Langit Senja

Langit Senja
Kelas Online


__ADS_3

Senyum di bibir Baskara mengembang ketika sebuah notifikasi pesan masuk saat dirinya baru selesai mandi malam hari.


Bocah Manja : Kenapa rasanya begini?


Bocah Manja : Temen gue sampai muntah-muntah 😭


Baskara semakin tergelak melihat emot menangis di pesan terakhir. Memang apa yang gadis itu tambahkan dalam masakan sampai temannya bisa muntah seperti itu.


Me : Udah ikutin resep gue bener-bener belum?


Tak butuh waktu lama untuk pesan balasan dari Senja masuk pada ponselnya. Sepertinya gadis itu memang sudah menantikan balasan darinya. Terbukti dari pesannya yang langsung dibaca gadis itu.


Bocah Manja : Udah! lo bener kan ngasih resepnya? Lo nggak ngerjain gue kan?!


Ada lampiran gambar yang Senja kirimkan. Berisi foto hasil masakan gadis itu yang katanya rasanya tidak enak dan membuat temannya muntah.


Baskara langsung tergelak melihat tampilan masakan yang Senja buat. Pantas saja temannya bisa muntah. Bentuknya saja seperti itu.


Malas menuliskan balasan. Baskara memilih langsung menghubungi Senja, agar ia juga bisa memakai bajunya.


"Lo bener nggak sih ngasih gue resep!" suara nyaring Senja memenuhi kamarnya karena Baskara menggunakan mode loadspeaker.


"Harusnya gue yang tanya. Lo bener nggak ngikutin resep gue? Masa masak capcay aja gosong begitu." Baskara selesai memakai celana kolor dan kaos putih polos membalut tubuhnya untuk tidurnya malam ini.


"Jangan ketawa!" pekik Senja ketika mendengar Baskara terkekeh.


"Sory.. Abis heran aja gitu. Boleh lah ngggak bisa masak. Tapi kan lo bisa kira-kira sebelum masakan lo gosong."


"Ya lo kan nggak kasih tulisan berapa lama sampai bisa disebut matang." gerutu Senja. Baskara bisa membayangkan bibir gadis itu yang pasti tengah manyun ketika berbicara.

__ADS_1


"Ya lo kan tau itu sayuran. Jadi jangan lama-lama ngosengnya biar nggak gosong. Cukup ayam aja yang rada lama biar mateng."


"Jadi masukinnya gantian?" tanya Senja kaget. "Gue masukin semua bahan bareng. Makanya sayurannya gosong padahal ayamnya enggak kok." cerita Senja dengan polosnya.


Baskara kembali tergelak. Ia tidak bisa untuk tidak tertawa mendengar penuturan dari sahabatnya. Bagaimana bisa ada anak gadis yang tidak bisa masak seperti Senja. Bahkan memisahkan bahan mana yang harus didulukan saja dia tidak tahu.


"Ya Tuhan, Ja. Gue kan udah kasih urutannya. Dari mulai ayam dulu, bakso, sayur yang keras baru sayur yang cepet matang. Kenapa lo campur bareng begitu?"


Senja semakin kesal ketika Baskara tak hentinya menertawakan dirinya. Ini kan pertama kalinya ia memasak. Jadi wajar saja jika hasilnya seperti ini.


Jangankan masak. Masuk dapur saja ia tidak pernah. Ibunya sibuk di rumah sakit. Sangat jarang Tiara masak kecuali hari libur. Itu pun tidak pernah mengajak Senja memasak bersama. Jadi selama ini Senja benar-benar tidak pernah melihat orang memasak. Jadi Senja benar-benar tidak tahu jika memasak itu harus mendahulukan bahan yang keras sebelum bahan yang mudah matang.


"Kan gue udah bilang nggak bisa masak! lo aja yang ngotot ngisi kulkas gue pake sayuran! dan sekarang malah lo ketawain kegagalan gue, bukannya bantu! cowok macam apa lo?!" sungut Senja kesal pada Baskara. Baru juga tadi siang ia merasa tersanjung dengan perlakukan pemuda itu. Sekarang sudah dibikin kesal. Baskara memang sahabatnya yang paling menyebalkan.


"Sory.. Sory.." Baskara mencoba mengendalikan dirinya untuk berhenti tertawa sebelum Senja benar-benar marah padanya. "Mulai besok, tiap masak, lo Videocall gue aja. Kapan pun asal gue nggak lagi di kelas, pasti gue angkat. Anggap aja kelas online."


Senja juga mengikuti semua saran yang diberikan Baskara dalam memasak. Dan semakin hari hasil masakannya semakin ada perkembangan. Dari yang awalnya gosong, hingga tak lagi gosong tapi terlalu manis atau terlalu asin. Hingga kini masakannya bisa untuk ia nikmati. Dihari kelima kelas online memasaknya dengan Baskara, adalah hari dimana masakannya bisa disebut enak meski belum bisa disebut hebat.


"Pokoknya besok lo harus cobain maskaan gue. Ini enak, Bas! Bener, deh." seru Senja bersemangat menikmati makan malamnya. Malam itu Senja memilih masak Grilled Chicken. Tentunya dengan bantuan Baskara yang menuntunnya. Siang tadi pastanya juga berhasil ia buat dengan rasa yang cukup cocok di lidahnya meski tidak seenak pasta buatan Baskara minggu lalu.


Baskara terkekeh kecil mendengar betapa semangatnya gadis itu ingin memasakan masakan untuknya. "Sok-sokan nawarin. Masak aja masih di bantuin." ejeknya.


"Biarin wleee." Senja memeletkan lidahnya kearah layar ponsel dimana wajah Baskara terlihat disana. "Yang penting enak."


"Ya udah, masakin yang lo udah bisa aja. Tapi tanpa bantuan gue." tantang Baskara.


Senja yang tidak suka di tantang tentu saja langsung menyanggupi. "Oke. Siapa takut."


Baskara selalu saja tertawa melihat tingkah Senja yang semakin hari semakin terlihat menggemaskan untuknya. Jika saja ia saat ini ada di dekat gadis itu. Pasti tangannya sudah gatal untuk mengusap rambut gadis itu dan mengacaknya hingga berantakan yang akan memabuat Senja kesal dan semakin terlihat menggemaskan dimatanya.

__ADS_1


"Pengen banget gue kesitu ya?" goda Baskara lagi. "Kayaknya kemarin ada yang keberatan gue datang ke situ tiap weekend deh."


Senja berdecak malas. "Kalau nggak mau datang ya udah. Gue bisa kok belanja sendiri."


"Iya.. Iya.. Cantik... Besok gue kesitu." dari dulu Baskara memang sering memanggilnya cantik. Meski dulu penampilannya tomboy dan jauh dari kata faminin. Tapi kenapa saat kini mendengar kata cantik yang Baskara ucapkan untuknya, jantungnya jadi berdebar.


"Hmm." Senja hanya membalas dengan dehaman. Malas digoda terus oleh sahabatnya itu.


"Selama seminggu ini lo nggak main ke club lagi kan?" Baskara sampai lupa tidak memantau kegiatan Senja. Ia terlalu fokus pada pelajaran memasak mereka.


"Enggak. Gue cuma jalan-jalan aja sama Maureen. Itu juga sore udah di rumah." kenapa sekarang Senja merasa seperti tengah melaporkan kegiatannya pada kekasih yang posesif.


Gadis itu terkekeh sendiri dalam hati. Pernah pacaran saja tidak. Bisa-bisanya ia merasa seperti itu.


"Awas aja lo bohongin gue! gue laporin nyokap lo, biar lo dibawa balik ke Jakarta."


Senja kembali berdecak. "Bawel deh! lagian gue udah nggak main ke tempat begituan lagi kok! besok juga gue pengen datang ke NY fashion week. Kalau lo nggak suka, lo nggak usah datang. Kasihan kalau lo sendiri di apart. Gue bisa jalan sama Maureen." jelas Senja panjang lebar.


"Besok sama gue aja. Sekalian gue juga belum pernah datang ke tempat begituan."


Senja mengangguk setuju dan membiarkan Baskara untuk memasak dan makan malam. Pemuda itu terlalu sibyk mengurusnya tiap malam hingga makan malam Baskara selalu terlambat karena mendahulukannya.


*


*


*


Makasih untuk segala bentuk dukungannya.. Tapi pada kemana ya? kok like-nya menurun huhuhu

__ADS_1


__ADS_2