
Baskara kaget melihat jam dinding didepannya. Sudah satu jam lebih dia tertidur dan Andi tidak membangunkannya.
Kepalanya tak sesakit sebelumnya meski belum benar-benar sembuh. Dengan langkah yang masih lemah ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena badannya terasa lengket setelah demam.
Ia harus bersiap melanjutkan pekerjaannya agar bisa segera pulang. Ia sudah sangat merindukan anak dan istrinya.
Ia mematut dirinya didepan cermin. Matanya masih terlihat sayu dan merah. Tapi tak mengurangi ketampanan dirinya.
Baskara memukul dahinya sendiri. Sempat-sempatnya ia memikirkan tampan!
Dengan langkah cepat, Baskara membuka pintu kamar dengan keras. Mengagetkan pria yang tengah duduk menopang dagu. Dengan dahi berkerut seperti tengah berpikir keras.
"Kenapa kamu tidak membangunkanku!" serunya kesal. Ia memang lebih muda dibanding asistennya itu. Tapi bukan berarti ia tak bisa memarahi asistennya bukan? "Saya kan sudah bilang, bangunkan setelah satu jam!"
Andi sudah berdiri tak jauh darinya. Menunduk sekilas dan berucap. "Maaf pak. Saya pikir bapak perlu istirahat dulu hingga pulih. Tadi saya juga sedang mengurus masalah sapi-sapi yang mati itu."
Yang tadinya ingin marah, Baskara mengurungkannya. Lebih tertarik dengan apa yang baru saja Andi katakan.
"Jadi kamu sudah mendapatkan hasil dari penyelidikan?"
Andi menjawab dengan lugas. "Polisi menyatakan memang ada yang menyabotase sapi-sapi perusahaan melalui rumput pakannya. Tapi mereka belum mendapatkan pelakunya."
"Tidak mungkin orang luar kan?" Baskara juga tahu bagaimana kondisi peternakan milik perusahaannya. Jadi ia yakin betul bukan orang luar yang melakukannya.
"Sepertinya karyawan kita sendiri. Tapi yang perlu kita cari tahu saat ini adalah dalang dibaliknya. Siapa orang yang menyuruhnya."
Baskara mendengus. Seharusnya ia yang mengatakan hal demikian kan, sebagai atasan bukan? Ah sudahlah. Ia memang belum seberpengalaman Andi.
__ADS_1
"Jadi rencana apa yang akan kamu lakukan?" tanya sekalian.
Andi menjelaskan apa yang sudah ia katakan pada polisi. Juga orang-orang kepercayaannya yang juga tengah bergerak mencari dalangnya.
"Oke. Saya serahkan masalah ini padamu." ucap Baskara. "Sekarang ayo kita cari dewa-dewa berkulit putih itu untuk menyelamatkan perusahaan."
Mereka mulai berangkat menuju wilayah pedesaan dimana masih banyak peternak sapi.
Baskara dibawa langsung kerumah ketua koperasi yang mengetuai peternak untuk mengumpulkan hasil susu dari ternak mereka. Kemudian Baskara diajak berkeliling disepanjang jalan yang berdiri kios-kios yang menjual makanan khas daerah.
"Kami memang dulu bekerjasama dengan mendiang Bapak Lazuardi saat beliau baru mendirikan perusahaan dan belum sebesar saat ini. Beliau dulu yang mengembangkan desa ini menjadi desa sapi perah. Dari yang awalnya hanya membeli hasil perahan kami, kemudian memberi modal kami untuk menambah sapi-sapi agar hasil yang kami dapatkan juga semakin banyak." pria paruh baya yang bernama Suep itu berusia lebih dari enam puluh tahunan. Tapi masih terlihat kuat. Mungkin karena terbiasa bekerja sehingga tubuhnya masih terlihat segar.
"Beliau tidak lagi mengambil hasil perah dari desa ini karena sudah mendirikan peternakan sendiri. Tapi beliau memberikan kami deretan gerai ini secara gratis untuk kami menjual olahan hasil ternak atau makanan khas daerah agar hasil perah kami tidak sia-sia dan kami masih bisa mendapatkan penghasilan. Juga sebagai tunjangan karena kerjasama telah berakhir."
Daerah itu memang daerah wisata. Jadi pasti banyak wisatawan yang datang dan mencari oleh-oleh makanan khas.
Hati Baskara menghangat. Ternyata kakeknya orang yang baik meski terlihat tegas. Tidak heran kebaikan hati kakeknya itu menurun pada ayahnya.
"Mari nak. Cicipi dodol susu ini. Ini anak bapak sendiri yang membuatnya. Resep keluarga." pak Suep mempersilakan. "Kalau tadi yang mengantar makanan dan minumannya adalah cucu kakek. Baru lulus SMA tahun lalu."
Baskara mencicipi dodol dan teh itu bersama Andi dan pak Suep. Mereka melanjutkan cerita bagaimana dulu baiknya kakek Baskara didaerah itu.
"Jadi bagaimana, pak Suep. Apakah bapak bersedia untuk kembali bekerjasama lagi dengan perusahaan kami?" tanya Baskara setelah cangkir tehnya mulai kosong.
Pak Suep mengangguk antusias. "Tentu saja saya setuju. Nanti saya adakan rapat dan memberitahu anggota kelompok tentang kerjasama ini. Berikut juga dengan sistem pembayaran."
Baskara dan pak Suep saling berjabat tangan sebagai bentuk kesepakatan. Tak lupa Andi meminta pak Suep untuk menandatangani berkas-berkas kerjasama.
__ADS_1
"Nak Bas masih butuh berapa koperasi lagi?" tanya pak Suep siap membantu cucu dari orang yang sudah berjasa padanya dan anggota koperasi lainnya dulu.
"Mungkin tiga hingga empat koperasi lagi pak. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, jika sapi-sapi kami banyak yang mati."
Pak Suep mengangguk prihatin. Kemudian membantu menyebutkan nama-nama koperasi yang diyakini mau bekerjasama dengan Baskara.
"Banyak istri-istri mereka yang berangkat sebagai TKW keluar negeri. Jadi tidak ada yang mengolah hasil ternak. Mereka bahkan sempat menawarkan sapi-sapi mereka untuk dibeli. Coba saja nak Baskara kesana. Siapa tahu mereka mau bekerja sama, atau mungkin nak Baskara mau membantu mereka dengan membeli sapi-sapinya."
Baskara tersenyum senang. Akhirnya ada angin segar berhembus kearahnya. Kedatangannya ke Pak Suep memang tidak sia-sia. Menyusuri sejarah memang hal yang tepat untuk ia lakukan.
Tak ingin membuang banyak waktu, Baskara langsung mengajak Andi menuju alamat yang pak Suep berikan padanya. Karena mereka ditempat Pak Suep hingga tengah hari, jadi sampai sore hari mereka baru mendapatkan tambahan tiga koperasi termasuk milik Pak Suep. Sisanya akan Baskara lanjutkan esok.
Tubuhnya yang tadinya sakit tak terasa lagi. Kebahagiaannya menemukan jalan keluar mengalahkan rasa sakit pada tubuhnya.
"Lagi apa, ayy?" Baskara baru saja membersihkan diri. Duduk disofa kamar dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tak sabar untuk mendengar suara istrinya juga memberi kabar ia akan segera pulang.
"Baru nidurin baby Anna, mas. Kayanya dia kangen kamu deh. Manggilin kamu terus. Rewel banget dua hari ini."
Baskara tersenyum mendengarnya. Mungkin putri kecilnya itu merasakan jika daddy-nya tengah sakit. Hingga membuat batita itu gusar.
"Doain biar besok kelar ya, ayy. Biar bisa langsung pulang."
"Selalu mas. Selalu ku doain. Tapi kangennya nggak bisa cuma disampein lewat doa. Maunya ketemu langsung dan peluk sampai pagi." ucapnya manja.
Baskara terkekeh. Jika kini istrinya ada dihadapannya, sudah ia cubit wajah menggemaskannya itu. Dan dengan senang hati menuruti keinginan istrinya untuk dipeluk sampai pagi. Meski arti peluk miliknya berbeda dengan arti yang istrinya maksud.
*
__ADS_1
*
*