Langit Senja

Langit Senja
Tak Ada Maaf Untuk Pengkhianatan


__ADS_3

"Inggrid!" seru kedua wanita yang seketika saling pandang itu.


Tak membutuhkan waktu banyak. Karena mereka masih mengingat kapan tanggal dan jam ketika mereka rapat.


Inggrid bahkan diam-diam masuk kedalam kantor dan menggunakan komputer Jingga untuk menguploadnya dimalam harinya.


Bagaimana Inggrid tahu sandi komputer dan sosial media? karena dia yang menuliskan di buku agenda untuk Jingga saat itu.


"Dari awal tuh gue udah curiga sama tuh anak!" seru Jingga geram. Karena nama baiknya hampir saja ternoda karena ulah dan perbuatan orang lain. Padahal ia sudah sangat berhati-hati dalam bekerja agar tidak dianggap main-main oleh keluarganya.


"Tapi dilihat dari karakternya, Inggrid bukan orang kayak gitu kok." Senja masih tidak percaya orang kepercayaannya lah yang menusuknya dari belakang seperti ini. Karena ia sangat mempercayai Inggrid sejak mereka pertama kali kenal.


"Bukan gitu! Karakter dia emang baik. Tapi lo inget pas gue tanya-tanya tentang Inggrid dan lo malah nuduh gue belok?"


Senja mengangguk sebagai jawaban. Hari dimana suaminya datang setelah dari luar kota.


Mata Senja tak lepas dari layar komputer dimana ada Inggrid didalamnya.


"Saat itu juga gue mikir kalau dia tuh terlalu banyak kelemahan buat bisa diancem atau dibujuk sama orang lain. Sedangkan posisi dia disini tuh orang kepercayaan lo. So.. siapa yang nggak bakal manfaatin dia?"


Senja menghela napasnya. Ia bingung apa yang harus dilakukan. Apa yang dikatakan Jingga benar. Tapi dia ragu untuk memecat Inggrid karena asistennya itu tulang punggung dalam keluarga.


Inggrid memiliki dua adik yang masih duduk di bangku menengah pertama dan satu lagi harusnya masuk perguruan tinggi tahun ini.


Sedangkan ibunya hanya seorang janda yang berjualan kue basah mengisi warung-warung yang penghasilannya tak seberapa.


Senja bahkan ragu penghasilan ibu Inggrid mampu mencukupi makan mereka sehari-hari jika ia membuat Inggrid menjadi pengangguran.


Jingga mengusap bahu Senja yang tengah menunduk. Ia tahu bagaimana bimbangnya perasaan adik iparnya itu.


"Lo maunya gimana sekarang?" tanya Jingga pelan setelah lama membiarkan Senja larut dalam kemelut hatinya.


"Panggilin dia deh." jawab Senja yang lebih seperti bisikan.

__ADS_1


Jingga mengangkat gagang telepon yang ada diatas meja kerja Senja yang langsung terhubung dengan meja Inggrid. Meminta gadis itu untuk masuk.


"Duduk Nggrid." pinta Jingga langsung ketika Inggrid masuk kedalam ruangan. Karena Senja hanya diam saja.


Wajah Inggrid masih terlihat biasa saja. Mungkin karena belum tahu apa yang dia lakukan sudah terbongkar.


"Ja?" Jingga menyenggol bahu Senja yang sedari tadi hanya menatap Ingrid tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Saya percaya kamu orang baik, Nggrid. Bahkan sampai detik ini pun saya masih anggap kamu orang baik." ucap Senja langsung pada intinya.


Inggrid mengerutkan dahinya bingung. Tapi dari kedua alisnya yang mulai mengendur, sepertinya gadis itu sudah mulai bisa meraba apa yang tengah terjadi.


"Tidak apa kalau saya yang rugi." jeda Senja. "Tapi bagaimana tim desain kecewa, apa kamu tidak merasa bersalah?"


Inggrid menunduk dengan gemetar. Ia sudah tahu konsekuensinya. Tapi ia memiliki alasan kenapa berani melakukannya.


"Ma-maaf. Kak." ucap Inggrid dengan terbata. Matanya juga berkaca melihat kekecewaan atasan yang sudah begitu mempercayaiinya. Atasan yang sudah ia tusuk hingga babak belur.


"Kamu tidak perlu meminta maaf kepada saya. Karena saya tidak dirugikan apa pun setelah rapat tadi selesai." Senja menakutkan kedua tangannya diatas meja. "Tapi kamu harus meminta maaf pada tim desain yang sudah membuang waktu mereka untuk membuat desain yang kamu curi."


"Dan saya mau tahu alasannya!" tegas Senja. Hal yang sudah sangat ingin ia ketahui sejak ia melihat Inggrid sebagai pelaku kekacauan yang ada.


Inggrid bercerita dengan terbata. Seperti yang sudah Jingga duga. Inggrid terlalu mudah untuk dibujuk. Karena dia memiliki kelemahan.


Ditawari posisi lebih tinggi dengan gaji tiga kali lipat disaat ia membutuhkan biaya untuk adiknya masuk perguruan tinggi, Inggrid tergiur.


Meski hati nuraninya tak sejalan. Tapi kebutuhannya lebih mendesak.


Inggrid bahkan dibayar langsung detik itu juga ketika ia mengupload foto dan mengirimkannya pada saingan bisnis atasannya.


Apa yang ia upload hanya sebagai kamuflase agar perbuatannya tidak mudah diketahui. Dan kliennya tidak terkena masalah atas desain yang ia kirim langsung dalam bentuk gambar berbeda.


"Kamu tahu Inggrid? Mereka tidak akan benar-benar merekrut kamu sebagai karyawan mereka." ucap Senja setelah Inggrid selesai bercerita yang diwarnai dengan uraian air mata.

__ADS_1


"Kalau kamu saja sangat mudah untuk berkhianat disini. Bukan hal yang tidak mungkin untuk kamu melakukan hal yang sama dikemudian hari. Dan mereka tidak akan mengambil resiko itu."


"Ma-maaf kak.. Saya tidak berpikir panjang. Saya hanya sedang bingung saat itu."


"Kamu bisa minta bantuan kami!" sela Jingga. Apa gunanya mereka sebagai atasan jika tidak bisa membantu bawahan mereka yang tengah kesusahan.


"Ma-maaf kak." hanya kata itu yang kembali Inggrid ucapkan. Karena apa yang sudah ia lakukan memang salah. Dan ia tidak akan melakukan pembelaan apa pun untuk hal itu.


"Jangan biarkan diri kamu untuk mudah dimanfaatkan kalau kamu masih mau bekerja disini."


Inggrid mendongak. Menatap Senja dengan rasa terimakasih yang bahkan tak sanggup ia katakan. Ia malu. Sungguh malu.


Senja masih mau berbaik hati tidak memecatnya setelah ia khianati sebegitunya.


"Karena saya tidak akan memberi kesempatan untuk ketiga kalinya."


Kali ini Inggrid memutari meja dan benar-benar berlutut didepan Senja. Berterimakasih dengan sangat pada atasan yang langsung membawanya berdiri.


"Tapi saya tidak akan membantu bagaimana tim desain memperlakukan kamu. Karena itu hak mereka."


Inggrid mengangguk paham. Ia yakin tidak akan dengan mudah mendapatkan maaf dari teman-temannya. Tapi ia berjanji akan memperbaiki segalanya.


"Dan tunjukan rasa bersalah kamu dengan bekerja lebih baik lagi."


"Jangan sampai kamu mengkhianati atasan sebaik ini dua kali, Inggrid! kalau atasannya gue, udah gue pecat lo!" Jingga menimpali. "Nggak ada kata maaf untuk sebuah pengkhianatan!"


Setelahnya, Inggrid pamit untuk meminta maaf pada yang lainnya.


Hal yang ia takuti adalah membuat ibunya susah. Ia bahkan sudah bekerja paruh waktu sejak duduk di bangku menengah atas untuk meringankan beban ibunya yang saat itu ayahnya baru saja meninggal dunia dan meninggalkan banyak hutang yang harus mereka lunasi.


Membuat mereka harus mengikhlaskan rumah satu-satunya yang mereka miliki untuk dijual dan setelahnya tinggal di rumah kontrakan di gang sempit yang sebelumnya tak pernah Inggrid bayangkan, hingga saat ini.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2