Langit Senja

Langit Senja
Nanti Rindu


__ADS_3

Suasana malam kali ini terasa lebih hangat dengan kehadiran kedua orang tua Senja.


Gadis itu tak hentinya menyunggingkan senyum dan bergelayut manja pada Tiara atau pun Alvaro.


"Gimana papa nggak kangen coba kalau kamu semanja ini." tangan kanan Alvaro menepuk pelan puncak kepala putrinya.


"Aku kan emang anak papa yang paling ngangenin." balas Senja penuh percaya diri.


Tapi berbeda dengan Baskara yang tersenyum terpaksa.


Bukan karena ia tidak suka mertuanya datang. Tapi istrinya terlalu mengacuhkan dirinya. Meski tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Hanya saja, Senja selalu berada didekat kedua orang tuanya. Padahal ia juga mau dipeluk dan bermanjaan dengan istrinya itu.


Jarang mereka memiliki waktu bersama. Dan liburan yang ia harapkan bisa meningkatkan kualitas hubungan mereka malah justru harus terima membagi istrinya dengan kedua mertua.


"Babas kapan mulai magang?" atensi Baskara yang sebelumnya tengah mengaduk makanannya tak berselera kini menatap ayah mertua.


"Habis libur musim dingin sudah mulai masuk kantor, pah. Persyaratan sudah lengkap tinggal masuk." jawabnya. "Doain pah, mah. Biar tahun depan bisa wisuda."


Tiara menepuk lengan atas anak menantunya itu dengan lembut. "Mama yakin kamu bisa. Mama juga selalu doain yang terbaik buat kalian disini. Karena pasti berat harus berjauhan."


Baskara dan Senja sama-sama mengangguk. Keduanya memang merasa berat harus berjauhan dan berbagi cerita hanya lewat layar ponsel.


Lebih berat lagi jika harus menahan rindu jika Baskara tidak bisa pulang karena tugas kuliah.


Tapi keduanya bersyukur hubungan mereka berjalan cukup baik sampai sejauh ini. Dan pasti akan lebih baik lagi kedepannya. Terlebih jika Baskara sudah lulus dan tak perlu lagi berjauhan.


Bagi Tiara, keduanya masih sangat muda. Masih cukup labil masalah perasaan. Ia hanya takut ada yang tak mampu menjaga perasaannya dan berpaling pada hati yang lain.


Ia sendiri sudah pernah mengalaminya. Bukan hal mudah bertahan dalam rumah tangga disaat teman-temannya yang lain masih senang bermain tanpa memikirkan banyak hal.


Suaminya bahkan hampir tergoda wanita lain. Dan Tiara tidak ingin hal itu terjadi pada anaknya.


"Habis kuliah rencananya mau kerja atau lanjut?"


"Belum tahu pah. Pengennya sih lanjut sambil nunggu Senja kelar kuliah. Tapi lanjut disini aja jangan di MIT." Senja menatap suaminya dengan dahi berkerut. Karena suaminya belum pernah membicarakan masalah ini sebelumnya.


"Tapi Bas juga pengen kerja. Biar bisa kasih nafkah Senja dengan hasil jeripayahku sendiri." tatap teduh ia berikan pada sang istri.

__ADS_1


Alvaro mengangguk mengerti. Sebagai seorang pria, mereka memiliki harga diri yang tinggi. Pasti menantunya tengah merisaukan masalah itu.


"Nggak pa-pa. Yang penting kan kamu nggak lepas tanggung jawab."


Baskara mengangguk meski tetap saja ada rasa mengganjal dihatinya. Rasa kurang puas dengan dirinya sendiri yang masih bergantung pada keluarga untuk membiayai istrinya.


Tak seperti ayah mertuanya yang bahkan sejak sekolah menengah sudah memiliki penghasilan sendiri.


"Kalian fokus saja kuliah. Anggap aja rumah tangga ini sebagai reward buat kalian. Sebagai suntikan semangat dikala lelah. Jangan dianggap beban agar kalian tidak berat menjalaninya." timpal Alvaro ikut memberi dukungan.


"Buat Babas, prioritaskan saja agar cepat lulus biar nggak perlu lagi berjauhan sama istri. Semangat belajar biar cepat wisuda karena ada yang menanti. Nggak usah memusingkan hal lain yang nggak perlu dianggap pusing."


Sebagai orang tua, apa lagi yang bisa Alvaro berikan jika bukan nasehat. Meski ia sendiri masih merasa membutuhkan nasihat.


"Buat adek. Semangat juga kuliahnya. Harus bisa nunjukin prestasi kamu biar bisa dipamerin ke anak kalian nanti. Jadi ibu yang membanggakan seperti mamamu, sayang. Tapi jangan lupakan tugasmu sebagai seorang istri. Jaga diri kamu. Karena sekarang, saat kamu keluar rumah, adek bawa nama baik suami."


Senja mengangguk semangat. Ia tak akan lupa akan statusnya kini. Dan ia akan berusaha seperti mamanya. Menjadi ibu yang luar biasa juga membanggakan bagi anak-anaknya.


"Meski kalian harus berjauhan. Jaga hati masing-masing ya sayang. Jangan sampai ada orang ketiga masuk dalam hubungan kalian."


Baskara tidak pernah menganggap pernikahannya adalah beban. Selama ini ia manjalaninya dengan bahagia. Tidak pernah ada masalah yang menyangkut pernikahannya. Semua berjalan dengan baik. Bahkan kampus dan tempatnya magang pun welcome dengan statusnya.


***


Senja menyiapkan baju ganti untuk suaminya tidur disaat pemuda itu tengah membersihkan dirinya didalam kamar mandi.


"Karena tadi sore mas bilang males ngomong sama aku. Jadi malam ini aku mau tidur bareng mama, ya mas?"


Mata Baskara membulat. Seakan bola matanya akan keluar. "Nggak boleh, ayy! masa aku tidur sendirian! aku nggak bakal bisa tidur nanti!" pemuda itu menekuk wajah dan mengerucutkan bibirnya.


Sedangkan sang istri yang tengah membantu memasangkan kancing piyama, merotasikan bola matanya.


"Nggak usah berlebihan! di Cambridge kan biasa tidur sendiri."


"Tapi kan disini nggak biasa, sayang. Mana musim dingin begini. Masa tidur sendiri!" Baskara memeluk tubuh istrinya erat. Tak membiarkan wanitanya untuk keluar dari kamar mereka.


"Sekali aja, mas. Aku udah bilang sama mama mau tidur bareng." usaha Senja melepaskam belitan tangan suaminya tak juga membuahkan hasil.

__ADS_1


"Nggak maauuuu! aku nggak mau tidur sendiri! pokoknya nggak boleh tidur sama mama!" Baskara menyandarkan kepalanya dibahu sang istri dan menyurukan wajahnya dileher beraroma menyenangkan baginya.


"Ma'as iih! nggak usah kaya anak kecil deh!" omelnya, memukul pelan lengan suaminya.


"Biarin kayak anak kecil. Asal kamu tidur bareng aku. Nggak boleh tidur sama mama atau siapa pun!" tekadnya. Menarik tangan sang istri keluar dari kamar menemui mertuanya yang masih duduk disofa ruang televisi.


"Mah." panggil Baskara yang menarik atensi kedua mertuanya. "Senja tidur bareng aku aja, ya? aku nggak mau tidur sendiri. Dingin mah. Lagian Senja kan punyaku sekarang." ucapnya tanpa tedeng aling-aling. Tanpa ragu dan tanpa malu mengatakannya.


Senja hanya merenges malu pada kedua orang tuanya. Pipinya bahkan sudah terasa memanas.


Bisa-bisanya suaminya berkata seperti itu.


Alvaro dan Tiara tertawa mendengarnya. Kenapa mereka bisa mempunyai menantu sepolos Baskara.


"Iya. Mama tahu Senja sekarang punya kamu. Lagian juga bukan mama yang minta Senja tidur sama mama. Tapi dia sendiri yang ingin." ucap Tiara setelah menguasai diri dari tawanya.


"Dan papa juga nggak kasih izin. Papa juga pengen peluk mama, dingin-dingin begini." timpal Alvaro diakhiri gelak tawa.


Tiara mencubit perut suaminya yang justru ikutan sang menantu yang berkata begitu jujur.


Wajah cemberut Baskara berubah berseri. "Makasih mama, papa. Aku mau ajak Senja tidur dulu. Selamat malam."


Tak menunggu jawaban kedua mertuanya. Baskara sudah kembali menarik istrinya kedalam kamar. Tak membiarkan istrinya kabur begitu saja.


"Kamu tuh apaan sih, mas! malu tahu ngomong begitu!" Senja memukul dada suaminya yang sudah berbaring bersisian.


"Malu kenapa? aku kan ngomong apa adanya, sayang."


"Iish! tapi tetap aja malu!" kesal, Senja tidur membelakangi suaminya. Namun tak berapa lama sudah kembali berhadapan dan masuk dalam dekapan hangat sang suami.


"Jangan jauh-jauh. Nanti aku rindu." bisik Baskara yang mempererat dekapannya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2