Langit Senja

Langit Senja
Khawatir


__ADS_3

Dalam hidupnya, tak sekalipun Senja membayangkan Baskara akan mengatakan hal demikian. Jadi ketika ia mendengar kata yang tak pernah disangkanya itu, ia hanya bisa mengerjapkan matanya berkali-kali. Tak tahu harus menanggapi apa. Ia bahkan yakin Baskara hanya bercanda. Tapi meski seperti itu, entah kenapa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Senja buru-buru menggelengkan kepalanya untuk menyangkal debar jantung di dadanya yang sama sekali tak merubah kenyataan jika jantungnya menggila mendengar kalimat Baskara barusan.


Hingga suara kekehan pemuda diseberang sana terdengar setelah lama hanya ada keheningan. "Jangan serius begitu, Ja. Gue becanda doang elah."


"Ck gue tau lo becanda. Gue lagi ngelepas baju mau mandi makanya diem." elaknya yang seketika membuat kedua mata Baskara membola sempurna disusul pekikan pemuda itu.


"LO GILA YA?! BISA-BISANYA BUKA BAJU DISAAT GUE LAGI TELEPON! LO MAU NODAIN KUPING GUE!"


Senja menjauhkan ponsel dari telinganya serta merotasikan bola matanya malas. Kenapa sahabatnya satu ini berlebihan sekali.


"Lebay lo! emang kuping lo bisa lihat gue telnjang?"


Baskara bergidik ngeri. "Udah sana lo mandi. Ngotorin otak gue lo malam-malam begini." tak menunggu jawaban dari Senja. Baskara langsung memutuskan sambungan. Mendekap ponsel dalam dadanya. Bisa-bisanya Senja membuka baju disaat mereka tengah bertelepon. Meskipun dia saja yang berlebihan karena toh dia sama sekali tidak melihat gadis itu. Namun tetap saja otaknya jadi memikirkan yang tidak-tidak.


Sedangkan Senja sudah tergelak dan berguling diatas tempat tidur mengingat reaksi Baskara yang berlebihan. Ini saja ia hanya berbohong. Bagaimana kalau ia benar melakukan hal yang ia katakan tadi didepan pemuda itu secara langsung?


Setidaknya dengan kebohongan yang oa buat, ia selamat dari rasa malu dengan debar jantungnya sendiri.


Dengan malas gadis itu melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak hanya fisik, namun pikirannya juga sangat lelah seharian ini. Bahkan besok ia masih harus kuliah sebelum pulang di sore hari dan menyelesaikan tugas untuk membuat gaun musim seminya agat bisa dikumpulkan tepat waktu. Ia harap, ia bisa menyelesaikannya dengan baik. Seperti apa yang Baskara ucapkan padanya tadi.


***


Dua hari, Senja akhiri dengan badan yang terasa remuk redam. Namun hasil tak mengkhianati usaha kerasnya. Semalam ia begadang untuk menyelesaikan tugas yang hari ini ia kumpulkan. Dosen menyukai hasil karyanya dan mendapatkan nilai A. Sungguh Senja merasa lega dan ingin cepat pulang ke untuk mengistirahatkan tubuhanya.


"Kau yakin tidak ingin ikut merayakannya di club malam dengan yang lain?" Maureen dan yang lainnya berencana merayakan kesuksesan tugas mereka dengan berpesta alkohol ditempat biasa mereka berkumpul. "Kau sudah lama tidak ikut berkumpul dengan kami."


Senja menggeleng lesu. "Kau tahu aku memiliki bodyguard sekarang. Aku juga merasa tidak enak badan dan ingin beristirahat."

__ADS_1


Maureen mengangguk menghargai keputusan Senja. Lagi pula ia juga khawatir setelah kejadian tempo hari yang hampir saja merugikan sahabatnya ini. "Ya. Kau terlihat kurang sehat. Bibirmu seperti mayat hidup. Kau tahu?"


Senja hanya terkekeh dan melambaikan tangannya ketika mereka berpisah di tempat parkir.


Sampai di apartemen, Senja memakan makanan yang sempat ia beli dalam perjalanan pulang tadi. Gadis itu bahkan tidak membersihkan dirinya dan hanya berganti pakaian rumahan dan langsung terlelap. Tak tahu dengan puluhan panggilan dan pesan yang masuk dalam ponsel yang masih ia silent diatas nakas.


***


Baskara baru saja keluar kelas pukul delapan malam ketika Tiara menghubunginya.


"Hallo Bas, apa Senja hubungin kamu hari ini?" suara Tiara terdengar khawatir.


"Enggak Ma. Aku ada kelas sampai malam, aku udah bilang sama Senja. Mungkin karena itu Senja nggak hubungin aku."


"Mama khawatir, harusnya Senja kan hari ini kelas cuma sampai jam tiga waktu NY. Tapi mama hubungi dari tadi nggak di angkat-angkat."


Nyatanya, pemuda itu sendiri ikut merasa tak tenang karena puluhan panggilannya juga tak satu pun yang gadis itu angkat. Juga puluhan pesan yang ia kirim dan tak ada tanda-tanda Senja membacanya.


Baskara takut Senja kembali menyambangi club malam. Ia takut ada yang berniat buruk lagi pada sahabatnya itu. Ia takut gagal menjaga Senja seperti amanat kedua orang tua gadis itu padanya.


Jadi tanpa pikir panjang dan tanpa persiapan apa pun, Baskara langsung melajukan mobil hitam miliknya menuju ke tempat dimana Senja berada. Toh beberapa bajunya ada ditempat Senja selama dia menginap disana kemarin.


Sampai di apartemen, keadaan gelap gulita. Tak ada satupun lampu yang menyala. Hanya temaram dari kamar Senja satu-satunya cahaya yang terlihat.


Baskara melangkahkan kakinya ke arah cahaya itu berasal. Dan seketika Baskara bisa bernapas lega ketika mendapati gadis itu meringkuk dibawah selimut. Tadi ia sempat khawatir Senja benar-benar pergi ke club malam saat masuk dalam apartemen dengan keadaan gelap gulita.


Awalnya Baskara akan berlalu untuk memasuki kamar yang biasa ia tempati. Tubuhnya juga lelah menempuh perjalanan yang cukup jauh setelah seharian kuliah. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar rintihan dari gadis yang tengah terlelap itu.

__ADS_1


"Mamaa.." suaranya terdengar merintih menahan sakit. Membuat Baskara melangkah mendekati ranjang dimana Senja berada.


"Maahh.." rintihan itu kembali terdengar. Dapat Baskara lihat wajah pucat Senja dan beberapa titik keringat yang membasahai dahi gadis cantik itu.


Dengan sendirinya tangan Baskara terulur untuk menyentuh dahi yang ternyata sangat panas. "Lo demam?" gumam Baskara lirih.


Pemuda itu keluar untuk mengambil alat untuk mengompres agar demamnya segera turun. Melihat piring kotor diatas bar dapur, sepertinya Senja sudah makan malam. Jadi ia sekalian mencari obat penurun panas dalam tempat penyimpanan obat disana.


Dengan setengah sadar, Senja bangun dan menuruti Baskara untuk meminum obat dan kembali terlelap tanpa mengingat apa yang baru saja terjadi.


Baskara menghela dan menggelengkan kepala melihat tingkah Senja. Pemuda itu telaten mengompres dan menjaga Senja semalaman.


Tatapan Baskara sendu menatap tubuh lemah Senja. Entah apa yang terjadi jika Baskara tidak datang. Sedangkan jika weekend orang yang bekerja membersihan apartemen Senja juga libur. Apa sahabatnya itu bisa menjaga dirinya sendiri disaat kondisinya lemah seperti itu. Ia jadi berpikir, selama ini siapa yang menjaga dan merawat Senja jika sakit?


Apa selama ini semua baik-baik saja?


Atau Senja merintih sakit seorang diri?


Baskara baru terlelap menjelang subuh ketika ia tak sanggup lagi menahan rasa kantuk pada kedua matanya.


Baskara duduk di lantai dengan kepala yang berbantalkan ranjang empuk milik Senja. Tangan pemuda itu tak melepaskan jemari milik gadis yang tengah sakit itu. Berharap semoga esok ketika ia membuka mata, kondisi Senja sudah lebih baik.


*


*


*

__ADS_1


Ayoo dong like-nya di naikin lagi biar 100 lagi.hihihi


__ADS_2