa nyaman yang seketika ia dapatkan. Berendam memang selalu bisa membangkitkan tubuh lelahnya untuk kembali bersemangat.


Setelah hampir satu jam ia menyelesaikan ritual mandinya. Senja menatap horor pada gaun tidur haram kurang bahan yang Jingga kirim untuk ia kenakan.


"Awas aja gue sampai rumah! jangan harap lo bakal selamat!" monolognya dengan wajah garang seakan mamah muda yang ia maki ada didepannya. Tak bertahan lama ekspresi wajahnya muram. Ia enggan mengenakan lingerie berwarna hitam itu. Tapi ia juga tidak mungkin tidur menggunakan celana jeans dan kemeja.


"Jingga! lo emang br*ngsek!!" makinya dengan tangan yang mulai mengenakan gaun tidurnya itu.


Ia malu mengenakan pakaian seperti itu meski didepan suami yang sudah melihat semua sisi tubuhnya.


Ia merasa seperti wanita penggoda saat ini. Meskipun yang ia goda adalah pasangan halal. Namun rasa malunya tetap saja menahan langkahnya.


"Ayy!" ketukan dipintu kamar mandi terdengar. "Kamu nggak pa-pa kan? kenapa mandinya lama banget? kamu nggak tidur didalam kan? kamu nggak pingsan atau jatuh kan?" serentet pertanyaan atas rasa khawatir Baskara terdengar.


"A-aku nggak pa-pa kok. I-ini udah selesai, mas." jawabnya gugup dan membuka pintu kamar mandi dengan perlahan.


Senja sudah memakai lingerie yang Jingga berikan. Hanya saja ia tutup dengan bathrobe agar tak langsung mempertontonkan bentuk tubuhnya yang dapat terlihat dari kain transparan tersebut.


"Masih dingin, nanti aja aku lepas bathrobe-nya." kilah Senja yang kini telah duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutnya.


Baskara tak lagi bertanya. Tangannya dengan cekatan mengambil alih hairdryer dari tangan Senja dan mulai mengeringkan rambut basah istrinya.


Dan entah bagaimana caranya, kini keduanya sudah berpindah diatas tempat tidur dengan Baskara yang menindih tubuhnya.


"Malam ini, aku pastikan kamu nggak takut lagi" ucap Baskara dengan percaya diri. Merapikan rambut yang menutupi wajah istrinya. "Aku udah belajar dari seseorang."


Tangan Baskara mulai melepas tali bathrobe di pinggangnya. Setelah terlepas, pemuda itu membulatkan matanya lapar melihat apa yang ada didalamnya.


"Ingatkan aku buat ngucapin banyak terimakasih ke Jingga atas penampilan kamu malam ini, ayy."

__ADS_1


Senja memutar bola matanya malas. Tapi rona diwajahnya berkata lain.


Ia tersipu malu melihat tatap kagum dari suaminya. Tatapan lapar seakan ingin memakannya saat itu juga.


Dan Baskara benar-benar memakannya tanpa ampun. Membuainya dengan buaian baru yang membuatnya melayang. Memasrahkan seluruh raganya untuk sang suami kuasai malam ini sepenuhnya.


Mengikuti apa yang suaminya inginkan. Menyerahkan mahkota yang sudah ia jaga dengan baik. Ia jaga dan persembahkan untuk kekasih halalnya itu.


Sakit? jangan ditanya.


Apa ia menikmatinya? jawabannya iya. Meski awalnya terasa tidak nyaman dan ingin berhenti sampai disitu saja, tapi Baskara pandai meyakinkannya dengan sentuhan halus dan buaian yang membuatnya lagi-lagi tak bisa menolak. Hingga ia ikut menikmati permainan panas itu hingga tenaganya terkuras habis.


***


Jingga tengah berbaring dalam rengkuhan suaminya.


"Kira-kira rencana kita berhasil nggak ya, bang?" tanyanya pada sang suami yang tengah memejamkan mata setelah pergulatan panas mereka.


"Kalau Babas pintar. Dia harusnya bisa memanfaatkan jalan yang sudah kita buka."


Mendengar ledekan Farri pada Baskara pagi itu dihotel. Membuat Jingga memiliki ide untuk memberikan lingerie pada Senja ketika Baskara menghubungi orang rumah untuk mengirimkan baju milik Senja.


Hal itu disetujui juga oleh Farri yang sangat tahu bagaimana tersiksanya tidur satu ranjang tapi tidak bisa menyentuh istrinya sendiri.


"Padahal aku pengen Senja lebih lama lagi menyiksa Babas."


"Kenapa?"


"Biar lebih lama lagi dia tersiksa. Kaya aku dulu!" gerutu Farri. "Ini mah baru hari ketiga. Kan enak bener jadi dia."


"Nggak boleh begitu abang.. Abang kan udah nyicip duluan malah sebelum nikah." Jingga menggelengkan kepalanya. Suaminya ini kenapa dendam sekali dengan awal pernikahan mereka. Hingga suaminya ingin Baskara merasakan hal yang sama.


Farri hanya terkekeh dan melabuhkan ciuman panas dibibir istrinya. "Sekali lagi ya sayang." dan Jingga hanya bisa mengerang pasrah.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2