Langit Senja

Langit Senja
Jalan Mulus


__ADS_3

"Kalau turunan aunty Shevi, turunan kak Tiara sih tidak heran bisa sekeren ini." puji Denish untuk Senja yang berdiri di samping orang tuanya.


Senja sudah berkeliling untuk dikenalkan pada kolega suaminya. Kini giliran ayahnya yang mengajaknya berkeliling juga.


Dan orang didepannya kini adalah pemilik puluhan pusat perbelanjaan yang tersebar di seluruh indonesia, juga perusahaan pangan yang sudah tak asing lagi dikalangan masyarakat karena produknya yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Mereka tidak bersaudara, tapi orang tua Tiara dan orang tua Denish berteman baik sejak remaja.


"Kamu bisa saja. Kamu juga hebat bisa menjalankan dua perusahaan sekaligus." puji Tiara balik.


"Itu karena adik saya saja yang belum bisa diandalkan, kak. Jadi masih perlu diawasi. Dibantu papa juga. Meski sama-sama perempuan, tapi Senja lebih hebat dan berani dari adik saya."


Mereka saling menanyakan kabar keluarga karena kini sangat sulit untuk mereka berkumpul seperti dulu saat mereka kecil atau bahkan muda. Ketika orang tua mereka sering mengadakan acara bersama.


"Ooh iya, kalau Senja mau, Om ada toko di mall yang daerah Kemang. Belum lama ini baru aja kosong. Masalah harga sewa dan bagi keuntungan gampang bisa dibicarakan diakhir. Om kasih harga saudara deh."


Mata Senja berbinar. Berkah memiliki banyak kenalan dekat yang memiliki pengaruh di bidangnya. "Serius, om? saya memang sudah punya rencana untuk membuka toko di mall. Tapi karena belum sempat promo dan butik sekarang juga masih sepi, makanya belum berani. Mungkin nanti kalau sudah mulai berjalan lancar."


Denish mengangguk paham. Memang membuka usaha dari awal tidaklah mudah. Beruntung ia yang hanya melanjutkan perjuangan keluarganya.


"Coba saja dulu. Sebelumnya, yang mengisi juga brand lokal, hanya modelnya kurang diminati makanya tutup. Tapi Om lihat model-model yang kamu buat, kekinian. Pasti lebih banyak menarik minat orang yang melihatnya. Dan toko tidak bisa terlalu lama kosong. Apa lagi banyak yang ingin mengisi."


Tentu saja Senja tidak bisa melewatkan kesempatan ini. Apa lagi ia diberi diskon dengan harga saudara. Tapi ia juga harus membicarakan masalah ini dengan suaminya. Apa lagi modal yang ia miliki sudah habis untuk membeli bahan dan peralatan, gaji karyawan dan ruko empat lantai yang ia jadikan butik sekaligus gudang penyimpanan bahan, tempat produksi juga kantor tempatnya dan para staf bekerja.


Senja tak lagi memiliki modal setelah seluruh tabungannya bahkan hingga uang maharnya habis. Dan kini ia mengandalkan suaminya yang sebelumnya sudah pernah menawarkan bantuan tapi sempat ia tolak.


"Ambil saja, Ja. Kapan lagi kan dapat kesempatan bagus seperti ini." dukung Alvaro. "Atau papa bayarin? Hitung-hitung papa kasih modal sama kamu. Kalau abang Farri kan sudah pasti nerusin usaha papa. Abang Vindra juga sudah mulai papa bangunkan klinik."


Bola mata Senja kembali berbinar, tapi seketika redup ketika sadar ia seorang istri dan harus tetap mendapatkan izin dari suaminya.

__ADS_1


"Biar nanti saya bicarakan dulu sama suami saya ya, Om. Besok atau lusa, saya kabari lagi." putus Senja akhirnya. Kini teman diskusi dan bergantungnya adalah suami, bukan lagi ayahnya.


"Lho kenapa, Ja? kan papa bayarin?" Alvaro heran karena tidak biasanya putri kesayangannya itu menolak pemberiannya.


"Nanti ya, pah. Senja kan juga harus izin sama Bas. Sekarang Senja sudah jadi milik Bas. Bukan milik papa sepenuhnya lagi." ucap Senja hati-hati tak ingin ayahnya tersinggung. Memeluk lengan pria paruh baya itu seperti biasa.


"Iya. Kamu ini gimana sih, mas! kamu juga pasti nggak akan suka kalau aku ambil keputusan sepihak dengan daddy tanpa melibatkan kamu."


Alvaro mengangguk paham. Ia hanya sempat lupa jika putrinya sudah memiliki sandarannya sendiri.


"Maaf, papa lupa. Tapi papa bangga kamu nggak langsung bilang iya pas papa tawarin."


"Iya dong. Kan mama selalu jadi pendidik yang baik buat Senja."


Alvaro membelai rambut putrinya lembut. Denish juga memberikan kartu namanya. Jadi jika Senja sudah membuat keputusan, bisa langsung menemui atau menghubunginya.


***


Baskara juga tak kenal lelah memperkenalkan istrinya. Meski mereka sudah tahu ketika acara berlangsung tadi. Tapi ia ingin menegaskan lagi jika wanita cantik, anggun dan berbakat yang berdiri disampingnya adalah wanitanya. Istrinya. Belahan jiwanya. Senjanya Basakara.


"Mas tadi nggak ikut sih, jadi nggak kenalan sama Om Denish." ujar Senja yang menerima minuman dari sang suami. Kini mereka sedikit menjauh dari tamu. Istirahat sejenak sebelum berkeliling lagi nanti.


"Denish Dawson?"


Senja mengangguk antusias. "Kenalan mama. Anaknya temen mommy."


"Aku kenal kok. Kan LC juga kerjasama sama Dawson company. Kita isi produk kita di semua mall yang mereka miliki."

__ADS_1


Mulut Senja yang penuh dengan kueh membulat dan mengangguk. "Kirain belum. Kan aku bisa kenalin." senyum Senja dengan menunjukan deretan gigi yang rapi.


"Kenal sayang... Opa sudah lama bekerjasama sama mereka. Lagian siapa sih, ayy, yang nggak mau kerjasama sama perusahaan sebesar mereka."


Senja mengangguk membenarkan. Ia juga bahkan ingin memajang baju-bajunya disana.


"Kamu mau buka toko disana juga, nggak? Nanti aku bantu urus kerjasamanya." tawar Baskara yang membuat bola mata istrinya semakin berbinar.


"Serius, mas? tadi Om Denish juga nawarin." Senja kemudian menceritakan apa yang Denish dan ayahnya tawarkan padanya ketika mereka bertemu tadi.


"Uluh uluh... Manisnya istriku... Makasih ya, masih jaga harga diriku sebagai suami dengan kamu pilih izin dulu ke aku." Baskara belai pipi istrinya lembut. "Tapi untuk keputusan kali ini, aku setuju. Benar kata Om Denish. Coba aja dulu. Siapa tahu kan rezeki kamu disana. Dagangan kamu laris manis."


Senyum Senja semakin mengembang. Ia mengangguk dengan semangat. Karena semakin banyak orang yang mendukungnya.


"Tapi jangan sibuk-sibuk amat ya sayang.. Harus tetap ada waktu buat aku, buat Anna sama Kai." Baskara mengingatkan dengan manja dan menyandarkan kepala di bahu sang istri dengan posisi saling berhadapan.


"Mas tenang saja. Aku kan stafnya banyak. Yang bantu desain juga ada. Jadi meski nanti aku sibuk saat Vogi sudah maju. Kalian tetap prioritasku kok."


"Janji ya?"


"Iya sayang.. Kan aku udah sering bilang. Vogi emang cita-cita aku. Tapi itu nggak menghapus kewajiban aku sebagai seorang istri dan juga ibu." ujarnya lagi. "Tapi mas tolong ingetin aku kalau aku lupa waktu."


Baskara lingkarkan bola matanya. Kalau itu sudah pasti. Karena istrinya saat kuliah dulu sering lupa waktu jika tengah mengerjakan tugas. Meski tak ia dapatkan selama beberapa bulan ini istrinya membuka butik.


*


*

__ADS_1


*


Ada yang inget Denish anaknya siapa?


__ADS_2