Langit Senja

Langit Senja
Operasi


__ADS_3

Sesampainya dirumah sakit, Senja langsung dilarikan ke ruang IGD.


Seperti dugaan, ketuban Senja sudah pecah. Dan belum adanya bukaan. Juga tekanan darahnya masih cukup tinggi.


Selama ditinggal Baskara, Senja hanya tidur beberapa jam setiap malamnya. Yang berakibat tekanan darahnya naik.


Sudah sejak usia kehamilan 20 minggu, Senja memang sering mengalami kesulitan untuk tidur. Dan hanya dekapan hangat suaminya yang bisa membuatnya terlelap lebih lama.


Dan Baskara baru mengetahui kondisi istrinya ketika ia kembali. Fani memberitahunya untuk menjaga Senja. Baik pola tidur, makan dan beban pikiran. Untuk itu, ia sangat berhati-hati.


Fani yang saat itu baru akan pulang setelah jaga malam langsung menuju IGD begitu mertuanya memberi kabar. Fani bahkan mengacuhkan keberadaan Baskara dan Farri yang menunggu dengan panik diluar ruangan.


Fani terlihat terburu-buru untuk masuk dan semakin membuat perasaan kedua pria yang sama-sama menyayangi Senja itu tak karuan.


"Maafin Jingga, Bas. Dia nggak tahu kalau Senja belum tahu masalah apa yang kamu alami." ucap Farri pada akhirnya setelah lama hanya saling diam dicekam kecemasan. Meminta maaf untuk kesalahan yang istrinya lakukan.


Jika yang melakukannya orang lain, mungkin Farri sudah sangat marah karena membahayakan nyawa adik tersayangnya. Tapi itu istrinya. Tanggung jawabnya. Hingga ia hanya bisa meminta maaf menanggung kesalahan istrinya.


Terdengar helaan napas dari Baskara. Fokusnya masih pada wanitanya didalam yang tengah bertarung antara hidup dan mati. Dan ia tidak peduli dengan apa pun saat ini. Namun ia juga tak bisa diam saja ketika ada seseorang yang meminta maaf dengan tulus padanya.


"Bukan salah Jingga. Aku yang salah karena dari awal nggak jujur. Mungkin juga kalau tekanan darah Senja lagi nggak tinggi, hal seperti ini nggak akan pernah terjadi."


Ia hanya ingin menjaga istrinya. Menjaga kondisi istrinya untuk tetap stabil di minggu terakhir kehamilan. Ia hanya ingin istrinya fokus pada kehamilan dan melahirkan nantinya. Ia hanya tidak ingin membebani pikiran istrinya. Meski pada akhirnya keputusannya menutupi masalah berakhir menjadi bumerang.


Kedua pria itu kembali terdiam. Merenung dalam pikiran masing-masing.


"Gimana keadaan Senja?" suara Tiara yang syarat kekhawatiran terdengar. Baik Baskara maupun Farri menoleh ke sumber suara.


Wanita paruh baya itu jalan dengan dirangkul sang suami. Wajahnya sudah pucat karena khawatir terjadi sesuatu dengan putri bungsunya.

__ADS_1


Disaat yang bersamaan Fani keluar dari ruang IGD.


"Gimana kak?" sergah Baskara langsung berdiri mendekati kakak iparnya itu.


Fani memijat pangkal hidung dibawah kacamatanya yang terlihat lelah. Menghela napas berat dan berucap muram. "Kakak baru kemarin sore pesan sama kamu jangan sampai Senja terguncang. Tekanan darahnya lagi nggak stabil. Kakak juga baru memberi Senja obat untuk mengontrol tekanan darah untuk persiapan melahirkan yang hanya tinggal menghitung hari. Tapi kenapa pagi-pagi ketuban pecah begini? bahkan tekanan darahnya lebih tinggi dari kemarin."


"Maaf kak, aku gagal jaga Senja."


Fani kembali menghela napas melihat adik iparnya yang benar-benar menyesal dan tak bercahaya itu. Sejujurnya siapa pun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Termasuk kejadian Senja kali ini.


"Beruntung pingsannya cuma karena syok. Dan beruntung juga hipertensi yang Senja alami adalah hipertensi gestasional dimana kondisi hipertensi ini relatif ringan, tidak membahayakan kehamilan, dan cenderung hilang setelah melahirkan," papar Fani. Karena memang naiknya tekanan darah Senja hanya karena kurang tidur. Bukan karena penyakit.


Dokter juga sudah melakukan serangkaian tes. Khawatir hipertensi Senja adalah gejala preeklamsia. Namun dari semua tes yang dilakukan, semua normal. Hanya hipertensi biasa.


"Tapi karena kondisi ketuban yang sudah pecah, juga tekanan darah yang tak kunjung turun setelah diberikan obat. Kami para dokter menyarankan untuk melakukan operasi caesar untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Meskipun masih bisa diusahakan untuk lahir normal, tapi ini cara untuk menghindari resiko yang lebih tinggi lagi. Dan keputusan ada ditangan kamu sebagai suami, Bas."


***


Baskara berdiri disamping brangkar. Membungkuk dan menggenggam erat tangan istrinya. Sesekali memberikan kecupan disana. Ditangan yang bebas dari infus.


"Iya sayang. Tapi kamu nggak perlu khawatir ya.. Kata kak Fani itu cara teraman untuk kamu dan baby kedua saat ini."


Senja mengulas senyum dan mengusap pipi suaminya dengan tangannya yang diinfus. "Kayaknya malah kamu yang khawatir, mas."


Baskara tersenyum kecut. Siapa yang tidak khawatir jika berada di posisinya. "Sebentar lagi kita bakal ketemu sama baby kedua. Kamu mau kasih nama dia siapa?" alih Baskara.


Senja menggeleng. "Kamu aja yang kasih nama, mas." mereka memang belum memikirkan nama untuk anak kedua mereka. Karena untuk kehamilan kali ini, keduanya sepakat untuk melarang dokter memberitahu jenis kelamin bayi mereka hingga waktunya lahir nanti. "Pacar kamu pasti ngamuk deh, mas, dirumah."


Baskara terkekeh meski tak menghilangkan keresahan dalam dirinya. Juga sorot matanya yang masih tampak sangat khawatir.

__ADS_1


"Udah ada Jingga yang jagain. Ada bunda juga disana. Aku larang bunda datang dan minta bunda jagain Anna dirumah."


Senja mengangguk setuju. Semakin sedikit ia melihat raut khawatir orang untuk dirinya. Semakin sedikit rasa bersalah yang ia rasakan. "Maaf buat kalian khawatir."


"Kenapa minta maaf?" ucap Baskara tak setuju. "Kamu juga nggak mau hal kayak gini terjadi. Jadi kamu nggak salah dan nggak perlu minta maaf."


"Jangan salahin Jingga juga ya, mas. Dia pasti nggak sengaja karena nggak tau kalau kamu rahasiin masalah perusahaan dari aku."


Baskara mendengus. Sempat-sempatnya istrinya mengkhawatirkan orang lain disaat dirinya dalam kondisi seperti itu.


"Kamu tenang aja. Kamu nggak perlu mikirin apa pun. Pikirin aja gimana nanti saat kita ketemu sama baby kedua." Baskara beralih mengusap kepala sang istri dan mencium dahinya.


"Janji jangan salahin Jingga!" Senja masih tak mau mengalah. Membuat suaminya menghela napas panjang.


"Janji nggak salahin Jingga." ucap Baskara pada akhirnya. "Paling nanti kalau kita udah pulang, aku bakal jewer dia." guraunya membuat sang istri tertawa. Juga kedua orang tua Senja dan Farri.


"Aku juga mau jewer Jingga." timpal Senja antusias melirik kakak sulungnya. "Kapan lagi kan bisa jewer dia tanpa perlu takut dimarahin abang." kedipnya pada sang kakak hingga mereka kembali tertawa yang tak lama kemudian hening. Senja dan Baskara hanya saling tatap dalam diam.


"Kamu harus bertahan ya, ayy." ujarnya. "Bertahan buat baby kedua yang belum pernah lihat kamu. Buat baby Anna yang masih sangat butuh kamu. Terutama buat aku yang nggak bisa hidup tanpa kamu." Senja mengangguk sebagai jawaban.


Sekali lagi Baskara mencium dahi istrinya sebelum perawat mendorong brangkar untuk dipindahkan ke ruang operasi.


Dokter sudah menjelaskan bagaimana prosedur operasi caesar. Juga segala resiko yang dapat terjadi baik selama operasi maupun sesudahnya. Meskipun dokter tetap berjanji akan melakukan yang terbaik untuk menghindari semua resiko.


Baskara dan keluarga mengantar Senja hingga depan ruang operasi. Dan hanya Baskara yang diizinkan masuk untuk menemani sang istri.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2