
Senja merasa heran dengan kondisi rumahnya yang begitu berantakan. Tak biasanya suaminya yang sangat peduli kebersihan itu membiarkan rumah mereka berantakan seperti saat ini.
Mainan anak berserakan disepanjang ruang tamu. Bahkan jika ia tidak hati-hati, bisa saja terjatuh karena terpeleset mainan.
Belum lagi remahan biskuit dan makanan ringan yang juga berceceran dimana-mana.
"Mas?" panggilnya, tapi tak mendapat jawaban.
Ia pulang tepat waktu. Dan biasanya dijam seperti ini, suaminya tengah memasak makan malam. Atau jika baby Anna tidak tidur, kedua belahan jiwanya itu tengah duduk santai didepan televisi.
"Mas?" panggilnya lagi dengan membuka pintu kamar.
"Sayaaaang... Akhirnya kamu pulang juga." seru Baskara. Wajahnya terlihat benar-benar senang dan lega.
"Hai Sisi.. Kamu disini?" sapanya pada sang keponakan. Mengabaikan suami yang mendekatinya seperti anak ayam yang bertemu induknya.
Sisi mengangguk. "Mami sama daddy pelgi ke bulan. Jadi Sisi halus jadi anak baik jagain baby Anna." ujarnya menunjukan mainan ditangannya dengan antusias. Seakan mengatakan kalau gadis kecil itu sudah berperilaku baik dengan mengajak Anna bermain.
"Pergi ke bulan?" dahinya mengerut. Tatapannya beralih pada sang suami untuk menjelaskan apa yang tidak ia ketahui.
"Abangmu pergi bulan madu. Terus nitipin Sisi disini. Katanya cuma dua hari aja." terangnya dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
Senja tertawa terbahak. Ternyata kakak dan kakak iparnya tak pernah berubah. Suka sekali memanfaatkan orang lain. Atau lebih tepatnya merepotkan orang lain.
"Terus kamu kenapa sedih, mas? Sisi bandel?" tanyanya sembari mendekat untuk menyapa buah hatinya tanpa berani menyentuh karena belum mandi.
Baskara menggeleng. "Dia jagain adiknya banget. Tapi malah aku yang ngeri."
Bagaimana Baskara tidak takut jika semua permainan yang Sisi mainkan akan melibatkan putri kecilnya yang belum bisa apa-apa.
Sisi juga tidak segan untuk menarik tangan baby Anna untuk diajak bermain. Dan itu membuat Baskara tidak berani meninggalkan mereka berdua sendirian.
Ia tidak bisa menyalahkan Sisi karena gadis kecil itu juga belum mengerti. Tapi ketika ia mencoba menjelaskan, justru Sisi menanyakan banyak pertanyaan yang membuatnya pusing sendiri harus menjawab apa. Hingga ia memutuskan lebih memilih menjaga keduanya dengan hati-hati.
Senja kembali tergelak mendengar cerita suaminya. "Terus kenapa ada mainan sebanyak itu di ruang tamu?" tanyanya lagi. Pasalnya ia belum memiliki banyak mainan untuk putri kecilnya. Hanya beberapa mainan itu pun untuk usia dibawah enam bulan.
__ADS_1
"Beberapa mainan Sisi bawa dari Jakarta. Beberapa lagi baru dibeli pagi tadi sebagai sogokan biar nih anak mau ditinggal."
Dan begitulah anak kecil. Jika memiliki banyak mainan, rumah akan seperti kapal pecah. Apa lagi apartemen mereka tidak memiliki ruangan khusus untuk bermain, jadi semua sudut dijadikan area bermain oleh Sisi.
"Ya udah, aku bantu beresin. Soalnya nanti kak Doni mau kesini. Nggak enak kalau rumah berantakan."
"Doni?" beo Baskara.
"Iya. Itu lho yang dulu kita pernah ketemu di mall. Anak himpunan mahasisa Indo disini."
Baskara mencoba mengingat dan mengangguk dengan enggan setelah tahu siapa orang yang istrinya maksud.
"Mau apa kesini?"
"Jengukin baby Anna. Sekalian mau pamit. Katanya study-nya udah selesai jadi mau balik ke Indo."
Baskara semakin tidak suka saat mendengarnya. "Ngapain segala pamit sama kamu? emang kamu siapanya? Pacarnya bukan, adeknya bukan, apa lagi istrinya jelas bukan. Ngapain pake acara pamit. Cari alasan aja tuh orang." ujarnya tidak suka.
"Namanya juga orang kenal mas. Lagian sekalian jengukin baby Anna doang, ih!"
Ketika selesai beberes, disaat yang sama pula makanan yang ia pesan datang. Karena suaminya tidak memasak juga karena dirinya yang lelah setelah membenahi rumah, sehingga delivery makanan adalah cara yang tepat.
"Ayo makan dulu mas, aku lapar." ucap Senja dengan kepala menyembul dibalik pintu kamar dimana suaminya tengah menidurkan putri mereka.
Baskara mengangguk tanpa ucapan, takut putri mereka bangun kembali. Kemudian menggandeng Sisi mengikuti Senja keruang makan.
***
"Lama banget mandinya, ayy?" protes Baskara begitu istrinya keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju meja rias.
"Berendam bentar mas. Capek kan, keringetan juga tadi." jawabnya acuh. Masih tak sadar dengan ketidak sukaan diwajah suaminya.
Baskara bersandar di meja rias dengan wajah masam. Melipat kedua tangannya didada, menatap istrinya yang mengeringkan rambut dan mulai memoles wajah dengan lekat.
"Ngapain sih dandan segala?" protesnya lagi. "Itu juga bibir ngapain pakai lipstick. Bedakan juga lagi!"
__ADS_1
Senja melirik suaminya dengan alis berkerut. Merasa heran dengan suaminya yang terlihat kesal padahal biasanya juga seperti itu. Ia memakai make up tipis dan natural. Hanya agar tidak dianggap dandan jika pergi saja, sedangkan ketika dirumah bersama suami terlihat tak peduli penampilan.
Jadi apa yang salah dengan penampilannya kini?
"Biasanya juga gini kan, mas?"
Baskara mencebik karena istrinya yang tidak peka. "Tapi sekarang aku nggak suka kamu dandan begini. Aku lebih suka kamu yang natural tanpa make up."
Senja menelengkan kepalanya kemudian mengangguk. "Ya udah, mulai besok kalau di rumah aku nggak pakai make up lagi." ucapnya kemudian membereskan perlengkapan make-up nya.
Baskara kembali mencebik dan mencubit pipi istrinya gemas. "Terus kalau keluar pakai make-up gitu? biar kelihatan cantik di mata cowok di luar sana?!"
Nah kan. Senja semakin tak mengerti maksud suaminya. Dandan dirumah salah. Dandan hanya ketika keluar rumah juga salah.
"Ya enggak gitu dong sayang.. Makanya itu aku di rumah juga dandan. Cuma kalau tidur aja yang enggak. Tapi tadi mas bilang di rumah nggak perlu."
"Dandannya buat aku aja! jangan buat yang lain!"
Senja semakin bingung apa yang suaminya mau. "Maksudnya gimana sih?Jadi, kamu lebih suka aku pakai make up atau enggak, mas?"
"Maksudnya kalau keluar rumah nggak usah dandan. Dandannya dirumah aja buat aku. Kecuali hari ini juga nggak usah dandan. Apa lagi ada temen cowok kamu datang ke rumah."
"Emang kenapa sih, mas?" Senja heran dengan tingkah suaminya kini. Padahal biasanya juga tidak pernah komplain dengan penampilannya. Kecuali ia berpakaian sedikit terbuka, baru Baskara akan melayangkan protes.
"Uncle tidak suka olang lain lihat aunty cantik." Sisi yang sejak tadi sibuk menyusun legonya bersuara. Tapi fokusnya masih pada balok-balok lego didepannya.
Gadis kecil itu menggeleng tidak mengerti dengan tingkah orang dewasa yang menurutnya aneh.
Ia juga pernah mendengar orang tuanya memperdebatkan hal yang sama seperti apa yang om dan tantenya perdebatkan saat ini. Dan jawaban ayahnya adalah.. "Abang nggak suka orang lain lihat kecantikan kamu. Kamu cuma boleh cantik buat abang."
Baskara menjentikan jarinya kearah Sisi dengan kagum. Sedangkan Senja hanya menggeleng dengan sikap suaminya yang posesif, juga dengan keponakannya yang bisa tahu maksud dari suaminya.
*
*
__ADS_1
*