Langit Senja

Langit Senja
Hanya Senja


__ADS_3

Senja menggeliat dalam tidurnya ketika merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya.


"Mas udah pulang?" Senja membalikan badan dan melihat sang suamilah yang memeluk dirinya.


Baskara melabuhkan kecupan hangat di dahi istrinya cukup lama. Tangannya bergerak merapikan beberapa helai surai sang istri yang menutupi wajah cantik yang baru bangun tidur itu.


Ia menghela napas kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri. Kecewa karena tidak bisa menjaga Senja dari mendengarkan kata-kata yang menyakitkan hati.


Kecewa karena menghadirkan keluarga yang berpikiran sempit pada Senja.


"Maaf.. Maafin aku.. Maafin Oma." ucapnya lirih penuh permohonan.


"Kenapa mas minta maaf?" entah apa yang terjadi pada suaminya setelah ia dan keluarganya pulang.


Karena tadi Baskara tidak ikut pulang. Pemuda itu memintanya untuk pulang terlebih dahulu dan berjanji akan menyusul secepatnya.


"Oma tadi pingsan." gumamnya lirih.


"Hah! Kok bisa?"


Baskara menceritakan apa yang terjadi setelah kepergian Senja dan keluarganya.


Bagaimana saat ayahnya marah dan dirinya yang bertengkar dengan sang Oma secara garis besar. Tidak menceritakan detail apa yang terucap dari bibir oma dan dirinya.


"Oma tuh apa-apaan sih?! Nggak sepantasnya Oma ngomong seperti tadi sama Senja!"


Oma yang keras kepala jelas tak mau mengalah. Terlebih mendengar nada tinggi dalam suara cucunya.


"Apa yang salah?! Semua yang Oma katakan itu fakta!"


Rahang Baskara mengeras. Otot tangannya menyembul ketika ia mengeratkan genggaman tangannya di masing-masing sisi tubuh. Menahan emosi agar tidak berbuat kasar pada wanita yang menurunkan gen untuknya itu.


"Apa yang benar?! Bukan karena Oma lebih tua terus merasa paling benar disini!"


"Oma ingin keturunan. Aku paham!"


"Aku dan Senja juga tengah mengusahakannya."


"Tapi menyuruhku menikahi wanita murahan seperti Grace adalah kesalahan!" tunjuknya pada gadis yang selalu berada disamping Oma.


Grace menatap nanar dengan mata berkaca. Membuat Oma semakin geram pada cucunya yang tak lagi seperti dulu.


"Karena nggak ada perempuan sebaik Senja untukku."


"Dan nggak akan pernah ada perempuan lain yang akan aku nikahi selain Senja!"

__ADS_1


Oma semakin menunjukan ekspresi permusuhan.


"Kamu pikir kamu siapa bisa menentang Oma?!"


"Darah yang mengalir di dalam tubuhmu adalah darah yang aku wariskan!"


Baskara mendengus. "Kalau bisa Bas tukar, akan Bas tukar agar Oma nggak menuntut apa pun dariku!"


"Kamu penerus satu-satunya perusahaan yang Opa kamu dirikan! jadi kamu harus memiliki keturunan untuk meneruskan usaha keluarga kita!"


"Dan Oma yang akan membantu kamu memiliki keturunan dari wanita lain kalau istrimu tidak dapat di andalkan!"


Baskara heran kenapa Omanya bisa berpikiran begitu picik.


"Tidakkah Oma mencoba membayangkan jika Oma yang berada di posisi Senja sekarang?"


"Tidakkah Oma bisa merasakan sakit yang istrku rasakan ketika mendengar semua kata-kata menyakitkan yang Oma katakan?"


"TIDAKKAH OMA MENGHARGAI PERASAANYA SEBAGAI SESAMA WANITA?! TIDAKKAH OMA??" entah harus dengan cara apa ia menyadarkan omanya itu.


"Bas sudah dewasa. Bas bisa menentukan sendiri pilihan Bas. Ini hidup Bas. Dan Oma nggak berhak untuk mengaturnya!" setelah mengatakan itu, Baskara meninggalkan rumah orang tuanya.


Membawa pergi emosi yang masih mendidih didalam kepalanya.


Berharap belaian angin dapat menerbangkan rasa sesak dalam dadanya.


Ada rasa sesal karena bertengkar dengan oma. Tapi begitu besar rasa bencinya mengingat luka yang tengah istrinya rasakan.


Ia butuh waktu sejenak untuk mengurangi kekacauan yang terlihat jelas dalam dirinya. sebelum menemui istrinya nanti.


Tapi ketika diperjalanan kerumah Senja, Ayahnya menelepon dan mengabarkan jika Oma tengah dirawat karena sempat pingsan.


"Maaf, gara-gara aku, mas jadi berantem sama Oma."


Baskara menggeleng dalam dekapan istrinya. "Bukan salah kamu. Itu tanggung jawab aku untuk membela kamu sebagai istri, ayy."


Helaan napas Senja menyapu rambut Baskara. "Mas ngebentak Oma, ya? makanya bisa sampai pingsan?"


Baskara hanya diam tak menjawab. Ia merasa harusnya saat ini Senja tengah mengadu padanya tentang seberapa sakit luka hati yang ia rasakan kini. Tentang ketidak sukaan istrinya itu pada Oma.


Harusnya Senja menuntut dirinya. Bukan malah meminta maaf. Karena jika ada yang harus meminta maaf, orang itu bukanlah istrinya.


"Bagaimana pun, Oma itu orang yang patut mas hormati. Orang yang mengasihi kamu dari kecil, mas. Oma cuma mengharapkan yang terbaik. Jadi nggak seharusnya mas seperti itu."


Kelopak mata Senja bengkak. Menjelaskan seberapan lama gadis itu menangis sebelum tidur tadi. Tapi kini wanitanya masih bisa membela orang yang sudah menyakitinya. Dan itu semakin membuat Baskara merasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Senja meneteskan air mata sepanjang pernikahan mereka. Hal yang tidak pernah Baskara harapkan akan terjadi.


"Apa yang terbaik buat aku, cuma aku yang tahu."


Jemari lentik Senja membelai lembut rambut sang suami. Ia tidak suka melihat suaminya yang biasanya santai, tenang, menjadi emosian seperti saat ini.


Bukannya ia tidak sakit. Ia merasa sakit yang teramat ketika Oma dari suaminya sendiri mengatainya mandul.


"Kamu nggak mau mempertimbangkan tawaran Oma buat nikah sama Grace, mas?"


Baskara langsung melepaskan pelukan istrinya dan menatapnya dengan mata menyipit dam gigi yang saling beradu. "Aku akan menganggap, aku nggak pernah dengar kamu ngomong kaya tadi, ayy."


"Bukannya cowok seneng kalau punya istri dua?"


Senja tersenyum tipis. Senyum yang tidak menyentuh matanya yang sendu. Baskara sangat tahu ada sakit yang meluluh lantakan dibalik senyum dan ketegaran yang terlihat itu.


"Kamu kayanya ngantuk, ayy. Tidur gih. Aku ganti baju dulu."


Senja meraih pergelangan tangan suaminya yang tengah menaikan selimut menutupi dadanya.


"Manikah lagi bukan berarti kalian harus berhubungan intim kan, mas? menghasilkan anak bisa dengan lewat medis kan?"


Baskara menghela napas dan kembali duduk diatas tempat tidur. "Kamu ngantuk, kamu perlu tidur biar pikiran kamu bisa jernih lagi."


"Tapi aku serius, mas. Aku udah pikirin itu."


"Senja. Please. Jangan bikin aku juga ikut emosi sama kamu. Dan jangan ngomong apa pun yang akan kamu sesali nantinya." ucap Baskara dingin.


Jika suaminya sudah memanggilnya dengan nama, itu artinya suaminya itu sangat marah.


Senja menatap punggung tegap yang meninggalkannya untuk membersihkan diri itu. Menutup wajah dengan kedua tangan ketika air mata kembali mengaliri pipinya.


Sedangkan didalam kamar mandi, Baskara tengah memukul tembok dengan kepalan tangannya dibawah guyuran shower untuk melampiaskan emosi yang bertubi-tubi ia rasakan. Tak peduli dengan buku jarinya yang berdarah.


Pernikahan baginya bukan sebuah permainan. Ada tanggungjawabnya dihadapan Tuhan yang akan diperhitungkan.


Ia juga sudah berjanji tidak akan pernah menikah lagi sekalipun Senja yang memaksanya.


Bukan hanya sebagai janji belaka. Tapi hatinya memang hanya menginginkan Senja untuk berada disisi.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2