Langit Senja

Langit Senja
Membuka Pikiran


__ADS_3

Ternyata rasa ikhlas membawa kelegaan yang signifikan. Malam itu Senja bahkan bisa tidur lebih lama dari hari-hari sebelumnya.


Ketika bangun dipagi hari, Senja mengalami morning sickness yang cukup parah.


Makanan yang tak seberapa masuk dalam perutnya ketika makan malam, kembali dikeluarkan dengan diakhiri cairan kuning pekat yang menyakitkan. Mebuat sang suami khawatir karena baru kali ini melihat orang hamil muda yang demikian. Mengingat kehamilan sebelumnya tidak mengalami mual, muntah bahkan pusing seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya.


Beruntung kondisinya kian membaik disiang hari, ia bahkan bisa pergi ke kampus untuk menyelesaikan kelengkapan sidang skripsi yang sudah terjadwalkan.


Senja sudah lebih perhatian dan berhati-hati. Mulai memperlakukan janin dalam kandungannya dengan semestinya. Tak lagi mengabaikan dan menganggapnya tak ada.


Tak ada lagi air mata untuk menangisi kehamilannya. Meski tidak seantusias seperti ketika ia hamil baby Anna, tapi rasa sayang yang ia rasakan untuk calon anak keduanya mulai menumbuhkan benih-benih kebahagiaan yang beberapa saat sebelumnya tak ia rasakan.


Ketika membuka pintu apartemen di sore hari setelah kembali dari kampus, matanya berkaca-kaca. Ia langsung berlari memeluk orang yang menyambutnya dengan senyum hangat. Yang juga memeluknya dengan hangat.


Pelukan yang rasanya tak pernah berubah sejak ia kecil hingga ia dewasa dan akan menjadi ibu dua anak. Peluk kasih seorang ibu yang tidak akan pernah ada yang menyamai bagaimana rasanya.


Beberapa hari ia sengaja mengabaikan panggilan dari keluarganya di Jakarta. Untuk alasan tak ingin membuat mereka khawatir ketika mendengarnya menangis. Karena ia yakin tak akan bisa menahan air matanya begitu membuka suara.


Lihat saja kali ini. Hanya melihat mereka saja air matanya sudah tumpah ruah. Mungkin ia belum menjadi dewasa. Terbukti dari bagaimana ia langsung menangis sesenggukan kini.


Mengingatkannya ketika kecil dulu. Jika ada yang nakal padanya, ia hanya mampu menunduk takut. Tapi begitu sampai dirumah, ia akan menangis kencang dalam pelukan ayah ataupun ibunya. Tak peduli jika lukanya tak lagi sakit.


Tak ada suara selain suara tangis Senja. Semuanya mengerti gadis itu butuh mengungkapkan perasaannya agar merasa lebih lega.


Baru ketika tangis gadis itu mereda, mereka saling bertukar kabar. Juga Senja menceritakan hal yang ia yakin, suaminya sudah menceritakan secara detailnya pada mereka. Menjadi alasan kedatangan mereka kali ini.


"Seorang ibu nggak akan pernah kehabisan cara untuk memberikan kasih sayang yang adil untuk anak-anaknya sayang." Tiara mulai menghapus air mata putrinya dengan sapu tangan yang suaminya berikan.

__ADS_1


"Ta-pi A-Anna ma-sih ke-cil ba-nget, mah." ujarnya dengan sesenggukan sisa tangis tadi.


"Kenapa kamu nggak tanya abang-abang kamu gimana mereka tumbuh? apa mereka kekurangan kasih sayang dari mama sama papa karena tumbuh besar disaat yang sama?"


Senja tertegun, baru sadar akan hal itu.


"Masa kehidupan awal setelah abang Farri dan abang Vindra lahir bukan hal mudah buat mama. Mama harus bolak balik rumah sakit buat jengukin abang Vindra yang saat itu ada diruang NICU." cerita ini bukan pertama kalinya Tiara ceritakan pada sang putri. Tapi sepertinya ia perlu menceritakan lagi untuk mengingatkan putrinya yang tengah merasa tidak percaya diri itu.


"Mama nggak bisa full nemenin abang Farri atau abang Vindra. Karena mereka nggak ada ditempat yang sama."


Senja menunduk dan meremas kain celana dibagian paha.


"Bahkan saat abang Vindra sudah boleh pulang, bunda tetap, kan harus memberi kasih sayang dan perhatian yang adil buat keduanya?"


"Tapi mama kan nemenin abang dari sejak lahir. Sedang Senja, dari lahir sampai Anna enam bulan, sibuk kuliah. Apa lagi nanti kalau adiknya lahir." gumam Senja masih tidak percaya diri.


"Kamu kan udah mau lulus sayang. Mama dulu juga balik kuliah lagi pas abang udah mulai bisa ditinggal. Bahkan mama kuliahnya masih lama dulu. Ninggalin kedua abang kamu buat pendidikan."


"Jangan kamu bagi kasih sayangnya. Tapi, kamu lipat gandakan. Kamu tetap berikan kasih sayang untuk Anna sebesar yang kamu mampu, dan kamu berikan juga kasih sayang pada calon anak kedua kamu sama besarnya." Alvaro ikut menambahkan. "Papa nggak pernah membagi kasih sayang papa untuk kamu, abang Farri dan abang Vindra juga mama. Tapi kasih sayang papa semakin tumbuh besar berkali lipat semakin banyaknya orang yang papa cintai."


Aaah kata-kata ayahnya memang selalu bisa langsung menembus hati dan pikirannya.


"Kamu juga nggak perlu maksain diri buat jadi ibu, istri juga pelajar yang hebat disaat bersamaan, ayy." Baskara yang duduk disebelah ayah mertua dan berseberangan dengan sang istri yang diapit ibu dan ibu mertuanya ikut angkat bicara.


"Maksudnya?"


"Kamu cuma perlu menjadi Senja. Menjadi diri kamu sendiri. Ngelakuin apa yang kamu mau, tanpa harus terbebani sama pemikiran kamu sendiri yang menganggap jadi seorang ibu tuh harus begini. Jadi istri tuh harus begini. Dan kamu harus begini biar sukses dikarir."

__ADS_1


Senja menelengkan kepalanya belum mengerti maksud suaminya. Karena bukankah memang seperti itu harusnya ia bertindak.


"Sekarang aku tanya. Kamu butuh apresiasi dari siapa sih, ketika kamu bisa jadi istri dan ibu yang baik? dari mama, papa?"


Senja menggeleng sebagai jawaban.


"Apresiasi dari ayah sama bunda. Biar mereka seneng punya menantu seperti kamu?"


Senja kembali menggeleng.


"Atau dari Oma dan orang-orang di luar sana biar kamu nggak di hujat karena nggak becus ngurus anak suami?"


Senja masih menggeleng.


"Terus butuh apresiasi dari siapa? tujuannya kamu ngelakuin itu apa?"


"Aku cuma pengen jadi ibu dan istri yang baik buat kamu sama anak-anak kita. Biar kalian bahagia."


"Dan aku udah cukup bahagia sayang... Meski kamu nggak tiap hari nyiapin sarapan atau makan malam. Meski kamu nggak ada waktu buat ngurus Anna karena sibuk kuliah. Aku tetap bahagia. Karena bahagianya aku bukan dari makanan yang kamu sajikan. Bukan karena baju yang kamu siapin juga." Baskara menggeleng untuk semakin menegaskan bahwa bukan itu yang ia butuhkan. Karena hal itu bisa saja dilakukan asisten rumah tangga jika ia mau.


"Banyak alasan yang membuat aku bahagia hidup sama kamu, ayy. Bahkan hal sepele seperti lihat wajah kamu pas tidur aja udah bawa ketentraman di hati aku. Bawa kebahagiaan yang nggak bisa aku dapatin dari orang lain."


"Jadi kamu nggak perlu maksain diri untuk jadi sempurna. Karena nggak ada manusia yang sempurna."


Air mata Senja kembali merebak. Ia tersentuh dengan apa yang suaminya ucapkan. Membuatnya tak kuasa untuk memeluk tubuh suaminya itu.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2