
Baskara tidak peduli tentang semua yang Farhan ocehkan selama mereka meeting. Meski ia merasa janggal dengan Farhan yang tahu mengenai masalah perusahaan. Padahal masalah itu sudah dikeep agar berita itu tidak sampai terdengar orang luar. Kecuali perusahaan yang menjalin kerjasama dengan mereka, itu pun tidak sedetail yang Farhan ketahui.
Baskara curiga Farhan ada dibalik itu semua. Atu paling tidak pria didepannya ini tahu siapa dalang sebenarnya. Atau mereka bersekongkol?
Tapi untuk apa Farhan bersekongkol dengan seseorang untuk menghancurkan perusahaannya sedangkan pria itu sendiri mengajukan kerjasama untuk waktu yang panjang dengan mereka.
Semua prasangka dan dugaan yang muncul di kepala Baskara membuat pria muda itu pusing sendiri. Beruntung Oma tak segera mengangkatnya menjadi CEO perusahaan. Ia merasa belum siap dipusingkan dengan banyak hal. Ia masih mencintai masa muda dan waktu yang ia miliki dengan keluarga. Yang pasti akan sulit ia dapatkan jika ia sudah berada di kursi tertinggi perusahaan.
Kedua belah pihak sepakat dengan isi kontrak kerjasama. Tidak ada yang merasa keberatan maupun dirugikan.
Ditengah penandatanganan, ponsel Andi berdering. Ia sedikit menjauh untuk menerima panggilan.
Tak lama ia kembali ke sisi Baskara yang menangkap raut terkejut diwajahnya.
"Ada apa?" Baskara bertanya dengan tenang. Tak ingin terpancing ekspresi Andi meski ia penasaran.
Andi terlihat ragu, melirik kearah Farhan. Bimbang apakah ia perlu mengatakan apa yang baru saja ia dengar dari bawahannya kepada atasannya ini didepan orang lain.
Farhan yang melihat keengganan dari Andi pun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan melipat kedua tangannya di dada. Sebelah alisnya terangkat bersama senyum tipis yang tersungging. Bisa menebak apa yang akan Andi sampaikan pada Baskara.
"Saya kira, asisten anda sudah tahu siapa pelaku yang selama ini kalian cari."
Baskara membelalakkan matanya, terlonjak dan menatap Andi dengan menuntut. "Benar, Andi?"
Andi terlihat mengangguk samar. "Benar pak. Orang yang selama ini kita tunggu akhirnya menemui si pelaku."
"Siapa? siapa dalangnya?" tanyanya tak sabar ingin tahu siapa gerangan orang yang sudah membuatnya pusing dan kalang kabut mencari penyelamat untuk perusahaan yang sudah susah payah kakeknya bangun. Juga demi menyelamatkan ribuan karyawan yang menggantungkan nasib pada tangannya saat itu.
Terlebih ia harus meninggalkan anak dan istrinya untuk waktu yang lama. Hal yang tidak akan terjadi jika kondisinya tidak segenting saat itu.
"Pak Presdir. Pak Faraz yang menemui pelaku."
__ADS_1
Baskara mengerutkan kening tak percaya dengan apa yang Andi katakan. Karena ayah dari Grace itu bekerja diawasi orang kepercayaan kakeknya yang berada di perusahaan. Dan lagi pula, bukankah itu juga akan merugikan Faraz sendiri jika perusahaan jatuh bangkrut. Belum lagi saat itu Faraz tengah berada di luar negeri.
"Kamu yakin Om Faraz menemui pelaku karena dia dalangnya? bisa saja Om Faraz hanya tengah mencoba mencari tahu siapa orang dibalik kejadian itu. Sama seperti kita."
Andi mengangguk yakin dengan apa yang ia sampaikan. Kemudian ia putar kan rekaman video dimana Faraz dan orang itu berdiri berhadapan ditepi lapangan kosong yang dikirimkan oleh kaki tangannya. Gambar diambil tapak samping. Dengan jarak yang tidak begitu jauh.
"Kenapa kau begitu bodoh, sampai ketahuan!"
Sipelaku terlihat menunduk takut dengan jari yang saling meremas gemetar. Pemandangan dan suara itu membuat Baskara geram dan merasa terkhianati. Orang yang ia anggap sebagai panutan ternyata berbuat hal demikian dibelakangnya. Menusuk dan mencoba menghancurkannya.
Jika Faraz tidak terima ia gantikan posisinya, bukankah Oma mempensiunkan Faraz dengan tunjangan yang tidak sedikit?
Jika suatu hari nanti ia duduk di kursi tertinggi perusahaan untuk menggantikan Faraz, itu karena Faraz dipensiunkan. Bukan semata-mata menurunkan posisi Faraz begitu saja di perusahaan. Ia juga tidak seserakah itu menginginkan jabatan seseorang dengan cara melengserkannya.
Bahkan untuk posisinya saat ini pun sudah kosong begitu lama. Karena orang yang menjabat sebelumnya sudah tua dan pensiun. Dan sengaja dikosongkan hingga ia lulus kuliah dan masuk ke perusahaan.
"Sa-saya ti-tidak tahu ka-kalau ada kamera tersembunyi disana. Dan saya sudah sangat berhati-hati agar pergerakan saya tidak tertangkap kamera yang ada."
Faraz mengambil uang dalam saku jasnya dan melempar begitu saja pada tubuh yang terus menunduk takut itu.
"Meskipun ini hanya ujian, tetap saja aku tak puas karena anak ingusan itu begitu mudah menemukanmu. Terlebih hanya dalam waktu sepuluh hari dia bisa menemukan jalan keluar untuk masalah yang kau buat."
Baskara mengerutkan kening. "Ujian?" beonya pada Andi.
"Saya tidak tahu, pak. Sebelum nyonya besar dan Pak Faraz meminta saya menjadi asisten bapak sesuai keinginan tuan besar, mereka tidak pernah membahas masalah ujian." Jika saya tahu, saya tidak akan ikut pusing. imbuhnya dalam hati.
Farhan bertepuk tangan masih dengan senyum miring. "Waah saya cukup terhibur dengan drama di perusahaan kalian."
Baskara mencebik dan melirik kesal. Ia tahu ia tidak sopan. Apalagi pada Farhan yang notabene adalah klientnya. Perbuatannya tidak mencerminkan ia seorang yang berwibawa. Tapi ayolah.. di situasi seperti saat ini, bisa-bisanya Farhan menyebutnya drama.
"Tapi perlu saya ingatkan Pak Baskara yang terhormat." Farhan menekankan kata terhormat untuk menyindir cebikan Baskara. "Orang didunia bisnis apa lagi perusahaan besar seperti kalian tidak sesederhana apa yang anda pikirkan."
__ADS_1
"Maksud anda?"
"Tidak semua orang yang anda lihat baik itu baik. Dan tidak semua orang yang anda lihat menyebalkan itu buruk. Kecuali buruk. Jika anda melihatnya melakukan keburukan tetap saja buruk. Jadi anda harus belajar lagi bagaimana cara menilai karakter seseorang. Agar suatu hari nanti anda tidak ditipu dengan mereka yang berperilaku baik dan lembut, padahal dibalik punggungnya menyimpan belati tajam untuk menusuk anda."
Baskara bukan orang yang sulit mengerti apa yang dimaksud Farhan. Tapi demi harga dirinya yang tidak ingin selalu dianggap orang baru yang tidak tahu dunia bisnis-meski kenyataannya seperti itu-Baskara tak menanggapi dan justru menanyakan hal yang lain. "Melihat dari anda yang tidak terkejut dengan siapa dalang dibalik apa yang saya alami, sepertinya anda sudah tahu Om Faraz orangnya."
Farhan mengangguk dengan santai. "Saya selalu berhati-hati jika ingin melakukan kerjasama. Jadi selama satu tahun ini saya selalu mengawasi atau kalian bisa menyebutnya memata-matai perusahaan kalian. Karena saya tidak ingin bekerjasama dengan orang yang salah."
Baskara mengangguk paham. Rasa tak sukanya pada Farhan sedikit berkurang. Dan sepertinya ia justru harus banyak belajar dengan pola pikir Farhan.
"Pak Faraz sudah lama menawarkan kerjasama dengan saya. Tapi selalu saya menolak."
"Kenapa?"
"Selama dia menjabat, perusahaan kalian hanya jalan ditempat. Tidak ada kemajuan yang signifikan."
"Lalu kenapa saat ini mau? bukankah saat ini juga kepemimpinan masih ditangan Om Faraz?"
Farhan mengangguk lagi. "Saya sudah lama mendengar bahwa tuan Lazuardi akan menyerahkan perusahaan pada cucu kandungnya suatu hari nanti. Tapi bukan berarti karena anda cucunya dan saya mau bekerjasama begitu saja."
"Lantas?"
"Dari masalah kemarin, saya melihat perjuangan anda yang tidak mudah menyerah. Dan dari apa yang saya lihat selama mengawasi anda beberapa bulan ini, saya yakin anda orang yang dapat saya percaya untuk melakukan kerjasama yang saling menguntungkan. Saya juga bisa melihat masa depan perusahaan anda akan lebih cerah jika dipimpin orang seperti anda."
Ada rasa bangga tersendiri didalam hati Baskara. Apa yang baru saja Farhan katakan menyuntikkan semangat untuknya. Memberinya sedikit rasa percaya diri jika suatu hari nanti ia benar-benar menggantikan Faraz untuk memimpin perusahaan.
*
*
*
__ADS_1
Kalau ada yang nggak nyambung atau beda sama bab sebelum-sebelumnya baik nama, jabatan, tempat, sampaikan aja ya gaes.. Karena penulis amatir ini masih butuh bimbingan.hihihi