
Meskipun Senja tidak merasa ia berdandan untuk pria lain, tapi ia mengikuti mau sang suami untuk menghapus make up tipis diwajahnya. Disaat yang sama bell rumah terdengar.
"Aku aja yang buka pintu. Kamu bawa Anna aja keluar." ucap Baskara berlalu begitu cepat sebelum istrinya mendahului.
Meninggalkan Senja yang menggelengkan kepala dan kembali merapikan penampilannya.
Benar saja. Ketika Baskara membuka pintu, berdiri seorang pemuda yang pernah ia jumpai dulu. Disebelahnya seorang gadis yang sepertinya seumuran dengan pemuda yang kata istrinya bernama Doni.
"Ehem." Doni berdeham karena Baskara hanya diam menatapnya. "Benar ini rumah Senja?"
Sebenarnya Doni tahu ia tidak salah rumah. Terlebih ia tahu Baskara. Selain mereka pernah bertemu, Senja juga sering membagikan kebersamaan suami dan anaknya di status WA. Jadi Doni hapal betul wajah suami temannya itu.
"Ah, iya. Kenalkan saya Baskara. SUAMI Senja." ucapnya memperkenalkan diri dengan menekankan kata suami ketika ia mengulurkan tangan.
Doni menanggapi dengan senyuman ramah. Menjabat tangan tuan rumah. "Doni. Kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Dan ini teman saya Anggie."
Baskara hanya mengangguk dan tersenyum tipis untuk menyapa Anggie tanpa berjabat tangan.
"Mari masuk, Senja sebentar lagi keluar." ajaknya pada kedua tamu untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
Belum sempat keduanya duduk, suara Senja riang menyapa. "Kak Anggie ikut?" terdengar jelas jika ibu muda itu bahagia melihat kehadiran tamu perempuannya.
"Ikut dong. Masa nggak ikut nyapa keponakan." untuk pertama kali suara Anggie terdengar. Suaranya terdengar gemerincing, tapi cukup enak untuk didengar.
Kedua perempuan itu bercipika-cipiki setelah lama tidak saling jumpa karena Senja yang sudah tidak pernah lagi ikut berkumpul semenjak ia menikah.
"Nyapa ponakan apa sekalian kencan?" goda Senja. Karena di grup perhimpunan tengah ramai membicarakan dua sejoli dihadapannya ini.
Anggie menanggapi dengan jari telunjuk yang ditempelkan kemulut dan mengedipkan sebelah matanya. Membuat kedua perempuan itu tergelak.
__ADS_1
"Cewek kalau udah ketemu tuh gitu ya, rumpi sendiri yang lain nggak di anggap." protes Doni dibelakang Anggie.
Senja kembali tergelak dan menyapa seniornya di perhimpunan itu. "Hai kak Doni.. Makin glow aja nih sejak dekat kak Anggie."
Kini Doni yang tergelak. Tapi begitu ia akan menjabat tangan Senja, ia mengerutkan alisnya ketika Baskara menyerobot membalas jabatan tangannya menggantikan Senja yang juga memiringkan kepalanya bingung.
"Abang kan habis dari luar. Istri saya sedang menggendong anak kami, jadi jabat tangannya sama saya saja. Baby Anna masih rentan sama kuman penyakit."
Senja tersenyum canggung pada temannya itu. Padahal tadi ketika ia dan Anggie bercipika-cipiki, suaminya tak melarang. Ada saja alasan suaminya itu. Padahal ia tahu apa maksud suaminya.
"Udah kak, orang kalau sudah cinta akut mah sah-sah aja." ucap Anggie mengajak Doni yang masih mengerutkan keningnya untuk duduk.
Doni yang masih belum paham, menatap Anggie. Tapi gadis itu mengibaskan tangannya dan berkata untuk membahasnya nanti saja.
"Wah, Ja. Kamu baru nggak kelihatan dua tahun, tapi anaknya udah dua aja." ucap Anggie mengalihkan topik. Menatap kagum pada dua bidadari kecil yang begitu imut dan menggemaskan.
"Ini keponakan aku, kak." ujar Senja mengajak Sisi yang sedari tadi bersembunyi dibalik tubuhnya untuk maju kedepan. "Ayo sayang, sapa dulu uncle sama aunty-nya."
"Lucunya..." puji Anggie. "Nggak keponakanmu, enggak anakmu, lucu-lucu semua Ja. Cantik-cantik lagi."
Senja sedikit menimang buah hatinya kekanan dan kekiri ketika bayi kecil yang usianya belum genap dua bulan itu menggeliat. "Iya dong. Buah dari bibit-bibit unggul nih."
Semuanya tergelak. Kecuali Baskara yang sudah berlalu ke dapur untuk mengambil minum dan cemilan untuk tamu mereka.
Lama tidak bertemu dengan orang Indonesia selain suaminya. Membuat Senja betah berlama-lama mengobrol dengan Anggie dan Doni.
Sisi bahkan sampai tertidur ketika bermain di karpet dekat mereka. Dengan sigap Baskara memindah keponakannya itu ke kamar mereka. Karena tidak mungkin membiarkan Sisi tidur seorang diri ditempat baru bagi gadis kecil itu.
"Suamiable banget sih Ja, suami kamu."
__ADS_1
Senja ikut tersenyum menatap punggung suaminya. "Makanya cepat nyusul kak. Aku yakin, Kak Doni nggak kalah siaga buat jadi suami dan ayah."
Anggie mendesah dan melirik pemuda di sampingnya. "Jangankan nunggu di lamar. Nunggu ditembak aja belum." cibirnya sedikit menyindir.
"Waah kak Don, ada yang udah kasih kode minta di tembak tuh... Gas laaaah... Jangan didiemin lama-lama, nanti ditikung disepertiga malam nyesel lho."
Doni terlihat salah tingkah. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jadi cowok harus gentle. Apa lagi diusia kita begini. Udah nggak jaman pacar-pacaran. Langsung aja lamar. Buktiin kalau emang serius. Kayak kita kan, ayy?" Baskara yang baru datang ikut menyahut dan duduk disebelah istrinya. Sebenarnya ia berniat menyindir Doni. Berusaha terlihat lebih baik dari pada pemuda itu.
Padahal Senja tidak butuh itu. Karena dimatanya, suaminya sudah yang paling baik. Suami terbaik untuknya dan ayah terhebat untuk putri mereka.
Tidak ada manusia yang sempurna. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan Senja bisa menerima kekurangan suaminya dengan baik. Karena yang ia lihat tidak hanya kekurangannya semata. Tapi juga kelebihan yang membuat semuanya terasa seimbang. Bahkan Senja merasa suaminya lebih banyak lebihnya dari pada kurangnya. Untuk itu ia bersyukur mendapatkan Baskara sebagai pendamping hidupnya.
"Semua orang punya pilihannya masing-masing mas. Apa pun keputusan kak Doni dan kak Anggie, aku dukung." ujar Senja.
"Kalau mereka mau pacaran dulu ya nggak pa-pa. Siapa tahu mereka masih butuh memantapkan hati mereka untuk hidup berdampingan selamanya. Untuk mengenal lebih dalam satu sama lain sebelum melangkah ke jenjang yang lebih lanjut agar nantinya tidak ada penyesalan."
Doni tersenyum senang mendengar penuturan Senja. Karena baginya pernikahan bukan ajang uji coba. Mereka minikah dengan tergesa dan ketika ditengah jalan ada ketidak cocokan diantara keduanya lalu mereka berpisah.
Doni tidak ingin hal seperti itu terjadi. Ia ingin baik ia dan terutama Anggie yakin akan hubungan mereka. Yakin satu sama lain agar tidak ada yang mereka sesali nantinya kalau sudah memutuskan untuk bersama.
Wajah Baskara terlihat masam. Merasa istrinya lebih membela Doni dari pada dirinya.
"Tapi kalau kalian memutuskan untuk segera menikah sih aku dukung banget." ucap Senja kemudian. "Jangan lama-lama pendekatannya."
"Selain takut ada yang nikung di sepertiga malam. Takut ada bisikan menyesatkan juga." selorohnya. "Karena biasanya yang belum halal terasa lebih menggoda."
*
__ADS_1
*
*