
Uang ganti rugi yang Oma berikan, Baskara gunakan untuk kembali membeli sapi impor dengan kualitas terbaik tanpa memutuskan kontrak kerjasama dengan koperasi yang sudah ia dapat dengan susah payah.
Alih-alih memutus kerja sama, Baskara lebih memilik memperluas pabrik produksi dan memperbanyak menjaring klien yang membutuhkan bahan baku yang perusahaannya produksi. Hingga keuntungan yang perusahaan dapatkan semakin besar.
Tentu saja hal itu membuat Faraz kesal. Niatnya ingin menghancurkan Baskara, malah memberinya jalan untuk semakin berhasil membawa perusahaan lebih maju dan mendapat banyak sanjungan dari dewan direksi perusahaan. Membuat mereka tidak sabar berada dibawah pimpinan seorang Baskara Lazuardi.
Faraz hanya bisa memaksakan senyumnya terulas dan menyetujui apa pun yang Baskara lakukan. Ia tidak ingin Baskara mencurigainya jika ia kembali bertindak gegabah. Karena nyatanya Baskara bukanlah orang yang bisa ia anggap remeh seperti sebelumnya. Baskara cukup cerdik untuk orang baru yang tidak bisa dipermainkan.
Terlebih ia tengah membangun beberapa cafe dan restoran dengan uang hasil tunjangan yang sudah ia dapatkan. Pembangunan bahkan sudah dimulai. Hingga nanti saatnya tiba ketika ia pensiun, restoran miliknya bisa beroperasi.
Jadi hal pertama yang ia hindari adalah membuat masalah dengan Baskara karena ia masih membutuhkan pria itu untuk menjalin kerjasama dimasa depan. Untuk berinvestasi atau apapun yang bisa ia dapatkan dimasa depan nanti.
Karena jika ia ingin berhasil. Ia harus memiliki perusahaan besar dibelakangnya. Dan satu-satunya yang bisa ia harapkan adalah Baskara sebagai pimpinan Lazuardi Corp.
"Tidak saya sangka kemampuanmu menjalankan perusahaan cukup berkembang pesat hanya dengan satu tahun bergabung. Lima atau sepuluh tahun mendatang, saya yakin Lazuardi Corp akan menguasai wilayah asia tenggara." puji Faraz ketika melihat laporan ditangannya. Juga berkas yang perlu ia tandatangi. Klien baru yang Baskara bawa bergabung.
Apa yang Faraz katakan adalah nyata. Ia bisa melihat potensi disana. Dan itu semakin membuatnya kesal karena Baskara menolak menikahi putrinya. Menolak menjadi menantunya.
"Terimakasih, pak. Semua tidak lepas dari bantuan Andi dan bimbingan anda." dalam hati Baskara mendengus. Ia tak seratus persen percaya pada Faraz. Terlebih ketika dulu Oma bilang tidak tahu akan sebanyak itu kerugian yang ditanggung perusahaan. Dengan kata lain semua atas kendali dan rencana pria paruh baya didepannya itu.
Dan Omanya yang malang harus menanggung semua sendiri. Menguras hampir seluruh tabungan yang Opa tinggalkan juga hasil dari saham yang wanita senja itu miliki. Selama puluhan tahun.
Ia sudah meminta Andi untuk selalu mengawasi Faraz selama masa kepemimpinannya. Tidak ingin ada kerugian lain yang Faraz akibatkan disisa waktu pria itu menjabat. Karena ia tidak ingin selalu membereskan masalah yang orang lain perbuat.
Dan jika Faraz bisa bersembunyi dibalik bulu dombanya. Ia juga bisa melakukan hal yang sama. Berperan sebagai keponakan yang manis dan menghormati pria itu.
"Saya rasa darah bisnis tuan Lazuardi menurun padamu. Tak perlu diragukan dengan kepiawaianmu selama ini."
Baskara hanya ternyum tipis dan mengangguk. Ia tidak butuh pujian. Apalagi dari orang dihadapannya saat ini. Apa yang ia lakukan selama ini semata-mata upayanya mengembangkan usaha yang Opanya dirikan. Tidak ingin mengecewakan beliau dengan kemampuannya.
***
Hari ini Baskara pulang larut setelah ikut penjamuan dengan klien yang datang dari luar negeri. Tidak ada lagi aktifitas didalam rumah. Hanya asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Mau bibi hangatin lauk, den?" tanya wanita paruh baya yang sudah menemaninya sejak kecil. Karena kini ia sudah kembali memboyong anak dan istrinya untuk kembali ke kediaman orang tuanya.
"Nggak usah, bi. Bibi istirahat aja udah malam. Bas udah makan kok tadi."
Asisten rumah tangganya itu mengangguk dan pamit. Membiarkan anak majikannya naik ke lantai atas.
Sebelum memasuki kamar yang ia dan istrinya tempati, Baskara lebih dulu melihat kamar putra putrinya. Kedua batita itu sudah terlelap di ranjang mereka masing-masing.
Baskara menaikan selimut Anna yang sedikit tersingkap. Mencium pipi gadis kecil itu begitu juga dengan Kai yang kini usianya sudah sembilan bulan. Waktu yang begitu cepat karena ia yang tidak bisa selalu melihat pertumbuhan putra-putrinya.
Disebelah kamar si kecil adalah kamar pengasuh yang langsung terhubung dengan pintu disudut kamar. Pintu yang selalu terbuka agar pengasuh anak-anak bisa mendengar jika ada yang menangis.
Menutup pintu sepelan mungkin agar Anna dan Kai tidak terbangun. Baskara beralih ke kamar paling ujung. Kamar yang ia dan istrinya tempati.
Baskara menggeleng begitu membuka pintu dan cahaya masih terang benderang.
Dimeja kerjanya, sang istri masih menunduk menekuri desain yang di buat tanpa mendengar kehadirannya.
Selain mengasah kemampuan, Senja juga tengah mengumpulkan desain terbaiknya sebagai modal ketika nanti membuka butik sendiri. Membuat brand nama sendiri.
Ibu muda itu memekik kaget begitu kursi yang ia duduki berputar kebelakang. Tapi keterkejutannya berubah dengan senyum yang mengembang. "Udah pulang, mas?"
Baskara berdecak dan mengangkat tubuh istrinya. Menukar tempat hingga ia yang duduk disana memangku sang istri. "Ini udah tengah malam lho, ayy. Besok lagi lah ngegambarnya."
Senja membantu melepas dasi yang sudah kendur dengan kancing kemeja bagian atas yang sudah terbuka. Tak langsung menjawab teguran suaminya.
"Mau aku bikinin teh, mas? pasti capek kan?"
Baskara menggeleng. Ia menyelipkan rambut istrinya yang keluar dari ikatan kebelakang telinga. "Aku mau mandi aja, terus istirahat."
"Ya udah. Aku siapin air panasnya dulu ya, mas?"
Baskara menolak melepaskan istrinya. Ia justru memeluk pinggang istrinya erat dan merapatkan tubuh mereka hingga melekat tak berjarak.
__ADS_1
"Nanti aja, ayy. Aku pengen gini dulu."
Senja membiarkan suaminya yang menyandarkan kepala di dadanya. Mengusap rambut dengan gaya two block haircut itu lembut. Membiarkan suaminya melepas lelah setelah seharian bekerja keras untuknya dan anak-anak.
"Kamu yakin pengen bukan brand, ayy? buka butik sendiri?" Baskara bertanya masih dengan mata terpejam dan suara yang mengguman.
"Kan emang itu cita-cita aku. Siapa tahu kan istrimu ini bisa jadi penerus dan sesukses Coco Chanel, Miuccia Prada atau bahkan Christian Dior yang meski orangnya sudah meninggal lebih dari setengah abad, tapi brand nya masih berdiri dengan gagahnya."
Baskara mengaminkan angan istrinya itu sebelum berucap. "Tapi kerja itu capek lho, ayy. Nggak hanya fisik tapi juga pikiran. Dan aku nggak mau kamu ngerasain itu."
Senja kini paham, mungkin suaminya tengah berada di titik itu. Lelah dengan segala aktifitasnya di kantor. Apa lagi belakangan ini sering pulang larut malam.
"Kita kuliah juga begitu kan, mas? capek fisik, capek pikiran. Tapi kalau ada tujuan yang ingin kita raih, apa lagi ketika kita bisa mendapatkannya. Bukankah semua setimpal?"
Akhirnya Baskara menegakan kepalanya dan menatap sang istri tempat dimanik mata. Mengangguk tegas dengan seulas senyum. "Aku emang capek kerja. Berangkat pagi pulang malam. Belum lagi kalau ada problem di kantor atau ada miss dengan klien. Rasanya tuh pengen banget nyerah, ayy." keluhnya. Hal yang baru kali ini ia lakukan selama ia bekerja di perusahaan sang Opa.
"Tapi, disaat bisa ngajakin kamu dan anak-anak pergi kemanapun. Bisa beliin kalian apa aja yang kalian mau. Dan itu pakai uang yang aku hasilin sendiri. Bukan hasil transferan orang tua maupun saham yang aku punya, rasanya tuh bangga aja, ayy. Bangga bisa bikin kalian tersenyum dengan perjuangan yang aku lakuin."
Senja dengan kedua tangan diatas dada sang suami, tersenyum dan mengecup bibir suaminya. "Mommy, kakak Anna, sama Kai, bangga sama daddy."
Tak cukup kecupan, Baskara memagut bibir istrinya. Disaat sudah kehabisan napas, baru ia lepaskan. Mengusap sisa ciuman panasnya dibibir sang istri dengan ibu jari.
"Nggak pa-pa istirahat kalau kamu lelah, mas. Itu manusiawi. Asal jangan menyerah dan semangat lagi. Karena kami akan selalu ada di belakangmu. Memberi kamu suport untuk kembali semangat."
Baskara merasa beruntung memiliki Senja dalam hidupnya. Wanita yang selalu bisa memberinya kedamaian. Dan selalu bisa menyenangkan hatinya. Membuatnya tak tahan untuk tidak membawa sang istri keatas tempat tidur. Hingga tak ada lagi perbincangan diantara keduanya selain suara panas mereka yang saling bersahutan, menemani malam yang semakin bergulir menuju pagi.
*
*
*
Rada panjang nih. Buat permintaan maaf karena lagi-lagi up-nya molor.wkwkwk
__ADS_1