
Mall cukup ramai di hari weekend. Padahal hari masih cukup pagi. Jam buka mall juga belum terlalu lama berlalu. Tapi sudah banyak terlihat anak-anak kecil yang berlarian menuju banyak tempat di mall.
"Mau di gandeng gak?" tawar Farri begitu mereka melewati pintu masuk.
"Ke-kenapa tanya?" padahal jika di gandengan Jingga mau-mau saja. Tidak perlu bertanya yang justru membuat Jingga malu untuk menjawabnya.
"Takutnya kamu malu jalan sama om-om. Tar kamu di kira sugar baby lagi." seloroh Farri.
"Mana ada om-om ganteng begini." gumam Jingga lirih sembari menunduk malu.
"Ecieeee... Muji suami nih yeee.."
"Abaaannngggg... Katanya nggak bakal ngeledekin lagi." Jingga menghentakkan kakinya ke lantai dan berlalu mendahului suaminya.
Farri terkekeh dan menggeleng. Menjalin hubungan dengan Jingga benar-benar warna baru dalam hidupnya.
Jingga yang masih kekanak-kanakan sering kali membuatnya tertawa dengan hal-hal remeh namun terlihat menggemaskan.
Benar-benar seperti bermain dengan Senja. Bukan jalan dengan kekasih bahkan istrinya. Tapi berbeda cerita jika mereka tengah berada diatas tempat tidur.
Farri menyusul sang istri dan merangkulnya. "Jangan manyun gitu. Nanti banyak yang suka, terus abang kehilangan."
Jingga berdecih. "Cih. Kehilangan apanya."
Dengan senyum jahil, Farri mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri dan berbisik. "Kehilangan pelukannya kalau malam." pria itu meniup telinga Jingga. Membuat si empunya membulatkan mata dengan bulu kuduk yang berdiri.
"Abang, ihh!" gadis itu mendesis dan memukul pelan lengan Farri yang beradadi pundaknya. Bisa-bisanya suaminya itu melakukan hal seperti itu di tempat umum.
Jingga menggeleng melihat suaminya tergelak. Menertawakan dirinya.
"Jadi mau kemana dulu?" tanya Farri begitu bisa menghentikan tawanya. "Nonton? belanja? kalau makan nanti aja makan siang. Kan udah sarapan di rumah." tawarnya.
"Nonton aja dulu deh, bang." jawab Jingga antusias. Pasalnya ada film yang baru tayang dan sangat ingin ia tonton. "Nanti baru shoping. Ada yang mau aku beli."
"Oke tuan putri. Hari ini semua yang tuan putri mau, hamba turuti."
Jingga tersenyum cerah dan mengajak suaminya menuju bioskop yang ada pada mall. Farri memang memilih mall agar tidak perlu berpindah tempat dan cukup menghabiskan waktu mereka disana.
__ADS_1
Bioskop belum terlalu ramai karena pagi, tapi ada hal lain yang membuat Farri terpaku dengab mata membulat. "I-ini serius?" tanyanya begitu Jingga menunjuk judul film yang ingin di tontonnya.
Jingga mengangguk semangat. "Kenapa? abang nggak mau ya?" tanyanya yang kemudian terlihat sendu.
Bagaimana tidak kaget dengan pilihan sang istri. Jika film yang mereka tonton bergenre romance atau teen ala-ala remaja masa kini, oke lah, ia masih bisa menerima. Tapi ini...
***
Farri merasa benar-benar tengah mengasuh adiknya. Kini ia harus duduk di tengah-tengah para orang tua yang mengajak anak-anak mereka untuk menonton makhluk berwarna kuning dengan bentuk oval yang bisa berjalan.
Ya Tuhan. Ia sudah berumur 26 tahun. Mengajak seorang gadis nonton dan ternyata pilihannya jatuh pada film kartun animasi Minions.
Hancur sudah harga dirinya jika ada rekan kerja atau kliennya yang melihat ia berada disana. Hanya demi membuat istrinya senang, ia rela duduk berjam-jam disana.
Bukan untuk menonton seperti yang istrinya lakukan. Ia lebih memilih menatap istrinya sepanjang film diputar.
Melihatnya tertawa. Melihatnya tersenyum. Melihatnya menguap dan tersenyum manis kearahnya seraya menawarkan berondong jagung yang langsung ia angguki dan menunjuk mulutnya untuk di suapi.
Melihat semua ekspresi Jingga bisa mengembangkan sempurna senyum Farri. Bahkan senyum yang hanya akan muncul di tengah keluarganya.
Farri Mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. "Iya lucu. Menggemaskan. Bikin pengen gigit." padahal yang Farri maksud adalah Jingga yang terlihat lucu dan menggemaskan. Jangan lupakan juga, cantik.
Aah dunianya sekarang terisi penuh dengan wajah Jingga. Gadis itu ketika sedang merajuk. Ketika tengah merona. Ketika tengah berada di bawahnya. Bahkan ketika tengah tertidur dengan bermacam gaya.
Dan sialnya, semua terlihat cantik di matanya. Mungkin kini ia tengah terserang virus. Virus cinta untuk Jingga yang tak dapat tubuhnya tolak.
Dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Semua bereaksi ketika Jingga berada di dekatkan.
Tak tahan melihat senyum Jingga yang terkembang. Ia mendekatkan wajahnya dan memberi kecupan di pipi sang istri.
Jingga langsung membulatkan matanya. Terlebih ibu yang berada di belakang mereka melayangkan protes.
"Kalau mau mesum jangan disini dong, mas! disini kan banyak anak-anak."
Rasanya Jingga ingin menggali tanah dibawahnya untuk mengubur dirinya sendiri saking malunya.
"Abang iih!" desis Jingga yang langsung menarik tangan suaminya untuk keluar meski film baru separuh terputar.
__ADS_1
Farri malah terkekeh-kekeh melihat wajah semerah tomat milik istrinya. Ia seakan tak peduli dengan seruan ibu-ibu di dalam tadi.
"Gagal deh nontonya!" cebik Jingga begitu mereka sudah berada di luar.
"Maaf sayang. Habis mau gimana lagi.. Abang nggak tahan pengen cium."
"Iiih!" seru Jingga dengan cemberut. Padahal dalam hatinya berbunga-bunga.
"Belanja aja yuk? dari pada manyun gitu."
Jingga mengikuti kemana suaminya menggandeng tangannya. Melangkah bersama menuju brand pakaian wanita yang juga sering di kunjunginnya di mall tersebut.
"Kamu pilih berapa aja. Nih bayar pakai ini." Farri menyerahkan sebuah kartu unlimited pada Jingga. Kemudian menunjuk sofa tunggu di sudut ruangan. "Abang tunggu di sana."
Jingga mengangguk semangat. Dirinya memang berniat membeli beberapa pakaian untuk kuliah nanti. Jadi ketika Farri memberikan kartu hitam milik pria itu. Tentu saja Jingga senang.
Bukan karena ia materialistis. Tapi sudah kewajiban sang suami memenuhi segala kebutuhannya.
Terlebih semenjak menikah, Dika tak pernah lagi mengirim uang jajan untuknya. Jingga tahu jika Farri yang melarang ayahnya untuk memberinya uang. Karena segala kebutuhan Jingga termasuk uang saku, kini selalu Farri cukupi.
Ketika di tengah-tengah memilih dress, Jingga melihat sang suami yang tengah berbincang-bincang dengan wanita yang sepertinya seumuran suaminya itu.
Namun yang tidak ia suka ketika melihatnya adalah, wanita itu terlihat akrab. Bahkan tak jarang berani memeluk tangan suaminya dan menyandarkan kepala di bahu suaminya meski sekilas.
Terlihat sekali jika wanita itu menyukai suaminya. Tapi kenapa suaminya tidak menolak atau menghindar. Apa Farri juga menyukai wanita itu?
Dengan geram, Jingga asal pilih pakaian dan membawanya ke kasir. Ia ingin segera menyelesaikan urusan belanjanya agar bisa cepat menjauhkan ulat bulu itu dari suaminya
Ia tidak ingin suaminya terjangkit bisa si ulat bulu dan ikut kegatelan untuk terus meladeni wanita itu!
Senja sudah mengajarkannya untuk tidak lemah. Termasuk menghadapi bibit-bibit pelakor yang mungkin muncul didalam rumah tangganya dengan Farri.
*
*
*
__ADS_1