
Senja masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia tidak percaya jika dirinya hamil. Sesuatu yang sempat ia pupuskan harapannya mengingat pernikahan mereka yang sudah berjalan cukup lama.
Gadis itu masih terpaku ketika sang suami memeluknya dengan penuh rasa syukur. Mengucapkan kata selamat yang samar-samar ia dengar dibalik keterpakuannya.
"Dokter sepertinya salah." lirihnya. "Saya bahkan ingat belum lama sebelum pulang, saya dapat tamu bulanan."
Dokter Laila tersenyum mengerti. Bagi pemula seperti pasangan suami istri dihadapannya, ditambah kehamilan yang terbilang muda pasti belum menunjukan betuk pada perut gadis muda itu. Apa lagi adanya flek yang rutin terjadi.
"Flek itu bisa jadi karena kehamilan nona masih muda. Juga bisa karena nona terlalu lelah sehingga pendarahan ringan terjadi."
Baskara memucat mendengarnya."Pe-pendarahan dok?"
Dokter mengangguk dan kembali menjelaskan. "Melihat dari hasil lab, kondisi nona Senja semuanya terlihat baik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tapi untuk lebih jelasnya mengenai kondisi si calon bayi, sebaiknya langsung saja ke dokter obgyn."
Oma terlihat langsung berdiri membawa tasnya. Tangan kanannya meraih tangan Senja. "Ayo kita segera ke dokter kandungan. Oma ingin lihat cicit Oma apa dia baik-baik saja setelah pendarahan."
"Itu bukan suatu hal yang serius Oma. Calon cicit Oma baik-baik saja."
Oma tidak mengindahkan kata-kata dokter Laila. Jika belum mendengar sendiri dari yang lebih ahli dalam bidangnya, ia tetap akan masih penasaran.
Setelah mengucapkan terimakasih, mereka semua pamit untuk pindah ke unit pemeriksaan kandungan.
Mereka tidak perlu mendaftar lagi karena langsung mendapat rujukan dari dokter Laila tadi.
"Hai calon anak daddy?" bisik Baskara didepan perut Senja yang masih rata.
Senja tersenyum hangat membelai surai suaminya yang berada persis didepan perutnya.
Mereka tengah menunggu giliran. Baskara menolak untuk duduk dan memilih berjongkok dihadapan Senja, mengajak calon anak mereka berbicara.
"Kira-kira dia udah berapa bulan ya, ayy?" tanya Baskara antusias. Tadi mereka lupa menanyakan usia kandungan Senja pada dokter Laila.
Senja menggeleng masih dengan senyum tak percayanya. "Sebentar lagi kita akan tahu."
"Daddy mau lihat kamu nih sayang. Yang kuat ya didalam sana. Kita berjuang sama-sama. Setelah ini nggak boleh ada pendarahan lagi. Daddy janji akan jagain kamu dan mommy." Baskara bahkan sampai mengulurkan jari telunjuknya pada perut Senja untuk membuat janji dengan calon anak mereka.
Sudah sejak tadi Senja menahan air mata harunya dengan tak banyak berbicara. Tapi mendengar celotehan sang suami dengan janin dalam perutnya, membuatnya tak sanggup lagi membendung air mata.
Rasa bahagia yang tak disangka-sangka. Bahagia yang berkali lipat yang tak sanggup Senja utarakan seperti apa rasanya.
__ADS_1
Ia bahagia. Dan ia dapat melihat kebahagiaan yang sama di mata suami, mertua bahkan Oma yang biasanya selalu menatapnya tak suka.
Ribuan rasa terimakasih ia panjatkan pada Tuhan yang telah mendatangkan malaikat kecil sebagai penyelamat rumahtangganya. Penyelamat untuknya bisa mempertahankan dan memiliki Baskara seorang diri.
Mungkinkah ini balasan dari rasa sabarnya dalam menanti. Dihadirkan dihari dan waktu yang begitu tepat.
Tuhan memang tahu apa yang terbaik untuk kita. Tahu kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan doa yang kita panjatkan.
"Hei.. Kenapa nangis sayang?" suara lembut itu membuat Senja tertawa dalam tangisnya.
Ia lupa jika ada yang harus ia syukuri juga.
Kesetiaan sang suami. Keteguhan hati Baskara untuk tidak berpaling meski disodorkan wanita dihadapan. Wanita sehat yang kemungkinan untuk hamil besar.
Tapi suaminya lebih memlihnya. Percaya jika mereka juga bisa memiliki bayi sendiri tanpa adanya orang ketiga.
"Senang aja lihat kamu senang mas."
Sebuah tisu terulur, ketika Senja menengok, Oma yang menyerahkan tisu itu dengan senyum tipis yang terlihat canggung.
"Terimakasih, Oma."
Dokter kandungan yang bernama Airin menyambut mereka dengan ramah. Memperkenalkan diri dan melihat hasil dari dokter Laila sebelumnya.
"Namanya juga pasangan muda ya Oma, belum berpengalaman dan tidak sadar ada nyawa lain di antara mereka."
Lagi-lagi Om hanya tersenyum canggung. Ia bahagia, jelas. Ini yang ia inginkan sejak lama. Tapi ia juga malu dengan apa yang ia sudah ia lakukan pada cucu menantunya.
Senja diminta berbaring yang kemudian dioleskan gel diatas perutnya.
"Padahal ada tonjolan kecil lho, apa tidak ada yang sadar?"
Senja meringis. "Saya kira itu perut buncit karena saya tidak pernah olahraga dok."
Baik Senja maupun Baskara sebenarnya sadar akan tonjolan kecil pada perut Senja yang biasanya ramping cenderung kecil. Tapi tidak ada yang berpikir jika itu adalah perut wanita hamil.
Baskara bahkan sering meledeknya dengan perut buncit yang selalu membuatnya kesal dan tidak percaya diri.
Dokter dan kedua orang tua Baskara tertawa mendengar jawban Senja.
__ADS_1
"Hai baby.. Lihat, ada ayah dan bunda lho disini yang lagi jengukin kamu." ucap dokter ketika menemukan posisi yang pas untuk dapat melihat janin dalam kandungan Senja. Meski yang terlihat hanya tapak sampingnya saja.
"Waah sudah besar ternyata." ucap dokter antusias. "Baby-nya sudah sebesar lemon. Lihat, bentuknya sudah sempurnya. Tangan, kaki, kepala." terang dokter.
Senja dan Baskara terpukau melihat keajaiban lain dalam rahim Senja. Dimana anak mereka tengah mengisap ibu jarinya dengan kaki yang bergerak-gerak.
"Sekarang usiaku sudah 14 minggu lho ayah, bunda." ucap dokter dengan suara yang dimiripkan dengan anak kecil. "Nanti kalau usiaku sudah 18 minggu, kalian bisa merasakan tendanganku."
Air mata Senja tak mau berhenti. Baginya itu semua luar biasa.
"Baby juga sehat. Air ketubannya bagus. Berat dan tinggi babynya juga bagus."
Senja bersyukur suaminya selalu melarangnya makan makanan yang tidak sehat. Sehingga tidak ada makanan yang berbahaya untuk anak yang tak ia sadari keberadaannya. Membuat baby kecilnya sehat meski ia tak mengkonsumsi vitami sejak awal kehamilan.
"Apa selama hamil tidak ada keluhan atau tanda-tanda seperti mual, pusing atau yang lain?"
Senja menggeleng. "Mungkin jadi lebih sensitif aja dok. Itu juga tidak signifikan."
Dokter mengangguk. "Flek bisa banyak penyebabnya. Tapi melihat ibu dan baby-nya yang cukup sehat. Mungkin hanya kelelahan atau bisa jadi karena main kalian yang terlalu bersemangat." dokter terlihat mengulum senyum.
"Main? kami di NY nggak pernah bepergian dok. Kami sama-sama sibuk kuliah. Jadi nggak pernah main kemana-mana. Paling kalau weekend nonton atau makan di luar."jaeab Senja bingung.
Baskara menggaruk tengkuknya dengan senyum kikuk. "Maksud dokter bukan main itu sayang. Tapi main diatas ranjang." bisik Baskara yang langsung membuat wajah Senja memanas.
Dokter tertawa. "Tidak apa-apa. Saya paham. Saya juga pernah muda dan bersemangat seperti kalian."
Senja menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menggeleng malu.
"Seharusnya flek sudah tidak terjadi lagi setelah trisemester pertama berlalu. Tapi sebagai antisipasi, jangan main dulu ya untuk satu bulan kedepan. Nanti kalau sudah tidak lagi ada flek, kalian bebas bermain asal hati-hati."
"Dok?" ujar Baskara syok.
Sebulan?
*
*
*
__ADS_1