Langit Senja

Langit Senja
Gombal


__ADS_3

Baskara tersenyum penuh kemenangan menatap gadis yang semalam takluk tak berdaya dibawahnya. Bahkan hingga matahari mulai menyingsing, istrinya masih lelap dibawah selimut.


Mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk, Baskara mendekati tempat tidur. Duduk ditepi ranjang dan mencondongkan tubuhnya untuk memberi kecupan diwajah cantik tanpa polesan milik istrinya.


"Cantiknya Baskara bangun.. Udah siang sayang. Perutmu butuh asupan untuk energi."


Senja hanya mengerang dan membalikan badan memunggunginya. Membuatnya terkekeh gemas dan ikut berbaring dengan memeluk tubuh polos istrinya yang dibalut selimut.


"Bangun, atau kita lakukan untuk ronde ke tiga!" ancamnya dengan menyurukan wajahnya diceruk leher sang istri.


"Nggak mau! masih sakit!" seru Senja menarik selimut hingga menutupi kepala agar suaminya tak dapat menyentuhnya pagi ini disaat kondisinya masih belum membaik.


"Apanya yang sakit? sini aku lihat? nanti biar aku bisa minta bunda kirim obat." Baskara benar-benar khawatir. Ia tidak menyangka istrinya yang semalam juga terlihat menikmati permainan, pagi ini merasa kesakitan.


Senja tidak tersentuh sama sekali. Ia justru mengerang frustasi dengan sikap berlebihan suaminya itu.


Bagaimana mungkin ia membiarkan Baskara untuk memeriksanya. Dan mau ditaruh dimana wajahnya jika sampai Basakara mengkonsultasikan masalah ini pada ibu mertua.


"Getok suami dosa nggak sih, mas?" tanyanya dengan wajah memelas. Duduk bersandar di kepala ranjang. Mendekap selimut didada dengan erat.


"Kok digetok sih, ayy? emang aku ngapain?" tanyanya polos. "Sini aku lihat yang sakit."


Baskara sudah akan menyingkirkan selimut itu, tapi Senja lebih dulu mendorongnya. Alhasil, Baskara yang duduk diujung tempat tidurpun terjatuh kebelakang.


"Sayang!" serunya merengek. Protes dengan aksi istrinya yang tiba-tiba. "Kok didorong sih?"


Tak merasa kasihan, Senja justru tergelak melihat bagaimana suaminya terjatuh. Biar saja ia dibilang istri durhaka. Salah sendiri aneh-aneh. Tapi tak urung ia juga meminta maaf dan mengulurkan tangannya membantu sang suami untuk berdiri.


Bug.


Baskara sengaja menarik istrinya hingga jatuh diatas tubuhnya dengan tubuh polos tanpa penutup apa pun. Membalas keusilan sang istri.


"Mas!" pekik Senja berusaha berdiri mengambil kembali selimutnya. Namun benda tersebut jauh dari jangkauan tangannya


"Siapa suruh baru bangun udah usil wlee.."


"Jangan begini!" rengek Senja saat suaminya mulai menciumi area lehernya. Mengelus punggung polosnya.


"Kenapa sayang?" tanya selembut mungkin dengan suara serak.

__ADS_1


"Aku mau mandi, mas." gadis yang baru kehilangan kegadisannya itu masih berusaha membebaskan diri dengan mendorong dada suaminya.


"Tadi katanya sakit."


"Sakit bukan berarti nggak mandi." ucapnya lagi ditengah usaha menjauhkan sang suami yang masih saja menggodanya.


"Coba bilang kalau kamu sayang aku dulu. Nanti aku lepasin."


"A-apa sih mas." meski ia menyayangi Baskara. Namun rasanya masih malu mengungkapkan rasa sayangnya.


"Ya udah. Kalau nggak mau, gini aja sampai besok." ancam Baskara dengan tangan yang tak berhenti menjelajah.


"Massss!" teriaknya begitu tangan suaminya berada ditempat yang membuatnya hilang konsentrasi.


"Makanya ayo bilang."


"Sayang kamu!" jawab Senja cepat dan sedikit mengencangkan suaranya.


"Yang tulus dong ngomongnya." protes Baskara menolak. "Terus, siapa yang sayang sama aku."


Senja memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Mendekap tubuh dengan aroma maskulin bercampur sabun dan shampo dengan segenap rasa. "Senja sayang Basakra Lazuardi. Hari ini sampai jantung ini berhenti untuk berdetak. Sampai kita sama-sama bahagia dengan keluarga yang kita bangun ini. I Love You sayang, suamiku tercinta."


Niatnya hanya ingin menggoda sang istri. Hanya ingin mendengar istrinya mengatakan menyayanginya. Hanya ingin mendengar ia dipanggil sayang.


Tak menyangka keisengannya mendapatkan balasan ungkapan rasa yang begitu dalam.


Dan ia harap. Apa yang tadi keluar dari mulut istrinya adalah murni dari dalam hati. Tulus dan tidak hanya omong kosong belaka.


"Baskara juga cinta mati sama Senja Maharani. Jadi kalau kamu meninggal duluan, aku bakal langsung nyusul."


Senja mencebik. Suaminya bisa-bisanya merusak suasana dan membuat jantungnya yang melompat-lompat menjadi enggan berdetak.


"Enggak gitu juga konsepnya dong, mas!" kali ini Senja berhasil duduk dilantai dan kembali membalut tubuhnya dengan selimut. "Meskipun cinta mati, kalau nanti aku yang meninggal lebih dulu. Kamu harus tetap bertahan hidup. Percaya aja kalau nanti kita akan bertemu lagi di surga."


"Kalau aku masuk surga. Kalau masuk neraka?"


"Makanya banyak-banyak ibadah biar bisa bertemu lagi setelah kematian!" cibir Senja melangkah dengan terseok kedalam kamar mandi.


Bisa-bisanya suaminya membicarakan kematian pagi-pagi!

__ADS_1


***


Suasana rumah cukup sepi karena hari kerja.


Setelah sarapan dijam makan siang. Senja dan Baskara langsung pulang ke rumah Senja. Baru esoknya menginap dirumah Baskara.


Berusaha adil sebelum mereka kembali terbang ke NY akhir pekan ini.


"Mau minum apa, mas? biar aku bikinin." tanya Senja. Selama dirumah Oma ia belajar banyak bagaimana ia menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Dan ia akan mulai menerapkannya mulai saat ini.


"Apa aja yang dibuat istriku pasti aku minum."


Senja geli sendiri mendengar Baskara sekarang sering menggombal padanya. Masih tak percaya saja pemuda yang dulu suka mengajaknya berdebat dan bertengkar, kini bisa bersikap manis dan penuh kasih sayang.


"Kamu kayaknya gak bakat gombal deh, mas." cibir Senja. "Geli aja gitu dengernya. Bukannya senang."


Baskara mencebik. Pura-pura merajuk. "Kamu mah nggak menghargai usaha suamimu ini." menatap punggung istrinya yang tengah membuat watermelon lemonade jika melihat dari bahannya.


"Menghargai apa?" sebuah suara muncul dipintu dapur dan membuat antensi dua orang itu untuk menatap sumber suara.


Wanita yang datang dengan menggendong gadis kecil itu langsung duduk di kursi makan yang berada diseberang Baskara.


"Lo kalau digombalin sama bang Farri seneng nggak, Ngga?"


Jingga yang baru datang mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Baskara. "Emang suka lebay sih kalau lagi ngegombal." jawab Jingga mengangguk-angguk. Dengan suara sedikit keras karena Senja yang tengah memblender minuman yang ia buat. "Tapi gue suka. Meskipun nggak mau ngakuin kalau didepan abang. Tapi kayaknya dia tetap tau kalau gue suka. Keliatan kan pasti dari muka aku yang merona." jawabnya sedikit tergelak.


Jari mungil Sisi bermain dirambut sang ibu yang kini dipotong sebahu. Membuat wanita itu lebih dewasa dan anggun.


Baskara mendengus. "Kenapa sih, gengsi kalian sebagai wanita itu tinggi banget? emang kalau ngaku bikin kalian rugi apa?!"


Senja meletakan tiga gelas berisi minuman yang ia buat dan mengambil Sisi dan meletakannya di pangkuan Baskara. Membuat Baskara juga Jingga mengernyit heran.


Sedangkan Senja kembali menghampiri Jingga dengan senyum devilnya. Senyum penuh dendam yang menuntut untuk dibalaskan pada Sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


*


*


*

__ADS_1


Hehe maaf kemarin libur gaes.. Othor butuh refreshing ternyata.wkwkwk


__ADS_2