
Merasa tidak nyaman dengan posisi mereka yang begitu dekat. Senja mendorong Baskara pelan untuk menjauh. Menjauhkan lututnya dari perut keras sahabatnya itu. Entah sejak kapan perut Baskara terasa liat seperti itu.
Setelah Baskara bergeser, Senja melompat turun. Hampir saja gadis itu jatuh terjerembab jika saja Baskara tidak memegang lengan atas gadis itu.
"Bisa hati-hati nggak sih?" omel Baskara setelah Senja bisa berdiri dengan baik didepannya.
"Ma-maaf." cicit gadis itu yang akan berniat kembali melanjutkan kegiatan mencucinya. Tapi belum sempat memegang piring, suara Baskara membuatnya mengurungkan niatnya.
"Udah nggak usah di lanjutin. Biar gue aja."
Senja mengangguk patuh dan meninggalkan area dapur. Masuk kedalam kamar mengambil alat-alat gambarnya untuk mengerjakan tugas musim semi yang harus dikumpulkan nanti ketika mulai kembali masuk kuliah.
Sesekali melirik Baskara yang masih mencuci piring hingga Senja tenggelam dalam dunianya menggambar. Gadis itu tidak sadar Baskara berada di dapur melebihi waktu yang dibutuhkan pemuda itu untuk mencuci beberapa piring yang sudah ia basuh sabun dan tingga dibilas saja.
Begitu juga Baskara yang asik dengan kegiatannya hingga melupakan sang pemilik rumah yang tidak terdengar suaranya sama sekali.
"Selesai!" serunya mengibaskan tangan dan meninggalkan dapur untuk mencari Senja. Ia akan kembali ke Massachussets. Meski libur masih satu minggu lagi, tapi Baskara ingin membersihkan apartemen yang sudah lama ia tinggalkan selama berlibur ke Jakarta.
Baskara yang tidak suka ada orang asing masuk ke dalam rumahnya, memilih membersihkan sendiri apartemen yang ia tempati. Hanya pakaian saja yang ia taruh di laundry yang tersedia di lantai satu gedung apartemennya. Kecuali itu, ia kerjakan semuanya sendiri. Termasuk menyapu dan mengepel seluruh sudut apartemen yang ia tempati.
"Ja? Gue pulang ya. Minggu besok gue datang, isi kulkas sudah harus habis." ucap Baskara yang berdiri di seberang meja tempat Senja menggambar.
"Lho udah mau pulang?" Senja berdiri dari duduk lesehannya. "Kan masuk kuliah masih minggu depan?" tanya Senja yang gadis itu sendiri tidak tahu kenapa ia bisa bertanya demikian. Padahal tadi pagi ia ingin sekali Baskara cepat pergi dari apartemennya.
"Kenapa? bukannya lo pengen banget bebas kalau gue pergi?" Baskara menaikkan sebelah alisnya. "Atau lo udah mulai nyaman dengan kehadiran gue?" godanya pada gadis yang menatapnya tak percaya.
__ADS_1
"Ogah banget gue nyaman sama lo!" seru Senja. "Mau pulang, ya pulang aja sana!"
Baskara mengedik dan berlalu menuju kamar yang semalam ia tempati. Mengambil tas serta kunci mobil.
"Jangan lupa masak!" tekan Baskara sekali lagi sebelum pemuda itu meninggalkan apartemen Senja.
"Iya. Bawel lo, ah! udah sana balik. Gue masih sibuk!"
Baskara tak mengindahkan omelan Senja. Pemuda itu justru mengacak gemas rambut sahabatnya. Baskara berpikir bagaimama cara gadis manja ini hidup selama ini. Masak tidak bisa. Sering main ke club malam. Andai ia lebih awal memgetahui kondisi Senja, ia akan lebih awal datang ke tempat itu agar Senja tidak terjerumus hal yang tidak baik. Toh selama ini ia juga tidak ada kegiatan lain selain kuliah. Jika sudah pulang ya sudah. Tidak ada waktu untuknya bermain seperti Senja.
"Jaga diri baik-baik. Jangan sampai gue harus datang ke sini buat nolongin lo! gue pengen datang kesini saat lo baik-baik aja disini."
Senja tidak bisa menjawab apa pun. Ia hanya mengerjapkan matanya lucu. Ia tidak menyangka Baskara akan mengatakan hal demikian. Padahal selama ini hubungan mereka tidak bisa disebut baik juga. Karena Baskara yang masih bersikap dingin. Meski saat ini juga Baskara masih sering bersikap dingin. Tapi setidaknya Baskara lebih terdengar suaranya dan bisa diajak mengobrol.
Terserah alasan apa pun yang membawa Baskara-nya kembali. Yang jelas hatinya menghangat. Hingga pemuda itu hilang di ujung lorong, Senja masih terpaku di depan pintu tanpa berhasil menjawab apa pun bahkan ketika Baskara pamit pulang.
Senja kembali masuk ke dalam apartemennya. Dengan penasaran, kakinya melangkah menuju dapur. Apa yang membuat Baskara betah berlama-lama selama berjam-jam berada di dapur.
Tidak ada yang berbeda dengan kondisi dapurnya. Semua masih sama, berdiri ditempatnya masing-masing. Hanya yang tadinya sedikit berantakan setelah Baskara masak. Kini kembali bersih dan rapi kembali.
Tak ingin ambil pusing, Senja membuka lemari pendinginnya untuk mengambil cemilan dan minuman dingin untuk menemaninya mengerjakan tugas. Sebelum nanti mengabari Maureen dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Benarkah yang di katakan Baskara tadi pagi padanya?
Ketika membuka lemari pendingin, Senja dibuat terkejut dengan isi didalamnya. Sayuran sudah terpisah dalam box-box dan terlihat lebih rapi. Satu box berisi satu menu untuknya masak. Lengkap dengan sayuran yang sudah dipotong sesuai dengan menu yang akan di masak. Diatasnya terdapat note dengan resep dan cara mengolah sayurnya. Dan itu ada disetiap box baik sayur maupun daging yang ada dalam freezer.
Ada note terpisah di pintu lemari pendingin yang baru ia sadari keberadaannya.
__ADS_1
"Semua udah gue cuci bersih. Udah gue potong-potong. Bumbu juga udah gue pisahin. Lo tinggal masak saat lo ada waktu. Usahakan setiap pagi sarapan. Jangan bangun siang, anak gadissss, nggak baik! Mending bangun pagi beberes terus masak. Belajar hidup sehat dan mandiri mulai sekarang. Minggu besok kita belanja lagi, siapin apa yang pengen lo masak. Nanti kita cari bahannya, gue bakal ajarin lo masak sampai lo lebih jago dari gue 😉"
Senja terkekeh melihat emot di akhir tulisan. Senja bisa membayangkan ketika Baskara menulisnya dan mengedipkan sebelah matanya di akhir kalimat.
Matanya merebak. Merasa terharu dengan apa yang Baskara lakukan untuknya. Bahkan selama ini orang tuanya tidak pernah protes ketika ia tidak bisa masak. Tidak marah ketika ia tidak bisa mandiri meski alasannya kuliah jauh untuk belajar mandiri.
Tapi, Baskara yang baru hadir dalam dunia barunya justru langsung bertindak dan ingin merubahnya.
Oke. Meski ia tidak bisa memasak, ia akan berusaha mengikuti setiap petunjuk yang Baskara berikan di tiap box. Senja tidak ingin usaha Baskara untuk merubahnya semua sia-sia. Dan ia akan memulai semuanya nanti malam. Ia akan mencoba masak untuk makan malamnya sendiri nanti. Sekaligus mengundang Maureen untuk makan malam bersama. Memaksa sahabatnya itu menjadi orang pertama yang mencicipi masakannya.
Semoga saja makannya tidak terlalu buruk hingga bisa meracuni Maureen atau membuat perut sahabatnya itu sakit.
Setidaknya jika ia mengikuti langkah yang Baskara berikan dengan benar, mungkin hasilnya juga tidak akan terlalu buruk untuknya sebagai pemula.
Lagi pula dia kan perempuan. Sudah kodratnya untuk memasak. Jadi ia yakin, ia pasti bisa. Senja menyemangati dirinya sendiri. Jika Baskara saja yakin untuk merubahnya. Kenapa ia tidak yakin pada dirinya sendiri.
*
*
*
Yaa ampun. othornya terlalu terlena dengan malas-malasan.
Sakitnya cuma 10 hari, tapi terlenanya berhari-hari.. sory ya gaes.. mudah-mudahan setelah ini bisa kembali rajin up-nya, hihihi
__ADS_1