Langit Senja

Langit Senja
Permintaan Izin Jingga 2


__ADS_3

Senja terbatuk. Makanan yang berada dalam mulutnya tertelan begitu saja tanpa sempat ia kunyah. Ditepuknya dadanya yang terasa nyeri sebelum ia habiskan air dari gelas yang suaminya sodorkan.


"Nggak salah denger kan, bang?" ekspresinya tak percaya. Atau lebih tepatnya menyangsikan apa yang kakak sulungnya katakan.


Bukannya ia meremehkan Jingga. Tapi sepertinya akan merepotkan jika mereka bekerja ditempat yang sama. Karena ia mengenal seperti apa Jingga sejak mereka masih sama-sama belum tahu apa pun tentang dunia.


"Kasihan Jingga bosen dirumah, butuh teman main." jawab Farri acuh. Fokus menyuapi Sisi makan sedangkan si kecil menjadi tugas Jingga.


"Terus abang kira Senja penitipan buat


Jingga main!" cebiknya tak habis pikir dengan pasangan suami istri itu. "Senja tuh kerja abang... Bukan mau ngasuh istri abang itu. Tambahin aja uang bulanan nya biar main di mall."


Jingga yang mendapat lirikan dari adik ipar laknatnya ikut mencebik dan menekuk wajah cantiknya. "Pelit banget sih lo, Ja. Gue kan juga mau kerja."


"Kerja apaan?" Senja menaikan sebelah alisnya bertanya. "Emang lo mau gue tempatin jadi karyawan toko buat jual baju? atau di kantor jadi staf biasa? bagian keuangan mungkin? atau humas? marketing? mau yang mana?" tantang Senja. Ingin tahu seberapa serius sahabat sekaligus kakak iparnya itu berniat bekerja.


"Emang itu semua kerjanya ngapain?" tanya Jingga dengan binar antusias di bola matanya. "Kalau bisa, yang kerjanya jangan berat-berat deh Ja. Jangan nguras otak juga?" tawarnya dengan begitu polos dan percaya akan dituruti.


Semua yang ada dimeja makan tertawa mendengar penawaran Jingga. Sedangkan Senja dan Farri sudah menepuk dahi dan menggelengkan kepala.


"Model begini yang abang suruh kerja bareng Senja?" tatap Senja pada sang kakak yang merenges tak berdaya. Karena tak memiliki pilihan lain. Tidak mungkin ia membiarkan istrinya bekerja dengan orang lain yang bisa saja menyukai istrinya. Senja adalah pilihan tepat untuknya tak perlu khawatir akan ada yang menikung sang istri.


"Lo kira itu perusahaan nenek moyang lo! seenaknya aja nawar mau kerja yang nggak capek dan nggak pusing!" tatapan Senja beralih pada Jingga yang juga menatapnya.


"Kan emang perusahaan adik ipar tersayang.. Masa lo tega sama kakak ipar suruh kerja berat-berat."


"Gue aja yang punya, kerja siang malam sampe mimisan! lo baru mau gabung malah minta yang enak."


Belum apa-apa saja sudah seperti ini. Senja tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jadinya jika ia benar-benar membawa Jingga untuk bekerja dengan dirinya. Bisa-bisa tekanan darahnya naik setiap hari.

__ADS_1


Brand miliknya baru benar-benar berjalan setelah banyak dipromosikan. Outlet nya dibeberapa mall juga masih belum siap semua. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan. Terutama memenuhi kebutuhan baju yang dipesan melalui situs online yang ia buat khusus. Juga beberapa desain khusus pesanan pelanggan yang juga sudah dikejar deadline.


"Ayoolah Ja. Gue pengen kerja. Nggak papa deh jadi apa aja.. Asal lo ajarin dulu biar gue nggak kayak kambing conge."


"Gue nggak ada waktu buat ngajarin. Mending lo kuliah dulu sana! bisnis kek, marketing kek! entar kalau udah lulus, baru deh gue ajak kerja ditempat gue."


Jingga semakin mencebikan bibirnya. "Males kuliah gue.. Otak gue bisa ngebug kalau diisi banyak pelajaran lagi."


Senja tak bisa berkata-kata mendengar jawaban Jingga. Matanya berkedip cepat dan menatap kedua orang tuanya. "Mama sama papa nggak pengen ganti mantu apa? yang kayak kak Fani aja gitu, jangan yang begini." keluhnya pada kedua orang tuanya yang sedari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan keduanya.


"Enak aja! abang lo udah cinta mati sama gue! nggak bakal nyari ganti dia." sentak Jingga tak terima. "Iya kan abang?" beralih pada sang suami dengan senyum genitnya.


"Kalo bisa di tuker tambah sama Amanda Seyfried, dengan senang hati abang ganti." canda Farri membuat Senja menertawakan Jingga dengan puas.


"Abang!" serunya kesal. "Pokoknya seminggu nggak ada jatah!"


"Becanda abang nggak lucu!" sentak Jingga dengan membelakangi sang suami.


"Iih kata siapa? lucu kok." Senja semakin mengompori dan mendapat lirikan tajam dari dua sejoli itu.


"Terus lo mau kerja jadi apa?" Senja beralih ke topik sebelumnya. "For your information aja ya kakak iparku sayang.. Semua karyawan gue itu lulusan terbaik. Lo siap berdiri ditengah mereka tanpa bekal?"


Jingga yang sebelumnya sudah kembali terlihat antusias kini kembali meredup mempertimbangkan apa yang Senja ucapkan.


"Bukan gue nggak mau nerima lo kerja. Tapi kalau lo siap bekerja diantara mereka, gue nggak masalah. Asal lo jangan ngerepotin mereka."


"Benar kata Senja." sela Tiara. "Kalau kamu ingin bekerja, kamu harus bersungguh-sungguh. Bukan hari ini semangat kerja tapi cuma satu minggu sudah bosan. Apa lagi kalau lagi ada masalah sama kerjaan, jangan sampai kamu kabur dari tanggung jawab."


"Tuh denger!" ujar Senja. "Bukan karena lo punya ikatan sama gue terus lo bisa kerja seenaknya aja. Kasihan mereka yang udah kerja keras. Masuk dengan perjuangan. Jangan sampai mereka nganggap gue nggak profesional."

__ADS_1


Jingga mulai terlihat goyah. Bukan karena ia tidak sungguh-sungguh ingin bekerja. Tapi seperti kata Senja, ia takut merepotkan yang lain dengan ketidak tahuannya dengan dunia kerja.


Dan ia juga takut ini hanya karena ia tengah merasa bosan. Ia takut tak bertahan lama seperti apa yang mertuanya ucapkan. Ia takut tak mampu menangani masalah.


"Lo pikirin aja dulu. Kalau lo udah yakin, nanti gue siapin tempat buat lo kerja. Mau dibagian apa, terserah gue kan?"


Jingga mengangguk masih dengan ragu. Berbanding terbalik dengan Farri yang justru tersenyum lebar melihat keraguan dimata istrinya.


Farri sudah memprediksikan hal tersebut. Keluarganya memang bukan tipe gila kerja kecuali mendesak. Tapi mereka semua tetap menganggap serius suatu pekerjaan. Hal yang tidak bisa Jingga lakukan.


"Lagian ngapain kerja capek-capek. Mending dirumah aja. Kalau uang bulanan kurang tinggal minta."


"Kamu sendiri juga kerja!" sentil Baskara didahi sang istri yang menggerutu. "Emang uang bulanan yang aku kasih selama ini kurang, sampai kamu buka usaha sendiri?"


Senja meringis. Memeluk lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya disana. "Kamu janji lo nggak akan ngehalangin cita-cita aku." ia ingatkan suaminya.


"Hm.. Iya deh. Emang paling jago Senjanya Baskara kalau masalah ngeles."


*


*


*


Maaf gaes othornya menghilang satu minggu tanpa kabar.hihihi


Kali ini bukan karena kehabisan ide. Suer ✌


Kemarin habis pulang kampung lagi, nenek meninggal. Makanya nggak sempet update sama sekali 🙏

__ADS_1


__ADS_2