Langit Senja

Langit Senja
Kelulusan


__ADS_3

Menempuh perjalanan selama empat jam dengan perut yang sudah membesar, membuat Senja sedikit tidak nyaman. Tapi keinginannya untuk datang menemui suaminya yang tengah sidang tak membuat itu jadi penghalang.


Baskara sudah melarangnya datang, tapi dengan sikap keras kepalanya, juga dengan anak mereka yang ia gunakan sebagai alasan, membuat Baskara mengalah. Meski pemuda itu tetap tak mengizinkan Senja untuk mengendarai mobil sendiri.


Jadilah kini Maureen yang mengantarkan ibu hamil itu.


"Kapan perkiraan bayi itu lahir? aku lebih baik mengasuh bayi itu dari pada ibunya." Keluh Maureen yang sudah diganggu Senja pagi buta. Padahal bisa saja mereka berangkat lebih siang. Hanya ditanggapi Senja dengan kekehan ringan.


"Apa kau tidak ingin mengajukan cuti saja mulai sekarang?"


"Tidak." jawab Senja. "Kata dokter perkiraan kelahirannya akhir desember atau awal januari. Lagi pula aku tidak akan mengajukan cuti. Aku akan tetap kuliah. Hanya akan minta izin untuk ikut kelas daring ketika melahirkan hingga masa pemulihan."


Maureen mendesah. Ia merasa heran dengan sahabatnya satu itu. Kenapa seperti tidak pernah merasa lelah dengan kuliah dan segala tugasnya, padahal tengah hamil tua.


Ia saja sering mengeluh lelah dan sebagainya. Tapi kenapa sahabatnya itu tidak mau mengajukan cuti saja selama hamil hingga anaknya lahir nanti. Apa Senja tidak terlalu berambisi untuk lulus tepat waktu?


"Apa kau yakin? apa suami dan keluargamu mengizinkan dengan usulmu itu? aku rasa kau terlalu memaksakan."


Tentu saja Baskara dan keluarganya sempat menentang keras. Mereka khawatir Senja tidak akan sanggup menjalani itu semua. Mereka takut justru akan membahayakan Senja dan bayinya.


Tapi setelah dokter meyakinkan Baskara bahwa kondisi Senja dan bayi mereka sangat baik dan tetap bisa diajak beraktivitas seperti biasa, dokter merasa itu tidak masalah.


Tapi dokter juga menyarankan agar Senja tidak terlalu memaksakan diri ketika sudah merasa lelah. Makan makanan bergizi dan istirahat yang cukup. Juga tidak lupa untuk rutin memeriksakan kandungannya.


Dan disitulah suami dan keluarganya menyerahkan semua pada Senja. Karena hanya Senja yang paling tahu kondisi tubuhnya sendiri.


"Aku juga kadang merasa egois dengan bayiku. Tapi aku juga ingin cepat lulus untuk bisa kembali ke Indonesia." bayinya menendang tepat ditangannya yang mengusap lembut.


"Kita berjuang bersama ya sayang?" batin Senja.


Senja menghela napasnya berat, ia ingin menjalani rumahtangga seperti orang pada umumnya. Ingin fokus pada suami dan anaknya.


Ia tidak ingin ketika anaknya tumbuh, ia masih harus berkutat dengan tugas kuliah. Ia ingin fokus dengan tumbuh kembang anaknya setelah lahir nanti. Tidak ingin membagi perhatiannya dengan hal lain selama masa emas anaknya.

__ADS_1


Mungkin nanti ketika anaknya lahir ia masih memiliki jam kuliah beberapa bulan. Tapi itu masih lebih baik jika dibanding ia harus mengulang di semester depan.


Ketika anaknya nanti sudah menginjak usia tiga tahun, baru ia ingin mewujudkan mimpinya untuk memiliki butik sendiri. Yang akan ia bangun dari nol di kota tempatnya lahir dan tumbuh dewasa.


***


Seharusnya Senja ke Cambridge semalam agar bisa mendampingi suaminya sejak awal. Tapi karena Maureen ada acara, barulah pagi ini mereka berangkat.


Sampai di kampus mereka bertanya ruang sidang kepada mahasiswa yang mereka temui diarea parkir. Tapi ketika mereka sampai didepan ruang sidang, Senja tidak mendapati suaminya. Saat Senja bertanya pada mahasiswa yang sepertinya tengah menunggu giliran, pemuda itu bilang Baskara sudah selesai sidang dan tengah dipanggil lagi kedalam untuk mendapatkan hasil dari kerja kerasnya selama empat tahun itu.


Baskara yang tengah menunggu hasil tapi Senja yang merasa tegang. Ikut cemas dengan hasil yang akan didapat. Meskipun ia percaya kalau suaminya pasti lulus. Pun dengan nilai yang didapat suaminya pasti akan memuaskan.


Setelah menunggu beberapa lama, Baskara kular dengan wajah cerah. Pemuda itu masih belum menyadari kehadiran istrinya.


Terlihat Baskara berbicara dengan teman-temannya dan mereka mengatakan selamat. Hingga pandangan mereka bertemu. Senyum mengembang di wajah keduanya.


"Kamu udah datang, ayy? dari kapan?" dengan langkah lebar, Baskara mendekat dan langsung membawa tubuh istrinya dalam pelukan.


Sudah tiga hari mereka tidak bertemu, hingga rindu itu begitu terasa.


Dengan bangga Baskara mengeluarkan dokumen dan menunjukann pada sang istri. "Aku dapat A. Meskipun cuma A-, ayy."


"Selamat mas." binar mata terlihat dimata Senja. Baginya nilai sang suami sudah luar biasa. Apa lagi suaminya itu hanya kuliah selama tiga tahun saja. "Ini udah keren banget."


"Berkat doa kalian berdua." ucap Baskara membelai lembut perut istrinya.


"Makasih sayang sudah doakan daddy." bisiknya didepan perut istrinya. Memberi kecupan sayang untuk mereka.


Senja hanya tersenyum melihat interaksi suaminya. Pasti nanti ketika anaknya sudah lahir akan terlihat lebih manis lagi. Ia jadi semakin tidak sabar menanti hari kelahiran.


"Menyesal aku mengantarmu kalau pada akhirnya aku hanya terlihat seperti serangga disini." keluh Maureen yang sejak Baskara keluar dari ruang sidang tidak terlihat keberadaanya. Tapi sejujurnya ia bahagia melihat sahabatnya bahagia dengan keluarga kecilnya itu.


Senja terkekeh melihat temannya yang tengah cemberut. Meski ia yakin Maureen hanya pura-pura.

__ADS_1


"Hai Rin.. Terimakasih sudah mengantar Senja."


Maureen mencebik dengan bola mata memutar. "Selamat untukmu. Kata Senja kau ingin menjadi Sarjana sebelum anak kalian lahir."


Obrolan mereka berpindah ke restoran yang tak jauh dari sana. Memesan begitu banyak makanan untuk merayakan kelulusan Baskara.


"Kenapa teman-temanmu tidak ada yang ikut?" Maureen merasa heran karena hanya ada mereka bertiga.


"Suamiku tidak terlalu dekat dengan teman-temannya."


"Kau tahu, aku merasa merinding saat kau menyebutnya suamiku." Maureen menunjukan lengannya meski bulu-bulu ditangannya tidak benar-benar berdiri. Disambut tawa sepasang suami istri dihadapannya.


"Nah, makan yang banyak biar berisi. Masa bumil kurus begini." Baskara memberikan steak yang sudah ia potong untuk istrinya.


Tubuh Senja memang tidak berubah. Hanya perutnya saja yang kian membesar. Tapi karena dokter mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jadi Senja tidak ambil pusing dengan berat badannya. Dari dulu ia memang sulit menaikan berat badan. Jadi tidak heran jika tubuhnya tidak berubah meski tengah hamil. Dan itu disetujui oleh Maureen.


"Mau kau memberinya makan satu truk pun tidak akan membuat tubuhnya bertambah berisi."


Maureen memang tidak bisa berbicara bahasa Indonesia. Tapi sedikit banyak ia mengerti.


"Tubuhku idaman para wanita. Tidak sepertimu yang harus diet seharian penuh setelah hari lalu kau makan sepuasnya." ledek Senja dengan menjulurkan lidahnya.


Maureen mencebik. Ia memang sedikit iri melihat Senja bisa makan apa saja yang ia inginkan tanpa perlu khawatir dengan kenaikan berat badannya.


Berbanding terbalik dengannya yang ketika satu hari ia makan sepuasnya. Dua hari kedepan ia harus puas hanya dengan memakan sayur dan buah.


"Ya.. Ya.. Ya.. Jika aku makan rakus sepertimu, bisa-bisa besok aku akan berubah menjadi Hulk."


Senja tidak mungkin untuk tidak tertawa mendengarnya. Ia memang sangat suka meledek sahabatnya itu.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2