Langit Senja

Langit Senja
Ekstra Part 2


__ADS_3

Semakin hari, Senja semakin tidak berselera makan. Kehamilannya kali ini terasa berbeda dengan kehamilan anak pertama dan keduanya.


Tumbuhnya sangat lemah ketika pagi hari. Kepala yang seperti dihantam godam dengan perut yang terasa mual dan selalu berhasil membuatnya puluhan menit dikamar mandi untuk mengeluarkan isi didalamnya hingga tak bersisa.


Kebiasaannya membantu anak-anak unuk bersiap berangkat sekolah dan belajar pun kini ia limpahkan pada pengasuh mereka. Tapi untuk sarapan, Senja selalu berusaha untuk ikut bergabung meski ia tidak berselera memakan apa pun. Senja hanya tidak ingin anak-anaknya bersedih dan merasa terabaikan.


Senja dan Baskara bahkan belum menemukan cara untuk memberitahu kabar kehamilan kepada kedua buah hati mereka. Hanya kepada orang tua dan meminta mereka bekerjasama merahasiakan berita itu dari anak-anak hingga mereka menemukan cara dan waktu yang tepat.


"Minum ini sayang." Baskara menyerahkan segelas air jahe hangat pada sang istri. Juga sepotong croisant dan madu.


"Kerumah sakit aja sayang. Biar bisa diperiksa keseluruhan." ucap Pricilla yang tidak tega melihat wajah pucat Senja yang semakin hari semakin terlihat kurus.


"Niatnya besok kalau weekend, bun. Nunggu aku libur." Baskara yang menjawab. Memberikan potongan roti yang sama untuk kedua anak-anaknya.


"Kalau bisa hari ini, Bas. Biar jelas kondisinya." desak Pricilla yang tidak suka putranya menunda-nunda hal penting.


"Iya, nanti Bas usahakan, bun." sahut Baskara.


Senja hanya sempat memeriksakan kandungan pada kakak iparnya-Fani. Karena saat itu ia dikejar deadline gaun pernikahan. Begitu juga sang suami yang tengah sibuk dengan sebuah proyek. Membuat mereka belum sempat pergi kerumah sakit untuk memeriksakan kandungannya secara menyeluruh.


"Mommy kok sakit terus?" Anna bertanya dengan sedih.


"Maaf sayang.. Sementara Anna sama suster dulu ya?" ucapnya lembut membelai pipi putrinya. "Nanti kalau mommy sudah sembuh, mommy lagi yang bantu kakak bersiap."


Gadis kelas dua sekolah dasar itu menggeleng. "Anna sudah besar, mom. Anna bisa kok siapin keperluan sekolah sendiri. Tapi Anna sedih melihat mommy sakit lama. Anna takut.." cicitnya diakhiri.

__ADS_1


Senja tahu Anna masih takut dengan rasa kehilangan. Seperti yang mereka semua rasakan beberapa bulan yang lalu ketika mommy Shevi-nenek Senja-pergi untuk menghadap sang pencipta. Setelah sebelumnya Oma Baskara juga lebih dulu pergi dengan jarak yang berdekatan. Terdampak pandemi yang terjadi saat itu. Membuat mereka sangat terpukul untuk waktu yang lama.


Anna pasti merasakan ketakutan yang sama ketika setiap hari melihat Senja dalam keadaan tidak sehat. Ketika rasa kehilangan itu masih menghantui mereka.


"Mommy tidak apa-apa sayang.. Mommy hanya tidak enak badan."


"Mommy harus sehat." ucap Anna dengan mata yang berkaca-kaca. Mendekat dan memeluk Senja.


"Hmm pasti. Kakak doain biar mommy sehat ya?" dibalas anggukan dari Anna.


Diseberang meja, Kai menatap dalam. Hanya pemuda kecil itu yang tahu apa yang ada dalam pikirannya.


"Ayo kita berangkat!" interupsi Baskara yang bertugas mengantar anak-anak mereka kesekolah. "Kamu istirahat aja dikamar sayang. Nanti siang kalau jadwal aku bisa digeser, kita kerumah sakit."


"Apa ini sayang?" tanya Senja begitu Kai mengambil banyak permen rasa mint dari dalam tas dan menaruh pada telapak tangannya.


"Untuk mommy.." jawab Kai. Yang membuat Senja mematung adalah tangan kecil Kai yang menyentuh perutnya sebelum pergi.


***


Sore hari, Senja baru dijemput sang suami untuk pergi kerumah sakit, memeriksakan kandungannya secara menyeluruh.


Meeting dengan klien tidak dapat diundur. Karena Sore hari, klien Baskara itu melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dan baru akan kembali dua minggu kemudian.


Dirumah sakit mereka sudah ditunggu Fani. Mereka melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap seperti USG. Dimana Senja belum melakukannya, karena Fani tidak bisa membawa alat USG dari rumah sakit maupun klinik pribadinya.

__ADS_1


"Wahh pantas saja gejala kehamilan yang kamu alami lebih parah dari kehamilan sebelumnya." ucap Fani dengan mata berbinar menatap hasil tangkapan dilayar. Begitu juga dengan Senja dan Baskara yang sama-sama bisa melihat dua bulatan kecil dalam layar. "Ternyata bukan abang Farri dan Vindra, tapi kamu yang nurunin dapat anak kembar."


Mungkin ini bukan kehamilan pertama bagi Senja. Tapi perasaan pasangan suami istri itu masih sama seperti saat pertama kali Senja hamil. Sensasi mendebarkan, buncahan rasa bahagia dan antusiasmenya masih sama besarnya.


Fani sebagai dokter kandungan Senja memberikan beberapa tips yang mungkin sudah Senja dan Baskara tahu. Tapi ia sebagai dokter tetap harus mengingatkan mana yang boleh dan tidak boleh. Makanan dan minuman apa yang baik bagi ibu hamil dan porsinya.


"Sampai kandungan Senja kuat, kamu tahan diri dulu ya, Bas. Biar aman aja. Tapi kalau sudah tidak tahan, boleh lah. Yang penting pelan-pelan agar tidak membahayakan ibu dan janin."


Wajah Senja maupun Baskara sama-sama memerah. "Lagian mana tega sih, kak. Kalau Senjanya lemah begini." ucap Baskara dengan mengusap tengkuk dan menunjukan deretan giginya. Padahal beberapa hari yang lalu mereka melakukannya. Tapi Baskara masih sadar untuk berhati-hati.


"Nanti kakak berikan resep suplemen yang bisa kamu tebus. Sekalian pengurang rasa mual kalau memang sudah tidak tahan."


Keduanya sama-sama mengangguk dan pamit pulang dengan rasa bahagia yang mereka bawa. "Mau mampir kemana dulu, ayy? anak-anak daddy pengin apa?"


Tubuh Senja memang lebih sehat saat siang hingga malam hari. Hanya pagi hari saja tubuhnya terasa lemah. Tapi untuk makan, ia masih belum begitu bernafsu. Masih sering terasa mual jika mencium aroma tertentu.


"Pulang aja kayaknya mas. Tapi nggak tau kalau nanti dijalan lihat sesuatu."


Baskara menurut saja. Karena kata Fani, baik hormon dan rasa lelah akan dua kali lipat lebih besar dirasakan Senja yang tengah mengandung anak kembar. Jadi Baskara tidak ingin mengambil resiko dengan membuat istrinya kelelahan.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2