Langit Senja

Langit Senja
Back to Jakarta


__ADS_3

Derap langkah kaki beradu dengan lantai bandara yang luas. Didepan pintu kedatangan terlihat seorang wanita dan gadis kecil melambai-lambai ditengah puluhan orang lainnya yang juga tengah menunggu kedatangan seseorang.


Senja sudah akan berlari menghampiri mereka. Menumpahkan kerinduan pada kakak ipar dan keponakannya itu. Namun sebuah tangan besar mencekal lengannya. Mencegahnya melakukan niatannya.


"Ingat lagi hamil, nggak usah lari-lari!" suaminya mengingatkan. Dalam gendongan pria itu, baby Anna tengah terlelap.


Senja merenges dan mengusap perutnya. Kembali berjalan bersisian dengan suami dan orang tuanya.


Seminggu yang lalu ia baru saja melangsungkan wisuda. Dan setelah segala sesuatu tentang pendidikannya selesai di urus, mereka kembali ke tanah air bersama-sama. Meninggalkan teman-teman yang sudah menemaninya selama di NY. Teman yang melepasnya dengan tangis dan kesedihan.


"Aku janji akan mengunjungi kalian lagi nanti. Dan jangan sampai lupa untuk memberiku kabar jika ada dari kalian yang mengganti nomer ponsel agar komunikasi kita terus terjaga." pesannya saat mereka berpisah di NY.


Mengenal mereka selama kurang lebih empat tahun membuat mereka cukup berarti. Dan berpisah dari mereka juga meninggalkan kesedihan tersendiri bagi Senja. Terutama Maureen dan keluarganya yang sudah seperti keluarga sendiri di negeri orang.


Tapi rasa bahagianya bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik dan kembali ke tanah air lebih besar dari rasa sedihnya. Kembali ke dalam peluk hangat keluarga adalah hal yang sudah ia rindukan sejak lama.


"Anna.. Anna.. Annaa.." seru Jingga begitu jarak mereka tinggal beberapa meter. Membuat gadis kecil yang merasa terpanggil berjingkat kaget dari tidurnya.


Beruntung baby Anna bukan tipe bayi yang gampang menangis. Bayi gembul berusia delapan bulan itu hanya menguap dan mengerjap. Menatap sekeliling dengan bingung.


"Mentang-mentang udah ada Anna, gue dilupain!" gerutu Senja. "Lagian tambah tua tambah berisik, yee?"


Jingga tergelak. Memang benar, dulu ia pendiam. Justru setelah menikah ia lebih banyak bicara dan lebih ceria. Mungkin kehangatan keluarga barunya juga kebahagiaan yang suaminya berikan, membuatnya bisa seceria saat ini.


"Karena gue bahagia, Ja." ucapnya dengan binar mata yang semakin menegaskan kebahagiaannya. "Lebih-lebih dengan ini, nih."


Senja tertegun melihat sahabat sekaligus kakak iparnya mengusap perut datarnya. "E-lo.. hamil juga?" matanya berkedip tak percaya. Tak lama kemudian ia langsung memeluk Jingga dengan bahagia yang begitu ketara. "Gak nyangka bakal hamil barengan... Seneng deh, Ngga."


Farri yang ada disamping sang istri tersenyum melihat tingkah keduanya. Bergantian, ia usap kepala adik dan istrinya.

__ADS_1


"Beneran, Jingga hamil, bang?" Tiara ikut tak percaya campur senang mendengarnya. Tak sampai dua minggu ia dan suaminya pergi, kabar bahagia lain sudah menyambut kepulangan mereka.


"Iya, mah. Dua hari lalu Jingga pingsan, pas dibawa ke dokter ternyata lagi hamil 10 minggu."


Tiara memeluk putranya haru. "Mama seneng dengernya, bang. Mama otw nenek lima cucu nih." ucapnya disusul tawa yang lain.


"Aku kan nggak mau kalah sama Senja, mah. Masa dia yang baru nikah udah mau dua anak, aku masih satu aja." Jingga berbalik ikut memeluk ibu mertua yang masih memeluk suaminya.


Mereka melanjutkan obrolan di sebuah restoran dimana Vindra sudah menunggu. Makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan Senja dalam pendidikan dan merayakan kabar kehamilan Jingga.


***


Setelah satu minggu menikmati kebersamaan dengan keluarga, Baskara diminta untuk datang ke perusahaan milik keluarga. Untuk diperkenalkan sebagai penerus perusahaan.


Sedang Senja ingin menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Mengurus suami dan anak-anak. Memberi perhatian lebih pada Anna dan janin dalam kandungan. Sebelum nanti siap untuk melanjutkan mimpi.


"Langsung jadi CEO, mas?" tanya Senja yang membantu suaminya bersiap di pagi hari.


Ayah dari Grace adalah orang yang dipercaya menjalankan perusahaan setelah kakek Baskara meninggal. Tentunya tetap di dampingi orang-orang kepercayaan mendiang kakek Lazuardi.


"Terus kamu jadi apa?"


"Wakilnya. Belajar sampai bener-bener bisa dulu."


Sebenarnya Baskara ingin mendirikan usaha rintisannya sendiri. Memulai semua dari nol dengan usahanya sendiri seperti ayah mertuanya.


Tapi selain Oma melarang keras, karena ayahnya dulu juga tak mau mewarisi perusahaan. Baskara juga tidak memiliki keahlian untuk mengumpulkan modal sendiri. Berbeda dengan ayah mertuanya yang sudah terencana sejak awal.


Bekerja diperusahaan orang lain pun tak mungkin. Bisa-bisa ia dan Oma konflik lagi. Sudah cukup konflik sebelumnya yang membuat hubungan mereka merenggang. Jangan sampai ada konflik selanjutnya. Terlebih hubungan Oma dengan Senja tengah hangat-hangatnya.

__ADS_1


"Nanti makan siang ke kantor ya? kita makan siang bareng."


Senja mengangguk. "Tapi aku lagi pengen makan ayam taliwang sama iga rawon yang di Menteng itu lho mas."


Sebenarnya Baskara paling malas keluar di jam makan siang yang bisa dipastikan jalanan pasti macet. Tapi demi istrinya, apa boleh buat. "Oke. Nanti kita ke sana. Anna mau diajakin juga?"


"Enggak ah. Kasihan." ujarnya. "Biar dia dirumah aja sama susternya Sisi. Kan pengen we time berdua kamu, mas." ucapnya manja dengan memeluk lengan sang suami dan menyandarkan kepalanya disana.


Baskara terkekeh dan mencium dahi istrinya. "Siap baginda ratu. Apapun yang baginda inginkan, akan hampa usahakan."


Jika dipikir-pikir, setelah ada baby Anna, mereka memang tidak pernah memiliki waktu berdua. Jadi tidak ada salahnya untuk pergi berdua untuk memperkuat ikatan batin mereka.


"Atau mau babymoon sekalian? kan kita belum sempat honeymoon dulu." tawarnya.


Senja memikirkannya beberapa saat. "Nanti deh kalau hamilnya udah gedean dikit. Aku mau puas-puasin dulu main sama baby Anna."


Baskara mengangguk setuju. Ia hanya ingin membuat bahagia istrinya. Jadi kapan saja istrinya mau, tak jadi masalah.


Setelah menikah, prioritasnya bukan lagi kebahagiaan diri sendiri. Tapi kebahagiaan dia, orang yang ia pinang. Dia yang ia bawa masuk dalam kehidupannya. Dan kini bertambah dengan kebahagiaan buah cinta mereka.


Asal anak istrinya bahagia, sudah cukup membuatnya bahagia. Karena pada dasarnya ia tidak memiliki kehidupan sosial lain diluar rumah.


Sejak kecil hingga sekolah menengah atas, temannya hanya Senja dan Jingga. Kuliah pun ia tak benar-benar dekat dengan teman-temannya. Hingga ia menikah dengan Senja, dunianya hanya seputar gadis itu. Dunianya adalah Senja, jadi selama wanitanya bahagia, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya juga bahagia.


Kini saatnya ia berjuang untuk masa depan mereka. Berjuang berdiri diatas kaki sendiri. Tak lagi terus menerus mengharapkan sokongan dana dari orang tua untuk kelangsungan kas rumah tangga.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2