
Sisa hari itu Baskara dan Senja habiskan untuk menyenangkan anak-anak.
Menemani keduanya bermain, bersepeda bersama di sore hari keliling komplek, hingga mengantar kedua buah hati mereka menuju alam mimpi.
"Besok naikin gaji suster deh, ayy." ucap Baskara tiba-tiba ketika mulai mendudukan dirinya diatas tempat tidur dan bersandar dikepala ranjang. Memijat kakinya yang terasa lelah. "Ternyata capek banget nemenin mereka yang aktif begitu."
Senja terkekeh dan ikut duduk bersandar diatas tempat tidur setelah mengeringkan rambut dan melakukan perawatan pada wajahnya.
"Makanya jangan pernah meremehkan suster atau seorang ibu yang tidak bekerja dan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Karena lelahnya mereka bahkan mungkin lebih dari kita yang bekerja."
Baskara mencubit hidung istrinya gemas. "Memangnya siapa yang meremehkan mereka?"
"Iih sakit!" seru Senja kesal. "Jadi.. Apa penjelasan yang kamu bawa, mas?" alih Senja pada hal yang sudah sangat membuatnya penasaran ditambah sedikit bumbu cemburu.
Baskara memposisikan tubuh istrinya untuk saling berhadapan. "Restoran keluarga Grace diambang kebangkrutan. Dan dia minta tolong sama aku." Baskara menjelaskan apa saja yang ia dengar dari Grace saat direstoran. Dan menggambarkan bagaimana wajah gadis itu yang membuatnya tidak tega.
"Itu sih kamu aja yang lemah sama cewek cantik. Bahkan Srigala aja bisa berpura-pura jadi domba." ucap Senja memberengut.
"Gemes banget sih kalo lagi cemburu." Baskara terkekeh melihatnya. "Jadi menurut kamu, Grace cuma pura-pura?" tanyanya kemudian.
Senja menggeleng dan menepis tangan suaminya yang berusaha melucuti pakaiannya. Melotot kearah suaminya yang tergelak dan mengangkat kedua tangannya.
"Aku nggak bilang dia bohong. Cuma kita kan perlu waspada. Setidaknya kamu harus lihat langsung kondisinya dilapangan gimana, jangan asal nyuruh Om Faraz buat ke kantor tanda tangan perjanjian." omel Senja. Padahal yang biasanya waspada itu suaminya. Jadi apa lagi alasannya jika bukan karena yang memelas dihadapannya adalah perempuan.
Baskara mengangguk dengan sebuah senyuman. "Pinter banget sih istriku." pujinya. "Tapi tenang aja. Aku udah nyuruh Andi buat nyelidikin kok."
"Terus keadaan maminya Grace gimana, mas?"
Baskara mengedik. Grace tidak menceritakan secara mendetail kondisi ibunya. Gadis itu hanya bilang ibunya masuk rumah sakit karena syok.
"Kasihan banget ya, mas?" gumam Senja yang kini bersandar didada sang suami. "Udah nemenin berjuang, eh ujung-ujungnya di khianati. Pasti sakit banget deh."
"Orang bilang ada kalanya kita akan ada dititik bosan dalam rumah tangga. Entah merasa bosan dengan pasangan atau kegiatan sehari-hari." Baskara balas bergumam dengan tatapan menerawang. "Mungkin Om Faraz lagi ngerasain keduanya. Biasanya kan dia sibuk pas jadi CEO di LC. Sedangkan sekarang nggak terlalu banyak yang bisa dia lakuin. Jadi perselingkuhan jadi pelampiasannya."
__ADS_1
"Untuk itu Om Faraz nggak mau tanggung jawab dan memilih menggugurkan? Karena cuma dianggap pelampiasan?"
Baskara mengangguk, "Bisa jadi kan?"
"Tapi kamu nggak akan kayak gitu kan, mas?"
"Nggak akan dong... Kalau kamu mau setiap aku ajak." gurau Baskara.
"Jadi maksud kamu, kalau aku nggak mau, kamu mau main sama orang lain?!" nada bicara Senja mulai tak biasa. Semakin membuat Baskara tergelak gemas.
"Kenapa lagi nggak bisa diajak becanda gini, sih?" ia peluk istrinya yang cemberut dan menggoyang tubuh mereka ke kiri dan kekanan secara perlahan.
"Becandanya nggak lucu!" cebik Senja memukul dada suaminya.
"Tapi menurut aku, ekspresi kamu kalau lagi marah tuh lucu, ayy." masih berusaha menggoda sang istri yang sama sekali tak merubah ekspresi di wajahnya.
"Aku terlalu sibuk dan nggak ada waktu untuk melirik wanita lain." ucap Baskara ketika istrinya masih saja memberengut.
Baskara menjauhkan tubuhnya untuk menatap sang istri. "Siapa yang bilang sibuk kerja?"
Senja mengerutkan dahinya tak paham.
"Aku terlalu sibuk mengagumi makhluk tuhan paling cantik ini." memegang dagu istrinya untuk mendongak menatapnya. Wajah Senja terasa panas dan berangsur memerah. "Apa lagi kalau lagi bersemu gini." ia belai pipi lembut istrinya yang kemerahan.
Senja segera menangkup pipinya dengan kedua tangan. "Receh banget sih, gombalnya." jantung Senja bersegup tak karuan. Padahal mereka sudah lama menikah, bisa-bisanya jantungnya bereaksi berlebihan seperti ini. Pipinya juga bisa-bisanya memanas dan membuatnya malu.
"Siapa yang gombal. Aku tuh ngomong apa adanya sayang.." ia kecup dahi istrinya. Karena hanya bagian itu yang terekspos kini. "Hati, jantung, mata dan setiap bagian dari tubuh aku terlalu sibuk mencintai kamu sampai nggak ada waktu buat ngelirik yang lain."
Senja mencibir tak percaya.
"Lagian dimata aku nggak ada yang lebih baik dan lebih cantik dibanding Senjanya Baskara." imbuh Baskara lagi. "Wanita hebat, idola anak-anak."
Senja terkekeh menyerah. "Oke.. Oke.. Aku nyerah." tidak bisa terus mengelak kalau hatinya meleleh mendengar kata-kata suaminya. "Terimakasih untuk cintanya, mas." ucapnya seraya kembali masuk kedalam pelukan suaminya.
__ADS_1
***
Nasib orang memang tidak ada yang tahu. Terlebih untuk mereka yang lupa akan rasa syukur.
Setelah semalam Senja mendengarkan penjelasan dari suaminya kenapa bisa berdua di restoran dengan Grace, hari ini ia ikut Baskara ke kantor.
Bukan ingin menertawakan Grace dan ayahnya. Ia juga turut prihatin dengan keluarga itu. Keluarga yang dulu selalu terlihat gagah seakan tidak akan turun dari posisi atas dalam lingkaran sosial.
Ketika Senja beserta Baskara baru sampai di kantor, Andi memberi tahu jika Grace dan ayahnya sudah menunggu di dalam ruangan Baskara.
Sebelum Baskara masuk kedalam ruangannya, ia meminta laporan yang ia perintahkan untuk Andi selidiki.
"Beberapa Restoran tutup untuk sementara. Hanya dua restoran yang masih beroperasi." lapor Andi menjelaskan hasil penyelidikannya selamam. Hari yang atasannya bilang tidak membutuhkan bantuannya lagi.
Seharusnya sejak awal memang Andi tidak mempercayai ucapan atasannya. Agar ia tidak perlu membuat janji dan berakhir membatalkannya karena ada tugas mendadak yang Baskara berikan padanya.
"Yang bawa kabur uangnya sudah kamu selidiki juga?"
Andi mengangguk. "Dia gadis perantau yang sebelumnya adalah sekretaris pak Faraz. Mereka sudah cukup lama menjalin hubungan terlarang bahkan sejak mereka masih dikantor ini."
Senja dan Baskara saling pandang. Senja bahkan bergidik jijik membayangkan kedua pasangan itu sudah melakukan apa saja diruangan yang kini suaminya tempati.
"Dari hasil peretasan yang tim kita lakukan, jejak terakhir yang bisa kita dapat, perempuan itu meninggalkan ibu kota dengan pesawat tujuan luar negeri."
Baskara menepuk bahu Andi dan mengucapkan terimakasih untuk asistennya yang sudah bekerja keras itu.
Ia sudah tidak berharap uang yang wanita simpanan Om Faraz bawa akan dikembalikan lagi. Lagi pula lelaki berengsek itu berhak mendapatkan semua ini.
*
*
*
__ADS_1