
Jika Dilan bilang rindu itu berat. Dia pasti tidak tahu apa yang Baskara rasakan saat ini. Lebih dari sekedar berat. Baskara bahkan mengalami insomnia mendadak beberapa hari ini. Merindukan Senja dan mencemaskan acara pernikahannya.
Satu minggu sebelum pernikahan, keduanya dilarang untuk saling bertemu. Bahkan ponsel Senja dinonaktifkan beberapa hari mendekati hari H. Gadis itu ingin menengkan diri. Karena semakin banyak teman atau orang yang ia kenal menanyakan persiapan atau perasaannya menjelang pernikahan, Senja semakin merasa gugup dan dilanda stres.
Senja takut tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Baskara. Tak bisa melayani pemuda itu dengan baik dan berakhir mengecewakan.
Takut juga dihari pernikahan mereka, penampilannya tak sesuai dengan yang Baskara harapkan.
Ia bahkan sampai mengkhawatirkan malam pertamanya.
Dan semua itu menumpuk dalam pikirannya dan membuat dirinya dilanda stres akhir-akhir ini.
"Lho anak papa kok belum tidur?" Alvaro yang mendatangi kamar putrinya di Hotel tempat acara untuk mengembalikan hairdryer yang istrinya pinjam pun heran melihat sang putri duduk termangu bersandar pada kepala ranjang dan memangku bantal.
"Senja takut pah." akunya. Gadis itu memutuskan tak ingin menggunakan kata adek lagi sejak seminggu sebelum pernikahan. Karena rasanya ia masih saja anak-anak jika menyebut dirinya adek.
"Takut kenapa sayang?" Alvaro mendekat dan duduk di depan Senja, dan mengalirlah segala kegundahan hati putri bungsunya itu. Tentu saja minus kekhawatiran Senja tentang malam pertama.
"Sayang." sela Alvaro lembut. "Itu karena kamu terlalu tegang saja menghadapi hari besok. Coba sekarang kamu tenangin diri kamu, tidur yang nyenyak, jangan semuanya kamu pikirkan seperti itu. Yang ada besok kamu malah sakit di hari penting."
"Tapi Senja nggak bisa tidur." sudah sejak sejam yang lalu ia mencoba memejamkan matanya namun tak juga ada hasilnya.
"Nanti papa minta mama buatkan kamu coklat panas." Alvaro tertawa kecil. Membayangkan apakah dulu istrinya juga mengalami stres seperti Senja saat ini?
Terlebih, dulu Tiara tidak menginginkan pernikahan mereka. Pasti sangat berat untuk istrinya itu. Bahkan Senja saja yang sudah menyiapkan diri masih di landa cemas.
"Percaya sama papa!" kembali mencoba meyakinkan. "Rumah tangga kalian akan baik-baik saja nanti. Babas pasti terima kamu apa adanya. Nggak akan menyalahkan kamu tentang rumah tangga kalian. Papa percaya Babas akan memperlakukan kamu dengan baik."
"Bukan Babas-nya pah! tapi Senja!" rengek gadis itu. "Senja takut nggak bisa jadi istri yang baik seperti yang mungkin diharapkan Babas."
Alvaro menggeleng tidak setuju. "Putri papa selalu bisa menghadapi masalahnya sendiri. Dan papa percaya kamu juga bisa menjadi istri idaman untuk suami kamu."
"Kamu hanya perlu melakukan tugas kamu sebagai seorang istri dengan baik. Seperti mama mungkin sebagai contoh?" saran Alvaro. Tapi beberapa detik kemudian ayah tiga anak itu menggeleng.
__ADS_1
"Oh nggak! kamu nggak perlu mencontoh siapa pun untuk menjadi istri yang baik. Karena itu naluriah. Nanti kamu pasti bisa melakukannya sendiri. Karena kadang yang menurut orang lain baik belum tentu baik juga ketika kita merasakannya. Begitu juga mama yang sudah menjadi istri luar biasa bagi papa. Tapi bisa jadi kamu tidak perlu sekeras mama untuk menjadi baik di mata Babas. Atau malah sebaliknya. Bahkan mama untuk menjadi seperti itu saja butuh waktu sayang."
Alvaro mengusap rambut putrinya dengan sayang. "Jalani dan kamu akan tahu hasilnya. Nggak ada gunanya kamu stres memikirkan hal yang belum terjadi. Kamu hanya perlu melakukan yang terbaik yang kamu bisa. Untuk hasil akhirnya pasrahkan saja."
Senyum di wajah Senja mulai mengembang. Beban yang ia rasakan sebelumnya seolah perlahan-lahan terangkat dan membuatnya semakin bisa bernapas lega.
"Nggak nyangka putri kecil papa sudah akan menikah." suasanya berubah sendu. "Papa masih ingat dulu saat kamu baru lahir. Tatapan kamu benar-benar menghipnotis papa. Rasanya lebih bahagia dari saat papa mencintai mamamu." mata pria paruh baya itu sudah berkaca-kaca mengingat hari pertama perjumpaan mereka.
"Hati papa bergetar saat jemari mungil kamu menggenggam erat tangan papa. Seolah-olah kamu takut papa pergi."
Senja sudah tidak sanggup menahan laju air matanya. Ia sangat menyayangi ayahnya. Sangat sangat sangat menyayangi cinta pertamanya itu. Tak ada pria sehebat Alvaro baginya. Dan tak ada pria yang menyayanginya melebihi pria itu.
"Dulu, pas kamu kecil kalau papa lagi kerja di luar kota. Kamu sering pakai baju, dasi dan sepatu papa. Kalau mama tanya, kamu selalu jawab ingin kekantor bantu papa kerja biar papa cepat pulang." pelukan hangat Alvaro dapatkan dari sang putri. Ia juga membalas tak kalah erat dengan air mata yang ikut mengalir, beriringan dengan isak tangis putrinya yang sebentar lagi tak menjadi haknya.
"Kamu tahu, Nak. Kalau mama telfon malam-malam ngomong tingkah kamu itu, papa jadi semakin semangat kerja hanya untuk bisa cepat pulang."
Ada kekehan disela ceritanya. "Pulangnya papa bukan lagi merindukan mamamu. Tapi merindukan putri kecil papa yang paling manja."
"Sampai kapan pun, meski kamu sudah menikah dan papa nggak berhak lagi atas kamu. Papa akan tetap menganggap kamu seperti ketika kamu kecil." Senja mengangguk dalam pelukan sang ayah. Air matanya sudah membanjiri kemeja yang sang ayah kenakan.
"Papa akan selalu merindukan kamu disaat kita lama tak bertemu." Senja kembali mengangguk dan semakin terisak.
"Kalau dulu kamu yang nunggu papa untuk pulang karena rindu. Kali ini papa yang akan setiap hari nunggu kamu pulang. Menunggu putri papa yang sangat papa cintai."
Isakan Senja semakin terdengar memenuhi ruangan. Meskipun mereka sudah terpisah jarak beberapa tahun, namu Alvaro dan Tiara selalu sering mengunjungi Senja.
"Papa ingin kamu tetap tinggal di rumah setelah menikah." ucap Alvaro. "Tapi papa sadar kalau papa nggak bisa mencegah kamu pergi karena papa sendiri yang akan menyerahkan kamu ke Babas."
"Dan seorang istri memang harus ikut kemana pun suami membawanya."
"Senja nggak akan jauh-jauh dari papa. Rumah bunda kan dekat." jawab Senja melepas pelukan dan menatap sang ayah.
Alvaro tersenyum. Menghapus air mata yang membanjiri wajah putrinya. "Iya sayang."
__ADS_1
Senja memang akan tinggal di rumah Baskara dengan orang tua calon suaminya itu setelah mereka lulus nanti. Karena Baskara anak tunggal dan ingin menemani orang tuanya dimasa tua nanti.
Sedangkan Alvaro dan Tiara sudah ada Farri dan Jingga yang menemani hari mereka.
"Senja sayaaaaang banget sama papa." ucap Senja kembali memeluk ayahnya.
"Papa juga sayang banget sama Senja. Sayang ayah buat Senja nggak bisa diukur. Dan sampai kapan pun akan seperti itu." Senja kembali mengangguk. Tak ada keraguan sedikitpun tentang sayang ayah.
"Lho lho ada apa ini peluk-pelukan sambil nangis!" suara Tiara membuyarkan suasana sendu yang sempat terjadi.
Tiara juga bukannya baru datang. Sejak Alvaro mengungkapkan kesedihannya, ia sudah berdiri di depan pintu yang tidak tertutup rapat. Mendengarkan semua dan ikut meneteskan air mata.
Ia hanya memberi keduanya waktu untuk saling mengungkapkan rasa gundah yang mereka rasakan agar esok tak ada lagi yang dipendam.
Segelas coklat panas Tiara ulurkan pada Senja. "Papa tuh gimana sih! besok kan putri kita yang cantik ini mau menikah! bisa-bisanya dibikin sembab gini matanya! kan repot harus di kompres dulu biar besok tampil cetar!"
Bukannya takut, Alvaro dan Senja justru tertawa mendengar Tiara mengomel. "Kalian tuh kalau di bilangin malah ketawa! nggak menghargai mama banget, ya!"
"Sayang mama!" ucap keduanya dan memeluk Tiara bersamaan.
Jika sudah seperti itu, hati siapa yang tidak luluh.
*
*
*
Akhirnya bisa up setelah semalam otak tiba-tiba buntu.hihihi
Kalau yang baca tugasku di IG pasti inget sama paragraf Senja kecil.
Dan jujur aki nulisnya sambil nangis. Entah kebawa suasana atau karena ikut merindukan ayah. huhuhu
__ADS_1