Langit Senja

Langit Senja
Restu Oma


__ADS_3

"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Oma menusuk hati Baskara.


Apa setelah menikah ia tak dibolehkan lagi datang kesana. Hingga kedatangannya kini dipertanyakan.


Mereka kini duduk di ruang tamu. Dengan teh dan biskuit tersaji diatas meja.


Senja tidak biasa dengan situasi seperti ini. Terlebih tatapan Oma yang terlihat tidak menyukainya. Juga gadis centil yang selalu mencoba mencari perhatian suaminya.


"Kenapa Oma kemarin nggak datang dipernikahan Bas? apa Oma udah nggak sayang Bas lagi?"


Omanya memang tegas. Tapi perempuan itu sangat menyayanginya dulu. Sebelum ia meminta izin untuk menikah.


"Apa kamu masih menganggapku sebagai Oma-mu setelah membantah ucapanku?!" lagi-lagi Oma melirik Senja tidak suka. Bahkan keberadaannya disana seperti tak kasat mata. Tak ditanya sama sekali.


"Hanya demi seorang gadis kamu berani melawan Oma yang menyayangimu sejak kecil!" Senja semakin menunduk mendengarnya. Keluarganya adalah keluarga harmonis yang saling mendukung satu sama lain. Sekalipun ada yang tidak sepaham, mereka akan menbicarakannya baik-baik. Tidak seperti saat ini ketika Oma berbicara dengan nada tinggi.


"Apa gadis ini merayumu hingga kamu memutuskan menikah di usia ini?! atau bahkan dia sudah hamil dan memintamu untuk bertanggungjawab?!"


Tubuh Senja menegang. Ia tak pernah berpikir akan mendengar hal seperti itu ditunjukan padanya.


"OMA!" Baskara dengan reflek membentak sang Oma. Membuat wanita itu mendelik. "Senja istri aku sekarang, Oma. Aku harap Oma bisa lebih menjaga kata-kata Oma dan lebih menghargai dia."


"Kamu bahkan berani membentak Oma sekarang!" Oma mendengus semakin kesal.


"Itu karena Oma sendiri! Senja bukan gadis seperti itu. Pernikahan kami terjadi karena Bas yang melamar dia. Dia bahkan nggak tau kalau Bas suka sama dia, Oma!"


"Itulah bodohnya kamu! dibutakan dengan gadis cantik." ejek Oma. "Kalau kamu dan istrimu pintar. Kalian nggak akan menikah semuda ini!"


Senja tetap diam mencoba bersabar. Meski hatinya cukup sakit menerima penolakan.


Kalau saja ia tahu lebih dulu masalah ini. Ia tidak akan menerima lamaran Baskara kemarin. Ia akan menunggu hingga mendapatkan restu dari semua orang terdekat mereka. Agar hal seperti ini tidak pernah terjadi.


Tapi mau bagaimana. Nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya harus menikamati dan berusaha bagaimana bubur itu bisa terasa enak untuk dimakan. Dengan menambahkan bumbu dan pelengkap lainnya yang akan membuatnya indah dan enak dimakan.


Begitu juga hubungan mereka kini. Ia hanya harus membuktikan apa yang Oma khawatirkan terhadap cucunya tidak akan pernah terjadi.


"Contohlah Grace. Selain cantik, dia juga berprestasi dalam pendidikan. Mengesampingkan masalah asmara sebelum cita-citanya terwujud."


Baskara hanya mampu mendengus dalam hati. Jika saja ia tidak sedang mengambil hati sang Oma. Ia pasti sudah membeberkan segala keburukan Grace dihadapan Oma.


Grace adalah kerabat jauh Baskara. Gadis itu adalah cucu dari sepupu Omanya.

__ADS_1


Ibu Grace dulu juga dekat dengan Aldo-ayah Baskara. Karena Oma hanya mempunyai anak tunggal laki-laki, Oma merawat ibu Grace seperti putrinya sendiri.


Begitu pula Grace yang sudah seperti cucu Oma sendiri. Bahkan dulu Oma sempat akan menjodohkan mereka. Namun beruntung sang Opa dan ayahnya tidak setuju. Membuat Oma mengalah dan membebaskannya menentukan pilihannya sendiri.


Meski Baskara tidak pernah mau dekat-dekat dengan Grace. Tapi ia juga tahu segala hal tentang gadis itu.


Cucu yang Omanya banggakan itu adalah gadis yang sering keluar masuk club malam.


Grace bukan datang untuk meminum jus jeruk seperti istrinya. Tentu saja yang Grace pesan adalah berbagai jenis minuman keras.


Bahkan salah satu temannya yang sering melihat Grace di klub saat SMA dulu, mengatakan bahwa Grace bukan gadis yang akan tumbang hanya dengan satu dua botol wine. Temannya mengakui jika Grace hebat dalam hal itu.


Gaya berpacaran Grace juga termasuk bebas.


Dari yang Baskara dengar, Grace terbiasa tidur dengan para kekasihnya. Mengesampingkan norma ketimuran yang keluarga Lazuardi pegang erat.


Ia hanya tak mau membuat Oma kecewa dengan cucu yang sangat dibanggakannya itu.


Tentu saja lebih bangga padanya sebelum ia menentang larangan Oma untuk menikah.


"Kami juga masih meneruskan kuliah Oma. Kami akan tetap meraih cita-cita dan masa depan yang sudah kami susun sebelumnya."


Oma tersenyum mengejek. Dari senyumannya terlihat jika Oma tidak percaya dengan apa yang Baskara katakan.


Tatapan Oma beralih ke Senja. Seakan mengatakan jika Oma tidak yakin Senja akan mampu melaksanakan dua kewajibannya secara bersamaan.


Kewajiban sebagai seorang mahasiswa juga kewajiban sebagai seorang istri.


"Waktu yang biasanya dia gunakan untuk mengerjakan tugas. Nanti bisa saja habis hanya untuk melayanimu diatas tempat tidur." imbuh Oma. Meski dengan nada sisnis. Tapi kata yang ia ucapkan adalah nasihat untuk dua muda-mudi yang menurutnya terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.


"Dan Oma yakin dia tidak bisa memasak. Melihat latar belakang keluarganya yang berada. Pasti dia terbiasa dimanjakan dalam keluarga."


Senja menggigit bibir dalamnya. Ia memang biasa dimanjakan. Tapi kini ia bisa masak meski tidak seenak masakan embak dirumah.


Beruntunglah ia ketika Baskara mau mengajarinya memasak. Setidaknya ia tidak terlalu buruk dihadapan Oma sekarang. Ia bisa lebih mengangkat dagunya walau sedikit.


"Kata siapa?" sangkal Baskara langsung. "Senja bisa masak kok. Nanti Oma wajib coba masakan istri aku. Oma pasti suka."


Oma mengibaskan tangannya. Mengesampingkan fakta itu. Dan melanjutkan lagi perkataanya.


"Dan apa kalian berpikir bagaimana repotnya kalian nanti kalau kalian memiliki anak sedangkan kalian masih sama-sama kuliah?"

__ADS_1


"Kita sebentar lagi sudah mau lulus Oma!" protes Baskara.


"Diam kamu! jangan terus-terusn memotong perkataan Oma!"


Baskara menutup rapat mulutnya dengan cemberut.


"Kalian masih terlalu muda. Apa yang kalian ambil masih mengikuti emosi bukan akal sehat."


"Oma hanya tidak ingin mendengar suatu hari nanti kalian akan mengajukan surat cerai ke pengadilan karena terbawa emosi."


"Dan Oma juga tidak ingin anak kalian yang akan menjadi korban dengan sifat kalian yang belum dewasa itu."


"Belum bisa berpikir matang dan gegabah!"


Baskara beringsut kesamping sang Oma. Memeluk wanita tua itu dari samping dan mencium pipinya.


"Terimakasih Oma sudah peduli dan memikirkan nasib kami." ucapnya haru. Ternyata meski tak suka, Oma tetap peduli dengan pernikahannya. "Tapi Bas janji akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab."


"Harus!" sahut Oma. "Kamu meminta anak gadis orang baik-baik. Terlebih anak itu diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarganya. Jadi kamu juga harus bisa memperlakukannya dengan baik juga."


Baskara mengangguk mantap. Kembali mencium sang Oma. "Bas janji akan memperlakukan istri Bas dengan sangat baik. Dan Bas janji apa yang Oma khawatirkan tidak akan pernah terjadi."


Oma mengangguk dan menepuk-nepuk pelan tangan Baskara yang ada dibahunya.


"Doakan Bas untuk bisa jadi suami yang baik Oma. Dan Bas mohon restu dari Oma agar rumahtangga Bas bisa berjalan dengan baik."


Oma tak menjawab. Wanita itu menggerakan tangannya memanggil Senja untuk duduk disisinya yang lain.


Dengan sedikit ragu, Senja duduk disamping Oma.


"Selamat datang dikeluarga Lazuardi, Senja. Semoga kamu bisa menjadi istri yang baik untuk cucu Oma yang bandel ini."


Senyum Baskara dan Senja mengembang. Keduanya dipeluk hangat oleh Oma.


Sedangkan Grace sudah menghentakan kaki dan meninggalkan ruang tamu dengan kesal.


*


*


*

__ADS_1


Maaf ya gaes kalau alurnya lambat. Soalnya Othor pengen bikin bab yang banyak.


__ADS_2