Langit Senja

Langit Senja
Tetap Barsyukur


__ADS_3

BASo jelek :


Morning sunshine ☺


Beberapa saat tidak ada balasan.


Dih dicuekin mulu 😢


Lo tau gak, Ja?


Aku sepi tanpamu. Eyaa 😂


Gue harap lo ketawa! 👿


Senja mendengus menahan tawa. Pagi-pagi Baskara sudah memberondongnya dengan pesan-pesan tidak jelas seperti biasa. Dan apa pula itu, ketawa kok maksa.


Sembari memakan serealnya. Senja mengetikan balasan. Kasihan juga jika sahabatnya itu ia abaikan terlalu lama.


Senja juga sudah menganggap kejadian waktu itu tidak pernah terjadi. Agar jantung dan hatinya juga aman tanpa rasa canggung ketika nanti mereka bertemu.


Dan untuk jawaban Baskara yang mengecewakan hatinya, ia juga tidak bisa memaksakan perasaan seseorang bukan?


Jadi ia menganggap perkataan Baskara hanya angin lalu saja. Meski tetap saja ketika di ingat kembali terasa menyebalkan.


^^^Gue baru siap2 mau ngampus.^^^


^^^Lagian lo gak ada kerjaan apa pagi2 gini?^^^


Sayangnya gak ada.


Coba kalo ada lo. Kan gue jadi ada kerjaan.


^^^Kerjaan apa?^^^


Godain cantiknya gueee hahaha


^^^Bodo!^^^


^^^Gue beneran sibuk hari ini.^^^


^^^Nanti gue hubungin lagi. Jam 3 selesai kelas.^^^


Dari kemaren lo ngomong sibuk emang bohong?


^^^Yaaa gitu deh.^^^


DIH SENJA!!


^^^Apa sih?? capslock lo jebol??^^^

__ADS_1


^^^Udah ya. Gue berangkat dulu.^^^


^^^Lo juga mending kuliah yang bener sebelum gombalin anak gadis orang!^^^


Oke babe!


Gue bakal kuliah rajin. Biar bisa cepet ngelamar lo!


Semangat kuliah cantiknya Babas 😚 (virtual kiss)


Senja merotasikan bola matanya tanpa niat membalas pesan pemuda itu. Hari ini ia ada kuis. Sampai sore jadwal kuliahnya penuh. Semoga saja di jam terakhir praktek lancar sehingga tidak ada jam tambahan.


Nanjauh disana. Baskara tengah senyum-senyum sendiri. Akhirnya setelah beberapa hari pesan dan panggilannya di abaikan. Kini Senja kembali membuka komunikasi dengannya. Ia kembali bisa menggoda gadis itu.


Tak ada yang lebih membahagiakan di kehidupan kuliahnya selain menggoda Senja diwaktu senggang. Itu sudah seperti kebiasaan untuknya. Jadi ketika kemarin ia tidak bisa melakukan hal tersebut. Hari-hari yang Baskara lalui terasa kurang.


"Tunggu gue, cantik.." monolognya dengan senyum yang semakin mengembang.


***


Senja meregangkan otot-ototnya. Menarik kedua tangannya ke atas bertautan hingga berbunyi. Begitu juga dengan kepala yang ia gerakan ke kiri dan kekanan. Membereskan semua barang-barangnya dan bergegas keluar. Ia sudah sangat ingin sampai di apartemen untuk istirahat.


Tidak hanya badannya. Matanya juga sangat lelah dan ingin sekali merasakan kasur empuknya yang Senja rasa ia bisa langsung terlelap seketika.


"Kau akan langsung pulang?" entah sejak kapan Maureen dan beberapa teman sekelas mereka ada disebelahnya. Padahal sebelumnya gadis itu sudah lebih dulu keluar dan pamit ke toilet.


"Ya. Aku sangat lelah. Rasanya aku tidak akan bangun sebelum matahari meninggi besok." keluh Senja. Jadwal kuliahnya benar-benar padat di semester ke empat ini.


"Kenapa?" tatap Senja bingung pada Maureen. Kemudian menengok ke arah Maureen menunjuk arah jam satu.


"Sudah ada yang menunggumu."


Senja terpaku menatap seorang pemuda yang kini tersenyum kearahnya. Baskara yang baru mengetahui keberadaan gadis yang di tunggunya langsung memasukan ponselnya kedalam saku celana.


Pemuda itu melangkah dengan cukup mempesona. Membuat teman-teman Senja saling berbisik dan menganggap Senja beruntung bisa dekat dengan pemuda semenawan itu.


"Hai nona-nona manis.. Boleh saya bawa gadis cantiku ini?" Baskara mengusap kepala Senja yang semakin membuat heboh teman-teman gadis itu. Berbanding terbalik dengan gadis itu yang justru semakin membeku. Tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.


"Ya silahkan. Aku harap kau membawanya untuk membuatnya senang. Bukan untuk menyakitinya." Maureen menjawab mewakili teman-temannya.


"Tenang saja. Dia akan selalu bahagia asal selalu bersama saya." lirik Baskara pada Senja dan mengedipkan sebelah matanya.


"Tak perlu kaku begitu. Teman Senja berarti teman kami juga." sahut teman Senja yang lain.


"Waah senangnya bisa mengenal gadis manis dan baik seperti kalian. Tapi sepertinya aku harus segera membawa teman kalian sebelum dia mati berdiri karena terlalu banyak diam." selorohnya yang membuat para gadis itu tertawa. Tapi hal itu membuat Senja mencebik dan berlalu lebih dulu tanpa pamit pada teman-temannya.


Baskara yang berjalan di belakang setelah pamit pada teman-teman Senja, tergelak melihat sahabatnya itu kesal.


"Lo nggak kuliah jam segini udah disini?" cecar Senja begitu keduanya masuk kedalam mobil yang Baskara kendarai.

__ADS_1


Baskara selalu mengambil kelas hingga malam karena ingin segera lulus. Jadi Senja merasa heran dengan keberadaan pemuda itu yang bisa dibilang masih jauh dari malam.


"Yaaa mau gimana lagi. Gue udah kangen banget sama lo seminggu nggak bisa lihat wajah lo. Nggak denger suara jelek lo."


Senja kembali mendecak. "Bisa serius dikit nggak sih?!"


"Gue serius cantiiik.."


Tidak ada kebohongan dari apa yang Baskara ucapkan. Tapi Senja hanya menganggapnya angin lalu dan tidak ingin mempercayainya.


"Lho kita mau kemana?" mobil mengambil arah lain dari jalan yang biasa Senja lalui jika ingin kembali ke apartemennya.


"Pengen makan di luar bareng lo. Sama ada yang mau gue beli."


Senja menurut saja ketika Baskara memarkirkan mobilnya di sebuah mall dan mengajaknya turun.


Mereka langsung ke lantai dua. Baskara menarik lembut pergelangan tangan Senja untuk memasuki sebuah toko yang menjual pakaian wanita dengan merk terkenal.


"Mau ngapain kesini?" bisik Senja.


"Pengen beliin lo baju buat ulang tahun kita." jawab Baskara apa adanya.


Jika pria romantis lainnya akan mengirim gaun langsung pada rumah pujaannya, dan membuat si gadis berbunga-bunga. Tidak dengan Baskara. Ia lebih memilih mengajak Senja langsung dan menyuruh gadis itu memilih sendiri.


Karena sejujurnya Baskara tidak tahu tentang gaun perempuan. Ia tidak tahu gaun seperti apa yang Senja suka. Ia juga tidak tahu ukuran baju Senja.


Jadi dari pada salah dan berakhir tidak dipakai, lebih baik terang-terangan saja dari pada bersikap sok romantis tapi gagal.


"Tapi gue masih punya banyak baju. Atau gue bisa bikin sendiri." Senja kembali berbisik karena pramuniaga sudah mendekati mereka.


Kali ini Baskara yang berdecak. "Tapi kan itu bukan dari gue! gue cuma pengen beliin baju buat lo pakai di ulang tahun kita minggu depan!"


"Emang mau dirayain dimana sih? kan kita bisa diapartemen aja. Beli kue terus tiup lilin bareng."


Baskara menggeleng tidak setuju."Kenapa banyak tanya siiih.." Baskara mencubit hidung Senja gemas. "Nanti lo juga bakal tahu. Udah sana pilih! Terus dicobain. Gue mau lihat."


Tidak mau membuang waktu untuk berdebat, akhirnya Senja melangkahkan kakinya untuk memilih gaun yang ia suka dan masih sopan untuk ia kenakan.


Jika memikirkan ulang tahun, Senja merasa sedih karena kali ini orang tuanya tidak bisa datang. Padahal tahun kemarin ia masih bisa mmerayakan dengan kedua orang tuanya. Meski kedua kakaknya tidak ikut datang.


Tapi setidaknya sekarang ia masih bersyukur karena ada Baskara yang akan menemaninya dihari ulang tahun. Dan ini adalah tahun pertama mereka kembali merayakan ulang tahun seperti sebelum semua masalah hadir diantara mereka.


*


*


*


Maaf ya gaes semalam nggak up.

__ADS_1


Semalem tuh othor dah nulis dapat separo. Tapi mata nggak bisa diajak kerjasama. hihihi


Kalian juga kurang kenceng nih kasih like-nya. *cari pembelaan kabuuurrr


__ADS_2