Langit Senja

Langit Senja
Persiapan


__ADS_3

Kebanyakan ibu hamil pasti akan kalap ketika membeli perlengkapan untuk bayi yang akan segera lahir.


Begitu juga dengan Senja. Tapi ia masih bisa menggunakan logikanya dibanding hasratnya berbelanja.


Kedua pasangan itu hanya membeli kebutuhan pokok bayi mereka. Untuk kekurangan bisa menyusul nanti.


Paling penting, mereka sudah membeli boks, lemari bayi, stroller dan berbagai perlengkapan mandi. Tak lupa alat pumping dan segela perlengkapannya termasuk selusin dot.


Kini mereka tengah memilih baju-baju lucu untuk bayi mereka.


"Yang ini lucu ya, ayy? baby pasti cantik banget pakai ini."


Ya. Anak pertama mereka perempuan.


Awalnya Senja melarang dokter untuk memberitahukan jenis kelamin bayi dalam kandungannya. Tapi Baskara yang sudah sangat penasaran, memaksa.


Kata Baskara, jika mereka mengetahui jenis kelaminnya. Mereka bisa menyiapkan segala keperluan dengan maksimal. Tidak harus galau saat memilih warna apa harus biru atau pink. Yang mungkin akan berakhir dengan warna netral.


Baskara ingin menyiapkan segalanya sesuai dengan bayi mereka. Menyiapkan yang terbaik tanpa takut salah.


Senja mengambil dress yang suaminya tunjukan. Dress berwarna jingga lengkap dengan bandana berbentuk pita.


Meneliti bahan dan modelnya. Apa bahanya cukup lembut untuk kulit bayi yang sensitif? dan apakah modelnya cukup nyaman untuk anak mereka bergerak?


Karena laki-laki hanya tahu model bagus. Tanpa peduli apa nanti anak mereka merasa nyaman ketika menggunakannya.


"Iya ambil aja mas. Bahannya juga enak kok dipakai."


Tidak terlalu banyak baju yang mereka beli. Terutama dress. Karena Senja lebih memilih baju model rompers dan juga baju hangat karena musim dingin.


Tiara juga mengatakan pada Senja untuk tidak terlalu banyak membeli baju ketika baru lahir. Karena pertumbuhan bayi sangat pesat, tidak akan terpakai lama.


Lebih baik membeli sesuai kebutuhan dan sesuai ukuran. Meski uang bukan masalah untuk mereka.


Belajar dari pengalaman Tiara ketika memiliki Senja. Karena baju bayi perempuan begitu lucu-lucu hingga membeli begitu banyak. Tapi akhirnya banyak yang bahkan belum terpakai. Apa lagi yang modelnya ribet.


Setelah selesai berbelanja, mereka pergi membayar dan meminta jasa antar dari toko perlengkapan bayi tersebut.


"Mau kemana lagi, ayy?"

__ADS_1


Keduanya berjalan bergandengan, keluar dari toko perlengkapan bayi.


"Katanya mau beli baju-baju buat aku, mas."


"Oke." Baskara langsung membawa istrinya ke toko lain.


"Lho kok kesini?" Senja berhenti dan memaku posisinya agar tak suaminya bawa masuk kedalam.


Toko yang Baskara tuju adalah toko pakaian dalam dengan merk terkenal.


Tak peduli dengan protes istrinya, Baskara menarik lembut masuk kedalam toko.


"Beli baju dinas malam, ayy." seloroh Baskara dengan kekehan kecil.


"Ini kayaknya cocok deh dipakai pas perut kamu besar begitu. Baju dinas dirumah kan banyak yang nggak muat."


Senja merotasikan bola matanya. Bukan banyak yang tidak muat. Tapi hanya sisa beberapa helai baju karena setiap pakai pasti berakhir ditempat sampah karena dirobek suaminya itu.


Setelah memilih puluhan lingerie, Baskara beralih kepakaian dalam. "Ini juga kamu butuh kan ayy buat nanti menyusui." Baskara menunjukan beha busui tanpa malu meski banyak wanita disana.


Justru Senja yang merasa malu dengan wajah memerah panas. Ia langsung mengambil beha ditangan suaminya. Mengambil beberapa potong lagi dan langsung menuju kasir untuk membayar.


"Eh nanti sayang. Masih ada yang mau aku beli." protes Baskara ketika istrinya menyeretnya ke kasir.


***


Setelah semalam Senja langsung tidur setelah seharian berkeliling mall dan membuat pinggangnya terasa sakit. Kini keduanya membereskan apa yang mereka beli.


"Kalau kamar sebelah dibikin kamar buat baby gimana, ayy?"


Senja menggeleng tak setuju. "Dikamar kita aja. Toh kita nggak lama juga tinggal disini. Masa masih bayi harus pisah kamar segala."


Baskara mengikuti kemauan istrinya. Mendorong boks bayi yang cukup besar kedalam kamar yang mereka tempati.


Setelah selesai dengan urusan kamar, Baskara membawa semua pakaian calon anak mereka ke laundry.


Sedangkan Senja mencuci perlengkapan pumping agar nanti siap pakai dan tinggal disterilkan.


Untung menjelang libur musim dingin ini Senja tidak begitu banyak tugas kuliah. Sehingga kini ia bisa fokus dengan persiapan kelahiran anak mereka. Juga menyiapkan diri untuk prosesnya nanti.

__ADS_1


Ia juga banyak bertanya pada ibu mertua tentang bagaimana proses dan rasanya melahirkan normal. Ia juga bertanya pada ibu kandungnya tentang pengalaman melahirkan secara Caesar.


Dan dari kesimpulan yang ia dapatkan, keduanya sama-sama merasakan sakit. Sama-sama ada resiko yang harus ditanggung.


Dan jika ada orang yang berkata ibu yang melahirkan secara caesar itu belum menjadi wanita sesungguhnya Senja rasa itu tidak benar.


Karena apa pun prosesnya, mereka sama-sama bertaruh nyawa. Meski melalui operasi, bukan berarti kematian tidak mengintai mereka.


Bisa saja ketika operasi terjadi pendarahan atau apa pun itu yang mengakibatkan si ibu ataupun si bayi tidak tertolong.


Dan mau melahirkan normal atau caesar itu bukanlah keinginan ibu. Meski mungkin ada yang merencanakan sejak awal untuk melahirkan dengan cara operasi.


Tapi yang Senja baca, kebanyakan kasus melahirkan secara operasi adalah si ibu yang tidak memungkinkan untuk melakukannya secara normal. Entah karena posisi bayi yang sungsang atau keselamatan si kecil atau si ibu yang lebih beresiko ketika memaksakan untuk melalui proses secara normal.


Dan melahirkan normal juga bukan sesuatu yang mudah. Itu pasti. Karena ibu yang melahirkan secara normal itu rasa sakitnya seperti 20 tulang sehat dipatahkan secara bersamaan.


Suami tidak akan bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Itulah kenapa dalam agama yang Senja anut, ibu lebih tinggi derajatnya dibanding seorang ayah.


Jika ditanya apa Senja takut?


Jelas ia merasa takut. Setiap hari ia memikirkan bagaimana kalau nanti ia tidak berhasil mengelurkan anaknya dengan selamat?


Bagaimana kalau nanti ia gagal untuk memperjuangkan anaknya hingga lahir?


Apakah suami dan keluarga akan kecewa padanya karena tidak bisa melahirkan bayi mereka dengan selamat?


Atau bagaimana kalau ditengah perjuangannya ia yang gugur hingga tidak ada yang selamat baik ia dan bayinya?


Atau bagaimana jika ia yang gugur dimedan perangnya? ia yang harus berpulang meninggalkan anak yang sudah ia nantikan sejak lama?


Bagaimana kalau ia tidak memiliki kesempatan untuk melihat, mencium dan memeluk putri kecilnya nanti?


Bagaimana jika ia tidak memiliki kesempatan untuk memberi asinya pada buah hati tercintanya itu?


Dan masih banyak bagaimana yang lainnya. Bagaimana yang isinya hanya ketakutannya.


Tapi ada bagaimana yang ia selalu perjuangkan dalam doa. Yaitu Bagaimana jika Tuhan memberinya kesempatan untuk mengasuh dan membesarkan putrinya hingga tumbuh dewasa. Bisa menggenggam jemari kecil putrinya hingga ada tangan lain yang akan menggantikannya dan sang suami untuk menjaga dan membahagiakan putri mereka nanti.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2