
Senja menolak keras permintaan ayahnya untuk cuti kuliah. Sebelum pernikahannya terjadi, ia ingin kuliahnya selesai tepat waktu. Jadi ia tidak mungkin menunda kuliahnya.
Lagi pula ia yakin anaknya adalah anak yang kuat. Buktinya dia tetap tumbuh dengan baik meski hampir tiga bulan ini ia bawa kuliah yang bahkan sering pulang malam.
Ia janji akan lebih berhati-hati lagi. Agar kuliah dan kehamilannya bisa berjalan beriringan dengan baik.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau cuti." ujar Alvaro pasrah. "Tapi janji sama papa, kalau kamu harus rajin kontrol ke dokter. Dan jangan sampai terjadi hal yang buruk pada kamu atau calon cucu papa."
Senja mengangguk senang. "Senja janji pah. Senja pasti bisa kok."
Alvaro balas tersenyum dan mengusap kepala anaknya. Hingga ia baru menyadari keberadaan Oma didalam rumah itu ketika pandangan mereka bertemu.
"Nyonya mau apa disini?" kelembutan yang tadi Alvaro tunjukan pada putrinya sirna. Berganti dengan tatapan dan nada suara yang dingin.
Oma juga terlihat malu dan bingung akan menjawab apa. Ia sadar telah membuat kesalahan dan kesan yang buruk untuk keluarga cucunya itu.
"Pah?" Tiara memegang bahu suaminya. Merasa tidak enak hati pada menantu mereka jika mereka berlaku tak sopan pada Oma.
Tapi Alvaro sepertinya tidak mendengar suara istrinya. Tatapannya semakin tajam pada wanita tua itu.
"Bukankah anda sudah membuang putri saya dan berencana menggantikan dia dengan perempuan lain? lalu untuk apa anda datang kemari?" meski nada bicara Alvaro terbilang cukup rendah. Namun tidak mengurangi ketegasan yang cukup mengintimidasi Oma.
"Pah. Oma udah minta maaf kok sama adek tadi." sela Senja tidak ingin ada keributan lagi diantara mereka.
"Sekalipun kamu sudah memaafkan, tapi tidak dengan papa." dengus Alvaro. "Papa besarkan kamu dengan penuh kasih sayang. Tapi bahkan papa lihat kamu direndahkan didepan mata kepala papa sendiri."
Suasana terasa semakin menegang. Alvaro bahkan tidak mengindahkan istrinya yang berulang kali coba memperingatinya.
Dan Oma tidak dapat melakukan sanggahan apa pun karena mengakui kesalahannya.
"Memangnya siapa dia, bisa berbuat seperti itu sama kamu?!" tatapan Alvaro tidak lepas dari Oma yang tidak terlihat takut namun tetap diam.
"Kamu yang dihina. Kamu yang direndahkan dan dicemooh. Tapi papa yang sakit, dek! papa yang lebih terluka karena merasa gagal memilihkan keluarga baru untuk kamu!"
Baskara menegang. Karena dengan kata lain ayah mertuanya menyesal menikahkan Senja dengannya karena Oma bagian dari keluarganya.
__ADS_1
"Jika bukan karena Bas yang teguh pada pendiriannya untuk menolak menikah lagi. Papa nggak akan membiarkan kamu kembali ke keluarga itu lagi!"
Meskipun Senja juga merasa tersakiti. Tapi melihat Oma yang kini menunduk dengan wajah mendung, membuatnya tidak tega juga.
"Udah dong pah. Niat Oma kesini baik kok." ia peluk ayahnya agar tidak semakin emosi. "Oma datang buat minta maaf sama nganterin itu tuh." tunjuk Senja pada beranekan barang dan makanan yang Oma belikan untuknya.
"Kamu pikir papa nggak mampu belikan itu semua buat kamu?" sentak Alvaro membuat Senja sedikit kaget. Karena pria itu biasanya selalu berkata lembut padanya.
"Meskipun anda tidak membawakan itu semua. Saya pasti akan menjaga anak dan calon cucu saya dengan baik. Memberikan mereka makanan bergizi dan kenyamanan dirumah ini!"
Baskara juga merasa tidak tega melihat Omanya dimarahi seperti itu. Tapi ia tidak ingin membela. Anggap saja ini pelajaran untuk Oma.
"Maaf jika kehadiran saya dirumah ini membuat kalian tidak nyaman. Saya hanya terlalu antusias menyambut cicit saya."
Dengusan Alvaro kembali terdengar. Ia berlalu begitu saja membawa Senja yang masih memeluknya. Tidak ingin semakin emosi jika lebih lama lagi melihat Oma dalam rumahnya.
"Maafkan sikap suami saya. Dia hanya terlalu menyayangi putrinya. Jadi sedikit pendendam jika sudah menyangkut Senja."
Oma tersenyum pahit. Tapi ia juga bisa mengerti. "Saya paham. Kalau begitu saya permisi dulu."
Oma hanya tersenyum tipis dan berlalu masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh sopir pribadinya.
***
Makan malam semakin semarak dengan berkumpulnya kedua kakak Senja dan para istri dan anak mereka.
Farri dan Jingga yang sudah dua hari menginap di rumah orang tua Jingga yang hanya bersebelahan itu akhirnya kembali.
Begitu juga dengan Vindra yang sudah memiliki rumah sendiri, kini datang untuk menginap. Karena sejak adik kecilnya kembali, ia belum sempat menginap karena kesibukannya di rumah sakit.
Terlebih kabar kehamilan Senja semakin membuat mereka semangat untuk berkumpul.
"Nanti lahirannya di larang nangis ya, Ja. Malu sama status mantan cewek tomboy-nya." ledek Jingga yang duduk disebelahnya.
"Mana ada lahiran nggak nangis." cibir Senja.
__ADS_1
Meski ia belum pernah merasakan sendiri bagaimana rasanya melahirkan. Tapi ia percaya jika melahirkan itu sakit dan penuh perjuangan.
"Olahraga malamnya dikurang-kurangin Bas. Harus tahan godaan. Karena ibu hamil lebih menggoda." Farri tak mau kalah meledek pasangan yang sejak pertama menikah itu sudah sering jadi bahan ledekan mereka. Rasanya menggoda adik terkecil dalam rumah itu hal wajib bagi setiap kakak.
Baskara hanya meringis ngeri. Bayang-bayang harus berpuasa satu bulan saja sudah membuatnya ingin pingsan.
"Harusnya sih lebih bisa nahan diri. Kan udah puas setahun bebas hambatan." Vindra yang jarang berbicara ikut menimpali. Menambah keriuhan dimeja makan.
Alvaro tidak pernah melarang anak-anaknya berdiskusi, berbicara maupun bercanda ketika tengah makan. Asal tetap tahu batasan.
Lagi pula bercengkrama saat makan malam seperti itulah yang mempererat kedekatan mereka sejak dulu.
"Bener tuh. Nggak kaya kita yang baru nyoba berapa bulan udah harus nahan karena si istri yang lagi hamil nggak mau dideketin." Farri kembali mengimbuhi.
"Kalian tuh. Harusnya kasih saran yang benar dong sama adiknya. Kalian kan sudah lebih berpengalaman." Tiara menggeleng melihat tingkah anak-anaknya.
"Saran apa sih mamahku sayang... Biar berjalan natural aja. Nggak usah diajar-ajarin."
"Betul. Yang penting jaga adik kami baik-baik. Kemarin kamu selamat karena menolak untuk menikah lagi. Padahal aku udah siapin pisau bedah buat bunuh kamu."
Semua tergelak melihat wajah pucat Baskara.
Lagi pula apa-apaan Vindra. Mentang-mentang dokter bedah jadi bawa-bawa alat bedah.
Meskipun bisa saja untuk membunuh. Tapi dimana sisi seramnya jika yang digunakan pisau sekecil itu.
"Jangan dengarkan mereka, Bas." ucap Tiara lagi setelah menjewer telinga anak keduanya. Yang hanya dijawab senyum dan anggukan dari menantunya itu.
"Kamu musti lebih sabar aja. Biasanya wanita hamil itu lebih manja dan perasaannya lebih sensitif."
Baskara kembali mengangguk. Dan mereka kembali melanjutkan makan malam dengan candaan hangat.
*
*
__ADS_1
*