Langit Senja

Langit Senja
Alasan Untuk Bahagia


__ADS_3

Hari ini Senja benar-benar merasa bahagia. Menikmati kencan dan menghabiskan sore dengan sang suami di taman hiburan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya.


Selama ini kepalanya hanya dipenuhi dengan pekerjaan, menyenangkan suami dan membuat anak-anaknya tumbuh sehat dan bahagia.


Ia bahkan lupa, jika dirinya sendiri juga perlu bahagia. Bahagia dengan dirinya sendiri sebagai alasan. Bukan bahagia melihat tingkah lucu putra putrinya atau alasan lain.


Ia lupa jika ia juga butuh untuk sekedar me time. Menikmati waktu yang entah kapan akan habis untuk ia miliki.


Dan tak disangka, suaminya akan memberinya pengalaman berbeda. Bukan dengan dinner romantis dihotel berbintang atau jalan-jalan keluar negeri. Baskara justru merayakan hari jadi mereka dengan membawanya ketempat yang sudah lama sekali tak ia kunjungi. Entah sudah berapa tahun ia tak berteriak lepas dan napas tersengal kelelahan seperti saat ini.


Magic-nya, bukan mengeluh karena rasa lelah, Senja justru tertawa lepas bahagia. Bersama suaminya, mereka mengukir satu lagi kenangan yang ia janji akan ia kenang hingga akhir nanti.


Seperti pasangan muda lainnya, Senja mencoba berbagai macam wahana yang tersedia. Dari komedi putar hingga permainan ekstrim yang ada disana dan berakhir dengan menaiki bianglala ketika hari sudah gelap. Menjadi waktu paling tepat untuk mereka menaiki wahana tersebut.


Dari ketinggian, Senja bisa melihat taman hiburan dibawahnya. Melihat laut tak jauh dari tempatnya. Juga ia bisa melihat ibu kota yang mulai terlihat indah dengan lampu-lampunya.


Senja bahagia, ia tak menyangka harinya yang sibuk akan berakhir bahagia seperti saat ini.


Begitu juga Baskara yang juga bahagia melihat senyum yang tak memudar di wajah sang istri sejak mereka memasuki area taman hiburan itu.


Baskara sadar, ia belum bisa membahagiakan istrinya. Bahkan hanya untuk ke taman hiburan yang dekat dan tak perlu biaya mahal saja ia tak sempat.


Dan melihat kebahagiaan istrinya yang dapat ia rasakan dengan jelas itu membuatnya merasa bersalah. Membuatnya berjanji akan lebih sering lagi melakukan hal-hal kecil seperti saat ini untuk melihat tawa lepas dan bahagia istrinya.

__ADS_1


"Tahu nggak mas?"


Baskara menaikan alisnya sebagai respon pertanyaan tiba-tiba istrinya yang sebelumnya tengah menikmati pemandangan dibawah sana. Sedari tadi tatapan Baskara tak pernah lepas dari wajah bahagia sang istri. Seakan wajah dan senyum itu akan hilang jika ia memalingkan wajahnya.


"Dulu..." ucap sang istri sudah lebih dulu terkikik sebelum menyelesaikan kalimatnya. Membuat ia penasaran. "Aku pernah bayangin kalau suatu hari nanti punya pacar, ngedate pertama mau aku ajakin ke sini."


Baskara hanya tersenyum mendengar dan melihat wajah geli istrinya saat bercerita.


"Terus naik bianglala kaya sekarang. Tepat saat hari mulai gelap."


Baskara bisa menebak apa yang selanjutkan istri nakalnya itu bayangkan dan menggelengkan kepala.


"Iih dengerin dulu.." rengek Senja ketika melihat tatapan penghakiman dari suaminya. "Tapi aku emang bayangin pas lagi di atas, cowoku bakalan nyium aku, sih.." lanjutnya dengan tawa geli yang tak bisa lagi Senja tahan.


"Ya habis mau gimana.. Dulu kan aku jomlo. Lihat film romantis kan jadi cuma bisa berangan-angan dan nggak bi-" benda kenyal dan basah itu membungkam mulutnya dari pembelaan. Beberapa detik matanya membulat terkejut. Takut akan ada orang lain yang melihat apa yang suaminya lakukan. Tapi setelah ingat jika langit sudah gelap dan didalam gondola itu hanya ada mereka berdua, Senja ikut hanyut memejamkan matanya. Menikmati tiap sesap yang suaminya berikan.


Ketika Senja semakin terhanyut dan lupa akan daratan, Baskara melepaskan pagutannya. Terkekeh dan berujar. "Sekarang udah terwujud kan impian kotornya.." bisik Baskara dengan suara berat yang membuat wajah Senja memanas. "Sekarang apa lagi adegan kotor yang ada didalam list Senja Maharani versi remaja?" tanyanya dengan suara menggoda.


Senja menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Malu.


Padahal awalnya ia hanya menceritakan apa yang tadi terlintas dipikirannya begitu gondola yang mereka naiki bergerak naik. Tanpa ada niat untuk merealisasikannya saat ini. Apa lagi itu hanya pikiran dangkal gadis remaja dalam masa jomlonya yang hanya bisa berangan-angan.


Baskara terkekeh melihat tingkah istrinya. Dengan lembut membawa Senja dalam dekapan. "Gemesin banget sih Senjanya Baskara.. Pengen bawa pulang masukin kamar aja boleh, nggak?" ucapnya ditengah derai tawanya yang renyah. Dibalas decakan dan pukulan ringan di dada dari sang istri yang masih bersembunyi di dadanya kerena malu.

__ADS_1


"Mulai sekarang apa pun yang pernah jadi angan kamu, akan aku usahakan untuk terwujud. Jadi kamu juga jangan ragu untuk bilang sayang.. Aku nggak akan keberatan kok."


"Nggak keberatan tapi diledekin!" sahut Senja dengan bibir memanyun menatap sang suami.


"Janji nggak ngeledekin. Kasihan kan, masa istriku yang cantiknya melebihi bidadari harus jomlo seumur hidup tanpa merasakan gimana rasanya pacaran."


Senja kembali mencebik dan mencubit gemas perut suaminya hingga mengaduh kesakitan.


Yang dikatakan suaminya tak sepenuhnya benar. Karena toh mereka masih bisa berkencan setelah menikah dulu. Sebelum mereka kembali ke NY dan kembali sibuk dengan tuntutan belajar. Setidaknya Senja sempat merasakan berkencan sebelum mereka memiliki anak.


"Dulu waktu kamu sama Jingga pacaran, pernah kencan disini juga mas?" entah kenapa Senja tiba-tiba ingin menanyakan hal tersebut ketika mereka turun dari bianglala.


"Nggak usah dibahas. Nanti ngambek, malah ngerusak suasana." jawab Baskara. Hafal dengan sikap perempuan yang selalu memancing sendiri tapi berujung marah-marah sendiri.


"Berarti pernah dong." Senja masih tak mau menyerah untuk mendapatkan jawaban suaminya. Dan ada rasa sedikit kecewa begitu mengetahui ia bukan wanita spesial pertama yang datang kesana dengan suaminya. Karena ketika baik Jingga maupun dirinya dan Baskara masih sebatas sahabat, tidak masuk dalam hitungan kan?


"Enggak pernah sayaaaang... Sama Jingga kesini ya pas sama kamu juga dulu." jawab Baskara jujur ketika melihat wajah istrinya yang mulai terlihat masam. "Kita lagi happy lho.. Jangan bahas masalah yang akan ngerusak suasana hati kamu sendiri, ayy. Lagi pula semua orang punya masa lalu."


Senja menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali menatap suaminya dengan senyum yang kembali mengembang dengan ceria seperti sebelumnya.


Apa yang dikatakan suaminya benar. Setiap orang memiliki masa lalu masing-masing. Begitu juga dengan suaminya. Dan kembali lagi, rasa itu tidak pernah salah. Dan ia tidak bisa menyalahkan perasaan suaminya pada Jingga dulu kala. Dan ia juga tidak bisa merubah masa lalu.


Senja kini hanya bisa menyimpan masa lalu menjadi bagian dari perjalanan mereka. Dan menjalani masa kini dengan lebih baik untuk menyambut masa depan yang lebih bahagia. Bahagia dengan cinta yang mereka miliki satu sama lain. Bahagia dengan anak-anak mereka dan bahagia dengan hubungan mereka yang sudah kembali baik dengan Jingga yang kini juga sudah bahagia dengan keluarganya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2