
Karena acara reuni kali ini dilarang membawa pasangan untuk menghindari kecemburuan yang mungkin saja terjadi. Akhirnya Jingga hanya bisa berangkat bersama dengan Senja dan Baskara dalam satu mobil yang sama. Karena peraturan itu tidak berlaku untuk pasangan yang sama-sama alumni angkatan mereka itu.
"Kasihan banget gue nggak bisa ngajak suami." entah sudah keberapa Jingga mengeluhkan hal yang sama. Terlebih ketika dua manusia didepannya tak henti menebar kemesraan. Membuatnya yang jauh dari suami merasa jomlo dalam sekejap.
"Disana bukan cuma elo yang nggak bawa pasangan. Mereka juga rata-rata nikah sama non alumni kali, Ngga." dan entah untuk keberapa kali Senja menasehatinya hal yang sama meski dengan susunan kalimat yang berbeda.
"Ya terus ngapain lo ikut sih, Bas? nggak adil banget tau nggak!"
Baskara melirik malas. "Beruntungnya gue nggak nikahin cewek satu ini."
Senja tergelak mendengar ucapan syukur suaminya. Berbanding terbalik dengan Jingga yang langsung mengumpat dan menendang belakang kursi yang Baskara duduki.
"Gue mungkin bukan cewek terbaik buat lo. Tapi gue cewek terbaik dimata suami gue!" gerutu Jingga dengan melipat kedua tangannya didada dan menatap bagian belakang Baskara dengan jengah.
"Iya deh.. yang jadi ratu di tangan pria yang tepat." seloroh Baskara yang lagi-lagi membuat istrinya tertawa bahkan hingga matanya berair.
"Ya Tuhaaaan... Iblis apa yang menjelma menjadi adik ipar hamba ini." Jingga menengadah dengan dramatis.
"Aduh!" pekik Senja memegang perutnya yang terasa kaku akibat tertawanya yang kelewat semangat.
"Kenapa, ayy?" Baskara menoleh dan terlihat mengkhawatirkan sang istri. Sebelah tangannya terulur untuk menangkup wajah yang mengernyit itu.
"Nggak pa-pa mas. Perutnya kaku aja." sahut Senja masih disela tawanya. "Lo dikasih makan apa dah, Ngga, sama abang? kenapa otak lo makin sengkle begini, sih?" tanyanya setelah tawanya mereda.
"Dikasih makan dagelan tiap hari sama abang, lo. Puas?!"
Baskara menggeleng melihat istri dan sahabatnya itu saling mengejek. Hingga mereka sampai di hotel tempat acara berlangsung.
Setelah menyerahkan kunci mobil pada petugas valet untuk memarkirkan mobilnya. Baskara beserta dua wanita cantik itu berjalan bersisian menuju ballroom.
Padahal Jingga berjalan disisi Senja. Tapi begitu mereka memasuki ballroom tetap saja kata-kata menggoda yang tertuju untuk mereka tetap terdengar.
"Waah pak CEO baru datang nih." seru salah satu teman sekelas Baskara ketika dikelas dua belas.
"Maklum, istri dua jadi nungguinnya lama." seru temannya yang lain ikut menimpali. Membuat teman-teman yang dapat mendengarnya tertawa.
__ADS_1
Baskara hanya menanggapinya dengan senyum sinis dan dengusan yang tak ketara. Karena tak etis jika dirinya baru sampai dan sudah membuat keributan. Apa lagi sudah sangat lama mereka tidak mengadakan acara seperti saat ini.
"Iya nih menang banyak Babas, mah. Udah nyobain Jingga, setelah bosan ngembat satunya. Kasihan lho Bas, sama-sama perempuan mereka. Katanya kalian sahabatan dari bayi, masa diembat semua."
"Biar nggak rugi dia! lagian Jingga kan udah dapat yang lebih matang. Abangnya si Senja." timpal yang lain lagi membuat Jingga meremat jemarinya kuat dengan sensasi menusuk tepat dijantungnya. Ia tak pernah mengira hal seperti ini akan terjadi.
Yang ia bayangkan hanyalah keseruan berkumpul bersama teman-teman yang sudah lama tak ia temui.
Baskara juga terlihat menahan amarahnya. Meski mereka tak sepenuhnya salah. Tapi bisakah mereka tak berkata demikian? Karena ada perasaan Senja dan Jingga yang harus ia jaga.
Lagi pula, tahu apa mereka tentang hubungannya dengan Jingga mau pun Senja. Apa mereka yang mengatur harus pada siapa ia jatuh cinta?
Mereka sudah dewasa. Tapi pemikirannya masih saja dangkal seperti bocah. Umpat Baskara dalam hati.
"Lagian lo juga mau-maunya sih, Ja. Sama bekas sahabat lo sendiri? mending sama gue, nggak kalah ganteng dari suami lo itu."
"Yang nggak kalah ganteng emang banyak." jawab Senja dengan santai. Terlihat tenang dan tak nampak emosi sama sekali di raut wajahnya. "Yang lebih kaya juga banyak. Tapi yang ganteng, kaya dan beradab kaya suami gue, jarang. Dan lo nggak termasuk dalam salah satu pria itu." papar Senja telak. Membuat pria yang tadi dengan percaya diri membanggakan dirinya, seketika terdiam tanpa bisa berkata-kata.
"Buset Ja, mulut lo masih aja pedes." sahut pria lain yang tertawa melihat temannya kicep oleh seorang wanita.
Teman-teman Senja sudah melambai dan mengajaknya untuk bergabung. Tak ingin berlama-lama dengan kumpulan pria bermulut sampah itu, Senja menarik tangan Jingga untuk mendekati teman-teman yang pernah menjadi teman sekelasnya. Meninggalkan Baskara disana setelah pamit.
"Seneng deh, lihat kalian akur lagi kaya gini." ucap teman Senja yang menjadi saksi bagaimana dulu Jingga dan Senja yang kemana-mana selalu bersama merenggang dan saling menghindar. Membuatnya bisa dekat dan menjadi salah satu sahabat Senja kala itu.
"Iya dong.. Kita kan udah punya jalan sendiri buat bahagia. Jadi ngapain musuh-musuhan."
Acara dimulai dengan sambutan panitia acara yang juga salah satu dari mereka. Hingga memasuki acara-acara inti yang memutar video-video yang mereka kumpulkan baik dari koleksi pribadi maupun sekolah.
Membuka kenangan lama mereka. Dimana mereka yang bertingkah konyol. Dandanan mereka yang ketika dilihat pada masa kini terlihat cupu dan memalukan. Tak lupa video-video mereka yang tengah belajar. Tengah dihukum guru. Tengah berusaha kabur melalui pagar belakang sekolah yang mengundang gelak tawa mereka saat mengenang masa-masa itu.
"Ares nih, ketua madol!" seru salah satu dari mereka yang kembali mengundang gelak tawa dan menatap kearah Ares yang kini tak terlihat sisa kenakalannya. Karena Ares yang kini sudah menjelma menjadi pria dewasa dan mapan.
"Nah kalau ini guru kiler yang selalu jadi alasan madol!" seru teman lainnya ketika foto salah satu guru yang mereka anggap menyeramkan terpampang di video.
Tak hanya kenakalan mereka yang dikenang malam itu. Tapi segudang prestasi juga kembali mereka kenang.
__ADS_1
Seperti juara olympiade, juara basket, juara seni musik dan lomba-lomba lainnya yang pernah mereka menangkan untuk mengharumkan nama sekolah.
Setidaknya tidak hanya kenangan buruk yang mereka tinggalkan untuk guru dan staf sekolah. Tapi juga prestasi yang tak kalah membanggakan.
Sebagai penutup adalah video dihari kelulusan dan prom mereka. Dimana mereka saling berpelukan dalam tangis karena tak siap untuk berpisah dan keseruan saling mencoret seragam sebagai lambang kebebasan mereka sebagai siswa putih abu-abu.
Kisah dimana tidak akan pernah cukup waktu untuk menceritakannya. Karena ada begitu banyak kenangan yang tercipta selama tiga tahun kebersamaan mereka. Waktu berharga yang tidak akan pernah mampu mereka ulang kembali.
*
*
*
Selamat tahun baru semua... Semoga tahun ini apa yang kalian impikan dapat terwujud.
Mari tutup lembaran tahun 2021 dengan rasa syukur atas segala suka duka dalam setiap cerita yang tak bisa kita putar kembali itu.
Dan semoga di tahun yang baru ini, kita bisa lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Semoga keberkahan dan kebahagiaan selalu melingkupi kita semua.
Tahun baru, semangat baru. Yeaayy 🎉🎉
Selamat tahun baru juga dari para cast..
(hot daddy yang direcokin anaknya sebelum berangkat reuni)
(mommy yang nggak jadi tampil seksi)
(Jingga yang sedih dengerin mulut sampah)
__ADS_1