
Senja sudah tidak mendapati Baskara ketika ia bangun esok harinya.
Ranjang disisi lain tempat Baskara tidur bahkan sudah terasa dingin. Menandakan suaminya sudah lama meninggalkan tempat tidur.
Semalam untuk pertama kalinya Baskara mengabaikan Senja.
Gadis itu bahkan harus terima tidur hanya memeluk bantal guling. Karena guling hidupnya justru tidur dengan memunggungi dirinya.
Senja kira ketika bangun, semua akan baik-baik saja. Baskara akan memperlakukannya lagi dengan hangat. Tapi sepertinya suaminya itu masih marah hingga bangun bahkan tak membangunkannya untuk merengek ini dan itu.
Setelah membersihkan diri, Senja turun ke lantai bawah. Dimana kedua orang tuanya beserta Farri dan Jingga juga Sisi sudah duduk di meja makan.
"Pagi semua." ucapnya lesu.
"Pagi sayang." jawab kedua orang tuanya.
"Pagi adik manis." Farri ikut menjawab.
Sedangkan Jingga sudah melambai dan menarik kursi disebelahnya untuk Senja duduk.
Diseberang disamping Farri, Sisi ikut melambai dan tersenyum cerah.
Matanya menatap sekeliling mencari suaminya yang tidak ada diantara keluarganya. Berharap ia menemukan sosok yang ia rindu.
"Bas kemana, Ngga?" bisik Senja pada kakak iparnya.
"Tadi subuh pas gue bangun bikin susu buat Sisi, kayaknya dia keluar. Tapi nggak tahu deh kemananya? emang nggak pamit sama lo?"
Senja menggeleng lesu. Menghela dan tertawa miris dalam hati. Baskara bahkan baru mengabaikannya beberapa jam. Tapi ia sudah merasa hampa dan uring-uringan.
Bagaimana jika suaminya itu menyetujui pemikiran bodohnya untuk memikirkan tawaran Oma.
"Kalian berantem? bukannya semalam baik-baik aja?" keduanya masih saling berbisik. Senja hanya tersenyum, belum ada niatan untuk bercerita.
Menatap sendu dengan helaan napas. Merasa kasihan dengan adik iparnya itu. Masalah hadir disaat mereka tengah hangat-hangatnya.
Melihat nasib Senja, Jingga merasa bersyukur dengan pernikahannya yang meskipun diawal dulu tidak ia harapkan.
"Sabar ya. Suami mah nggak mungkin lama marahnya. Nanti pasti pulang." hanya itu yang bisa Jingga katakan kini, karena suaminya sudah memintanya mengambilkan nasi untuk sarapan.
Senja tersenyum tipis dan mengangguk.
Benarkah? benarkah Baskara akan pulang?
Sepertinya suaminya benar-benar marah dengan yang ia ucapkan semalam. Ia memang bodoh dan terbawa perasaan. Hingga apa yang keluar dari mulutnya tak di saring otak dengan benar.
Yang ia pedulikan semalam hanya rasa sakit dihatinya. Mengingat kata mandul yang terus berputar diotaknya. Membuat ia merasa tak tahan dan memilih mengalah.
Tapi jika berakhir dengan diabaikan seperti saat ini, ia lebih memilih diam dan membiarkan rasa sakit memakannya habis asal Baskara tidak pernah meninggalkannya dengan rasa marah.
__ADS_1
***
Setiap ada mobil atau bell berbunyi, Senja langsung antusias berharap itu adalah suaminya.Tapi hingga sore Baskara tidak juga kembali. Bahkan nomor ponselnya tidak aktif.
Dan ketika Senja mencari ke rumah mertuanya, tak ada orang satu pun selain asisten rumah tangga.
"Maaf Senja, bunda masih dirumah sakit. Ada jadwal piket juga." ucap ibu mertuanya ketika ia menghubungi lewat telepon. "Ayah di rumah Oma. Kamu sudah dengar semalam Oma pingsan?"
"Sudah bun. Tapi Senja belum sempat nengokin."
"Nggak pa-pa. Oma baik-baik aja kok. Semalam cuma pingsan. Tapi karena ayah khawatir jadi langsung dibawa ke rumah sakit buat dicek keseluruhan. Tahu sendiri kalau Oma sudah tua. Jadi ayah takut Oma punya penyakit berat. Tapi untungnya cuma pingsan biasa."
Senja ikut bersyukur mendengar penjelasan dari ibu mertuanya itu.
"Emm bun?" tanyanya ragu.
"Kenapa sayang?"
"Bunda tahu Bas dimana nggak ya?" tanyanya setelah diam beberapa saat.
Rasanya tidak nyaman membuat orang lain tahu jika hubungannya dengan Baskara tengah tidak baik-baik saja.
"Lho, bukannya semalam pulang ke tempat kamu?" Pricilla heran. "Bunda belum lihat lagi sampai sekarang."
Senja mendesah kecewa.
Namun nyatanya nihil. Entah dimana suaminya itu berada.
"Mungkin lagi jengukin Oma. Nanti bunda coba tanya sama ayah."
Senja langsung menolak dan berkata akan menelepon sendiri. Ia tidak ingin merepotkan orang lain. Apa lagi ibu mertuanya itu pasti tengah sibuk di rumah sakit.
***
Grace tengah mengupas apel untuk Oma di ruang keluarga.
"Oma lihat kan? bahkan dia nggak datang buat jengukin Oma. Menantu macam apa?" cibir Grace memanasi Oma agar semakin membenci Senja.
"Seharusnya dia langsung datang dan minta maaf udah buat Oma sakit. Paling nggak jagain Oma lah. Itu pun kalau dia menantu yang baik. Menantu yang bisa diandalkan."
Oma hanya diam menatap televisi. Tapi didalam benaknya, memikirkan apa yang Grace katakan.
"Bahkan Aska juga nggak nengokin Oma. Pasti karena dilarang sama Senja." tambah Grace semakin menjadi.
"Jangan menyiram bensin diatas kobaran api." sahut Aldo yang baru bergabung setelah membersihkan diri karena baru pulang dari rumah sakit.
"Aku kan ngomong apa adanya, yah. Buktinya nggak ada yang datang nengokin Oma."
Mengabaikan Grace, Aldo duduk disamping ibunya saat bell rumah terdengar dan tak lama asisten rumahtangga masuk setelah melihat siapa tamu yang datang.
__ADS_1
"Maaf nyonya, didepan ada non Senja." ucap maid itu dengan menunduk.
"Suruh masuk langsung. Kenapa malah disuruh menunggu didepan?!" Aldo yang menjawab marah.
"Ba-baik tuan."
Mengenakan celana jeans dan sweater kebesaran, Senja masuk membawa bingkisan berisi buah-buahan yang kemudian ia letakan diatas meja sebelum menyalami Oma dan ayah mertuanya.
"Gimana keadaan Oma?"
"Kenapa? kamu berharap Oma mati?!" jawab Oma sarkas.
"Bu-bukan begitu." jawabnya gagap. Kemudian menghela napas. Merasa percuma menjelaskan karena apa pun yang ia ucapkan pasti akan salah dimata Oma.
"Mau apa kamu datang kesini? sudah mengizinkan Baskara untuk menikah lagi?"
"Mah!" tegur Aldo.
Senja tersenyum dan menggeleng ke arah ayah mertuanya. Tidak ingin anak dan ibu itu bertengkar lagi karena dirinya.
"Senja nggak mau memaksa suami Senja untuk melakukan apa yang nggak suami Senja inginkan Oma." jawab Senja yang menggenggam tali tasnya erat. "Karena Senja nggak mau dijauhi suami sendiri. Dan Senja nggak mau menyesal nantinya."
Lukanya semalam masih belum sembuh. Dan kini ia harus dihadapkan dengan hal yang sama.
"Kalau Baskara setuju untuk menikah lagi?" tantang Oma.
"Kalau memang itu yang mas Bas inginkan, Senja nggak akan melarang. Demi kebaikan semua orang." kecuali untukku. imbuhnya dalam hati.
Tapi melihat reaksi Baskara semalam, yang bahkan sampai saat ini tidak tahu keberadaannya, Senja yakin suaminya itu takan pernah mengecewakan.
"Baik kalau begitu. Dimana suami kamu? kita tanya dia sekarang. Bagaimana keputusan dia untuk menikahi Grace."
Senja bingung akan menjawab apa, jika ia mengatakan yang sejujurnya bahwa tidak tahu keberadaan Baskara. Ia bisa semakin dicela oleh Oma dan Grace.
Tapi sebuah suara yang sangat ia kenal dan ia rindukan terdengar dari arah penghubung ruang tamu.
"Sampai mati pun, Bas nggak akan pernah mau untuk menikah lagi!"
Baskara memang pergi dari rumah orang tua Senja. Ia ingin istrinya merenungkan apa yang diucapkan gadis itu semalam.
Tapi Baskara tidak pernah meninggalkan istrinya. Ia selalu mengikuti Senja dari jarak yang cukup jauh. Mulai dari mengunjungi rumah orang tuanya dan berakhir dirumah Oma.
Sejak istrinya masuk ruang keluarga, Baskara juga ikut masuk. Ia meminta asisten rumahtangga neneknya untuk diam selama ia berdiri dibalik tembok penghubung. Mendengarkan semua yang orang-orang didalam ruang keluarga bicarakan.
*
*
*
__ADS_1