
Tok! Tok! Tok!
Ceklek
"iya mbak, ada apa?" tanya Senja setelah tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya yang tidak lain adalah Siska.
melihat wajah pucat Senja, Siska menjadi semakin khawatir. "Nona Sakit."
Senja tersenyum lalu menggeleng. "nggak mbak, cuma masuk angin aja kok gara gara sering bergadang." Senja tidak ingin membuat khawatir orang yang sudah dia anggap kakaknya ini.
"Nona belum makan kan? ini saya bawakan makanan, supaya tidak semakin masuk angin." Senja langsung mempersilahkan Siska masuk ke kamarnya untuk meletakkan makanan yang dia bawa.
"makasih Mbak Siska."
Siska tersenyum manis pad Senja dan mengangguk. "jangan lupa susunya di minum ya Nona." Senja langsung menatap horor segelas susu putih yang berada di dekat makanannya.
"Mbak, aku nggak suka susu putih." Siska mengerutkan keningnya mendengar apa yang Senja katakan. sejak kapan Nona mudanya ini tidak menyukai susu putih.
"tapi Nona biasanya minum susu putih kan setiap malam?" tanya Siska, dia ingin tahu kenapa Senja tiba tiba berubah dalam sekejap.
"iya, tapi sekarang aku lagi nggak mau susu Mbak, bawa ke dapur lagi aja ya, atau nggak Mbak Siska aja yang minum." Senja mengambil susu yang ada di meja lalu memberikannya pada Siska.
"apa perlu di ganti susu coklat Nona?" tawar Siska. karena setahunya, Senja tidak pernah absen minum susu di malam hari, tapi kali ini dia malah menolaknya.
"nggak usah Mbak, aku lagi nggak pengen minum susu." tolaknya.
"apa butuh minuman lain untuk menemani Nona belajar?" tidak menyerah, Siska kembali menawarkan minuman lainnya.
Senja berfikir sejenak. "eemmm kalau ada cappucino aja Mbak." pinta Senja dengan senyum semangat. Siska terdiam sejenak. dia merasa ada yang berbeda pada diri Senja. tapi ya sudah lah, dia akan menuruti keinginan Nona mudanya. Siska akhirnya pamit untuk ke dapur membuatkan apa yang Senja inginkan.
"Siska tunggu!" saat akan masuk ke dalam lift, suara bariton menghentikan langkah maid itu. dia menoleh ke arah sang pemilik suara yang tidak lain adalah Tuan mudanya, Langit. pria itu berdiri di ambang pintu kamarnya.
"iya Tuan?" dengan sopan nya, Siska menjawab.
"buatkan saya cappucino." perintah Langit.
"ba...." ucapan Siska terhenti saat dia mengingat sesuatu.
melihat gelagat Siska yang langsung berubah, Langit menaikkan satu alisnya. "kenapa?" tanya nya.
"tidak Tuan, kalau gitu saya permisi." pamit Siska.
"tunggu!" lagi lagi Langit menghentikan langkah maid itu. "itu susu siapa." pandangan Langit mengarah pada segelas susu yang berada di atas nampan yang di bawa oleh Siska. maid itu mengikuti arah pandang Langit pada segelas susu itu.
__ADS_1
"oh, ini punya Nona muda Tuan, tapi dia sedang tidak ingin susu, jadi saya bawa kembali ke dapur saja." jelas Siska.
"apa dia biasanya minum susu?"
"iya Tuan, tapi malam ini dia sedang tidak ingin meminumnya katanya."
"mungkin dia bosan. ya sudah cepat buatkan saya cappucino." Langit mengibaskan tangannya meminta Siska untuk segera pergi. sementara dirinya, kembali masuk kekamarnya.
Siska pun kembali memasuki lift dengan banyak pertanyaan dalam benaknya.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek
setelah mengetuk pintu, akhirnya pintu segera terbuka menampilkan sosok pria jangkung dengan tatapan datarnya.
"maaf Tuan mengganggu, ini cappucino pesanan Tuan." Siska menunjukkan dua gelas cappucino di atas nampan, Langit mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa dua?" tanya Langit, dengan tatapan penuh mengintimidasi.
Siska menunduk takut. "I...ini y...yang satu punya Nona Muda, Tuan." jawabnya dengan tergagap. Langit hanya mengangguk, kemudian mengambil satu gelas cappucino miliknya lalu kembali masuk kedalam kamarnya tanpa mengucapkan terimakasih.
orang kaya mah bebas
Tok! Tok! Tok!
"Nona ada di dalam?"
"masuk aja Mbak." suruh Senja dari dalam.
Ceklek
Siska membuka pintunya dan langsung masuk ke dalam kamar gadis itu. "ini cappucino nya Nona." Siska meletakkan cappucino itu di meja belajar Senja dimana gadis itu yang duduk di sana sedang belajar.
"sudah selesai makannya Nona?" tanya Siska, ia kemudian melihat piring yang tadi berisi makanan kini telah kosong.
Senja hanya mengangguk saja tanpa mengalihkan atensinya dari buku buku yang saat ini sedang ia baca baca ulang.
hening. Senja akhirnya menoleh ke arah Siska yang sedang membereskan piring kosong untuk di bawanya kembali ke dapur.
"maaf ya Mbak, nggak bisa banyak ngobrol dulu. soalnya aku lagi belajar buat ujian terakhir besok." dengan perasaan Sungkan Senja mengatakannya.
Siska tersenyum manis lalu mengangguk. "nggak apa apa Nona, saya mengerti. kalau begitu saya turun ke bawah dulu. jangan tidur terlalu larut, Nona sedang tidak enak badan." peringat Siska. dengan senang hati Senja langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. tak lupa dengan senyum manis yang terukir di bibirnya yang sedikit pucat.
__ADS_1
Setelah kepergian Siska, Senja duduk termenung, dia sudah tidak fokus lagi dengan belajarnya. tiba tiba gadis itu teringat sesuatu, ia pun meraih kalender kecil yang berada di meja belajarnya. gadis itu seperti sedang menghitung sesuatu.
"aku udah telat satu minggu." monolognya, lirih. ia pun menggelengkan kepalanya cepat mencoba menepis apa yang ada dipikirannya saat ini.
"nggak Senja, jangan mikir yang aneh aneh. mending sekarang kamu belajar yang serius, besok hari terakhir ujian. jangan sampai kamu ngecewain ibu di atas sana." peringat Senja pada dirinya sendiri. dia mencoba untuk kembali fokus belajar.
Triiingg
ponsel Senja berbunyi di atas kasurnya. Ck malam malam begini ganggu orang belajar?. Tidak, Senja tidak akan menggerutu seperti itu. dia adalah gadis yang lemah lembut, kalem, polos juga lugu. dengan tenang gadis itu beranjak dari duduknya untuk mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirim Chat padanya. siapa tahu penting kan?
ternyata pengirim chat nya adalah Daniel, orang yang selama ini menaruh hati padanya.
Daniel:
'hai Nja, apa kabar.
Senja:
'baik'
Daniel:
'selama ujian kita gk prnh ketmu ya, trkhir ktmu pas d RS'
Senja:
'iya'
Daniel:
'besok selesai ujian gue mw ktmu sma lo, gue mw ngmong sma lo, boleh gk?'
setelah membaca chat terakhir Daniel, Senja tak lagi berniat untuk membalasnya. gadis itu kembali membaca buku pelajarannya.
sedangkan di sana, dengan perasaan berdebar Daniel menunggu balasan chat dari pujaan hatinya. padahal sudah centang dua biru dari tadi, tapi kenapa tidak ada balasan? itulah yang Daniel pikirkan.
ingin menelpon, takut mengganggu karena sudah malam.
ah, mungkin gadisnya itu sudah tertidur. lebih baik besok dia akan menemuinya saja langsung. pria itu pun meletakkan ponselnya di atas nakas lalu membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur king size kesayangannya.
ah tidak sabar sekali Daniel menunggu hari esok, bahkan menunggu siang harinya lagi. huft, sabar Daniel. lebih baik sekarang tutup saja matamu dan bermimpilah yang indah, seindah senyumanmu saat ini
***Bersambung....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...