
setelah tidak terdengar lagi suara Langit di depan kamarnya, Senja berdiri dari duduknya melangkah menuju meja belajarnya dan meraih ponsel yang berada disana. ia mengusap kasar air matanya sambil sesekali menyentuh layar ponselnya. setelah menemukan apa yang dia cari, gadis itu langsung menempelkan ponselnya pada daun telinganya pertanda dia sedang menghubungi seseorang.
Tuuuuttt tuuuuttt
"Halo Senja, ada apa?" setelah panggilan di angkat dari seberang telepon, terdengar seseorang menanyakannya.
"Ha....halo Al." jawab Senja dengan suara serak karena menahan isak tangis.
"Senja, lo kenapa?" tanya orang di seberang telepon, yang tidak lain adalah Alya. gadis itu merasa khawatir dengan kondisi sahabatnya. pasalnya, ini sudah hampir setengah sepuluh malam, dan lagi suara Senja terdengar sedang menangis.
"Alya, d...dia. gue ketemu dia Al, g...gue takut." adu Senja. kini Alya mengerti kenapa sahabatnya sampai menangis seperti itu. dan Alya juga tau yang dimaksud Senja dia siapa.
"sekarang lo tenangin diri lo ya, lo tetep diam di kamar supaya nggak ketemu dia lagi. besok pagi gue jemput seperti biasa oke." secara reflek Senja mengangguk kecil. tentu saja Alya tidak akan tau karena mereka melakukan panggilan suara, bukan video call.
"I...iya." jawab Senja akhirnya.
"sekarang lo tidur supaya tenang, kita masih menghadapi ujian dua hari lagi, dan ini sudah larut." peringat Alya yang kembali di angguki oleh Senja.
setelah Senja mulai tenang dengan ucapan ucapan Alya yang menurutnya bisa membuatnya tenang, mereka pun mengakhiri sambungan teleponnya.
setelah beberapa saat mencoba menenangkan diri tanpa mengkonsumsi obat, gadis itu pun tertidur meski terlihat tidak tenang dalam tidurnya.
Sementara di kamar sebelah, Langit memikirkan Senja yang tadi terdengar menangis.
"Maafkan aku Senja." gumam pria itu lirih. terasa begitu menyakitkan bagi Langit. Senjanya, tidak ingin bertemu dengannya, bahkan tadi Langit melihat begitu jelas wajah Senja yang pucat saat melihatnya.
Langit bangun dari berbaringnya, ia berjalan keluar kamar dan menuju kekamar Senja.
ia mencoba membuka pintu dengan sidik jarinya. ya, semua kamar di mansion itu bisa menggunakan kunci manual, kode angka, maupun sidik jari. dan Langit sudah mengatur kamar Senja bisa menggunakan sidik jarinya.
Ceklek
pintu kamar terbuka secara perlahan. Langit mencoba memasuki kamar itu tanpa bersuara. terlihat remang remang seseorang sudah tertidur diatas ranjang yang tidak terlalu besar itu. pria itu semakin mendekat dan menatap lekat wajah sembab istrinya yang kini tengah terlelap. ia membelai lembut pipi istrinya yang masih ada sisa air mata, ia hapus air mata di pipi itu.
__ADS_1
"Sayang maafin kakak, kakak menyesal telah menyakiti hatimu." lirih Langit, tangannya masih bergerak pelan di wajah Senja. "jangan lagi menangis ya," lanjutnya.
eungh
Langit menghentikan gerakan tangannya ketika melihat Senja melenguh dia dengan cepat segera pergi dari kamar Senja.
pagi pagi sekali tepat pukul 05:00 Senja terjaga dari tidurnya. gadis itu segera beranjak kekamar mandi dan membersihkan diri, kemudian melaksanakan shalat subuh. setelahnya, ia segera mengenakan seragam sekolahnya dan merapikan diri.
Senja keluar dari kamarnya dengan mengendap ngendap, ia takut melihat Langit lagi. saat merasa aman, Senja dengan cepat menuju kearah lift dan segera menekan tombol untuk membuka pintu lift itu.
Sesampainya di lantai bawah gadis itu segera mnuju pintu utama. Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang memanggil namanya.
"Nona." panggil orang itu, yang tidak lain adalah Siska.
Senja membalikkan tubuhnya melihat kearah Siska.
"Nona sudah mau berangkat?" Tanya Siska setelah berada dihadapan Senja.
"I...iya Mbak, aku ada piket hari ini." Bohong, tentu saja Senja bohong. dia tidak ada piket hari ini, itu hanya alasannya saja untuk menghindar agar tidak bertemu suaminya.
Senja menggelengkan kepalanya. perasaannya sudah di selimuti kecemasan, ia sangat takut Langit akan segera turun. meskipun masih sangat pagi, tidak menutup kemungkinan kan kalau pria itu tiba tiba turun?
"tapi Nona, lebih baik Nona Sarapan dulu, wajah Nona terlihat...."
"Mbak, aku harus segera berangkat, taksi yang aku pesan sudah sampai." potong Senja. lagi lagi gadis itu harus berbohong. padahal, dia tidak pernah menaiki taksi. dia selalu naik angkutan umum kalau tidak di jemput oleh Alya, sahabatnya. dan pagi ini, Alya sudah berada di depan gerbang mansion untuk menjemputnya.
Sebelum Siska kembali menahannya, Senja segera beranjak keluar dari mansion.
Siska menatap punggung kecil Senja menghilang dari pandangannya.
"Selamat pagi Senjaku...." Baru saja sampai di mobil Alya, Senja dikejutkan oleh suara trompet dua Sahabatnya dari kursi penumpang bagian belakang.
"Astaghfirullah... kalian ngagetin gue aja." Senja mengelus dadanya yang berdetak kencang akibat terkejut dengan teriakan dua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Surprise." jawab Jingga, Tania mengangguk sambil memakan keripik kentang favoritnya.
Senja menoleh kearah Alya yang tengah mengemudikan mobilnya.
tahu dengan tatapan Senja, Alya mengangguk. "gue sengaja ajak mereka, biar nggak Sepi. kita dengerin aja pertengkaran mereka."
Senja terkekeh, diikuti oleh Alya yang masih fokus mengemudikan mobilnya.
"Kalian ketawain apa sih." tanya Tania, melihat kedua sahabatnya yang tertawa tanpa mengajaknya. sementara Jingga yang dari tadi asik bermain ponsel, kini juga mengalihkan atensinya pada Alya juga Senja.
"kenapa?" tanya Jingga dengan wajah polosnya.
Alya dan Senja menghentikan kekehannya.
"nggak papa, heran aja gue, biasanya kalian kalau di ajak bareng kan ada aja alasannya." bukan Alya yang menjawab, tapi Senja. memang tidak salah yang dikatakan Senja. semenjak kelas XII, dua gadis remaja yang duduk di jok belakang itu memang sangat jarang ikut bergabung. jadi lah, hanya Senja dan Alya yang sering hang out berdua, itupun sebelum Senja menikah sepertinya.
"Sorry, bukannya gue nggak mau sama kalian lagi. kalian tau sendiri kan kalau orang tua gue posesif banget. dan kalian tau, setelah lulus ini gue disuruh bokap buat kuliah di Australia. Huh, sedih banget jauh dari kalian." ungkap Jingga.
"dan gue juga, Rendy harus nerusin perusahaan orangtuanya yang ada di london, setelah selesai ujian gue di nikahin dan di bawa ke london."balas Tania.
Senja dan Alya saling pandang, Namun hanya sekilas. kalau lama lama takut nabrak karena Alya masih mengemudikan mobilnya.
"ya udah sih di jalani aja, yang penting kalian jangan lupain kita. yang penting jangan sampai putus komunikasi lah. dan ya, kalau ada waktu luang sempetin lah balik ke indo buat jenguk kita."
Inilah yang mereka sukai bersahabat dengan Alya, dia selalu bersikap dewasa yang selalu menenangkan kegundahan hati para sahabatnya. tapi jangan salah, mereka bertiga juga sama dewasanya, tapi di waktu tertentu saja, seperti saat Alya memiliki masalah, maka mereka akan menjadi dewasa. berbeda dengan Alya yang selalu menjadi panutan para sahabatnya.
"kita udah sampai, mau turun apa mau tidur lagi di mobil." Alya memecahkan keheningan yang beberapa menit lalu terjadi. Alya pun segera turun dari mobil diikuti ketiga sahabatnya.
"masih pagi nih, masih sepi. kantin dulu yuk perut Tania laper." celoteh Tania.
"Hayuk lah, gue juga laper belum sarapan." Sahut Senja, ia lalu menyusul Tania yang sudah lebih dulu berjalan menuju ke kantin. di belakang Senja diikuti Jingga juga Alya.
"pantas saja wajah Senja keliatan pucat, ternyata dia belum sarapan?" gumam jingga, di angguki oleh Alya. namun berbeda dengan pemikirannya.
__ADS_1
Bersambung...