
Dua orang gadis remaja keluar dari ruang psikiater berjalan beriringan tanpa mengatakan sepatah katapun.
"lo duduk sini, gue tebus obat dulu ya." pinta Alya yang di angguki oleh Senja tanpa mengeluarkan suara. Alya langsung pergi meninggalkan Senja yang sudah duduk di kursi tunggu.
"Senja." Senja terperanjat merasakan tepukan di pundaknya juga panggilan dari pria itu. Gadis itu langsung berdiri dan menjaga jarak dengan pria itu membuat Pria itu terheran karena tidak seperti biasanya Senja seperti itu jika bertemu dengannya.
"D...Daniel, L...lo ngapain di sini?" tanya Senja pada Daniel, pria yang tadi memanggilnya juga menepuk pundaknya.
"Harusnya gue yang tanya, lo ngapain di rumah sakit? lo sakit? sakit apa?" terlihat raut kekhawatiran di wajah pria itu mengetahui Senja nya berada di rumah sakit. Daniel sangat khawatir jika gadis yang dia cintai selama dua tahun ini sakit. ya, meskipun cintanya tidak akan terbalas.
'andai kak Langit yang mengkhawatirkan ku seperti ini,aku pasti akan senang' monolog Senja dalam hati.
"Nja." panggil Daniel, membuyarkan lamunan gadis itu. Daniel melangkah mendekati Senja.
"Jangan mendekat!" teriak Senja, menghentikan langkah Daniel. pria itu menjadi bingung juga malu karena dilihat oleh orang orang yang mendengar teriakan Senja.
"S... sorry." Sesal gadis itu. "gue nggak bermaksud..."
"Senja ada apa?" ucapan Senja terpotong dengan kedatangan Alya yang terlihat khawatir karena mendengar teriakan sahabatnya.
Alya menoleh menatap pria yang berdiri dihadapan sahabatnya itu. "lo ngapain ada disini Niel?" tanya Alya, membuat atensi Daniel yang dari tadi menatap bingung pada Senja kini beralih kearah Alya.
"lah ini kan rumah sakit kakek gue, ya wajar dong gue ke sini." jelas Daniel."kalian sendiri ngapain di sini? siapa yang sakit? Senja ya? Sakit apa?" Daniel memberikan pertanyaan beruntun pada Alya tapi Netra nya sudah kembali menatap kearah Senja yang kini berada di dekapan Alya.
"nggak ada yang sakit, kita cuma cek kesehatan aja." jelas Alya, tentu saja berbohong. ia sudah berjanji pada Senja untuk merahasiakan kondisi gadis itu. bahkan orangtua Alya turut membantu Senja untuk membungkam dokter psikolog yang menangani Senja agar tidak mengatakan pada siapapun tentang pasiennya satu ini. Ya, memang sedekat itu keluarga Alya pada Senja.
Setelah mendengar penjelasan dari Alya, Daniel ber oh ria saja. ia merasa lega karena gadis pujaannya tidak sakit apa apa.
"Al, ayo pulang, gue capek." gumam Senja yang masih berada di pelukan Alya. gadis itu sangat takut jika Daniel mendekatinya lagi.
Alya mengangguk lalu membawa Senja menjauh dari Daniel dan berjalan keluar dari rumah sakit itu.
Daniel menatap sendu punggung gadis pujaannya. "gue akan tetap menunggu lo sampai lo mau terima gue Senja." gumamnya, lirih.
__ADS_1
...****************...
"mau langsung pulang atau kemana dulu Nja?" tanya Alya yang sedang mengemudikan mobilnya. ia melirik Senja yang duduk disampingnya, gadis itu terlihat melamun.
Senja menoleh kearah Alya yang bertanya padanya. "ke apartemen lo aja ya, gue pengen sendiri dulu." pinta Senja. Alya mengangguk, ia sangat tau kondisi sahabatnya ini.
"lo mau hubungi siapa? suami lo?" melihat Senja mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, membuat Alya menjadi kepo dan akhirnya bertanya.
Senja menggeleng "Hubungi Mbak Siska, mau kasih tau kalau gue nggak pulang malam ini. takut aja mbak Siska atau Bik Sumi nungguin gue." jelas Senja, dengan jari jemarinya yang dengan lincah mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya. setelah selesai dan tanpa menunggu balasan, gadis itu kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.
"terus nanti kalau mbak Siska ngasih tau ke suami lo gimana?" tanya Alya, gadis itu khawatir kalau trauma sahabatnya kambuh lagi jika bertemu dengan Langit.
"gue...."
Drrrrttt drrrrttt drrrrttt
ucapan Senja terpotong karena ponsel dalam tasnya bergetar.
"Nona kenapa tidak pulang? apa Tuan muda mengusir Nona?" Tanya Siska dari seberang telepon. Senja terkekeh mendengar pertanyaan beruntun Siska yang menurutnya sangat berlebihan.
"Nggak Mbak, Senja cuma semalam aja menginap di rumah teman Senja."
"terus nanti kalau Tuan muda menanyakan Nona bagaimana."
"bilang aja kalau Senja nginap di rumah teman buat belajar bersama buat ujian besok." jawab Senja, membuat Siska yang berada di sebrang telepon mengangguk yang jelas jelas tidak akan bisa Senja lihat.
"ya sudah kalau begitu Nona hati hati ya, kalau ada apa apa langsung kabari Saya atau Bik Sumi."
"Iya Mbak." jawab Senja kemudian mengakhiri panggilannya.
"siapa?" Tanya Alya setelah sambungan telepon Senja dengan orang yang menelponnya terputus.
"Mbak Siska." jawab Senja.
__ADS_1
"nanyain lo?" Senja hanya mengangguk. "bukannya tadi lo udah chat Mbak Siska?" tanya Alya lagi.
"kayaknya belum selesai bacanya udah keburu parno deh." tebak Senja, yang memang benar apa yang terjadi pada Siska tadi. Senja tertawa kecil ketika ia mengingat kelakuan Siska jika gadis itu mengirim chat yang lumayan panjang. melihat tawa Sahabatnya yang terlihat tulus, membuat Alya menyunggingkan bibirnya. gadis itu sangat bersyukur melihat sahabatnya masih bisa tertawa meskipun sangat jarang akhir akhir ini.
"kita udah sampai." celetuk Alya membuat Senja yang sejak tadi tertawa menghentikan tawanya dan melihat keluar jendela mobil. gadis itu mengangguk lalu keluar dari mobil dan diikuti oleh Alya.
sesampainya didalam apartemen, dua gadis remaja itu langsung mendudukkan bokongnya di atas sofa panjang.
"huuhh lelah juga ya." gumam Alya yang masih bisa didengar oleh Senja yang duduk di sebelahnya.
"he'eh" jawab Senja, di barengi dengan anggukan kepalanya.
...****************...
Ceklek
seorang pria membuka pintu bercat pink, ia lalu melihat ke dalam kamar yang terlihat kosong.
"kemana dia malam malam begini?" tanyanya pada dirinya sendiri. pria itu kembali menutup pintunya pelan, ia lalu berjalan menuju kekamarnya yang berada tepat di sebelahnya. pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya. ia menatap langit langit kamarnya. tiba tiba pikirannya tertuju pada seorang gadis yang selama ini ia benci dan dia anggap tidak pernah ada dalam hidupnya.
"Arrggghhh, kenapa tiba tiba gue mikirin bocah ingusan itu sih." Langit mengacak rambutnya karena merasa frustasi. pria itu lalu bangkit dari tidurannya lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya juga mendinginkan pikirannya yang terasa sangat panas.
setelah selesai mandi, pria itu mendudukkan dirinya di atas sofa, ia lalu membuka laptopnya untuk melihat email yang masuk.
di tengah pekerjaannya, Langit tiba tiba melihat kearah sofa yang didudukinya. ia teringat pada Senja yang setiap malam tidur di sofa itu.
"kenapa dia tidak mau kembali kekamar ini? apa dia lelah tidur di sofa setiap malam? apa tubuh nya terasa sakit?" tanya Langit yang tidak akan pernah mendapatkan jawabannya.
Langit mematikan laptopnya lalu meletakkannya di atas meja. Dia kemudian membaringkan dirinya di atas sofa itu. matanya tertutup secara perlahan.
***Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...
__ADS_1