
Baskara pasrah dengan keputusan Senja yang baru akan memberi jawaban ketika mereka sudah berada di Jakarta nanti. Libur musim semi hanya tinggal sebulan lagi. Seharusnya ia bisa bertahan menunggu waktu yang tidak terlalu lama. Ia sadar ini terlalu mengejutkan untuk gadisnya itu. Sadar juga jika Senja butuh waktu untuk memikirkan secara matang.
Namun yang memberatkan baginya adalah keputusan Alvaro yang melarangnya untuk menginap lagi di apartemen Senja. Ia hanya boleh berkunjung dan pulang dihari yang sama.
"Nggak bisa gitu dong, pah! Perjalanan Massachusetts ke Manhattan itu 3 jam lebih. Masa papa tega nyuruh aku bolak balik dalam sehari!" protes Baskara tidak terima dengan keputusan calon mertuanya-yang belum tentu jadi. Pemuda itu bahkan sampai menghentakan kakinya ke lantai seperti anak gadis yang tengah merajuk.
"Itu ujian buat kamu." jawab Alvaro santai. "Kalau begitu aja kamu ngeluh, gimana nanti kamu bertanggungjawab sama kehidupan putri papa."
"Tapi pa'aah.. Waktu sehari yang aku punya, dipotong perjalanan bolak balik sekitar 7 jam. Sisanya nggak cukup buat aku ngilangin kangen sama Senja! Aku mau nginep buat bekal lima hari LDR." ucapnya masih ngotot. Berusaha keras memperjuangkan waktunya bersama Senja.
Keluarga mereka sudah menggeleng dan terkeh melihat kedua orang yang sama-sama tak mau mengalah.
Senja menunduk malu dengan apa yang Baskara ucapkan. Sejak kapan sebenarnya Baskara mulai mencintainya?
Kenapa sahabatnya itu jadi berlebihan seperti itu?
"Dasar bucin akut. Malu-maluin!" maki Senja dalam hati. Tapi ia merasa tersentuh juga. Seakan bunga dalam dadanya belum cukup bersemi dan semakin bersemi.
"Papa cuma takut kamu khilaf." jawab Alvaro lagi. Pria itu bahkan tak menatap Baskara sedikit pun. Lebih memilih menghabiskan makan malamnya. "Soalnya anak papa terlalu cantik untuk didiamkan."
"PAAAH!" pekik Senja tertahan. Betapa malunya ia mendengar kalimat akhir sang ayah. Tapi Alvaro tak mengindahkannya.
"Aku akuin kalau itu, Pah. Tapi toh selama setahun ini nggak ada yang terjadi antara kami. Semua aman terkendali." Baskara juga sama tak menghiraukan Senja. Ia fokus pada calon mertua yang sangat susah ia yakinkan.
"Itu karena kamu belum berani ngungkapin perasaan kamu. Sekarang kan beda."
"Sudah, Bas, terima aja. Dari pada kamu malah dilarang ketemu Senja sampai hubungan kalian jelas." Alvaro menjentikan jarinya pada putra sulungnya.
"Lo nggak mau bantuin gue, Ja?" tanya Baskara dengan nada pasrah. Ia tak bisa lagi berjuang.
Senja mengedikan kedua bahunya. "Gue nggak pernah masalah lo nginep atau enggak."
Baskara memicingkan matanya ketika tidak mendapat pembelaan. "Lo seneng ya, gue nggak bisa nginep. Biar lo bisa main sama temen-temen lo?" tanyanya curiga.
__ADS_1
"Tadi lo bilang nggak akan ngelarang gue buat main sama mereka." cibir Senja. "Baru ngomong aja udah ingkar. Gimana kalau lo udah berhasil nikahin gue?" ejek Senja meragaukan.
"Bukan gitu. Gue cuma nggak mau aja lo main ke club." seketika pemuda itu mengibaskan tangannya. Tidak ingin mengungkit masalah club, takut Senja masih trauma dengan kejadian Robert. "Gue baru sadar. Gue belum denger jawaban lo pas gue bilang gue cinta sama lo."
"Uhuk.. Uhukk.." Senja yang tengah minum langsung tersedak mendengarnya. Sayangnya semua orang kini menatap dan tak kalah penasaran menunggu jawaban darinya.
"Nanti! Jawabannya kalau gue nerima lamaran lo, berarti gue cinta sama lo. Tapi kalau enggak..." Senja kembali mengedikan bahunya.
"Senjaaa'aaa." rengek Baskara dengan nada manja yang di buat-buat. "Seenggaknya lo ngomong sayang sama gue kek. Biar gue nggak ngerasa berjuang seorang diri."
"Lo berjuang buat dapat jawaban gue, kan?" Baskara mengangguk lemah. "Ya udah. Lo yang berjuang. Gue yang mikir jawabannya." jawab Senja ceria.
Lagi-lagi Baskara harus pasrah dengan keputusan Senja. "Sebulan bukan waktu yang lama." ucapnya meyakinkan diri sendiri.
***
Tak ada kue ulang tahun. Tak ada acara tiup lilin. Karena malam itu khusus untuk melamar Senja.
"Maaf, Ngga. Gue nggak tau lo mau kesini. Jadi belum gue beliin kado." ucapnya dengan memamerkan deretan gigi putihnya setelah menyerahkan kado untuk Baskara. "Tapi gue janji besok beliin."
Jingga terkekeh dan memeluk sahabat sekaligus adik iparnya itu. "Nggak papa Senja. Gini aja gue udah seneng, kita bisa ngerayain ulang tahun bareng lagi."
Orang tua Jingga tidak ikut karena salah satu adiknya tengah sakit. Tapi gadis itu tak merasa sedih karena ia dikelilingi orang terkasih.
"Abaaanggg." seru Senja memeluk kakak sulungnya manja. "Adek kangen."
"Abang juga." balas Farri tak kalah erat.
Gadis kecil yang ada dalam gendongan Farri mengerut tak suka. Gadis itu mendorong Senja dengan tangan mungilnya.
"No Daddy..." tangan kecil itu menarik tangan Farri yang melingkar di bahu Senja dan lalu dipeluk.
Senja terkekeh dan mencubit pipi bakpao keponakannya. "Kenapa? kan aunty kangen sama daddy.."
__ADS_1
Sisi yang usianya belum genap dua tahun itu menggeleng dan melingkarkan tangannya dileher sang ayah. Menyandarkan kepalanya disana. Sekana sang ayah hanya boleh memeluknya. "Daddy unya Cici.. unya mami."
"Sini sayang.. Sisi sama mami yuk. Kita beli coklat mau?" Jingga berusaha mengalihkan sang putri dari suaminya. Putri kecilnya itu memang sangat posesif pada sang ayah.
"No! Cici cama Daddy!" tolak gadis kecil itu marah.
"Udah nggak papa. Nanti aja sama abangnya kalau udah di apart."
Baskara dan kedua orang tuanya akan menginap di hotel dekat apartemen Senja sebelum besok ikut Baskara pulang ke Massachusetts.
Keluarga Senja juga semalam menginap disana. Namun mulai malam ini mereka akan pindah ke apartemen selama beberapa hari kunjungan mereka itu.
Sebelum berpisah di loby, Baskara menarik lembut tangan Senja untuk menjauh dari rombongan.
"Tolong dipikirin baik-baik, Ja." pintanya serius. "Gue beneran pengen nikahin lo."
Senja mengangguk. "Gue bakal pikirin matang-matang. Karena ini menyangkut masa depan kita."
Baskara tersenyum lebar mendengarnya. Tangannya terulur mengusap rambut gadis cantiknya.
"Gadis pintar." punjinya membuat Senja mendengus dan tersenyum. "Ya udah pulang gih. Barsih-bersih terus tidur. Jangan begadang nanti lo sakit."
"Iya. Lo juga." jawab Senja berbalik menuju mobil yang disewa keluarganya.
"Senja."
Belum terlalu jauh gadis itu berbalik menatap Baskara dengan pertanyaan kenapa.
"I love you Senja." ucapnya lirih tapi sampai dengan belaian lembut di telinga Senja.
Senja tersenyum dan mengangguk. "Iya. Gue tahu. Semoga keputusan gue nanti sesuai dengan yang lo harapin ya, Bas."
Baskara mengangguk. "Iya. Tapi nggak perlu buru-buru. Gue percaya Senja tercipta untuk Baskara." ucapnya yakin. Karena ia tahu senja hari tak lepas dari matahari.
__ADS_1