
Senja dan Baskara adalah orang terakhir yang datang ke ruang privat di restoran hotel yang sudah keluarga mereka pesan. Dan seperti dugaan Senja sebelumnya, mereka menjadi sasaran empuk untuk digoda. Untung saja tanda merah di lehernya sudah tertutup rapi. Jika tidak, mereka pasti akan lebih di goda lagi.
Baskara tak melepaskan tangan Senja kecuali ketika tengah makan.
"Mau nambah?" suara Baskara terdengar lebih lembut dari sebelum-sebelumnya. Senja masih belum terbiasa akan hal itu. Mereka terbiasa saling ledek dan menjahili bahkan saling berteriak. Layaknya sahabat pada umumnya.
Dan kini Baskara benar-benar memperlakukannya dengan lembut. Bagai ratu yang diperlakukan sangat hati-hati. Ia harus belajar terbiasa dan melakukan hal yang sama untuk mengimbangi Baskara. Agar ia tak terlihat kurang ajar terhadap suami.
Senja menggeleng sebagai jawaban. "Udah kenyang." Senja bahkan sudah menghabiskan beef tenderloin salad dan chocolate hazelnut tart sebagai dessert.
"Mau langsung ke kamar?" bisik Baskara, menggoda ditelinga Senja. Istrinya itu langsung mendelik dan menatap tajam dirinya. Membuat ia terkekeh tahu kekesalan istrinya itu.
"Baru juga selesai makan! nggak enak lah sama yang lain." balas Senja berbisik dan mencubit paha Baskara yang masih terkekeh.
"Ehem.. Ehem.." Farri yang sedari tadi memperhatikan keduanya berbisik-bisik pun tak tahan untuk tak menggoda pasangan pengantin baru itu. "Masih sore Bas. Ditahan dulu lah."
Wajah Senja bersemu malu ketika semua orang kini menatap mereka dengan tertawa. Semakin mencubit kesal paha suaminya yang seketika mengaduh.
"Awww.. Sakit sayang." memelas Baskara mengusap pahanya yang ia yakin setelah ini akan membiru. Istrinya tidak main-main mencubit dirinya. "Abang kayak nggak tau pengantin baru aja. Kita kan juga mau punya yang kaya Sisi." jawab Baskara beralih pada kakak iparnya.
Rasa malu Senja sudah sampai di ubun-ubun. Senja menundukan wajahnya dalam. Ingin rasanya ia membekap mulut Baskara agar tak semakin membuat mereka menjadi bahan untuk digoda.
***
"Mau jalan-jalan dulu?" Baskara menengadahkan telapak tangan kanannya untuk menggandeng istrinya. Tanpa ragu Senja menyambutnya, mereka kembali bergandengan tangan keluar dari restoran setelah semua orang meninggalakan restoran menyisakan mereka berdua.
Tak seperti pertama tadi sebelum makan malam. Ada rasa malu yang menyusup hati Senja. Apa lagi ketika mereka bertemu orang. Gadis itu berusaha melepaskan tautan tangan mereka yang sialnya Baskara tak membiarkan itu terjadi.
"Ke kamar aja. Aku capek." Ia tak bohong saat mengatakan jika dirinya lelah. Semalam ia tidur cukup larut. Itu pun setelah lelah menangis berdua sang ayah.
Dan serangkaian persiapan untuk pernikahan yang sudah ia lakukan sejak pagi cukup menguras energi dan tenaganya.
"Mau tidur atau mau melanjutkan yang tadi?" tanya Baskara semakin menggoda. Mengingatkan Senja dengan kejadian sore tadi di kamarnya yang berada satu unit dengan keluarganya.
Tak ingin menjawab. Senja berlalu begitu saja menuju kamar pengantin untuk mereka. Sungguh hanya dengan membayangkannya saja Senja malu.
__ADS_1
Baskara yang menyusul dibelakangnya hanya mampu mengulum senyum melihat wajah merah padam istrinya karena malu.
Baru membuka pintu kamar, Senja berhenti mendadak. Menatap tampilan kamar mereka malam ini.
Tidak ada yang aneh. Kamar dihias seperti kamar pengantin pada umumnya. Dengan bunga dan lilin betebaran untuk menambah kesan romantis dalam malam panjang mereka.
Tapi bukan karena terkesima yang membuat Senja terpaku. Gadis itu menelan ludahnya kelat. Tiba-tiba telapak tangannya berkeringat dingin.
"Kenapa berhenti sayang?" Baskara memeluk istrinya dari belakang dan menuntunnya untuk lebih dalam masuk kedalam kamar mereka.
Senja masih diam membisu. Seisi kamar seakan meneriakkan kata 'malam pertama' padanya. Dan Senja takut.
"E-enggak pa-pa. Cuma... bagus." jawab Senja tak jelas. Menutupi kegugupan dirinya.
Berdua, keduanya menyusuri kamar. Menikmati keindahan yang tersaji untuk mereka.
Senja menyentuh gaun tidur diatas ranjang dengan ngeri. "I-ini nggak harus a-aku pakai kan?"
"Harus dong!" sahut Baskara bersemangat. "Biar makin menggoda." imbuhnya dengan bisikan dan kedipan mata nakal.
Mungkin yang menyiapkan baju tahu jika Senja tidak mungkin memakai jika pakaiannya terlalu terbuka. Dan memilih apa yang sekarang Senja pegang namun tetap percuma. Karena Senja tidak akan memakainya malam ini.
Baskara menghela napasnya kecewa. Namun ia juga tak akan memaksa sang istri. Ia tidak ingin membuat istrinya merasa tidak nyaman.
"Ya sudah. Nggak papa kalau sekarang nggak mau pakai itu." mengalah. "Nanti aja kalau kamu udah terbiasa tanpa pakaian didepan aku."
"A-apa sih!" seru Senja memukul dada suaminya yang kini memeluk pinggangnya.
Rasanya wajah Senja tak berhenti merona sejak tadi sore.
"Mau ganti baju lain, atau ini aja?" tunjuk Baskara pada pakaian yang melekat ditubuh istrinya.
"Ga-ganti aja." Senja langsung membebaskan diri dan mengambil piyama panjang yang berada didalam lemari. Satu paket dengan piyama milik suaminya.
Entah siapa yang sudah menata pakaian mereka. Karena Senja ingat meninggalkan koper mereka dikamar yang Senja tempati sebelumnya.
__ADS_1
Senja berganti pakaian didalam kamar mandi sekaligus menggosok gigi dan mencuci muka.
Sementara Baskara langsung mengganti pakaian didalam kamar dan merebahkan diri diranjang. Mencoba keempukan kasurnya.
"Kamu nggak cuci muka?" suara Senja membuat Baskara yang sudah memejamkan mata melepas lelah langsung beranjak duduk diatas tempat tidur. Menggerakan tangannya meminta sang istri untuk mendekat.
Dengan degup jantung yang bertalu-talu, Senja mendudukan diri disamping Baskara. Namun langsung pemuda itu angkat dan dudukan diatas pangkuannya.
"A-aku duduk sendiri aja. Na-nanti kaki kamu sakit." dengan gugup Senja ingin bernajak. Namun Baskara tak membiarkannya begitu saja. Pemuda itu malah semakin memeluknya erat. Senja yakin suaminya itu mendengar dengan jelas debar jantungnya yang menggila.
"Aku pengen begini sayang." ucap Baskara dengan jenis suara yang mampu menghipnotisnya hingga Senja duduk diam dengan posisi berhadapan dengan sang suami. Pemuda itu memeluknya erat dan menyandarkan kepal diatas dada miliknya.
"Bas?" panggil Senja ketika cukup lama mereka terdiam dalam posisi seperti itu.
"Kenapa sayang." jawab Baskara tanpa merubah posisi atau membuka matanya.
"Kalau... Kalau aku... pengen nunda hamil dulu gimana?" tanyanya ragu-ragu. Ia takut suaminya marah. Dan dia baru menyesali setelah kalimat itu terucap. Sadar ini bukan waktu yang tepat.
"Kenapa?" meski Baskara masih bertanya dengan lembut. Tetap saja jantung Senja berdebar keras. Bahkan napasnya mulai memburu.
"Kita masih sama-sama kuliah. Akan repot nanti kalau aku hamil padahal kita LDRan. Masa aku hamil sendirian. Kalau aku kenapa-kenapa padahal kamu jauh, gimana?"
Baskara terlihat memikirkan apa yang Senja katakan dan mengangguk setuju.
"Caranya gimana biar nggak hamil?" tanya Baskara. "Kamu nggak berpikir buat nggak kasih aku jatah sampai kita lulus kan, Ayy?" tanya Baskara curiga dengan menyipitkan mata menatap tepat diiris mata istrinya
"E-engak lah!" sangkal Senja. "I-itu te-tap aku kasih kok."
*
*
__ADS_1
*