Langit Senja

Langit Senja
Reuni 3


__ADS_3

Ditempat acara, Baskara dan Senja memang terpisah.


Baskara dengan teman-teman lelakinya, begitu juga dengan Senja yang bergabung dengan sesama wanita.


Baskara tidak tahu apa yang membuat wajah istrinya ditekuk ketika menghampirinya untuk mengajak pulang.


Tumben sekali. Padahal biasanya jika acara belum selesai, Senja belum akan pulang. Apalagi jika sudah asik bergosip dengan sesama wanita. Atau sekedar membicarakan tas, sepatu atau baju branded. Wanita dan fashion. Hal yang sulit dipisahkan.


Tapi melihat wajah istrinya yang tak terlihat biasa, Baskara tak berani menolak dan memilih pamit pada teman-temannya. Ia merasa ada yang tidak beres hingga bisa membuat mood istrinya yang sebelumnya baik-baik saja berubah buruk.


Dalam perjalanan pulang pun suasana di dalam mobil terasa canggung. Baik Senja maupun Jingga, sama-sama diam seribu bahasa. Semakin membuat Baskara bertanya-tanya apa yang terjadi selama acara. Ada kejadian apa yang tidak ia ketahui.


"Kenapa sih, ayy?" tak tahan dengan suasana tersebut, Baskara memberanikan diri untuk bertanya.


"Nggak pa-pa." bahkan jawaban dari istrinya terdengar dingin ditelinganya. Senja juga lebih memilih menatap keluar jendela dari pada mengajaknya bicara atau bercanda dengan Jingga seperti ketika mereka berangkat tadi.


"Harusnya lo nggak usah dengerin apa yang Diana omongin, Ja. Tahu sendiri Diana tuh emang seneng cari gara-gara."


Baskara yang mendengar Jingga ikut angkat bicara pun mengernyitkan kening. Apa lagi ketika nama Diana disebut. Karena setahuinya angkatan mereka yang bernama Diana adalah orang yang sering merundung Jingga ketika kelas sebelas.


"Emang ngomong apa dia?" melirik Jingga melalui kaca spion didepannya. Berharap mendapatkan informasi untuk memenusi rasa penasarannya.


"Mau lo yang ngomong apa gue, Ja?" tanya Jingga hati-hati pada Senja. Takut ia salah bicara jika menjawab begitu saja.


"Ngomong aja." sahut Senja masih terdengar acuh dan posisi yang tak berubah.


"Jadi Diana ngomong kalo lo cuma jadiin Senja pelarian sekaligus alat buat balas dendam. Biar lo bisa bikin gue sakit hati karena kemesraan kalian." papar Jingga membuat Baskara mengeratkan genggamannya pada roda kemudi.


"Terus kamu percaya, ayy? orang kayak kamu bisa terpengaruh sama omongan sampah kayak gitu?" Baskara benar-benar terkejut. Mengingat seperti apa istrinya, Baskara jadi penasaran bagaimana hebatnya Diana ketika mengatakan hal-hal itu sampai bisa membuat istrinya termakan omongan.

__ADS_1


"Diana juga bilang kalau gue sama lo selingkuh dibelakang Senja selama ini."


"Dan kamu juga percaya itu?" Baskara kembali bertanya meski pertanyaan sebelumnya tak mendapat jawaban. Menatap istrinya dengan helaan napas.


Senja menatap balik suaminya dengan tajam dan berkata kesal. "Aku tuh kesel saat inget gimana aku sakit hati karena kalian!" menatap Jingga dan suaminya bergantian. "Tapi aku lebih kesel lagi karena aku yang nggak peka sama kalian."


"Maksudnya?" Jingga memajukan duduknya untuk bisa melihat wajah sahabatnya.


"Kalau aku emang sahabat yang baik. Harusnya aku tahu kalian saling cinta. Dan seharusnya aku bukan jadi penghalang dan alasan kalian nyembunyiin hubungan kalian itu." jelasnya. "Tapi aku malah egois dan merasa paling tersakiti. Padahal kalian juga sama-sama sakit."


Baskara menepuk puncak kepala istrinya lembut. Ia tak merasa saat itu istrinya egois, meski ia akui bahwa dulu ia menganggap Senja sebagai penghalang dan kebebasan hubungannya dengan Jingga. Tapi itu semua hanyalah masa lalu. "Jadi intinya kamu percaya kan, kalau aku tulus cinta sama kamu? aku nggak pernah ada niat kayak gitu sayang.. Pernikahan kita, semua ungkapan cinta yang pernah aku ucapin, itu semua dari hati aku, ayu. Semua jujur se jujur jujurnya."


"Tapi kenapa cepat banget move on-nya. Kenapa buru-buru banget kamu ngelamar aku?"


"Niat baik kenapa harus ditunda-tunda?" Baskara menoleh dengan kedua alis yang terangkat. "Cukup sekali aku pernah kehilangan cewek yang aku cinta. Aku nggak mau lagi kehilangan untuk kedua kalinya. Dan aku rasa, perasaan cinta aku sama kamu saat itu cukup buat ngajak kamu nikah."


"Emang kamu beneran udah move on saat itu?" suara Senja terdengar melirih. Ada getaran tidak percaya diri disana.


"Jadi cuma karena aku berubah feminin?!" seru Senja kesal.


"Enggak dong sayang.." dicubitnya pipi Senja dengan gemas. Meninggalkan bekas kemerahan yang ia sesali dan mengusapnya lembut.


"Mempesona yang aku sebutin tadi itu bukan cuma dari segi fisik. Tapi juga dari pembawaan kamu, sikap tenangnya kamu, manjanya kamu yang dibalut kemandirian itu yang bikin aku jatuh cinta sama kamu. Ngelihat kamu berjuang hidup sendiri disana bikin aku nggak bisa jauh dari kamu. Pengen ngelindungin kamu, nemenin biar kamu nggak kesepian. Dan nggak akan cukup waktu buat aku jelasin satu-satu alasan apa yang buat aku jatuh cinta sama kamu-"


"Intinya?" sela Senja tak sabar.


"Intinya, bagaimana bisa aku cepat move on itu karena kamu. Only Senja.. Mungkin bagi aku saat itu, kamu lebih baik dari Jingga. Jadi bukan hal yang sulit buat aku jatuh cinta sama kamu ketika aku sedang berproses nyembuhin hati."


"Bener?"

__ADS_1


Baskara kembali menoleh dan mengangguk dengan senyum hangatnya. "Kamu itu obat terbaik yang pernah aku miliki."


Di bangku belakang, Jingga mendesah lega melihat Senja yang sudah kembali tersenyum dan bersandar di bahu Baskara.


"Kamu tadi beneran ragu sama aku, ayy?" meski posisi Senja yang bersandar menyulitkannya mengemudikan mobil. Tapi Baskara tak merasa keberatan dan membiarkan saja. Asal istrinya tak lagi meragukan ketulusannya.


"Lebih banyak kesel ke diri aku sendiri sih dari pada ngeraguin kamu, meski awalnya sedikit goyah juga." aku Senja jujur. "Aku bahkan hampir ke makan omongan Diana yang bilang kalian selingkuh dibelakang aku. Soalnya senyum Sheina mirip kamu, mas."


"HEI!!" seru Jingga dan Baskara bersamaan.


"Enak aja. Itu anak gue sama abang ya! gue juga nggak pernah making love selain sama abang!" seru Jingga tidak terima.


Senja terkekeh melihat reaksi Jingga dan Baskara.


"Gue tahu..." ucap Senja lagi untuk mengklarifikasi tuduhannya. "Gue juga baru inget pas gue sama Bas baru pulang dari NY, lo udah hamil 8 minggu."


"Lagian orang model Diana lo dengerin."


Senja mengedik. "Mungkin karena gue lagi banyak pikiran jadi gampang terpengaruh."


Meskipun Diana tidak mengomporinya dengan hal yang macam-macam, hanya mendengar ada yang membicarakan Jingga dan Baskara semasa sekolah pun pasti sudah mempengaruhi perasaan Senja menjadi buruk.


Sebahagia apa mereka saat ini, jika ada yang membicarakan mantan kekasih suaminya pasti tetap saja ada rasa mengganjal di hati. Rasa sesak yang memuakkan.


Tapi meskipun seperti itu, masa lalu tetaplah masa lalu. Yang akan selalu ada dan tak dapat mereka rubah.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2