
Rencana untuk melanjutkan kencan setelah dari rumah Oma batal.
Oma menyuruh mereka untuk menginap. Tak mendengarkan Baskara yang sudah menolak. Karena wanita tua itu tak suka penolakan.
Seusai makan malam, Senja diminta mencuci piring. Katanya belajar menjadi istri yang baik. Padahal dirumah besar itu ada banyak asisten rumah tangga yang sudah memiliki tugasnya masing-masing.
Dengan hati yang menggerutu, Senja mencuci semua piring bekas makan malam yang menggunung. Padahal mereka makan hanya berempat. Entah bagaimana bisa ada piring sebanyak itu.
Senja bukan tidak mau diminta mencuci piring. Di NY pun ia biasa mencuci bekas makannya sendiri.
Tapi dirumah sebesar ini dengan piring kotor sebanyak itu dan asisten rumah tangga yang sebenarnya bisa mengerjakan. Rasanya Senja sangat dongkol.
Seharian ia benar-benar ditatar sebagai istri yang baik. Mulai dari membersihkan rumah meski hanya menyapu rumah yang besarnya tak kira-kira. Cukup membuat tulang punggungnya serasa akan patah.
Menyiapkan segala keperluan Baskara ketika akan dan sesudah mandi. Begitu juga melayani suaminya ketika makan.
Bahkan untuk makan siang tadi Senja yang memasak. Lebih kesalnya lagi Grace yang menghina makanan yang ia buat padahal rasanya sudah cukup enak.
Tapi dengan kurang ajar, Grace memuntahkan kembali makanan yang baru ia masukan dalam mulut. Serta melarang sang Oma yang belum menyentuh makanannya sama sekali.
Hanya Baskara yang menghabiskan semua makanan hingga tak tersisa. Memakan porsi yang seharusnya untuk Grace dan Oma.
Oma mengawasi semua tugas Senja tanpa terkecuali. Tak membiarkan Senja menarik napas barang sejenak.
Bahkan rengekan Baskara untuk menghentikan itu semua tak didengar. Terlebih Senja selalu mengatakan jika dirinya tidak apa-apa.
"Kenapa belum tidur?" tanya Senja begitu sebuah tangan melingkar diatas perutnya.
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Semua lampu utama sudah dimatikan. Digantikan lampu berpendar redup. Menandakan penghuni rumah sudah beranjak tidur.
"Gimana bisa tidur kalau istri aku masih disiksa disini." Baskara mencuci tangan Senja hingga bersih. Mengeringkan dengan handuk baru yang diberikan asisten rumah tangga yang pekerjaannya digantikan oleh Senja. "Sekarang kita tidur ya? besok pagi kita pulang." ajaknya begitu lembut.
"Kamu nggak perlu sekeras ini untuk jadi istri aku." Baskara menyuruh asisten rumah tangga untuk menyelesaikan pekerjaan yang hanya tinggal beberapa biji. "Cukup kamu bahagia berada disisi aku, itu sudah cukup."
"Tapi itu kerjaannya belum selesai. Nanti Oma anggap aku nggak bisa ngurus kamu, lagi!" tolak Senja. Berusaha melepaskan rangkulan sang suami namun sia-sia.
"Aku kan udah bilang, ayy." memutar tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan. Memegang bahu sang istri erat. "Nggak perlu kamu dengerin apa kata mereka yang nggak tau tentang kita."
__ADS_1
"Kamu bisa ngurus aku atau enggak, cukup kamu dan aku yang tau." tegasnya. "Nggak perlu orang lain tau. Itu nggak penting buat kita. Nggak ada untungnya sama sekali."
Senja menghela napas dan menuruti apa kata suaminya. Lagi pula badannya sudah sangat lelah seharian beralih profesi sebagai bibi. Pekerjaan yang tidak mudah tapi sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.
Setelah keduanya sampai didalam kamar, tak lama pintu kamar yang mereka tempati diketuk.
"Kamu ganti baju aja dulu. Biar aku yang buka."
Senja mengangguk dan berlalu menuju kamar mandi dengan langkah kaki terseok lelah. Menanggalkan baju yang ia kenakan dan menggosok gigi serta mencuci wajahnya.
Ketika ia keluar lengkap dengan piyama baru yang Oma sediakan, Baskara mengangsurkan secangkir coklat hangat.
"Biar lelah kamu hilang. Biar tidurnya juga nyenyak."
Senja duduk ditepi tempat tidur. Menyesap coklat hangat sedikit demi sedikit dengan Baskara yang memijat bahunya.
"Aku nggak pa-pa kok, Bas." ucapnya menurunkan tangan suaminya dari bahunya. "Aku kan udah biasa lembur ngerjain tugas."
"Ini tuh nggak ada apa-apanya dari pada kemarin saat aku bikin gaun nikahan kemarin."
Senja mengusap rambut suaminya lembut. Ia sudah melihat Baskara membelanya dan selalu melayangkan protes ketika Oma menyuruhnya mengerjakan sesuatu. Juga selalu mencoba membantunya ketika Oma lengah.
"Aku nggak pa-pa. Oma begitu karena Oma sangat sayang sama kamu. Makanya Oma pengen kamu punya istri yang bisa melayani kamu dengan baik."
Bagaimana pun Senja tak ingin hubungan Baskara dengan Omanya merenggang karena dirinya. Lebih baik ia simpan rasa kesal itu dalam hatinya sendiri saja.
"Jadi kapan kamu mau berhenti panggil aku, Bas?" seperti apa yang Baskara lakukan semalam, ia mulai membenamkan ciumannya di leher jenjang sang istri. Menggigit kecil dan meninggalkan bekas kemerahan disana. "Kita sudah menikah lebih dari 24 jam lho ayy. Masa kamu masih panggil aku Babas aja!"
"Terus maunya dipanggil apa?" tanya Senja dengan suara bergetar menahan sensasi luar biasa yang Baskara berikan untuknya.
"Kamu pikirin dong panggilan spesial buat aku." tangan jahil Baskara tak tinggal diam. Satu persatu kancing piama Senja terlepas dari tempatnya.
"A-apa dong!" mana bisa otak Senja diajak berpikir dengan situasi seperti ini. Ia bahkan mati-matian menahan d*sahannya.
"Aku maunya kamu yang putusin sayang." bibir Baskara sudah berpindah dari leher ke bagian depan Senja yang sudah tanggal pakaian atasnya.
"A-abang?" tanya Senja sekenanya. Ia sungguh tak bisa berpikir dengan baik.
__ADS_1
"Nggak mau." tolak Baskara. "Masa sama kayak bang Farri sama bang Vindra. Aku mau yang spesial."
"Hubby?"
Baskara menggeleng.
"Sayang?"
Baskara kembali menggeleng. "Aku kan panggil kamu begitu. Jadi kamu pilih yang lain."
"Mas?"
Baskara tak lagi menggeleng. Namun tak juga mengiyakan. Sedikit lebih lama setelah berpikir Baskara mengangguk juga. "Itu lebih baik dari pada kamu panggil aku, Babas."
"Tapi manggilnya dengan nada suara seksi kamu ini ya?"
Wajah Senja panas memerah. Bisakah Baskara tidak menyindirnya seperti itu.
"Aku boleh begini terus sampai tidur nggak, ayy?" mereka sudah sama-sama terbaring ditempat tidur dengan saling berhadapan.
"Ke-kenapa?"
"Biar tidurnya lebih nyenyak aja." jawabnya enteng dan kembali menghisap sumber kehidupan untuk anak mereka kelak. "Juga sebelum ini dikuasai anak kita suatu hari nanti. Lagi pula aku belum bisa yang lebih dari ini."
Senja hanya bisa pasrah. Membiarkan suaminya melakukan apa yang ia mau. Mencoba lagi apa yang semalam ia gagal berikan.
Seperti apa yang Baskara katakan padanya. Mereka akan mencoba pelan-pelan hingga berhasil untuk saling memuaskan. Memberikan hak dan kewajiban masing-masing. Berusaha menjadi suami istri yang sesungguhnya.
*
*
*
Maaf kalau nggak sesuai ekspetasi kalian. Ini baru banget pulang dari tempat saudara. Niatnya nggak up capek.. tapi takut kalian nungguin..
Tapi maaf kalau nggak dapet feelnya ya gaes..
__ADS_1