
Andi menghela napasnya panjang.
Dia memang tidak menginap di resort yang sama dengan atasannya. Tapi kemanapun atasannya pergi, ia harus ikut dengan jarak tertentu. Ia juga harus memesankan setiap tempat untuk mereka makan, dan membawakan semua belanjaan yang istri bosnya itu beli.
Sebenarnya ia sudah tahu akan direpotkan seperti ini. Tapi ternyata menjalaninya secara langsung terasa lebih menyebalkan dibanding hanya memprediksi.
Beruntung sekarang adalah hari terakhirnya mengikuti pasangan yang tengah memadu cinta itu. Karena mulai esok pagi, Baskara dan Senja mulai perjalanan bulan madu mereka diatas kapal.
"Silakan pak, ruang privatnya sudah saya pesan." Andi dibantu salah seorang karyawan mengantar Senja dan Baskara menuju ruang privat restoran untuk mereka makan siang.
Belum sampai di ruang yang mereka tuju, suara perempuan dari arah samping menghentikan langkah Senja dan Baskara. Yang secara otomatis menghentikan langkah Andi dan karyawan restoran yang bersama mereka.
"Waahh gue nggak nyangka lo masih mau diajak holiday setelah apa yang gue kirim ke elo."
"Emangnya apa yang lo kirim?" jawab Senja acuh tak acuh. Kenapa dari sekian banyak hari dalam hidupnya, ia harus bertemu dengan wanita didepannya disaat ia tengah berlibur seperti saat ini. Membuat hari yang sebelumnya cerah berubah mendung. Dan dari begitu banyak tempat berlibur di Indonesia. Kenapa mereka bisa berlibur ditempat yang sama.
"Emang lo nggak terima foto yang gue kirim?" dengan penampilannya yang seksi dan arogan, Diana melirik Baskara. "Gue kasihan sama lo, Ja. Dirumah disandingin sama mantan, diluar rumah punya wanita lain. Jangan-jangan bener lagi, lo cuma dijadiin alat penerus garis keturunan."
"Kasih sambel ke mulut tukang gosip dosa nggak sih, ayy?" celetuk Baskara dengan sikap yang masih terlihat santai tak begitu menanggapi manusia didepannya meski geram.
Senja hanya menanggapi suaminya dengan senyuman sebelum kembali berhadapan dengan Diana. "Ooh.. Elo yang ngirim foto suami gue makan di mall? sekarang lo alih profesi jadi tukang kuntit akun lambe-lambe?"
Mata Diana melotot dan wajahnya terlihat kesal. "Seenaknya aja kalau ngomong! gue tuh cuma kasihan sama lo. Tahunya malah cuma lo baca!"
Senja tertawa dengan sengaja. "Sory ya Di, gue suka males sih nanggepin nomor yang nggak gue kenal. Apa lagi isinya nggak penting."
"Suami lo selingkuh, lo bilang nggak penting?" Diana menatap Senja seolah Senja sudah gila.
"Ya apa salahnya suami gue makan sama sepupunya sendiri."
"Sepupu?"
Senja dan Baskara sama-sama mengangguk mengiyakan. Tapi tak semudah itu Diana mengalah. "Halah, alasan aja makan sama sepupu." cibirnya.
__ADS_1
"Mana ada sepupuan mesra begitu." ucapnya lagi. "Lagian sekarang lagi musim, suami selingkuh sama sepupunya sendiri. Bahkan sampai mereka nikah."
Senja menghela napasnya lebih dalam. Kenapa ia yang memiliki suami tapi orang lain yang seakan lebih tahu bagaimana suaminya.
"Terserah elo deh, Di. Makasih buat kebaikan hati lo. Udah dulu ya, gue laper." Senja menekankan kata 'kebaikan hati' untuk menyudahi pertemua mereka.
***
Andi sudah mengenali wanita itu sejak wanita itu mencegat atasannya.
Wanita yang ia kenal di aplikasi biro jodoh yang belum pernah ia temui di dunia nyata.
Mereka hanya sempat beberapa kali berbalas pesan dan mengirimkan foto sebagai bukti mereka tidak menipu dengan apa yang tercantum di bio biro jodoh mereka.
Ya. Wanita yang menjadi teman kencan butanya adalah Diana. Yang tak ia tahu ternyata saling kenal dengan atasannya.
Andi hanya diam menyaksikan Diana dan Senja saling beradu. Ia ingin tahu seberapa baik kepribadian wanita yang akan di kencaninya itu. Yang bahkan tak menganggap kehadirannya yang hanya seorang asisten disebelah Baskara.
"Lho, Andi? lo Andi kan?" serunya sedikit heboh yang membuatnya meringis dalam hati. Ia tidak suka wanita heboh, apalagi ditempat umum yang mengundang perhatian orang seperti ini. Cukup heboh ketika mereka didalam kamar saja. Eh.
"Iya, saya Andi. Kamu bisa tunggu di ruangan itu, nanti saya menyusul." jawab Andi menunjuk ruang privat lain yang memang sengaja ia pesan untuk bertemu dengan Diana yang baru datang dari Jakarta pagi tadi.
"Lho, kalian saling kenal?"
"Kalian saling kenal?"
Senja dan Baskara bertanya bersamaan. Memandang Andi dan Diana bergantian.
Diana terlihat gelagapan. Sepertinya malu jika sampai tahu mereka saling kenal di aplikasi datting.
Tapi tidak bagi Andi. Bagaimanapun juga Baskara sudah tahu jika ia akan bertemu dengan wanita yang ia kenal di dunia maya.
"Atau jangan-jangan, ini cewek yang mau lo temuin, Ndi?" tebak Baskara tepat sasaran yang langsung Andi balas anggukan.
__ADS_1
"Silahkan bapak dan ibu makan siang dulu." Andi memberi kode pada karyawan restoran untuk membimbing Baskara dan sang istri menuju ruangan yang sudah dipesan. "Saya makan disebelah. Jika ada yang bapak perlukan." imbuhnya menunjuk ruang privat untuknya sendiri.
"Tungu, deh." sela Senja. "Aku masih nggak ngerti. Maksud kamu, ini teman kencan kamu, Ndi?"
Andi memejamkan mata dan menarik napasnya dalam. Kenapa kedua atasannya itu sangat penasaran dengan kehidupan pribadinya.
"Silakan bu." kodenya lagi lengkap dengan gerakan tangan. Mengabaikan pertanyaan Senja.
"Saran aja, sih, Ndi. Cari calon istri itu yang kepribadiannya bagus lah, jangan yang bar-bar gini." ucap Senja menatap tak setuju pada Diana. "Bagaimana pun, dia yang akan mendidik anak-anak kamu."
Diana mendengus. "Ngaca dulu woy, kalau mau ngejelekin orang. Lo sendiri juga bar-bar!"
"Seenggaknya meskipun gue bar-bar, gue masih memiliki kepribadian yang baik. Etitud yang baik juga."
"Lo nggak bisa nilai orang hanya dari luarnya aja! don't judge book by it's a cover!"
"Kalau elo sih nggak perlu lihat halaman-halaman didalamnya buat tahu gimana kepribadian lo. Udah kelihatan jelas dari luar. Sampul lo transparan." sahut Baskara yang langsung merangkul istrinya pergi karena perutnya sudah terasa lapar.
Meladeni manusia sepetri Diana tidak akan pernah ada habisnya. Yang ada justru menghabiskan waktu berharga mereka.
Lagi pula Andi sudah dewasa. Diusianya yang sudah kelewat matang itu, Baskara yakin Andi bisa membedakan mana wanita yang bisa diajak kejenjang yang lebih serius dan mana yang hanya cocok diajak main-main.
Selama yang dinikahi Andi bukan Diana atau perempuan sejenisnya, Baskara tidak akan ikut campur.
Pun seandainya Andi sudah benar-benar cinta pada Diana dan ingin serius dengan wanita itu, Baskara tidak bisa berbuat apa-apa karena itu hak Andi untuk menentukan pilihan teman hidupnya.
Berdoa saja mata dan hati Andi masih berfungsi dengan baik agar tidak salah memilih Diana sebagai istri.
*
*
*
__ADS_1